
"Kamu lihat kan? Mereka sengaja bicara rahasia di kamar ayah. Apa kamu sudah tidak di anggap sebagai anaknya lagi? aku yakin kalau mereka merencanakan sesuatu Far!" Neni bicara dengan berapi-api di dalam kamarnya bersama Fardo suaminya.
"Apa yang bisa mereka lakukan? Tetap saja aku yang akan memegang perusahaan" Fardo bicara santai sambil membuka bajunya.
"Heh! kamu itu jangan anggap sepele masalah ini Fardo! Kamu tau kan, kalau ayah sudah menerima Frans lagi? itu artinya kalau Lucky itu adalah ancaman buat mu!" Neni geram melihat sikap santai suaminya.
Fardo tertegun. Istrinya benar. Sekarang Lucky adalah ancaman. Pasti anak muda itu akan mudah menyingkirkannya. Sia-sia selama ini di menjadi kompor gas untuk membuat ayahnya murka pada Frans.
"Kamu benar sayang. Mereka adalah ancaman" gumam Fardo.
"Nah.. itu! Noah sangat licik menghasut ayah agar Lucky berpihak pada mereka. Kamu harus waspada. Bagaimana dengan Levi jika Lucky sudah masuk kedalam keluarga ini lagi? Kita harus merencanakan menyingkirkannya Far"
"Pikirkan lah sayang. Aku percaya kemampuanmu"
Fardo menatap istrinya penuh kelicikan. Dan Neni tersenyum picik menatap suaminya. Dia harus menyingkirkan Lucky agar Levi putranya bisa naik menjadi Presdir. Apa artinya selama ini dia masuk kedalam keluarga Albronze jika tujuannya gagal di tengah jalan?
"Aku sangat jijik melihat istri Lucky. Tapi sepertinya gadis itu bisa aku manfaatkan untuk membuat Lucky ambruk"
"Bagaimana caranya?" Fardo menyesap rokoknya duduk di sofa.
"Hh.. kau lihat bukan, gadis itu sangat kampungan" Neni tersenyum sinis.
"Emm.. tidak. Dia tampak cantik. Stylenya juga lumayan"
Neni sontak melotot menatap suaminya. Jawaban jujur itu mampu membuatnya naik darah.
"Fardo! hilangkan kebiasaan mesum mu itu!"
"Hah? apa? kenapa mesum? aku bicara yang sebenarnya" Fardo menjawab tanpa rasa bersalah.
"Iisshh.. kau ini!" Neni menghentakkan kakinya kesal. Beranjak mendekati suaminya. "Dia gadis kampung yang di pilih Frans dan Melani. Aku tau Lucky menikahinya karena terpaksa"
"Benarkah? kau tau banyak tentang itu?" Fardo mematap Neni tak percaya.
"Ah kau ini!" Neni mendorong lengan Fardo dengan gemas. "Aku tau itu. Selama ini semua orang tau kalau Lucky punya hubungan dengan Amira. Lalu kenapa sekarang Lucky malah punya istri berbeda? dan tidak di publikasikan lagi"
Fardo tersenyum senang melihat istrinya yang licik ini. Dia mencintai Neni karena kecerdasannya.
"Haha.. kau sangat licik sayang" tawanya meledak.
Neni merasa puas ketika Fardo menyanjung kemampuannya. Merasa cocok dengan Fardo kerena sama-sama pencinta harta. Apalagi keluarga Albronze memiliki segalanya yang ia butuhkan. Dia harus menjadi nyonya Albronze satu-satunya. Fardo pasti menuruti segala apa yang ia inginkan.
"Jadi, bagaimana menurut mu sekarang? apa yang akan kita lakukan?" tanya Fardo mulai serius.
Neni menangkup wajah suaminya dan menghadapkan padanya. Menatap mata tajam itu dengan gelora.
"Aku harus merencanakan sesuatu sayang. Aku harus menjadi tuan yang utama. Dan anak-anak, akan mendapat bagiannya"
Senyum itu menghiasi bibirnya. Mengecup bibir Fardo dengan gemas. Pria yang telah mewujudkan segala apa yang ia inginkan. satu langkah lagi, dia akan menjadi nyonya Albronze satu-satunya.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Lucky mengomel sejak meninggalkan mansion Albronze sampai ke mansion mereka. Dia sangat kesal pada paman dan bibinya. Melani dengan sabar menenangkan putranya yang dilanda amarah. Sementara Sri hanya bisa diam mendengarkan ocehan Lucky.
Sampai di dalam kamar pun Lucky masih menunjukkan sikap marahnya. Mandi tak mampu menghilangkan rasa kesal yang terlanjur menguasai hatinya. Masih saja berwajah muram.
Sri tidak berani mendekat. Takut menjadi sasaran amarah Lucky yang masih di pendam di dalam hatinya. Sri mencari akal untuk membuat kemarahan Lucky mereda. Tapi dia bingung harus bagaimana.
Sri masih mondar-mandir di ruang walk in closed. Entah apa yang harus dia lakukan untuk membuat Lucky tidak marah lagi. Pria itu mengomel sedari tadi. Mengatakan akan membunuh paman dan bibinya, sampai Sri gemetar takut.
Membuat lemari pakaian miliknya. Mencari-cari pakaian yang di belikan Melani untuknya. Berjejer rapi di rak paling atas. Kain yang lebih mirip untuk jala menjaring ikan di sungai. Atau lebih pasnya, untuk saringan teh. Sangat tipis hingga tak mampu menyembunyikan kulit tubuhnya sekalipun.
"Aduh.. Opo harus pakai ini, biar Mase kalem Yo?"
Sri merentangkan kain tipis itu. Tidak ada jalan lain. Mungkin Lucky akan terbungkam dengan kain tipis itu. Sri mengganti bajunya dengan pakaian kurang bahan itu. Sangat pas melekat di tubuhnya. Berhias renda tipis di beberapa bagian. Terbelah di bagian tengah.
Dan yang paling Sri ngeri melihat pakaian dalamnya. Hmmm.. sangat mini dengan hanya menutup bagian tengah saja. Selebihnya hanya tali kecil.
"Ah.. terpaksa. Asal Mase meneng (diam)"
Setelah siap dengan gaya istri binalnya, Sri menyemprotkan parfum ketubuhnya. Harum semerbak memenuhi ruangan. Sri sendiri jadi merasa hangat dengan aroma parfum yang menggoda ini.
Pelan dia membuka pintu walk in closed. Mengintip Lucky sejenak. Memastikan keberadaan pria yang sedang marah itu. Lucky sedang menatap laptonya di sofa. Menyelonjorkan kakinya. Terlihat tidak semarah tadi. Tapi mulutnya masih saja komat-kamit tak jelas.
Sri keluar. Bersandar di tepi pintu. Menatap Lucky dengan senyum menggoda. Sontak saja Lucky terdiam dan mengalihkan pandangan dari laptop. Menatap Sri sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Mase masih mau marah terus sampai Ndak mau lihat Sri?" tanya Sri sambil mengerlingkan matanya.
Senyum kecil terbit dibibir Lucky. Menutup laptopnya di meja. Menggerakkan jari telunjuknya memanggil Sri agar mendekat. Wajah Sri terasa hangat. Sebenarnya dia sangat malu melakukan hal vulgar ini pada Lucky. Tapi mencoba untuk tidak lari terbirit-birit saking malunya.
Begitu Sri sudah dekat, dengan tak sabar Lucky meraih tangan Sri dan menariknya cepat. Membuat Sri terpekik dan jatuh terjerembab ke dalam pelukan Lucky. Gelagapan karena Lucky memeluknya erat.
Lucky meraih dagu Sri mengahdapkan wajah cantik itu di depannya. Wajah Sri semakin merah padam. Menahan malu yang semakin membakar dirinya.
"Dari pada Mase cemberut, kan lebih baik Sri begini"
"Haha.. kamu mulai nakal ya" Lucky mengusap bibir istrinya dengan ibu jarinya.
"Nakal sama suami sendiri kan Ndak apa-apa toh mas"
"Hmmm... setiap saat juga boleh. Aku suka"
Memagut bibir merah istrinya dengan lembut. Rasa manis itu kembali ia dapatkan. Tidak mengerti kenapa bibir Sri mengandung madu setiap kali dia mengecupnya. Menyesap dengan lembut seakan tak ingin cepat-cepat menyudahi rasa manis yang indah itu.
"Maaf Sri" ucap Lucky begitu pagutannya terlepas.
"Kenapa mas?" Sri mengernyitkan dahinya. Merasa heran kenapa Lucky meminta maaf.
"Aku membawamu ke dalam keluarga yang kacau itu"
Sri tersenyum. Menenangkan hati Lucky yang sedang gundah. "Ndak apa kok mas" Bergeser membenarkan duduknya. Bersandar di dada bidang suaminya.
Lucky memeluknya dari belakang. Mengendur harum rambut Sri. Mengecupi leher Sri membuat gadis itu menggelinjang geli.
"Kamu harum banget, sayang" Lucky mengeram. Sri terkikik geli.
"Ternyata ini yang mase bilang kalau pak Noah itu adiknya Sri? Aawwhh.. "
__ADS_1
Sri memekik kaget ketika Lucky menggigit kecil lehernya, di saat Sri menyebut nama Noah.
"Sakit Mase! apaan sih?"
"Noah lagi?! Suami kamu aku atau Noah sih? suka sekali menyebut namanya?" Lucky merengut kesal.
"Hihihi.. mosok nama aja bikin kesel sih mas?" Sri mencubit tangan Lucky gemas.
"Lagian kamu... Kenapa dia terus? Kamu suka Noah, ya?"
Jiahhh si kaku cemburu! Sri terbahak dalam hati. Lucky sangat tidak suka ketika Sri membicarakan tentang noah. Sri memiringkan kepalanya menatap wajah lucky di belakangnya.
"Gitu aja marah maaass.. ya gak lah. Mosok toh Sri suka sama adik ipar?"
Sri mengelus rahang tegas yang mengetat itu. Mengecup kecil bibir Lucky. Lalu berbalik lagi dan menyenderkan kepalanya di dada Lucky.
Gemas Lucky menarik puncak mungil di dada Sri. Sontak saja Sri memekik kaget. Tapi Lucky tak peduli. Menyentil kecil kedua ujungnya.
"Sakit mas"
"Ini hukuman mu kalau menyebut namanya lagi"
"Loh.. apa hubungannya mmpphh.."
Tak sempat Sri menghabiskan kalimatnya, Lucky sudah mengulum bibirnya. Memaksa masuk ke dalam mulutnya. Menggerakkan lidhnya liar. Membuat Sri gelagapan.
Lidah Lucky terus menerobos masuk. Mendapatkan lidah basah dan hangat milik Sri. Menghisapnya lembut dengan sesekali gigitan kecil membuat Sri mengerang kaget. Menjelajahi setiap inci rongga mulutnya menciptakan rasa geli dan gatal sekaligus. Lucky melepas pagutannya dengan napas memburu.
"Jangan sebut dia lagi. Atau aku akan membuatmu menjerit" Lucky menggeram gemas.
"Kenapa mas? pak no.. mmmpphh.."
Lagi-lagi Lucky membungkam mulut Sri dengan pagutan dan ******* yang semakin panas. menuntut untuk mendapat balasan. Tangannya mengelus paha Sri bagian dalam. Menemukan gundukan kecil yang tertutup sangat minim.
"Emmmpphh..."
Sri melenguh sesak. Merasakan tangan Lucky semakin nekat. Menyibak sedikit penutup kecil di bawahnya. Mengelus gundukan hangat miliknya. Membuat Sri merapatkan kedua pahanya geli. meremas lengan Lucky kuat.
Menelusupkan jarinya menyentuh kacang kedelai yang mungil yang lembut mencuat ketat. Sri melepaskan bibir Lucky dengan paksa. Tersengal napasnya dengan wajah yang bersemu merah. mata mereka bertemu. Saling menatap penuh gelora.
"Maaass.." Sri mendesis pelan.
"Hmm.. jangan sebut dia lagi. Hmmm.."
"Uuhhgg"
Sri kembali melenguh manja karena jari Lucky menekan kedelai mungil di bawah sana. Masih saling menatap sayu.
"Mengerti?"
"Tapi.. aahhh.."
Satu jari kini bergerak melingkari kedelai kecil itu. Membuatnya memejamkan mata dan mendongak frustasi. Lucky memprovokasi dirinya untuk menjerit kencang. Bergerak dengan lembut tapi melenakan. Begitu Sri selalu menjawab dengan membicarakan tentang noah, Lucky akan lebih menyiksanya.
Menyusupkan satu jari kedalam lembah basah dan hangat membuat Lucky mengernyitkan alisnya melihat ekspresi yang di derita Sri. Semakin memacu semangatnya untuk bergerak lebih.
__ADS_1