
Sepanjang perjalanan pulang, Sri hanya diam membisu. Tidak mau menoleh pada Lucky sedikitpun. Tidak ada yang berani membuka percakapan. Noah hanya sibuk dengan gawainya. Beni tak berani berisik walau menghela napas sekalipun. Lucky apalagi, menekuk wajahnya ketika Sri menepis tangannya menolak untuk di sentuh.
Hati Lucky nelangsa. Sri kembali bersikap seperti dulu ketika awal pernikahan. Entah dia ingin marah pada siapa. Tapi lebih menyalahkan Amira yang memungkiri kesepakatan berpisah.
Sesampainya di mansion, Sri langsung turun tanpa memperdulikan mereka bertiga. Naik ke tangga menuju lantai atas. Lucky dan Noah masih berdiri di teras. Menatapi kepergian Sri yang tampak menghindari dirinya.
Lucky menghela napas panjang. Istrinya sangat marah dan terpukul. Dia tidak bisa berbuat banyak. Hanya memberi waktu untuk Sri bisa mendinginkan hatinya lebih dulu.
"Sabar lah kak. Bujuk saja" ujar Noah menepuk pundak Lucky.
"Ya. Dia hanya salah paham" jawab Lucky lemah. "Kau pulanglah. Jangan semakin membuatnya mengadu padamu"
"Haha.. jangan terlalu cemburu. Aku hanya menemaninya sebentar tadi siang" Noah tertawa renyah.
Lucky menatap mata Noah lekat-lekat. Dia mengenal Noah dengan baik. Dia tahu hati Noah. Pemuda ini selalu menyembunyikan perasaannya dari orang lain. Tidak pernah bicara blak-blakan. Mengalah demi kebaikan. Tapi Lucky bisa merasakan apa yang di rasakan Noah. Walaupun mereka sering bertengkar, tapi Noah juga sering meminta pendapatnya tentang sesuatu.
"No, Tolong jangan melebarkan rasa hati mu lebih dalam. Dia istriku. Aku sudah bilang padamu bukan?"
Noah diam dan tak mau melihat Lucky. Hanya tersenyum sedikit.
"Aku juga telah bilang pada mu bukan? jika kau tak becus mengurusnya, maka aku akan merebutnya" tegas Noah.
"Tidak akan. Dia milikku!" Lucky menggeram.
"Kalau begitu, jaga dengan baik. Aku sudah bilang jangan lagi turuti keinginan Amira. Kau harus tegas padanya"
"Aku akan urus semuanya" Lucky melangkah ke dekat pintu. " Dan satu lagi, kita harus bicara besok. Ini tentang Levi. Atur pertemuan kita"
Noah sedikit menaikkan alisnya mendengar nama Levi. Pasti telah terjadi sesuatu. Begitu Noah ingin bicara, Lucky langsung menghentikannya.
"Sudah lah. Tutup mulut mu sekarang. Aku harus membujuk istri ku. Sekarang kau pulanglah. Aku muak melihatmu satu harian ini"
Setelah mengatakan itu, Lucky lalu berbalik. Meninggalkan Noah yang hanya terkekeh mendengar pengusiran Lucky padanya. Lucky memang begitu. Selalu berkata pedas padanya. Tapi Noah tahu, Lucky menyayanginya.
Noah pergi dengan Beni. Harus mengambil mobilnya di kantor Lucky. Sementara Lucky segera naik ke lantai dua menyusul Sri. Gadis itu harus di bujuk. Lucky sudah gemas ingin menjelaskan segalanya.
Tapi begitu sampai di kamar, Jadi panik seketika. Dia tidak menemukan Sri. Masuk kedalam dengan tergesa. Melempar tas kerjanya begitu saja ke tempat tidur. Sibuk mencari Sri di kamar mandi. Tapi tidak ada.
__ADS_1
"Sayaaang... kamu di mana?"
Tak ada sahutan. Lucky melangkah ke ruang walk in closed. Tapi tidak ada juga. Rasa panik semakin mendera. Lucky keluar kamarnya lagi.
"Pak saaamm..." teriaknya.
Tampak pak Sam melangkah cepat menghadap tuannya.
"Saya, tuan? Ada yang anda butuhkan?" lelaki tua itu membungkuk hormat.
"Mana istri ku? kenapa tidak ada di kamar?"
"Maaf, tuan. Nona Sri ada di kamar tamu"
"Apa?! Buat apa?" Lucky melotot marah.
"Sepertinya, nona Sri akan tidur di kamar tamu, tuan"
HIIKKHH!!!
Segera Lucky melangkah lebar menuju kamar tamu yang ada di lorong lain bagian mansion. Pak Sam mengikuti di belakangnya. Tampak lelaki tua itu sangat cemas melihat Lucky marah. Pasti akan terjadi perang dunia ke tiga.
Berhenti di depan pintu kamar tamu. Menatapi pintu yang tertutup itu dengan gemetar. Pak Sam sangat cemas melihat tubuh Lucky sampai bergetar saking menahan marah.
"Sriii.. buka pintunya!" serunya kencang sambil mengetuk pintu. Pak Sam sampai terjengkit kaget.
Tapi tidak ada sahutan dari dalam. Lucky mencoba membuka handel pintu, tapi terkunci dari dalam. Lucky mengetatkan rahangnya marah. Gemeretuk giginya bisa di dengar pak Sam.
"Sri! Jangan sampai aku dobrak pintu ini! buka!" teriak Lucky. Tapi tetap saja Sri bergeming. Tidak ada suara dari dalam.
"Sriii!!" teriak Lucky lagi lebih kencang. Amarahnya sudah di ubun-ubun. Sri selalu menghindarinya. Lucky sudah hilang kesabaran.
"Aku hitung sampai tiga. Kalau kamu tidak keluar, aku dobrak pintu ini!" Ancam Lucky.
"Ndak mau! Mase pergi saja! Sri mau sendiri!" jawab Sri dari dalam.
Ada secercah harapan mendengar jawaban Sri. Lucky mendekatkan telinganya kepintu. Mencoba mendengarkan apa yang di lakukan Sri di dalam kamar. Tapi sepertinya Sri hanya diam tak bergerak. Sunyi sekali.
__ADS_1
Lucky putus asa. Hatinya menggeram marah tapi mencoba memendam amarahnya. Belum ada yang pernah menolak permintaannya. Lucky selalu mendapatkan yang ia inginkan. Tapi kini, malah istrinya sendiri yang menolaknya mentah-mentah.
"Pak Sam, ambil kunci duplikatnya" bisik Lucky pada pak Sam.
Pak Sam mengangguk. Segera beranjak pergi untuk mengambil kunci duplikat pintu kamar tamu. Lucky tersenyum smirk menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Ia membayangkan bagaimana reaksi wajah Sri ketika melihatnya bisa membuka pintu dengan mudah.
Pak Sam kembali dengan membawa banyak kunci di tangannya. Kunci itu bersatu dalam besi bulat. Bergerombol dengan bunyi gemerincing yang riuh. Lucky melotot melihat itu.
"Banyak sekali! Lalu yang mana ini kucinya?"
Pak Sam mengambil lagi kunci yang banyak itu dari tangan Lucky. Lalu memilah milih mencari yang mana satu kunci duplikat kamar tamu yang di tempati Sri. Karena kamar tamu ada Tujuh yang berada di lantai dua.
"Lelet sekali kerjamu pak Sam!"
Lucky tak sabar melihat pak Sam masih sibuk memilih kunci. Padahal pak Sam pun sengaja mengulur waktu. Sri sudah berpesan tidak mau di ganggu. Tapi mana bisa pak Sam menolak permintaan Lucky sang penguasa.
"Maaf, tuan. Sepertinya ini" pak Sam menyerahkan satu kunci pada Lucky.
Segera Lucky memasukkan anak kunci ketempatnya. Memutarnya sesuai arah. Tapi segera Lucky bergumam jengkel.
"Pak Sam! kau memberiku kunci yang salah!" melirik pak Sam dengan tatapan membunuh. Pak Sam hanya menunduk.
"Itu kunci yang benar, tuan. Mungkin Nona Sri menggunakan semua kunci di dalam kamar. Termasuk gerendelnya"
Lucky melotot marah. Rasanya ingin segera membom atom pintu kamar yang diam berdiri kokoh di depannya, agar dia bisa melihat istrinya di dalam. Pak Sam berkeringat dingin melihat wajah Lucky memerah menahan marah. Takut kalau Lucky menghancurkan pintu kamar dengan kekerasan.
Tapi tanpa di duga pak Sam, Lucky malah menempelkan keningnya ke pintu, sambil memukul pelan pintu kamar itu. Pak Sam tercengang melihat tuannya yang gagah perkasa ini, menjadi begitu lemah dan cengeng.
"Sayaaang.. buka pintunyaa.. apa kau tidak rindu pada kuuu?" rengek Lucky sambil menempelkan pipinya di pintu.
Sumpah! belum pernah pak Sam melihat Lucky seperti ini. Lucky bukan tipe pria romantis dengan segala rengekan kebucinan seperti itu. Lucky selalu tegas. Lucky selalu kaku. Pak Sam bersamanya dari umur Lucky masih remaja.
"Sayaaang.. Aku rindu padamuuu.. Jantungku berhenti berdetak rasanya jika aku tidak melihat mu, sriiii... Sayangkuuuu..."
Ha..haaaa..haaaciiiimmm!!
Pak Sam sampai bersin melihat tingkah konyol Lucky. Tuan mudanya sudah tidak waras karena istrinya.
__ADS_1