OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Peresmian part 2


__ADS_3

Semua mata menuju ke arah panggung. Megah dan mewah. Layar besar di belakangnya. Fardo berdiri dengan gagah. Senyum lebar tak henti menghiasi bibirnya. Tampak sangat bangga dengan pencapaian yang telah ia dan putranya raih saat ini. Tepuk tangan gegap gempita bersahutan. Sangat meriah.


"Selamat malam" sapa Fardo pada pembukaan pidatonya.


"Selamat malam" jawab semua hadirin yang hadir.


"Pertama sekali, saya mengucapkan ribuan terima kasih pada semua tamu yang telah menyempatkan waktu untuk hadir pada malam ini" Fardo mengedarkan pandangannya ke semua hadirin di depannya.


"Seperti yang anda semua ketahui, Kami mengundang anda sekalian dalam acara peresmian perusahaan baru kami yang akan menggebrak dunia bisnis di Indonesia."


Semua orang menyambut dengan tepuk tangan meriah sekali lagi. Lalu hening kembali.


"Yah.. Saya disini sangat merasa terhormat dengan kehadiran anda semua. Dan saya berharap, kita bisa bekerjasama kedepannya."


Tepuk tangan riuh kembali terdengar. Lucky dan Deva hanya diam menyaksikan kemeriahan ini.


"Perusahaan ini saya dedikasikan untuk putra saya. Dia yang akan memimpin jalannya bisnis ini. Saya sangat bangga padanya. Kita sambut.. putra ku.. Levi.."


Gemuruh tepuk tangan meriah menyambut Levi naik ke atas panggung. Tampak Neni dan Amira yang paling antusias bersorak dengan tepuk tangan sekencang kipas angin. Levi di sambut Fardo dengan pelukan hangat. Lalu mulai berdiri menghadapi semua tamu di depannya.


"Hallo semua." Sapanya. "Terima kasih atas perhatian anda sekalian" Levi membungkuk hormat. Dan hadirin kembali bertepuk tangan.


"Luck, dia tampak sangat menawan, bukan?" bisik Deva pada Lucky.


"Jika harus memilih, aku lebih suka tidur seranjang dengan Jacko daripada ular berbisa itu, Dev" jawab Lucky dingin. Deva terkekeh dan melirik Jacko yang tampak waspada memperhatikan gerak gerik tamu lain.


"Jack" Deva memanggil Jacko. Pria berkulit coklat itu langsung sigap. "Bawa istriku ke sini. Aku tidak mau dia terkena imbas debu pertikaian"


Jacko mengangguk mengerti. Segera beranjak mengamankan nona mudanya. Lucky melirik Deva dengan senyum simpul. Caera datang di kawal Jacko. Mengangguk dan tersenyum pada Lucky. Lucky membalas mengangguk hormat. Caera menggandeng lengan suaminya.


"Kata orang, jika ada keinginan untuk sukses, maka berjuanglah untuk meraihnya. Tidak peduli sekeras apa jalan di depanmu, dan sedalam apa jurang di depanmu. Tetap berjuang dan lewati itu semua. Dan itulah yang saya lakukan."


Levi mulai berbicara dengan lantang. Berdiri dengan dada membusung. Matanya mencari keberadaan Lucky dan ia menemukannya. Lalu ia tersenyum sinis. Lucky hanya diam tak berekspresi menatap langsung netra Levi.


"Sebelumnya, aku tidak di anggap. Mereka melihatku hanya seumpama anak bawang. Saya tidak lebih baik dari pada sepupu saya. Lucky"


Semua orang bergumam dan melirik Lucky. Pria itu tetap diam menerima tatapan tamu lain. tenang, setenang air tak beriak. Lucky sudah menduga ini. Peresmian ini hanya bertujuan untuk mengolok-oloknya.


"Haha.. Sudah.. Sudah.. Jangan terlalu menatapnya dengan ejekan. Haha.." Levi tertawa sarkas dan menarik kembali perhatian para tamu.


Deva menatap Levi tak senang. Menggemeretukkan grahamnya geram. Merasa Levi sudah keterlaluan. "Oh astaga!! Aku rasa ingin memotong lidahnya!"

__ADS_1


"Sayang, jangan begitu" Caera menatap Deva memperingatkan.


Namun lucky bergeming. Hanya menarik napas dalam dan tetap tenang menatap Levi lurus.


"Kalian tahu, kakekku selalu mengunggulkan kakak sepupuku. Lucky.. Lucky... Dan Lucky.. Tapi lihatlah sekarang. Lucky hanya bisa menatap pilu ketika aku bisa bangkit, dan dia jatuh. Tapi.. Jangan salahkan aku. Itu takdir" Tamu bergumam membicarakan Lucky.


"Dan sekarang aku memiliki kerajaan bisnis ini. Hasil jerih payahku. Aku memberinya nama ADIDAYA Corp!" Levi menunjuk layar lebar di belakangnya.


Blaaasshhh!!


Kembang api menyembur dari depan panggung. Menjulang keras memercikkan pancaran api yang indah. Layar lebar di panggung menampilkan visual gedung pencakar langit. Dari bawah, lalu naik sampai ujung tertinggi gedung.


"Inilah ADISAYA Corp. Masih banyak lantai ruangan yang bisa menampung anda. Jika kalian ingin bekerjasama, kalian sudah tepat jika ikut bergabung"


Di layar menampilkan setiap lantai gedung. Dari lantai dasar gedung, lobi, ruang direktur, ruang setiap divisi, dan lain sebagainya. Semua orang terkagum-kagum melihatnya. Ketika layar lebar itu menampilkan ruang meeting, gerakannya terhenti. Seakan ada yang menekan tombol pouse.


"Oh.. Maaf, mungkin ada kesalahan tekhnis. Mohon bersabar" ujar Levi tak enak hati.


Levi tampak heran. Melirik ruang kontrol di lantai atas yang terlapisi kaca tebal. Dan keningnya berkerut melihat siapa yang duduk menatapnya. Itu Rian. Kenapa bisa lelaki tengil itu yang ada di ruang kontrol? Levi mulai panik. Melihat ke arah anak buahnya dan memberi kode untuk memeriksa.


Tak berapa lama, layar kembali bisa bergerak. Menampilkan visual gedung lagi. Levi dan Fardo bisa bernapas lega. Mereka mengira anggota keamanan sudah bisa mengatasi masalah. Namun salah! Lama kelamaan tampilan visual gedung sudah mulai mengabur. Perlahan menampilkan sebuah ruangan yang diisi banyak orang.


Fardo dan Levi melotot ngeri. Apalagi Neni dan Amira. Mereka berdua menatap Levi seakan bertanya apa yang terjadi. Tapi Levi juga bingung. Mereka semua tampak pias. Layar lebar itu menampilkan visual mereka. Komplotan yang sudah merencanakan kehancuran Lucky.


"*Ayo.. Mari kita bersulang untuk keberhasilan kita" Fardo berdiri dan menganggkat gelasnya. Di ikuti semua orang yang ada di meja itu.


"Cheeeaarrsss..."


Ting!


"Apa Lucky akan menutup Bronze?"


"Ah ya, tuan Fardo. Lucky meliburkan semua karyawan. Hahahaa.. Mungkin dia sudah tidak sanggup membayar gaji semua staf. Karena uang perusahaan sudah kita kuras!"


"Haha.. Itulah akibatnya jika menentang ku!" Levi menepuk dadanya sambil tertawa bangga. "Kalian tau bagaimana wajah Lucky ketika ada temuan di gudang? Pucat!! hahahaa.. Dia pucat pasi!" ahaa.. Aku sangat senang melihat itu!"


"Ya. Aku juga melihat itu. Kau sungguh licik bisa memasukkan barang itu, Lev!"


"Tidak akan berhasil tanpa bantuan kekasihmu itu, pak Bayu! Hahaha... aku memasukkan barang itu dari gudang kantor cabang. Tapi si sopir bodoh itu tidak menyadarinya. haha.. Sudah sering begitu. Dan Noah tidak pernah curiga"


"Bagaimana soal keuangan itu, Lev? Apa kau sudah mentransfer lagi ke rekeningku?"

__ADS_1


"Tentu saja. Tenanglah pak Bayu. Aku tidak mungkin menelan uang itu sendiri. Noah sudah tersingkir. Aku puas!"


"Hahaha.. Kau memang sungguh keji, Lev! Aku memang tidak suka pada Noah. Dia terlalu lurus untuk di temani"


"Dan juga penghalang"


"Hahahaaa..."


"Hey.. Kalian tidak mau dengar tentang masalah perempuan kampung itu ketika tertangkap basah?"


"Oh ya? bagaimana? Ayo ceritakan padaku"


"Hihihi... Aku sangat senang ketika Lucky melihat istrinya telanjang bersama Noah! Hahaha.. Dia sangat marah. Dan perempuan kampung itu sampai menangis ketakutan! Hahaha.."


"Apakah Lucky menghajar Noah?"


"Yaaahh.. Bagaimana tidak? Noah meniduri istrinya! Haha.. Kalian tau? Lucky langsung memerintahkan untuk melenyapkan Noah untuk makanan buaya!" Amira menempel pada Levi. "Ini berkat kecerdasan kekasihku ini. Dia yang merancang segalanya. Aku sangat sayang padamu, Lev. Terima kasih"


"Tapi, tuan Fardo. Bagaimana ayah anda? Apa sudah sembuh?"


"Hhh.. Dia bukan ayah kandungku. Walaupun salah sasaran, tapi itu tidak masalah. Masih untung dia tidak mati. Dan aku memerintahkan penembak itu untuk segera pergi. Kalau tidak, pastilah dia benar-benar menembak kepala lelaki tua itu"


"Seharusnya Noah yang mati, pa"


"Setidaknya, sekarang Noah juga mati bukan? Jadi makanan buaya"


"hahaahaaa.. Ya benar"


"Aku puas! Benar-benar puas! Aku bisa membuat Lucky bangkrut. Aku bisa membalas sakit hatiku yang selalu tak di anggap kakek. Sekarang Lucky sudah bangkrut. Dan aku akan menjadi penguasa. Sebentar lagi kita akan mengadakan peresmian pembukaan perusahaan baru. Haha.. Mampus kau lucky*!"


Bukan hanya Fardo dan Levi, Neni, Amira yang bingung dan resah. Mata mereka seakan ingin copot dari kelopaknya. Semua orang mendengar dan menyaksikan pembicaraan rahasia mereka ketika itu.


Juga para tamu undangan sudah banyak yang bergumam. Saling berbisik dan menatap bingung ke arah layar besar di belakang Levi. Mereka kaget melihat di layar besar itu tentang percakapan yang sangat membuat mereka terkejut. Ternyata Levi dan Fardo telah merencanakan ini semua.


"Levi, apa-apaan ini?" bisik Fardo dengan suara geram tertahan.


"Aku tidak tau, pa" Levi sudah mulai panik. Menatap semua orang nanar. Malunya setengah mati.


Plok! Plok! Plok!


"Hah?!"

__ADS_1


Semua orang menatap Lucky. Pria gagah itu bertepuk tangan seorang diri. Tepukannya sangat nyaring dan keras. Tersenyum sinis menatap langsung netra Levi.


"Bagus! Ternyata ini yang kalian lakukan?"


__ADS_2