OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Permen Wangi


__ADS_3

Mereka tiba di kota B. Kota pariwisata terbesar di Indonesia. Lucky ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan untuk besok. Meeting dengan beberapa Investor besar dari Jerman.


Beni sudah menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan Lucky. Termasuk hotel untuk menginap. Hari sudah malam ketika mereka baru saja sampai di hotel mewah di kota ini. Setelah memeriksa semua keperluan Lucky beres, beni pergi meninggalkan kamar Lucky dan pergi kekamarnya sendiri untuk beristirahat.


Setelah membersihkan diri, Lucky dan Sri makan malam di kamar hotel. Kamar Presidential suite room yang besar dan megah ini terasa sepi. Hanya mereka berdua yang menempati. Tapi bagi mereka berdua, tidak akan pernah terasa sepi jika sudah bersama.


"Mase, mami bilang apa tadi?" tanya Sri seraya mengelap mulutnya dengan serbet. Selesai makan malam.


"Mami sibuk dengan arisannya, sayang. Dia tidak akan peduli sekalipun aku membawamu ke planet mars" jawab Lucky.


"Iishh.. Mase Iki!" Sri mencubit lengan Lucky gemas. Lucky terkekeh geli.


"Sudah selesai?" Lucky minum air putih.


"Hem" Sri hanya mengangguk saja.


"Baru pertama kesini, sayang?" Menarik Sri ke balkon kamar. Duduk di sofa empuk menghadap ke laut.


Sri menyandarkan kepalanya di dada Lucky. Menatap bintang ribuan bintang yang bertebaran di langit malam.


"Iya, mas. Ini pertama kali" jawabnya lirih.


"Lain waktu, aku akan membawa mu kesuatu tempat yang jauh lebih indah. Sekarang, kita nikmati ini dulu"


"Kemana?" Sri mendongakkan kepalanya menatap Lucky.


"Swiss"


"Jauh Mase. Ndak usah"


"Haha.. kenapa?"


"Ntar Sri mabuk"


"Haha.. kampungan" desis Lucky setelah tergelak.


Sri merengut dikatakan kampungan. Tapi memang benar sih. Dia kampungan kalau urusan naik pesawat. Selalu merasa pusing dan mual. Kadang juga perutnya terasa kram.


Lucky menarik istrinya kedalam pelukannya. Mengecup puncak kepala Sri beberapa kali. Tertawa geli melihat bibir Sri mengerucut kesal.


"Kenapa marah? hmm? kamu memang kampungan dari dulu" mendusalkan wajahnya di ceruk leher Sri. "Tapi aku suka. Aku cinta kekampungan mu ini. Gemas" mengecupi pipi Sri yang menggeleng meronta.


"Bau Mase!" Sri mendorong wajah Lucky menjauh.


"Eh.. bau apa?" Lucky menjauhkan wajahnya. "Hahhhh..hahhhh.." mengeluarkan napasnya untuk mencium baunya. "Tidak kok"


"Iishh.. Mase jorok!" Sri menghindar. Merenggangkan pelukan Lucky. Wajahnya menunjukkan rasa jijik.


"Tidak bau, sayang. Biasanya juga kamu suka ini" Lucky memonyongkan bibirnya kedepan.


"Mase baru makan iishh.. bau!" Sri menutup hidungnya.


"Haha.. " Lucky tergelak lagi. Lucu melihat Sri menjepit hidungnya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar. Sri punya permen"


Sri beranjak ke dalam kamar. Memeriksa permen di dalam tasnya. Tapi sayang, permennya cuma satu. Sri kembali lagi duduk di samping Lucky.


"Nih, makan permen Mase"


Membukakan bungkus permen. Menaruhnya ke mulut Lucky. Lucky menaikkan alisnya. Merasakan rasa permen manis dan mint yang menyegarkan. Belum pernah Lucky makan permen itu.


"Enak, mas?"


"He'em. Enak"


Sri tersenyum senang. Menyandarkan lagi kepalanya di pundak Lucky.


"Besok Mase ada rapat?"


"Iya. Kamu ikut?"


"Ndak usah mas. Sri di sini aja"


"Tidak bosan?"


"Mase lama tah?"


"Lumayan. Ada rapat dengan tuan Joseph. Mungkin akan alot. Kamu tidak apa-apa Aku tinggal sebentar?"


"Ndak apa mas. Cuma sebentar kan?"


"Tidak tau, Sri. Mungkin empat jam"


Lucky bergeser dan menarik Sri kepelukannya lagi. Mendekap tubuh istrinya.


"Permennya cuma satu?"


"Iya, mas. Itu juga sisa di kasi mbak Agnes tadi pagi"


"Kamu mau?" Lucky mengeluarkan sedikit ujung permen di bibirnya.


"Ndak ah. Mase aja"


"Ini sedikit. Kita berbagi"


Lucky menaikkan dagu Sri. Mengikis jarak mereka. Mendekatkan bibirnya ke bibir Sri. Menggesekkan ujung permen di bibirnya ke bibir Sri. Di rasa cukup, Lucky memasukkan lagi permen ke dalam mulutnya. Lalu Melu**t bibir Sri. Menyecap rasa manis bibir merah itu yang terasa semakin manis saja.


Sri meremas baju Lucky bagian depan. Geli merasakan lidah suaminya menari di bibir dan sesekali memasukkan permen ke dalam mulutnya, dan mengambil permen itu lagi dengan lidahnya.


Ternyata rasa manis dari permen, mampu menambah intens luma**n mereka. Lucky meninggalkan permen di dalam mulut Sri. Melepaskan pagutannya. Menatap manik mata Sri dan tersenyum mesra.


"Manis?" tanyanya dengan senyum menggoda.


Sri tersipu malu dan mengangguk. Kini permen itu ada di mulutnya. Sri menyecap rasa manis dan mint itu dengan senang.


"Kembalikan lagi, sayang. Nanti habis"

__ADS_1


Lucky memagut kembali bibir Sri. Menelusupkan lidahnya mencari keberadaan permen di mulut istrinya. Tapi dengan usil Sri menyembunyikan permen di bawah lidahnya. Membuat Lucky tidak dapat menemukan permen itu.


Lucky melepaskan pagutannya. Menatap netra Sri lagi dengan mata berbinar.


"Habis?"


Sri menggeleng. Mengeluarkan ujung permen di apit bibirnya. Lucky tersenyum lebar dengan kenakalan Sri.


"Jangan pancing aku sayang" desisnya menyeringai lapar.


"Eh.. Ndak kok" Sri mulai gugup. Dia tahu apa maksud Lucky.


Tanpa basa-basi, Lucky bangkit berdiri dan membopong Sri masuk ke dalam kamar. Merebahkan Sri di atas ranjang empuk. Menatap manik mata Sri intens. Tersenyum sensual menyadari kenakalan istrinya.


"Aku akan cari lagi" menyeringai lapar menatap bibir Sri.


"Udah habis Mase"


"Hmm.. jangan bohong, Sri"


"Beneran. aaa.." Sri membuka mulutnya. Menunjukkan kalau permennya sudah habis.


Lucky membulatkan matanya lebar. Gemas sekali Sri nakal menghabiskan permen itu sendiri.


"Tapi rasanya pasti masih tertinggal" bisiknya mesra. Membuat Sri merinding.


Kembali Lucky memporak porandakan mulut Sri. Melesakkan lidahnya ke dalam. Menyesap lidah Sri mencari sisa rasa manis permen tadi. Sri menggelinjang geli. Lidah Lucky menari di setiap inci dalam mulutnya. Lidah panas itu membelit lidahnya. Membuat napas Sri terputus-putus.


Lucky melepas luma**nnya. Tersenyum menatap istrinya. Sri sampai kehabisan napas. Tersengal memasok udara ke dalam paru-paru nya sebanyak mungkin.


"Rasanya makin manis, sayang. Tidak berubah"


Sri tersipu malu. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lucky. Lucky terkekeh geli melihat rona merah di pipi Sri. Istrinya masih saja merasa malu ketika dia menggodanya. Lucky suka itu.


Mengendusi pundak Sri gemas. Tangannya mulai nakal. Menyusup masuk kedalam baju Sri. Berusaha mencari gunung kenyal pavoritnya. Dalam gerak cepat, Lucky segera mendapatkan apa yang ia inginkan. Meremas lembut gunung yang masih dalam lingkungan cup bulat itu.


Menarik penutupnya ke atas. Menemukan puncak mungil yang selalu ia gilai. Memi**n lembut. Membuat Sri melenting geli. Memejamkan matanya erat.


"Hmm.. ini lembut sekali, sayang" Bisik lucky sambil menatap wajah Sri. Sangat menyukai memperhatikan reaksi istrinya ketika tangan nakalnya singgah di tempat pavorit bagian tubuh Sri.


Berhenti sejenak. Menaikkan baju Sri sampai ke batas leher. Terpampang lah gunung mulus tanpa cela. Ujung pinky yang mencuat tegang. Selalu Lucky suka melihat itu. Mencucup ujung gunung dengan lembut. Menarik dengan bibirnya, dan sesekali menggigit kecil.


Sri menggelepar kegelian. Menahan wajah Lucky dengan tangannya. Agak mendorong berharap Lucky mau menghentikan membuatnya melayang. Tapi Lucky malah semakin gencar menge**t dan menj**at.


"Maaassee.." Sri melenguh pelan. Tubuhnya bergetar merasakan lidah hangat Lucky menyapu kasar di ujung pinkynya.


Jila**nnya merambat turun. Berhenti di perut rata istrinya. Menatapi di sana agak lama. Mengelus perut Sri lembut. Sri menaikkan kepalanya menatap Lucky di bawah. Lucky sedang menatapi perutnya. Mengelus dan tersenyum sendiri.


"Kenapa mas?" tanyanya pelan.


"Nanti perut rata ini akan ada baby kita" ujar Lucky mendongak menatap netra Sri.


Sri tersenyum. Merasa terenyuh. Suaminya sudah ingin memiliki bayi. Tapi itu belum terwujud. Sri mengelus rambut Lucky dengan sayang.

__ADS_1


"Kita cetak lagi ya, sayang? hmm?"


Sri mengangguk. Apapun akan ia turuti kemauan Lucky. Bukan hanya cetak, sekalipun potocopy pasti Sri setuju.


__ADS_2