OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Dapat Lowongan


__ADS_3

NB: PENGHUJAT DAN PENCELA DILARANG BACA! SILAHKAN SKIP KALAU KIRA-KIRA BUAT SAKIT MATA. šŸ˜œšŸ˜ KECUALI UDAH LIKE!


Happy reading readers setia 😘😘


🌺


🌺


🌺


Sri keluar dari Kondominum tanpa menunggu baris datang. Setelah menyiapkan baju Lucky dan meletakkannya di tempat tidur, Sri pergi. Tak ingin berpapasan lagi dengan Lucky.


Hanya menunggu besok. Mereka akan pulang ke mansion setelahnya. Sri akan sibuk memeriksa email lamaran kerjanya. Sri bertekad, harus mendapatkan pekerjaan secepat mungkin. Agar dia punya kesibukan dan tidak selalu Lucky yang ada di otaknya.


Sri memutuskan mencari cottage yang di tunjukkan Noah kemarin malam. Berjalan kaki meninggalkan area kondominium. Menuju arah yang di tunjukkan Noah.


Sri melihat ada banyak cottage yang berjejer menghadap ke arah laut langsung. Pemandangannya sangat indah. Sri sangat menyukai itu. Laut biru membentang luas sejauh mata memandang. Pasir pantai yang berkilauan di timpa cahaya mentari yang bersinar terang.


Sri terus melangkah masuk ke area depan resepsionis. Menanyakan cottage atas nama Noah. Pria itu tidak memberi nomor ponselnya kemarin. Dan Sri juga kebetulan sedang tidak membawa ponselnya.


"Tunggu sebentar, nona. Saya akan periksa" ujar seorang gadis yang bertugas di bagian resepsionis cottage. Sri hanya mengangguk dan menunggu.


"Mm.. Maaf nona. Apa yang anda maksud tuan Noah Adrian?" tanya resepsionis itu untuk memastikan.


Sri termangu. Mana dia tahu kalau nama Noah itu adalah Noah Adrian. Pria itu hanya menyebutkan namanya Noah. Tidak ada yang lain.


"Ndak tau saya mbak. Katanya namanya Noah saja" Jawab Sri canggung.


Resepsionis dengan Name tag di dadanya bernama Susan itu menatap Sri dengan pandangan aneh. Apalah yang di pikirkan resepsionis ini. Seorang gadis mencari seorang pria di sebuah penginapan tapi tidak tahu identitas lengkapnya. Pastilah orang akan berpikir macam-macam.


"Kami hanya punya daftar atas nama Noah Adrian. Dia pemilik cottage ini nona" ujar Susan memberi informasi.


Mendengar itu, Sri merasa salah alamat. Kemarin Noah bilang pekerjaannya hanya seorang sopir. Mana mungkin dalam satu malam dia jadi pemilik cottage mewah ini?


"Oh.. Maaf mbake. Saya kira salah alamat. Bukan itu orangnya. Makasih mbak. Permisi"


Sri beranjak keluar dari lobi cottage. Mungkin Noah sudah pergi. Sri terlambat menemuinya. Atau mungkin, Noah berbohong kalau ia menginap di cottage ini. Mungkin cottage yang lain.


"Hey.. Sriii!"


Tapi sebelum keluar dari pintu, seseorang memanggilnya dari arah dalam lobi. Sri berbalik. Mencari sumber suara yang memanggil namanya. Terlihat seorang pria melambaikan tangannya dari halaman yang melewati sebelah dalam lobi.


Seketika senyum Sri mengembang. Itu Noah. Lelaki itu di sini. Berarti benar dia adalah Noah Adrian. Pemilik cottage ini. Eh.. tapi, apa iya?


Noah melangkah mendekati Sri dan melewati Susan yang berjaga di resepsionis. Gadis itu membungkuk hormat. Dan Noah hanya membalas dengan anggukan kecil. Menghampiri Sri yang masih terpaku di ambang pintu lobi.


"Hai. Kamu datang mencari ku eh?" tanya Noah.


"Eh.. A-anu mase. Emm.. cuma kebetulan lewat sini" Sri gugup karena Noah langsung menebak kedatangannya tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Haha.. Tidak apa. Yang penting, kamu di sini sekarang" Noah menggunyar puncak kepala Sri.


Sri melirik Susan yang terbengong melihat mereka berdua. Sri cepat menghindari tangan Noah. Membenarkan rambutnya yang sempat di acak Noah tadi.


"Ayo. Ikut aku"


Noah tiba-tiba menggenggam tangan Sri dan menariknya. Sri terperanjat kaget tapi tak bisa menolak. Noah menariknya masuk. Melewati Susan dengan mulut ternganga menatap Sri. Sri hanya bisa mengangguk pada Susan dan nyengir kuda.


Noah membawanya ke sebuah kafe kecil masih di area cottage. kafe itu langsung berhadapan dengan view laut biru. Udara yang sejuk dan matahari yang belum bersinar terlalu terik, membuat suasana hati Sri sedikit membaik. Bisa melupakan kejadian bangun tidur tadi.


"Gimana? kamu suka tempat ini?" tanya Noah ceria sambil duduk di depan Sri.


"Suka Mase. Indah Yo" jawab Sri menatap sekeliling dengan senyum lebar berseri-seri.


"Bagus" ujar Noah seraya menggosok kedua telapak tangannya. Terlihat Noah sangat bersemangat sekali bertemu Sri. "Kamu mau makan apa?"


"Hah?" Sri menatap Noah. "makan?"


"Iya. kamu mau makan apa? aku traktir" jawab Noah.


Traktir? perasaan dari kemarin malam Noah terus yang mentraktirnya makan. Sri merasa malu hati. Seperti datang hanya ingin traktiran makan gratis.


"Ah.. ya sudah. Biar aku yang pilih ya?"


Sebelum Sri sempat menjawab, Noah sudah memanggil pelayan. Seorang pelayan laki-laki datang dengan sikap hormat dan santun. Noah menyebutkan apa saja yang ia pesan. Lalu pelayan itu pergi.


Sri ingat yang di katakan Susan si resepsionis tadi. Bahwa daftar nama yang mereka punya hanya atas nama Noah Adrian, pemilik cottage ini.


"Mase. Mase bohong toh sama Sri?"


"Bohong? tentang apa?" Noah memiringkan kepalanya. Mencoba mengingat kebohongan apa yang dia lakukan.


"Mase bilang kemarin, mas Noah itu cuma sopir" ujar Sri menatap lekat wajah tampan di depannya.


"Oohh.. itu.. hehehe.." Noah terkekeh mengingat ia mengaku pada Sri hanya seorang sopir.


"Tadi mbake yang di depan bilang, Mase ini yang punya tempat ini"


"Haha.. bukan aku. Tapi kakek ku. Aku hanya sopir yang sering mengantar kakek" jawab Noah tertawa ceria.


"Iisshh.. sama saja itu namanya" sungut Sri.


Noah hanya tergelak senang. Tak peduli siapa dia sebenarnya. Yang paling penting sekarang, Sri datang ingin bertemu dengannya.


"Kalau kamu? apa kegiatan mu?" Noah menatap Sri dengan senyum simpul.


"Ndak ada Mase. Sri lagi cari kerja ini. Rencananya nanti kalau sudah pulang, Sri periksa lamaran kerja lagi. Mudah-mudahan cepat dapat kerjanya"


Noah terdiam. Menatap Sri dengan alis bertaut. Heran saja jika Sri mengaku tidak punya kerja. Untuk sampai ke pulau ini, bukan biaya sedikit yang harus di keluarkan. Bagaimana Sri bisa sampai kepulau ini dan tinggal di kondominium kelas satu?

__ADS_1


"Siapa teman menginap mu, Sri?" tanya Noah langsung.


"Eh.."


Sri tercekat. Apa harus jujur kalau dia datang bersama Lucky, suaminya? Tapi apa nanti yang akan di pikirkan Noah kalau tahu Sri sudah bersuami?


"Sama teman Loh mas" jawab Sri berbohong.


"Oohh.. " hanya itu yang terlontar dari bibir Noah. Dia tak mau memaksa Sri untuk mengatakan yang sebenarnya. "Jadi kamu masih cari kerja?"


"Hem" Sri mengangguk.


"Mau kerja di kantor teman ku?" Noah menawarkan.


"Waahh.. beneran mas?" langsung saja wajah Sri berbinar cerah secerah mentari pagi menjelang siang ini.


"He'em" Noah mengangguk lagi.


"Wahh.. mau mas mau" jawab Sri spontan dengan betepuk tangan senang. Seperti bocah yang di beri hadiah kesukaannya.


"Tapi harus ikut seleksi dulu. Aku tidak bisa meloloskan mu sembarangan"


"Ah.. Sri Ndak peduli mau tes apa. Yang penting Sri bisa kerjo, Mase" Sri langsung menyanggupi.


"hmmm.. baiklah"


Noah merogoh saku celananya. Mengeluarkan dompet dan mengambil selembar kartu nama. Menyerahkannya pada Sri.


"kalau kamu sudah pulang, dan sudah siap, langsung saja kamu ke sini. semoga di terima" ujar Noah.


"Waaahh.. terima kasih Mase. Makasih banyak loh mas"


Mata Sri berbinar senang. Noah sudah banyak membantunya. Kini malah memberi peluang pekerjaan walau harus mengikuti serangkaian tes yang harus Sri tempuh.


Beberapa pelayan datang membawa banyak menu hidangan. Sri tercengan melihat mejanya sekarang penuh dengan makanan enak. Noah hanya tersenyum melihat wajah melongo Sri.


"Ayo Sri. Silahkan di makan"


"Mase, ini banyak banget. Namanya bukan sarapan ini"


"Memang bukan. Ini makan siang. 'kan sudah siang. Sudah.. ayo makan"


Noah tak mempedulikan lagi denga. protes Sri. Segera mengambil bagiannya dan makan dengan lahap. Sri ikut-ikutan saja. Melihat Noah tanpa canggung makan dengan lahap, Sri juga melakukan hal yang sama dengan Noah.


Bersama Noah, Sri tidak perlu jaim. Tidak perlu menjaga sikap. Noah sangat terbuka dan luwes seperti orang kebanyakan. Tapi Lucky? pria itu sangat kaku. Sri hanya melihat Lucky menghilangkan kekakuannya hanya saat sedang menciumnya seperti tadi malam.


Mereka makan dengan sesekali melontarkan candaan dan mengobrol dengan santai. Noah mampu membuat Sri melupakan segala kekesalan hatinya hari ini. Noah bersikap ceria dan tidak menunjukkan sikap sebagai seorang bos pemilik cottage mewah. Sri suka bicara dengan Noah.


šŸ„°šŸ˜šŸ¤©

__ADS_1


__ADS_2