OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Langsung Kerja


__ADS_3

Mereka sampai di depan gedung menjulang tinggi. Tampak megah. Sri melihatnya tercengang. Tak percaya Noah bekerja di gedung perkantoran elite dan mewah ini. Karena Noah hanya mengaku sebagai supir.


Noah membawanya masuk. Terlihat logo besar nama perusahaan di dinding belakang meja resepsionis, dengan huruf tebal dan besar berwarna merah menyala.


BRONZ GROUP


Terlihat sangat mewah. Meja resepsionis yang tinggi, lobi yang sangat luas dengan furnitur mewah berkelas. Banyak karyawan yang sibuk dengan urusan masing-masing. Rata-rata mereka semua berpenampilan sempurna. Cantik dan berpenampilan menarik.


Noah membawanya masuk kelift dan mereka naik ke lantai Enam gedung. Sri sedikit cemas dan gugup. Noah tampak besikap serius. tidak seperti tadi sewaktu mereka di dalam mobil. Kini aura profesionalisme kerjanya terpancar jelas.


Keluar dari lift di lantai enam. Masuk ke lantai khusus departemen pemasaran. Noah langsung mengumpulkan semua karyawan di divisi ini. Semua karyawan yang berada di kubikel masing-masing langsung menghadap padanya.


"Selamat siang semua" Ujar Noah berwibawa.


"Selamat siang pak" jawab mereka serempak.


"Kita ada anggota baru. Ini Sri. Akan bekerja sama dengan devisi kita. Saya harap kalian semua bisa saling membantu dan bekerja sama dengan baik. Sri beranda di bawah pengawasan saya langsung"


Banyak orang yang bergumam tak jelas. Tapi tak urung mereka semua mengangguk. Menatap Sri dengan segala macam persi. Ada yang tersenyum dan ada juga yang menggumam membicarakannya terang-terangan.


"Baiklah kalau begitu. Dila, tolong kamu tunjukkan apa saja tugas Sri. Setelah itu, serahkan pada saya lagi" ujar Noah memberi perintah.


Gadis yang bernama Dila, datang mendekati Sri. Tersenyum mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Sri menyambutnya dengan senang hati. Lalu semua karyawan di divisi ini kembali bekerja dengan normal.


"Kamu bisa kan Sri?" tanya Noah pada Sri.


"Ya mas. Eh.. maksud saya, bisa pak. Kan ada mbak Dila" Sri gugup salah menyebut Noah dengan embel-embel mas.


Noah tersenyum kecil. "Baiklah. Kalau begitu, silahkan ikut dengan Dila"


Noah pergi. Dila membawa Sri ke kubikelnya. Menunjukkan kubikel Sri di sebelahnya. Memberi arahan apa saja tugas Sri selanjutnya.


🌺


🌺


🌺


"Sudah selesai?"

__ADS_1


Sri mendongak kaget melihat Noah melongokkan kepala di sekat kubikelnya. Menggelengkan kepala menatap Noah yang terlihat serius. Noah berjalan masuk mendekati Sri.


"Apa yang kamu tidak paham?" tanyanya lagi melihat ke laptop Sri.


"Cuma sedikit mas. Eh.. pak" Sri salah lagi memanggil Noah. Ada senyum kecil di bibir Noah mendengar panggilan Sri padanya.


"Jadi sudah paham?"


"Sudah pak. Tinggal meng-copy data"


"Hmm.. baiklah. Kalau sudah selesai, masuk ke ruangan saya"


Sri hanya mengangguk terbengong melihat Noah pergi meninggalkannya. Noah sangat berbeda di kantor. Sikap serius dan tegas tergambar jelas di wajahnya. Jauh berbeda ketika mereka hanya berdua.


Dila bilang, Noah menduduki posisi manejer pemasaran. Mengepalai divisi tempat Sri sekarang. Dan merangkap menjadi general menejer semua divisi di perusahaan. Sri baru tahu kalau bisa merengkap beberapa jabatan penting di perusahaan ini.


Sri sudah mengenal beberapa orang rekan kerjanya. Mereka baik dan ramah. Tapi tadi ada seorang gadis bernama Susan yang menatapnya tak suka. Cantik sih, tapi wajahnya jutek. Menggunjingkan Sri karena dapat dukungan penuh dari kepala menejer mereka langsung.


"Hhh.. paling-paling cuma modal rayu dia bisa masuk ke sini. Kalian kan tau kalau masuk ke perusahaan ini butuh kerja keras yang ekstra. Masa iya tanpa tes dia bisa langsung dapat meja?"


Begitu Susan menggunjingkan Sri ketika Dila mengajaknya berkeliling sebentar. Sri mencoba tak menghiraukan itu. Tapi benar juga sih. Tanpa tes Sri langsung bisa kerja. Itu karena Noah. Sang kepala menejer. Sri belum lihat siapa Presdir perusahaan ini. Hanya mengikuti saja apa yang Noah katakan, dan Dila beritahu padanya masalah kerja. Selebihnya, Sri tidak ambil pusing.


Pesan masuk di ponselnya. Sri mengecek sebentar. Dari Lucky.


"Pulang sama aku. Nanti aku jemput. Jam berapa?"


Sri melirik jam dinding di ujung sebelah kanan. Masih jam tiga. Pekerjaannya masih ada.


"Ndak apa mas. Nanti Sri pulang sama pak Karim aja"


Sri membalas pesan Lucky. Dan pria itu tidak membalas lagi. Setelah kerjanya selesai, seperti yang di katakan Noah, Sri beranjak masuk ke ruang kerja Noah. Mengetuk sesaat dan Noah mempersilahkannya masuk.


Ruangan Noah cukup luas dan nyaman. Aromanya pun menyenangkan Indra penciuman Sri. Tertata rapi dan sedap di pandang mata.


"Bagaimana? Kamu bisa kan?" tanya Noah begitu Sri duduk di depannya.


"Lumayan bisa pak. Mbak Dila tadi itu tutor yang baik" jawab Sri.


"Hahaa.. Aku bukan bapak kamu. Kalau kita berdua, biasa saja Sri" Noah tergelak mendengar panggilan Sri padanya.

__ADS_1


"Waduh.. saya takut sikap pak. Nanti di depan yang lain saya panggil mas, gimana?"


"Ya harus bisa dong"


"Ndak pak. Biar begini saja"


"Haha.. terserah kamu" Noah tergelak. "Tadi sudah makan siang?"


Sri menggeleng. Dia sibuk dengan Dila tadi. Sampai melupakan makan siangnya. Noah mengambil bungkusan di rak sebelah tempat duduknya.


"Nih, makan"


Noah menyerahkan bungkusan plastik itu di depan Sri. Sri mengerutkan keningnya.


"Apa ini mas? eh pak?"


"hehe.. Makan siang mu Sri. Nanti kamu sakit Kerja terus sampai lupa makan"


Sri menatap Noah seakan berpikir keras. Mengingat apa yang di katakan Susan tadi, Sri jadi merasa tak enak hati.


"Ndak usah pak Noah. Ndak enak sama yang lain. Biar Sri makan nanti aja tunggu pulang"


"Siapa yang lain? cuma kita berdua di sini"


Sri bingung mau menjawab apa. Memang Noah kan tidak tahu apa yang di katakan Susan tadi. Akhirnya menerima bungkusan itu dan membukanya. Nasi Padang. Sri tersenyum berbinar melihat nasi Padang yang menggugah seleranya. Sebenarnya memang perutnya sudah keroncongan minta diisi. Tapi Sri segan.


Menyuap makanannya ke mulut. Menikmati dengan diam. Noah kembali berkutat di depan leptopnya. Membiarkan Sri makan siang.


"Bapak kok bohong sama saya?" tanya Sri tiba-tiba.


Noah menghentikan kerjanya. Menoleh menatap Sri yang sedang makan tanpa melihat kearahnya.


"Bohong apa?"


"Katanya cuma supir. Tapi waktu di pulau kata mbaknya bapak yang punya cotage. Trus sekarang, malah punya jabatan penting di perusahaan" Sri melirik Noah sejenak. Lalu menunduk lagi. Rasa penasarannya sangat kuat hingga tidak tahan jika memendamnya terlalu lama.


"Oohh.." hanya itu jawaban Noah. Lalu menatap laptopnya lagi.


"Cuma oh?"

__ADS_1


Noah tetap diam. Mengetik di laptop dengan tenang. Seperti tidak mendengar apa yang di tanyakan Sri barusan. Sri tidak mau memaksa lagi. Membiarkan Noah diam dalam pikirannya sendiri.


__ADS_2