
Sri mulai lagi tidak berselera untuk makan. Lucky sudah membujuknya berulang kali, tapi Sri tetap menolaknya. Sri bilang makananya bau sabun. Lucky sampai mencicipinya berulang kali untuk memastikan makanannya baik-baik saja. Tapi tetap saja Sri tidak mau.
"Kamu harus makan sayang" bujuk Lucky.
"Ndak mau maaass.. Itu bau!" Sri tetap kekeh sambil menutup hidungnya. "Mase jauh sana. Mase juga ikutan bau!" Sri mengusir Lucky dari kamar karena merasa suaminya jadi bau ikan.
"Lho kok?" Lucky cepat-cepat mengendus harum tubuhnya. Dan itu tidak bau. "Kenapa jadi aku yang bau, sayang? amis, begitu?"
"He'eh" Sri mengangguk cepat sambil menghidar menjauh.
"Kan aku tadi sudah mandi, Sri. Kenapa bau?" Lucky menatap Sri gusar. Dia tidak pernah bau dengan parfum yang senantiasa ia pakai.
"Mana Sri tau, mas. Pokoknya bau!" Sri tetap ngotot.
"Hhh..."
Lucky hanya bisa menghempaskan napas kasar. Bingung harus bagaimana membujuk Sri biar mau makan. Dari pagi dia belum makan. Sri bilang semuanya berbau tak sedap. Sampai dia hanya mengurung diri di kamar.
Sebenarnya Lucky merasa segan. Karena masih di rumah Rian. Tapi mau bagaimana lagi, istrinya selalu bersikap berubah-ubah dengan cepat.
"Jadi kamu mau makan apa sayang? Kamu tidak boleh tidak makan. Baby-nya gimana nanti? Kasian dia lapar. kepingin apa? Biar aku belikan."
Sri agak berpikir sejenak. Lalu menatap Lucky lagi. "Mase pake parfum dulu. Sri mau ke situ"
Lucky menurut. Dengan cepat ia semprotkan lagi parfum ke tubuhnya berulang kali. Tidak hanya tubuh, sampai rambutnya pun tak luput dari semprotan parfum.
"Nah.. Sudah. Sekarang sudah mau dekat kan?" Lucky menyeringai lebar.
Tersenyum senang Sri memeluk suaminya manja. Lucky duduk di tepi ranjang. Sri naik kepangkuannya. Mengendusi seluruh wajah suaminya.
"Hhmmm... Mase harum" puji Sri sambil memejamkan matanya meresapi aroma tubuh Lucky.
"Apa harus aku semprot parfum juga nasinya, biar kamu mau makan, sayang?"
"Hah? Apa?" Sri menegakkan kepalanya menatap Lucky melotot.
"Kamu suka aku semprot parfum ke tubuhku. Kalau aku semprot ke nasi itu, apa kamu jadi mau makan, ya?"
"iishh.. Gila Mase! Ntar baby-nya mabuk, mas"Sri merengut manja. Lucky terkekeh merasa geli sendiri dengan idenya.
"Terus, mau makan apa, sayang? Dari pagi kamu belum makan apapun" mengusap wajah ayu ibu hamil itu. Membernarkan anak rambut yang menutupi kening istrinya.
"Emm.. Sri kepingin sesuatu. Tapi takut ntar mase ndak mau" Sri merebahkan kepalanya di pundak Lucky. Lalu tangannya mengukur membentuk lingkaran di dada bidang suaminya.
__ADS_1
"Katakan saja sayang. Aku pasti akan mengabulkan. Hmm?" mengecupi kepala Sri dengan sayang. Sri menegakkan lagi kepalanya. Menatap netra hitam Lucky lamat.
"Sri kepingin pecak welut, mas"
"Hah? Pencak gelud?"
"Iishh.. Bukan Mase! Pecak..mas. Pecak welut!" Sri mendikte kata-katanya dengan serius agar Lucky paham.
"Aku kira pencak gelud, sayang. Tapi.. Apa itu?"
"Belut, mas. Di masak pecak lho mas. Masak mase ndak tau sih?"
Lucky hanya menggeleng dan terbengong bingung sambil berpikir keras apa itu pecak dan belut.
"Dasar orang kota! belut aja Ndak tau! Hmmp!" Sri merengut kesal.
"Oke.. Oke.. Nanti aku tanya Rian, ya? sekarang kamu makan buahnya dulu kalau tidak mau makan nasi"
"Mase yang cari juga. Jangan Iyan." ujar Sri.
Sri tetap menolak. Yang dia mau hanya pecak welut. Lucky mengalah. Segera keluar mengajak Sri menemui Rian. Pemuda itu sedang bersama Noah di ruang tengah. Mereka berdua sedang asik main PS.
"Rian" Rian menoleh melihat Lucky. Menghentikan permainannya. "Apa itu pecak welut?" tanya Lucky lagi.
Tidak hanya Rian, Noah juga berhenti. Melihat kearah Lucky dengan kening mengernyit.
"Istriku ngidam itu."
"Oohh.." Rian manggut-manggut. Lalu bangun dari duduknya. Memeriksa ponselnya, mengetik sebentar. Setelah dapat, dia menunjukkan ponselnya pada Lucky.
"Ini yang namanya welut, tuan. Atau belut"
Lucky memegang. Mendelik melihat gambar di ponsel Rian. Melihat hewan dengan bentuk melata persis seperti ular. Baginya itu sangat menjijikkan. Membayangkan istrinya mau makan ular, Lucky melotot tegang. Memoleh menatap Sri dengan perasaan bercampur aduk.
"Sayang, itu ular!"
"Aduuhh.. Bukan mas. Itu belut!" Sri menghentakkan kakinya jengkel.
"Heheheh... Ini bukan ular, taun Lucky. Hanya bentuknya yang mirip ular. Tapi dia itu sebenarnya jenis ikan" Rian menjelaskan.
"Ah.. Itu ular!" Lucky merasa jijik.
"Isshh.. Mase! Ndak ular! Itu belut!" Sri ngotot.
__ADS_1
"Kamu kepingin belut, Sri?" tanya Rian. Sri hanya mengangguk masih dengan wajah merengut kesal.
"Tuan Lucky, belut itu banyak manfaatnya. Ayo, ikut saya. Kita cari belutnya"
Rian jalan lebih dulu keluar rumah. Noah mengikuti. Sri menarik tangan Lucky untuk mau mengikuti Rian. Dengan terpaksa, Lucky mau juga ikut keluar rumah.
Rian sudah menunggu di bedengan sawah di samping rumah. Melambaikan tangan agar Noah dan Lucky mendekat.
"Mana belutnya?" tanya Lucky begitu sudah dekat.
"Itu" Rian menunjuk ke arah sawah. "Kita cari di pinggiran sawah, tuan. Kita mancing"
Lucky tampak gelisah. Melihat bedengan sawah yang berlumpur dan mereka harus memancing belut di sana.
"Ya sudah. Kamu dan Noah saja. Saya tunggu di sini" ujar Lucky. Noah hanya meliriknya dan tersenyum smirk.
"Mase! Kan Sri maunya Mase yang cari. Ya maaasss... Mau yaaa? Baby-nya mau Mase yang cari" rengek Sri menggelanyut di lengan Lucky.
Melihat wajah memohon istrinya, Lucky merasa tidak tega. Mengangguk setuju untuk menyenangkan hati Sri. Sri bersorak gembira ketika Lucky sudah menyetujui. Rian balik ke rumah untuk mengambil pancing. Lalu kembali lagi dengan segulung benang dan mata kail.
"Nih tuan. Kita buat pancingnya dulu."
Rian tampak bersemangat. Merakit mata kail dan benang tanpa joran. Noah dan Lucky hanya melihat itu tanpa bisa membantu. Mereka berdua tidak tau bagaimana caranya.
Tidak memakan waktu lama, Rian sudah berhasil membuat beberapa mata pancing dan mengajak Lucky untuk masuk ke sawah. Lucky tampak gugup.
"Mase! semangat!" Sri memberi semangat suaminya untuk memancing belut.
Noah malah terkekeh melihat wajah Lucky yang tampak gelisah. Tapi tak urung juga Lucky menggulung lengan kemejanya lebih tinggi. Tak ketinggalan menggulung celana panjangnya sampai ke dengkul. Begitu juga Noah, melakukan hal yang sama.
Sri menunggu mereka duduk di kursi kayu dan berkipas ria. Nyonya menantikan hasil buruan prajurit yang akan mempersembahkan banyak hasil sore ini.
"Rian! Jangan main-main. Aku tidak melihat belut itu di sini!" geram Lucky mendelik manatpa Rian.
"Di sini, tuan Lucky. Kita cari lubang-lubang kecil di pinggir betengan sawah." Rian mulai sibuk mencari.
Noah tergelak melihat si tuan kaku pemilik perusahaan besar dan raja bisnis masuk ke dalam sawah dan dengan teliti mencari lubang kecil di pinggirnya. kakinya sudah penuh lumpur. Ini pemandangan yang sangat menyenangkan.
Noah langsung mengambil foto Lucky dengan wajah serius mencari lubang sarang belut. Lalu menunjukkan hasil jepretannya pada Sri. Dan benar saja, Sri tergelak senang. Bahagia rasanya melihat Lucky berlumpur ria. Lucky mendongak karena mendengar Sri tertawa.
"Heh! Noah! Kau harus ikut! Sini!" bentak lucky pada Noah. Noah malah semakin tergelak melihat Lucky jengkel.
Noah menggulung celananya sampai ke batas lutut. Lalu mulai menyebrang parit kecil aliran air. Bersiap terjun ke dalam sawah membantu Lucky dan Rian.
__ADS_1
"Pak Noah!" panggil Agnes sedikit keras. Noah berhenti dan menoleh melihat Agnes. Sri juga agak sedikit kaget karena Agnes datang tiba-tiba.
"saya mau bicara sama bapak"