OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Saya Istrinya Mase


__ADS_3

"Itu salah. Bukan begitu caranya. Biar aku beritahu ya?" ujar Lucky dengan suara berat.


Tanpa sadar, Sri mengangguk menyetujui. Tak kuasa lagi mengeluarkan kata-kata dari bibirnya. Lucky mendekatkan wajahnya. Napas mereka saling menghempas ke wajah masing-masing. Jantung Sri berdegup kencang. Tapi sudah tidak bisa mengelak lagi.


Lucky masih menatap wajah Sri yang sudah terpejam, lekat-lekat. Dia perhatikan wajah ayu yang polos tanpa makeup ini. Memang tidak secantik Amira. Tidak sebohay Amira. Tidak seseksi Amira. Tapi entah kenapa, Lucky merasa sering terbayang wajahnya akhir-akhir ini.


Wajah gadis Jawa yang super menggemaskan. Yang sering dia ejek sebagai gadis kampungan. Gadis ingusan yang usianya terpaut cukup jauh dengannya. Menatap bibir yang sudah pernah ia rasakan manisnya. Otaknya sudah di penuhi bibir ini. Yang dia sanggup bermodus ria asalkan Sri terjerat untuk ia cicipi bibirnya lagi.


Jantung Sri berdebar seperti beduk yang di tabuh saat lebaran. Tangannya berkeringat resah. Matanya terpejam menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia sudah merasakan ciuman Lucky tadi siang. Itu membuatnya tak mampu berpikir jernih.


Lucky mulai menempelkan bibirnya. Mengecup kecil. Lalu memagut bibir bawah Sri. Menyesapnya hikmat. Tubuh Sri menegang merasakan sensasi mendebarkan itu. Merasakan mulut Lucky melekat erat di mulutnya. Menjilat sana sini. Tapi Sri hanya diam dan tak tahu harus berbuat apa.


Lucky melepaskan pagutannya. Napasnya tersendat menahan gelora yang ditimbulkan akibat aksinya sendiri. Menatap Sri yang tersengal kehabisan napas.


"Sri" panggil Lucky dengan suara bergetar.


Sri membuka matanya. Wajah Lucky terlihat besar karena terlalu dekat dengannya. Dapat merasakan napas hangat Lucky di wajahnya. Tatapan Lucky sangat lembut. Sri tidak tahu kenapa Lucky begitu berubah saat ini.


"Buka mulutnya" bisik Lucky.


"K-ke-napa Mase?" Tanya Sri polos. tergagap karena malu. Entah seperti apa warna wajahnya sekarang. Dia tidak tahu kenapa harus membuka mulutnya.


"Biar bisa di cium" ujar Lucky lagi. Suaranya lirih berbisik sensual.


"T-tapi t-tadi 'kan sudah di c-cium mas" tanpa sadar, Sri juga ikut berbisik.


"Belum semuanya"


Lucky mengusap bibir Sri. Menatap gemas. Menggegat grahamnya erat. Rasanya ingin cepat melu mat bibir mungil yang sungguh manis ini. Sri menurut. Membuka sedikit bibir dan mulutnya.


Astaga!! bisa gila aku. Kau sungguh menggemaskan Sri!


Teriak Lucky kegirangan begitu melihat Sri menuruti apa yang ia minta. Segera saja Lucky mengulum lagi bibir gadis polos ini. Menyesapnya tanpa ampun. Menerobos masuk dan menjelajahi mulut manis dan basah itu.


Membelitkan lidahnya ke lidah Sri, walau belum ada respon dari Sri. Sri sungguh kaku. Tidak tahu bagaimana harus membalas. Dia tidak pernah berciuman sebelumnya. Tidak pernah merasakan hangatnya lidah di dalam mulutnya.


Tubuh Sri bereaksi mengejang kaku ketika Lucky menyesap lidahnya lembut. Desiran indah mendadak mengaliri setiap aliran darahnya. Seperti ada banyak ribuan semut yang merayap menggelitik.


"Eghhmm" lenguh Sri tertahan. Napasnya putus-putus.


Lucky masih belum puas. Mengobrak Abrik seluruh penjuru yang bisa ia rasakan. Terhanyut manisnya bibir Sri. Menarik tubuh Sri lebih melekat padanya. Menahan belakang kepala Sri agar tidak bergerak menjauh.


Gemas. Lucky gemas. Rasanya ingin ******* habis. Jangan sampai ada madu manis yang tersisa di bibir mungil itu. Ini miliknya. Milik Lucky.


Sri semakin terbuai. Hanya menerima apa yang di lakukan Lucky pada bibir dan mulutnya. Menggeliat manja ketika Lucky sengaja menyesap lidahnya.


"Uuhhmm.."


Lenguh Lucky panjang. Melepaskan pagutannya. Menatap mata Sri yang juga menatapnya. Tersenyum kecil dengan napas terengah.


"Itu ciuman. Sudah tau?" ujar Lucky.


Sri menunduk malu. Menyembunyikan wajahnya di dada lucky. Dia dapat merasakan debaran jantung Lucky seperti ombak sunami. Sama seperti debar jantungnya yang melompat-lompat hendak keluar. Baru kali ini Sri merasakan bagaimana ciuman panas.


"hhh.. Ayo tidur lah. Lain waktu, kita belajar lagi"


Lucky merebahkan tubuhnya di samping Sri. Masih memeluk gadis mungil itu. Mengusap rambutnya perlahan. Membiarkan Sri menempel di dadanya.


Malam ini mereka bisa tidur nyenyak tanpa ada guling yang menghalangi. Tanpa kata-kata pedas yang selalu terlontar dari bibir masing-masing. Malam ini, bibir itu menjadi basah. Bibir itu hanya mampu mengukir senyum yang akan mereka ingat sampai kapan pun.


🌺


🌺


🌺


Tok..tok.. tok..

__ADS_1


Sri membuka matanya perlahan. Mengerjap-ngerjap Menyesuaikan matanya dengan cahaya silau yang terang benderang. Terganggu tidurnya karena Pintu kamar di ketuk kencang dari luar.


Sri ingin bangkit. Tapi di bagian perutnya terasa berat. Sri menunduk melihat ke arah bawah. Ternyata lengan Lucky dengan nyaman nangkring di perutnya. Melingkari pinggangnya erat. Sri menoleh kesamping. Lucky masih nyenyak tidur tepat di sebelah dadanya.


Pria itu terlihat seperti anak kecil yang sedang tidur meringkuk di bawah ketiak ibunya.


Dorr.. doorr.. dorr..


Sekarang ketukan pintu sudah berganti dengan gedoran keras. Menimbulkan suara berisik di seluruh penjuru kamar.


"Lucky!! buka pintunya!!"


Terdengar teriakan dari luar kamar. Seperti sangat terburu-buru ingin segera masuk ke dalam kamar kondominium milik Lucky.


Doorr.. dooorrr...


"Lucky!!"


Dengan malas dan berdecak sebal, Sri menyingkirkan tangan Lucky dari perutnya. Menyibak selimut tebal yang menyelimuti mereka. Bergeser dengan malas dan turun dari ranjang. Melangkah terseok-seok menuju pintu kamar.


"Lucky!! bukaaa!! Atau aku dobrak!!"


"Ck.. Iyaa.. sebentar" jawab Sri malas.


Sri membuka pintu kamar. Dan terlihatlah wajah Amira merah padam menahan kemarahan. Matanya melotot melihat penampilan Sri dari ujung kaki sampai kepala. Semakin meradang ketika melihat baju apa yang di pakai Sri saat ini.


"Ada apa mbak?" tanya Sri dengan suara serak khas bangun tidur.


Amira hanya melotot marah. Tanpa aba-aba, dia menerobos masuk dengan menendang tubuh Sri yang masih menghalangi di pintu.


"Aduh.."


Sri terhuyung kebelakang. Memegangi bahunya yang di tendang Amira. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Melihat tempat tidur yang acak-acakan. tidak ada Lucky. Yang ada hanya selimut yang menumpuk sana. Lalu Amira menatap Sri lagi dengan pandangan kejam.


"Mana Lucky?!" sentak Amira judes.


"Mas Lucky itu..."


"Heh.. ngapain kamu pakai baju Lucky hah?" Mata Amira melotot besar bagaikan dua lampu depan motor metik.


"Ini Mase yang suruh" jawab Sri jujur.


"Apa?? bohong kamu!" Amira menoyor bahu sri. Membuat tubuh Sri ikut miring saking kerasnya tangan amira. "Mana mungkin Lucky mengijinkan orang seperti kamu memakai bajunya!"


"Bener mbak. Mase yang nyuruh pake bajunya"


"Hhh.. Murahan sekali kamu!" Amira menoyor bahu Sri lagi.


Yang tadinya kantuk masih menggantung di pelupuk mata, kini hilang lenyap setelah menerima perlakuan Amira. Dada Sri bergemuruh marah. Tidak terima Amira memperlakukannya seperti itu.


"Mbake Iki kenapa toh? datang-datang kok marah-marah?" Sri mulai bicara pedas menunjukkan dia keberatan dengan sikap Amira.


"Lihat keadaan mu sekarang. Kau tidak tahu malu ya!" sentak Amira dengan mata seakan hampir keluar saking besarnya.


Sri menunduk melihat keadaan dirinya. Memang berantakan. Tapi kan ini bangun tidur. Ya wajar saja kan?


"Memangnya kenapa mbake? Sri baru bangun tidur kok. Lagian ini kamar, Mbak. Kamar kami. Ndak salah toh?" Sri menjawab berani.


"Apa?! kami?!" Amira memicingkan matanya. Menatap Sri penuh kebencian. " heh.. tidak tahu malu kamu ya! ini kamar Lucky! Bukan kamar mu!"


"Saya istri mase loh, mbak" jawab Sri.


"Iisshh.. benar-benar kamu ini.. " Amira mengepalkan tangannya. rasanya ingin menjabak Sri saat ini juga.


Di tempat tidur, Lucky menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala. Akibat Sri menyibak selimut dengan asal-asalan. Sehingga menutupi seluruh tubuh Lucky. Amira kira, itu hanya tumpukan selimut. Tapi ternyata ada Lucky di dalamnya.


"Ada apa ini?" tanya Lucky masih dengan mata mengantuk.

__ADS_1


Amira tercengang melihat keadaan Lucky di tempat tidur. Rambut kusut masai. Bertelanjang dada. Dan baru bangun tidur sudah sesiang ini! Sri juga baru bangun tidur. Itu artinya mereka berdua sama-sama kesiangan! berarti satu ranjang dengan Sri!! Amira menoleh menatap Sri lagi. Dengan kemeja lucky yang kedodoran di tubuhnya. Dan Sri tidak pakai apa-apa lagi selain kemeja itu.


Jantung Amira serasa berhenti mendadak. Hatinya panas bukan main. Matanya melotot menatap Lucky dengan marah.


"Amira!" Lucky tersentak kaget begitu ia menyadari Amira lah yang ada di kamarnya.


Bukannya takut dengan kemarahan Amira. Tapi Lucky lebih menjaga aduan Baris pada papinya. Lucky melompat dari atas tempat tidur. Lalu segera berjalan ke arah pintu dan menutupnya rapat. Berbalik menatap Amira dengan panik.


"Amira. Apa yang kamu lakukan??!!" geram Lucky mendekati Amira dan mengguncang bahunya.


"Kenapa? kamu tidak suka aku kesini?" sinis dan menantang Amira menatap Lucky.


"Astaga!! Kamu kan tau om Baris di sini. Jangan gegabah Amira" Lucky menggusar rambutnya yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan.


"Aku tidak peduli!, Lalaki itu tidak bisa mencegah ku!" suara Amira semakin meninggi.


Lucky menatap Amira geram. Gadis ini sangat keras kepala. Tidak mau mengalah sedikit pun. Mencoba mengatasi masalah ini dengan tenang. Lucky menghela napasnya kasar.


"Ada apa sampai kamu kesini?" tanya Lucky menatap Amira tajam.


"Ada apa? kamu tanya lagi ada apa? dari tadi aku telpon tidak kamu jawab" Sentak Amira merengut kesal.


"Ini masih pagi, Mira"


"Apa? jam sembilan kamu bilang pagi??!! Hhhh.. jangan bilang kalau kamu kelelahan karena menghabiskan malam dengan dia!" Amira melirik Sri yangsedari tadi berdiri tegak menyaksikan drama ikan terbang di sesi pagi.


Lucky mengerutkan keningnya. Baru menyadari kalau pagi ini ternyata matahari sudah mulai meninggi. Melirik Sri sejenak, lalu menatap Amira lagi.


"Maafkan aku. Aku tidak dengar suara ponsel" ujar Lucky meminta maaf.


"Jadi aku benarkan? Kamu terlalu lelah sampai tidak dengar panggilan ku?"


Lucky terdiam. Tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada Amira. Melihat dari keadaannya yang hanya memakai boxer, Amira pasti tidak akan percaya kalau tidak terjadi apa-apa antara dia dan Sri.


"Amira, ini masih terlalu pagi untuk bertengkar. Tunggulah di kamar mu. Aku akan menyusul"


"Apa? kau mengusir ku Luck?" Amira melotot lagi. Sangat merasa tersinggung.


"Astaga! mengerti lah. Baris akan melapor pada papi kalau kau di sini!" sentak Lucky jengkel.


Sangat terasa tidak nyaman atmosfer di dalam kamar ini sekarang. Sri diam saja menyaksikan perdebatan sepasang kekasih di hadapan seorang istri.


"Luck! Kenapa sih? kenapa jadi aku yang tidak bisa di dekat mu? aku kekasih mu Luck!" mata Amira mulai berkaca-kaca.


Lucky semakin serba salah. Amira selalu tidak mengerti posisinya. Keadaan sekarang berbeda dengan sebelum dia menikah bukan? Tapi Amira selalu memaksa untuk tetap seperti dulu. Lucky mendekati Amira dan memegang tangannya.


"Amira, aku mohon mengerti Lah. Sekarang bukan waktunya berdebat. Pergi lah ke kamar mu. Aku akan segera menyusul"


"Tapi aku mau disini bersama mu" Amira memeluk Lucky. Sambil matanya melirik Sri yang melengos membuang pandangannya tak mau melihat adegan pelukan itu. "Seperti yang selalu kita lakukan dulu" Rengek Amira lagi.


"Iya. Tapi sekarang, tidak bisa. Baris sebentar lagi pasti datang. Sekarang kembalilah ke kamar mu" bujuk Lucky seraya melepaskan pelukan Amira.


"Janji ya?" rengek manja Amira sambil menyentuh dada telan Jang Lucky dengan jari telunjuknya.


"Hem" Lucky hanya mengangguk.


"Beri aku kecupan dulu"


Amira mendongakkan wajahnya menghadap Lucky. Melirik ke arah Sri lagi. Ingin melihat apa reaksi gadis itu melihat kemesraannya dengan Lucky.


Lucky diam mematung. Mendengar kata kecupan, ia malah teringat Sri. Melirik ke arah gadis itu sejenak. Tapi Sri tak melihat ke arahnya.


Sri segera melangkah ke kamar mandi. Meninggalkan sepasang kekasih yang hampir membuatnya lepas kendali. Ingin menyiram mereka berdua dengan air panas mendidih saja rasanya. Sangat tidak sopan bermesraan di saat ada orang lain di dekat mereka. Menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Agar tidak mendengar suara dari luar yang akan membuatnya panas terbakar amarah.


Setelah Sri menghilang di dalam kamar mandi, Lucky segera melepaskan Amira. Menjauhinya. Tadi dia tidak bisa membuat Amira jatuh harga diri di depan Sri jika dia menolaknya. Sekarang Sri sudah tidak melihat mereka lagi.


"Pergilah Amira. Jangan keras kepala. Kau menuntut terlalu banyak"

__ADS_1


Amira tersentak. Mendelik marah dengan air mata yang sudah berdesakan ingin segera keluar. Tak menyangka Lucky akan mengatakan itu. Tanpa ba-bi-bu, Amira pergi meninggalkan Lucky dengan bantingan keras di pintu kamar.


BLAM!!!


__ADS_2