
"Sri!! iki tenan awak mu toh?"
Mata Rian terbelalak lebar sambil tangannya mengguncang lengan Sri kencang. Merasa tak percaya bisa bertemu dengan Sri di rumah Agnes tetangganya satu komplek. Gadis yang selama ini di cari-cari sampai dia datang ke ibukota.
Tubuh Sri terguncang kencang. Sampai kepalanya terangguk-angguk ke atas dan ke bawah. Agnes menatap mereka berdua dengan mulut terbuka lebar.
"Oalaaahh Sriii.." Rian memeluk Sri erat. Seakan tak ingin Sri pergi menjauh lagi. "Aku nggoleki awak mu lho Sriii.. kok malah nemu Nang kene sriiii..." seru Rian kegirangan. Tidak peduli Sri sesak napas akibat eratnya pelukannya.
Rian mengurai pelukannya. Menatap wajah Sri dengan mata berkaca-kaca. Sangat terharu bisa bertemu Sri hari ini. Entah mimpi apa dia semalam mendapat keberuntungan yang telah lama dinantikan.
Sri hanya bisa menghela napasnya karena sesak. Erat sekali pelukan Rian membuat dadanya sakit. Melihat itu Rian panik. Cepat menghapus genangan air mata di pelupuk matanya. Menarik Sri dan mendudukkannya di kursi teras. Mengipasi wajah Sri dengan tangannya.
"Lah.. kok malah sesek toh Sri? ayo ayo.. napas sek.." Cemas Rian mengibas tangannya di depan wajah Sri.
"Halahh.. entek napasku. Ra iso ambekan! ngrangkule kok yo nemen eram toh yaaan.." Sri memukul tangan Rian. Tangan itu berhenti mengipas. duduk bersimpuh di depan Sri.
"Sri, aku Ra nyonko Nemu awak mu neng kene Sri. Wes suwi tak goleki neng endi-ndi" ujar Rian penuh perasaan.
"Ah, Ojo baper sampeyan. Ngopo nggolek aku? Ra ono kerjaan kuwi!" Sri melengos.
"Tenan loh Sri. Sumpah!" Rian mengacungkan dua jarinya untuk bersumpah.
"Kalian berdua saling kenal?" tanya Agnes di belakang Rian.
"Eh.." Rian terperanjat kaget. Dia melupakan kalau Agnes memperhatikan mereka berdua sedari tadi. "Agnes. Kamu temenan sama Sri kok Ndak bilang aku?"
"Iih.. mana aku tau!" Agnes mencibir.
"Sri ini pacar ku, Nes" celetuk Rian.
Sri mendelik kaget. Langsung saja berdiri dari duduknya. Rian terjengkang kebelakang karena terdorong lutut Sri. Tapi Sri tak menghiraukannya.
"Enak wae.. Ngaku-ngaku pacar ku!" Sri menolak.
Rian meringis kesakitan mengusap pinggangnya. Bangkit berdiri.
"Lha kok ngono sri?"
"Sampeyan seng cinta. Aku yo Ra popo" Dengus Sri sebal.
š
š
__ADS_1
Rian tertunduk lesu. Lama mencari, setelah bertemu masih tetap ditolak. Hancur hati Rian. Sekian lama mengejar Sri, gadis itu masih saja tak meliriknya.
Agnes menatap Rian prihatin. Tetangga satu kompleknya ini tampak galau. Rian pemuda ceria. Selalu menggodanya dengan candaan ringan. Walaupun Agnes tidak pernah menggubrisnya, tapi Rian tetaplah ramah.
Beberapa bulan yang lalu Rian datang sebagai penghuni baru kontrakan paling ujung. Bekerja sebagai ojol karena belum mendapatkan pekerjaan bagus. Sebenarnya Rian pemuda yang tampan. Tidak sedikit gadis-gadis komplek yang suka melirik dan menyapanya. Bermaksud ingin dekat. Tapi Rian hanya suka bercanda menggoda mereka.
Sementara dengan Agnes, Rian suka menyapa dan kadang mampir untuk sekedar ngobrol di teras rumah.
"Jadi, orang yang kamu cari selama ini itu, Sri?" tanya Agnes pada Rian.
Pemuda itu hanya mengangguk lemah. Sri duduk di di depannya. Menatap Rian nelangsa.
"Mas Iyan, aku iku wes mbojo. Ojo macem-macem sampeyan" ujar Sri.
"Aku iku yo teresnane gor karo awakmu wae lo, Sri" Rian memelas.
"Ojo ngimpi nduwur-nduwur mas. Aku wes nduwe bojo. Sampeyan harus ngerti. Jek wokeh wadon liyo. Iki eneng mbak Agnes" Sri menunjuk Agnes.
Merasa namanya di sebut, Agnes memukul lengan Sri.
"Kamu ngomong apa Sri?" melotot melihat Sri. Sri cengengesan.
"Sri bilang, Mase pacaran sama mbake aja"
"Untuk Sri, motornya tak kasih aja, Nes"
"Hah?!"
Keduanya tercengang. Yang tadinya Rian ingin menjual motornya, kini malah menghadiahkan saja buat Sri.
Ting!
Pesan chating muncul di ponsel Agnes. Gadis itu memeriksanya. Tampak nama Beni muncul di layar ponselnya. Yang tadinya sudah tegang menghadapi Rian dan Sri, kini malah semakin tegang.
"Rilis laporan nona Sri"
Begitu bunyinya. Beni menanyakan laporan tentang Sri. Agnes langsung pamit ke luar rumah. Menatapi layar ponselnya dengan cemas. Apa yang harus di katakan pada tuan Lucky? apa iya dia harus bilang kalau Sri sekarang bertemu dengan teman lama dari kampung? Dan teman lama itu malah mencintai Sri dari dulu!
Mampus!
ā¤ļø
ā¤ļø
__ADS_1
Beni menyampaikan laporan Agnes pada Lucky. Agnes bilang, Sri akan beli motor. Dan sekarang sedang nego dengan penjualnya. Sontak saja Lucky merampok ponsel dari tangan Beni. Membaca isi pesan Agnes dengan seksama.
"Ngapain istriku beli motor bekas?" Lucky seakan bicara pada dirinya sendiri. Beni hanya diam mematung.
Mengetik balasan pesan, lalu mengirimnya pada Agnes. Meminta Agnes mengirim foto istrinya sekarang. Tapi hampir sepuluh menit, Agnes belum menjawab pesannya. Lucky mulai resah.
"Ben, kamu pikir, kenapa istriku ingin beli motor?" Lucky menatap Beni tajam.
"Saya tidak tau, tuan" Beni menggeleng.
"uuff.."
Lucky menghela napas berat. Entah apa yang di pikirkan Sri sampai mau beli motor. Dan parahnya lagi, Sri tidak memberitahunya.
Ting!
Lucky membuka pesan yang baru di kirim Agnes. Dan langsung saja keningnya mengernyit tajam. Agnes mengirim foto Sri sedang duduk berhadapan dengan seorang pemuda tampan. Tampak pemuda itu menatap Sri dengan intens. Lucky bisa melihat pancaran bahagia di mata pemuda itu.
Rasa cemburu langsung memenuhi dadanya. Panas menggelitik relung kalbu yang terdalam. Lucky cemburu. Wajahnya menggelap.
"Siapa lelaki itu?"
"Teman Sri, tuan"
Jawaban Agnes semakin membakar hati Lucky. Teman? jadi Sri mengenalnya? Sri punya teman lelaki di sini? Bukannya dia masih baru tinggal di ibukota?
"Siapa namanya?" tanyanya lagi di pesan chat.
"Rian. Tetangga komplek saya, tuan"
Bbrrrrrr...
Lucky meradang. Jadi selama ini Sri bergaul dengan orang-orang di komplek kontrakan Agnes? Laki-laki lagi!
Darah Lucky mendidih. Cemburu membakar jiwa. Istrinya tercinta sudah main gila! Ia harus memberi pelajaran pada pemuda tengil yang menatap istrinya mesra itu!
"Ben, ayo berangkat"
Lucky berdiri. Meletakkan ponsel Beni di meja. Melangkah dengan tergesa. Beni melihatnya linglung. Ada apa dengan tuannya ini? kenapa tiba-tiba langsung terlihat marah?
Beni mengecek ponselnya. Melihat foto Sri di sana. Kini Beni mengerti kenapa Lucky bersikap seperti itu. Beni geleng-geleng kepala. Si tuan muda sudah kambuh sikap posesifnya.
Beni mengikuti langkah lebar Lucky. Pasti akan terjadi perang dunia ke tiga. Nonanya sudah salah melangkah bertemu dengan seorang lelaki di luar sepengetahuan tuannya. Pasti tuan Lucky akan mel**at habis pemuda itu.
__ADS_1