
"Aku cinta kamu sayang"
"Hah?!"
Sri terperanjat kaget mendengar itu. Menatap Lucky tercengang. Wajahnya terasa panas dan pastilah semburat merah menyerbu di pipinya. Lucky tersenyum manis menatap Sri setelah menyatakan kata cinta dengan entengnya.
Sementara Noah, napasnya langsung tercekat berat. Rasa nyeri menumbuk langsung ke jantungnya. Menatap Lucky jengah.
Aku juga cinta dia Luck!!
Noah merutuki Lucky dalam hati. Mengumpat sebal kenapa terlambat bertemu Sri. Kalau saja waktu di taman sri tidak langsung pergi, pasti Noah sudah membawanya kabut. Dan kalau saja waktu di pulau dia tidak melihat Om Baris berdiri tegak di depan kondominium Lucky, pasti Noah sudah mendobrak pintu itu dan memeluk Sri karena khawatir gadis inj menghilang tiba-tiba.
"Ya, sayang. Itu bedanya aku dan Noah. Aku cinta kamu" sambung Lucky memastikan dengan mengulas senyum mesra menatap Sri.
Glek!
Sri menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa mengering tiba-tiba. Baru saja dia mendengar pernyataan cinta Lucky disaksikan Noah dan Beni. Tapi... kalau hanya kedua pria ini, belum tentu Lucky serius mengatakan itu. Bisa saja dia hanya bercanda bukan?
Itu modus Sri!! tenaaang.. tenang. Tarik napaaass... hempaskan!! jangan tergoda Sri!! kuatkan hatimu. M-O-D-U-S. MODUS!!
Sri berteriak dalam hati. Mencoba menetralisir debaran jantungnya akibat pernyataan cinta Lucky yang spontanitas. Menguatkan hatinya bahwa Lucky hanya menggodanya saja. Lelucon tak jelas.
Setelah dapat menguasai diri, Sri menyerahkan map kedepan Lucky tanpa melihat wajahnya.
"Ini, tuan"
Senyum manis itu langsung pudar. Sri masih saja bandel tidak mau melihat ke arahnya. Lucky merasa di lecehkan! harga dirinya kembali terkoyak di depan Noah dan Beni. Rahangnya mengetat. Geram melihat Sri masih saja ngambek.
"Mpphhpp"
Noah membekap mulutnya. Menahan tawa melihat Sri tidak menyambut kata cinta Lucky. Senang melihat wajah Lucky kembali dingin dan mengeram jengkel. Beni hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah padam menahan tawa.
"Ck.. menyebalkan!" Lucky menendang kaki Noah. Lalu menerima map berkas yang di sodorkan Sri.
"Silahkan di periksa Tu-an Lu-cky" Gantian Sri mendikte nama Lucky dengan mencebik.
__ADS_1
Lucky melirik Sri dingin. Tatapan membunuh itu membuat Sri bergidik ngeri. Ingin segera kabur saja. Lucky sudah mulai tampak marah. Noah menahan senyumnya melihat kejengkelan Lucky.
"Kalau begitu, saya permisi, pak. Masih ada pekerjaan" ujar Sri melirik Noah sejenak lalu mundur dan berbalik. Melangkah tergesa ke arah pintu.
"Ee.. e..eee.." Suara Lucky menggema membuat tangan Sri berhenti mendadak memutar kenop pintu. "Mau kemana kamu?" Tatapan itu setajam kapak.
Sri berbalik lagi. Menatap Lucky takut. Lalu melirik Noah meminta pembelaan. Tapi Noah hanya mengulum senyum simpul. Hati Sri mangkel setengah mati. Mereka bertiga seakan bersekongkol untuk mengerjai Sri.
"Saya masih ada pekerjaan lain, tuan. Saya harus kembali" Sri menatap netra hitam nan dingin itu.
"Siapa yang menyuruh mu?" Lucky mendongakkan dagunya pongah. Cukup sudah. Lucky tidak tahan lagi melihat sikap cuek Sri. "Kemari!"
Mereka berdua terlihat seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Layaknya bos dan bawahan. Noah sampai hampir berteriak terbahak jika tidak memikirkan perasaan Sri. Sungguh gadis ini sangat menggemaskan ketika lagi kesal. Memainkan perannya dengan sempurna di depan Lucky.
Sri melangkah pelan dengan enggan. Ingin rasanya bisa berlari keluar dari ruangan Noah. Tapi ini di kantor. Tidak mungkin mereka membuat kegaduhan karena Lucky akan berteriak marah jika Sri melakukan itu.
Berdiri tegak di samping Lucky. Tapi tetap matanya tidak fokus lagi pada Lucky. Lebih baik melihat kearah lain dari pada melihat mata tajam suaminya.
"Siapa yang menyuruh mu pergi?" Lucky mengulang lagi pertanyaannya.
"Hah? kenapa aku Sri?" Noah langsung protes.
"Kan pak Noah yang bilang ndak boleh nunda jika masih ada pekerjaan" jawab Sri menimpakan kesalahan pada Noah.
Lucky melirik Noah tajam. Noah jadi salah tingkah. Menatap Sri dengan pandangan protes di matanya. Sri cuek saja. Balas dendam! hati Sri bersorak senang.
"Aku bilang begitu kalau tidak ada urusan lain, Sri. Luck, aku tidak ada menyuruhnya tadi" Noah membela diri menatap Lucky.
Lucky kembali mengalihkan pandangannya pada Sri. Menatap gadis itu dengan pandangan sedingin es di gelas es teh kantin kantor.
"Hmm.. jadi kamu mau menghindar lagi rupanya.. hmm" Lucky menopang dagunya. Seperti sedang berpikir keras untuk menghukum Sri. "Noah, aku pakai ruangan mu sebentar. Kalian berdua keluarlah"
"Waaah.. Parah ini parah.." Noah bergerak berdiri dari sofa. "Ben, ayo cabut. Akan ada perang disini. Aku tak sanggup jika harus jadi penengah"
Sri melotot mendengar apa yang di ucapkan Noah barusan. Noah akan segera pergi meninggalkannya sendiri bersama Lucky. Sri tidak terima. Tapi dasar Noah!! dia malah menggeret Beni keluar ruangan. Malah memberi tempat untuk Lucky menindas Sri.
__ADS_1
"Eh.. pak Noah.. Ndak bisa begini Lho!!"
Terlambat. Noah dan Beni sudah keluar dan menutup pintu. Sri jadi semakin panik. Tinggal dia dan Lucky di dalam ruangan ini. Sri resah mengingat banyak karyawan yang tahu bahwa hanya tinggal mereka berdua di ruangan kerja Noah. Pasti gosip yang lebih panas akan segera riuh nanti. Dan yang pasti, hatinya resah jika harus membahas tentang masalahnya dengan Lucky. Di kantor lagi!
Sri menatap Lucky jengkel. Tatapan protes langsung ia layangkan. Tidak terima Lucky sesuka hati memerintahkannya untuk tinggal. Dia bukan atasan Sri. Mana bisa seenak udelnya memerintah ini dan itu sendiri.
"Mase Ndak boleh begini. Sri kan lagi kerja. Tolong jangan di ganggu"
Lucky diam. Memicingkan matanya menatap Sri. Gemas sekali rasanya ingin segera memberi pelajaran pada istri judesnya ini. Melangkah perlahan berdiri di tepat di depan Sri. Membuat gadis itu melangkah mundur.
"Ojo ngono mas. Mau nagapain sih?"
Sri panik. Mundur kebelakang dan menatap Lucky dengan nanar. Takut jika Lucky akan mencekiknya dengan ganas. Sampai langkahnya terhenti karena terhalang meja kerja Noah. Sri melebarkan matanya dengan panik.
Tahu-tahu Lucky sudah berdiri tegak di depannya. Menjulang tinggi sampai Sri menatapnya mendongak. Mata tajam itu seakan mengulitinya tanpa ampun. Lucky meraih dagu Sri. Menatap netra Sri lekat-lekat. Seakan mencari sesuatu di dalam sana. Sri sampai bergidik ngeri.
"Jadi kau menolak cintaku, ya?" Lucky menggeram dengan suara rendah.
Sri menggeleng lemah. Entah apa arti gelengannya yang ambigu itu. Menjawab antara iya dan tidak. Jarak mereka sangat dekat sekali. Sri dapat merasakan napas Lucky menyapu hangat wajahnya. Jantung Sri serasa ingin meledak saat ini juga. Antara rindu dan sakit hati menjadi satu.
"Jadi kamu tidak cinta aku?" Lucky bertenya lagi. "Apa mau aku menghukum bibir bawel mu ini? hah?" Lucky berbicara sambil mengusap bibir Sri dengan ibu jarinya.
Sri hanya bisa menggeleng lemah sekali lagi. Jantungnya berdebar lebih cepat. Sepertinya setelah ini dia harus periksa ke dokter spesialis jantung. Berdekatan dengan Lucky seperti ini, membuat serangan jantung lebih cepat menghampirinya.
Lucky semakin gemas mendapat jawaban hanya dengan gelengan kepala saja. Itu tidak membantu. Jika melihat dari pertanyaannya, itu artinya Sri menolaknya dan menjawab tidak mencintainya.
"Hmm.. Kamu semakin bandel saja sekarang" Lucky mengeram. Rahangnya mengetat. Sri tidak mencintainya. Apa itu karena Noah?
Sri merasa risih. Menepis tangan Lucky di dagunya. Bergerak ingin melepaskan diri dari rasa terintimidasi.
"Awas Mase! maaf Sri harus kerja..aaaa.."
Sri terpekik karena Lucky menariknya dengan kasar. Tubuhnya kini melekat di dalam pelukan Lucky. Lucky menarik pinggangnya menempel erat di tubuhnya.
"Ojo ngono ma... mmppphh.."
__ADS_1