OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Batal Janji


__ADS_3

setelah masuk ke mobil, barulah Sri mengubah nada bicaranya pada Lucky. Sudah jengkel sedari tadi, tapi di tahan karena bertemu Amira.


"Mase! Ndak ada kerjaan lain apa selain ngubungin aku? Mase udah buat aku di tolak kerja!!" sungut Sri pada Lucky di seberang sana.


"Hey.. kenapa langsung berubah? Tadi kau manis sekali" Lucky langsung berubah intonasi suaranya di seberang sana.


"Udah Ndak ada manis-manisan! Sri marah sama Mase Iki!" Sri menghentak-hentakan kakinya di lantai mobil. Gemas pada Lucky. Seandainya Lucky ada di depannya, sudah Sri tabok pipinya.


"Memangnya kenapa?"


"Iiihh... gara-gara suara telponnya Mase.. Sri jadi di tolak kerjaaa.. ngerti Ndak sih?" Sri menggelinjang kesal. Rasanya ingin langsung nnggesot-gesot kayak suster ngesot.


"Mana aku tau kalau kamu lagi interview. 'Kan kamu tidak ada bilang sama aku"


"Iiisshh... sebel aku! Sri benci sama Mase!" sentak Sri jengkel.


"Haha.. Kamu tau tidak benci itu apa? artinya bennnaarr.. bennaarrr cinnntaaa.."


😳 Edduwwaaann!! mimpi apa ini lanang kaku? Kok banyak bercanda hari ini? Biasanya hanya bicara sedikit. Dari mana dia bisa belajar ngelucu?


"Jangan becanda. Ndak lucu!" Sri merengut.


"Ya sudah. Nanti kerja di kantor ku saja. Kamu itu jelek. Kamu lemot. Mana ada perusahaan yang mau karyawan seperti kamu"


Lucky mengejeknya dari seberang sana. Sri yakin, pastilah pria itu sedang tersenyum lebar sekarang.


"Males! udah tutup. Sri mau pulang!"


"Ehh.. tunggu. Berikan ponsel mu pada karim"


"Mase mau apa?"


"Berikan saja"


Dengan kesal, Sri memberikan ponselnya pada karim supirnya. Pak Karim berbicara pada Lucky sejenak. Lalu menyerahkan ponsel itu lagi pada Sri. Mendekatkan ke telinganya, tapi ternyata Lucky sudah memutuskan sambungannya.


"Mase bilang apa pak?" tanya Sri pada pak Karim.


"Makan siang nona" jawab pak Karim singkat.


Sri tidak mengerti apa maksudnya. Mungkin saja minta pak Karim membelikannya nasi bungkus šŸ˜‚


Sri merengut kesal. Sudah dandan cantik-cantik, menyiapkan berkas capek-capek, eehh.. malah di ganggu setan kaku! Bahkan malah ketemu Amira yang pedas itu.


🌹


🌹


🌹


Amira meradang. Wajah cantiknya berubah menyeramkan. Tak ada senyum manis lagi di wajahnya. Hatinya panas!! Lucky sudah berani menghubungi Sri setiap waktu. Bahkan tadi Sri memanggilnya sayang?? Rindu?!


Arghh!!! Amira meremas tas tangannya. Seakan melampiaskan marahnya pada Sri dan Lucky. tidak bisa dibiarkan! Lucky sudah melanggar kesepakatan mereka. Seharusnya Lucky tidak bisa begitu. Dia sudah berjanji untuk tidak pernah menyentuh Sri dan membuka hati pada gadis kampung itu. Tapi kenapa sekarang malah berbanding terbalik? Lucky sudah menghianati cinta mereka.

__ADS_1


Berkali-kali dia menghubungi ponsel Lucky. Tapi sepertinya lelaki itu sibuk. Ya! pasti dia sedang sibuk menelepon Sri! Bahkan sekarang mereka saling canda di dalam telepon.


Amira meninggalkan meetingnya. Langsung pergi meluncur menemui Lucky di kantornya. Lucky sudah tidak bisa di tolerir lagi. Dia sudah bersiap hendak marah pada Lucky. Merangsek masuk ke kantor Lucky tanpa menghiraukan sapaan resepsionis.


"Nona Amira, anda tidak bisa masuk. Tuan Lucky sedang ada meeting sekarang"


Gea, gadis yang bertugas di resepsionis berlari kecil menghampiri Amira untuk menahan sang artis terkenal. Begitu mendengar perkataan Gea, Amira langsung berhenti dan membalikkan tubuhnya menatap Gea dengan marah.


"Heh.. siapa kamu pakai larang saya? Kamu tidak tau saya siapa?" Mata Amira melotot menatap Gea. Gadis itu sampai gelagapan menerima tatapan sadis dari Amira.


"Maaf, nona. Tapi sudah begitu yang di pesankan tuan Beni. Tuan Lucky sedang tidak bisa diganggu. Ada meeting penting saat ini" Gea memberanikan diri.


"Eehh.. ngejawab lagi! saya ini pacar Lucky! Siapa yang berani melarang saya? cuma kamu!" sentak Amira semakin marah. Mendorong bahu Gea.


"Maaf nona" Gea menunduk takut.


"Awas kamu ya! Saya yakinkan, kamu pasti segera di pecat?"


Amira membalikkan badan. Melangkah lagi menuju lift. Gea panik langsung menuju meja resepsionis lagi. Segera menghubungi Beni. Dia takut akan di pecat jika tidak mematuhi SOP yang telah di berikan Beni padanya.


Amira sudah sampai di lantai paling atas. Melangkah keluar dari lift dengan langkah lebar. Suara derap sepatu high heels nya menggema di seantero gedung ruang kerja Lucky. Tapi tidak menemukan sekertaris Beni yang biasa mengurus kedatangannya.


"Hhuhh.. Kemana semua orang di sini?" keluh ya jengkel.


Dari lorong paling ujung, Beni muncul. Melangkah mendekati Amira. Dan Amira menunggu Beni menghampirinya dengan melipat tangannya di dada.


"Nona Amira" Sapa Beni hormat.


"Maaf, nona. Tuan Lucky sedang ada rapat saat ini"


"Katakan padanya aku datang. Suruh dia menemui aku"


"Tuan sedang tidak bisa di ganggu, nona. Lebih baik, anda menunggu saja dulu" Beniasih bersabar menghadapi Amira yang pemarah.


Amira memalingkan pandangannya ketus. Tidak mau menuruti apa yang di katakan Beni. Dia sudah ingin marah pada Lucky. Tidak bisa di tawar-tawar lagi.


"Sebentar lagi tuan Lucky akan selesai. Silahkan anda menunggu di ruangannya saja" Beni masih mencoba bernego denga. Amira.


Amira terkenal gadis yang gampang marah di kantor Lucky. Tidak ada yang berani menghalanginya ketika dia berkunjung ke kantor untuk menemui Lucky. Tapi tadi, Gea sudah di peringatkan Beni, untuk tidak ada yang mengganggu rapat Lucky kali ini.


"Silahkan nona"


Beni memberi Amira jalan menuju ruang kerja Lucky. Dengan berdecak kesal, Amira menurut saja. Masuk ke ruang kerja Lucky yang harum semerbak. Pria perfeksionis itu punya selera yang tinggi. Amira menyukai itu. Duduk si sofa menunggu Lucky datang padanya. Beni pergi meninggalkannya sendiri.


Sampai beberapa menit berselang, barulah Lucky muncul. Amira sudah menyiapkan wajah cemberut. Menunjukkan kalau dia ingin protes. Lucky menatapnya datar-datar saja. Membuat Amira semakin di bakar cemburu. Pria tampan kekasihnya ini sudah banyak berubah.


Lucky duduk di sebelahnya. Melonggarkan dasinya sejenak. Lalu menatap Amira.


"Ada apa Mira? Kamu kan tau kalau aku sedang sibuk?"


Amira melengos kesal. Inikah pertanyaan seorang kekasih yang sudah lama tak bertemu? Tidak ada mesra-mesranya gitu?


"Sibuk apa? sibuk teleponan sama istri kampunganmu itu?" sinis Amira.

__ADS_1


Lucky agak terkejut mendengar itu. bagaimana Amira tahu kalau dia menelepon Sri tadi?


"Kamu bicara apa sih?"


"Tidak usah pura-pura Luck. Aku ada di sana waktu kamu menghubungi dia. Di depan wajah ku dia menunjukkan kalau kamu lagi telepon dia!" sungut Amira.


Lucky terciduk. Tidak bisa mengelak lagi. Dan dia tahu, pasti Sri memanas-manasi Amira tadi. Hmmm.. sompret juga gadis itu. Tapi Lucky tersenyum dalam hati. Pantas tadi Sri berubah memanggilnya sayang dan bilang rindu. Ternyata ada Amira di sana.


"Iya, aku telpon dia. Kenapa?"


"Apa?! kenapa kamu bilang?" Amira mendelik gusar. Amarahnya makin bangkit di guyur cemburu.


"Kenapa sih? aku cuma tanya tentang interview nya. tidak lebih" Lucky berbohong.


"Astaga! Lucky! kenapa sih sekarang kamu itu makin banyak bohongnya? Tadi dia tunjukin sama aku apa yang kamu kasih ke dia. Kamu.. kamu sungguh berubah sekarang" Mata Amira berkaca-kaca. Lucky sudah banyak berubah. Itu dapat Amira rasakan dengan nyata sekarang.


"hhaahh.." Lucky menghela napas lelah. Masalahnya semakin rumit saja dengan Amira akhir-akhir ini.


"Mira, jangan terlalu pencemburu begitu. Kamu kan tau apa status Sri. Dia istri sah ku. Papi selalu memantau kami berdua"


"Lagi-lagi itu alasan kamu"


Amira menangis sekarang. Hatinya jengkel bukan main. Kini Lucky sudah sering berbohong dan selalu memberi alasan yang itu itu saja.


"Oke.. oke. Sekarang kamu bilang aku harus bagaimana?" Lucky gemas menghadapi masalah ini. Ternyata tidak semudah yang ia bayangkan dulu. Berpikir ia bisa tidak akan tergoda dengan Sri. Tapi nyatanya, sekarang dia yang lebih mengincar Sri.


"Aku mau kamu seperti dulu.. Hiikks.. Kamu jangan melihatnya terus Luck. Bagaimana dengan ku? Mana janji mu dulu? kamu bilang akan setia. Tapi apa sekarang? Nyatanya kamu malah lebih mengurusi dia.. hikkss hikkss.." Amira nyerocos dalam tangisnya.


Hati Lucky terenyuh. Dia juga bisa merasakan perasaan Amira saat ini. Memang dulu dia yang menjanjikan tidak akan pernah meninggalkan Amira walau apapun yang terjadi. Tidak akan melirik Sri sedikit pun. Tapi sekarang janji itu seakan goyah. Sri selalu menari di dalam otaknya.


"Sayang, aku masih seperti yang dulu"


Lucky mengelus kepala Amira. Berusaha mengerti kenapa Amira marah seperti ini. Amira semakin tersengguk sedih. Dia sangat cemburu dengan apa yang di katakan Sri tadi. Hatinya tercabik-cabik mendengar dari Sri, bahwa Lucky tergila-gila padanya. selalu rindu dan minta di kasur terus.


"Kamu sudah tidur dengannya Luck?" tanya Amira menatap netra Lucky dengan linangan air mata.


Deg!


Apa yang harus di jawab Lucky? haruskah dia jujur pada Amira jika mereka berdua telah melewati malam panas bulan madu? Bahkan sekarang Lucky merasa terjerat pesona gadis kampung itu. Haruskah berbohong? Tapi jika jujur, apalagi penderitaan yang akan Amira rasakan?


"Tidak" jawab Lucky dalam kebimbangan.


"Hiikkss.. Hiikks... " Amira menubruk dada Lucky. Menangis di sana. Memeluk kekasihnya erat. " Aku takut kamu bilang iya tadi.. hikkss"


Arghh!! Sial!! Lucky berbohong. Harus berapa banyak lagi kebohongan yang akan ia suguhkan? Hati Lucky menjerit pilu. Memeluk tubuh Amira yang berguncang karena tangisnya.


"Sudah lah. Jangan menangis lagi. Aku masih kekasih mu bukan?" Lucky mengusap rambut Amira dengan lembut.


"Jangan tinggalkan aku Luck. Aku tidak bisa hiikkss.. hikkss"


Amira memeluk Lucky semakin erat. Tidak rela jika kekasihnya berpaling sekarang.


Lucky terdiam membisu. Melirik jam dinding. Setengah jam yang sudah terlewat begitu saja. Padahal dia sudah menyuruh pak Karim untuk mengantar Sri ke restoran dan makan siang bersama. Tapi sekarang Amira ada di pelukannya menangis pilu tak ingin di tinggal kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2