OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Di Umek-umek


__ADS_3

Setelah menelepon pak Karim untuk menjemputnya, Sri beranjak keluar dari kubikelnya. Sudah waktunya jam pulang kantor. Semua karyawan sudah berhamburan keluar dari gedung. Dila menyapa Sri ketika sama-sama di lift.


"Kamu pulang sendiri Sri?"


"Iya mbak. Mbak Dila sama siapa?"


"Aku di jemput sama suami" jawab Dila tersenyum.


"Oh gitu" Sri bergumam pelan. Ternyata Dila sudah menikah. Sri mengira Dila masih single. Dilihat dari penampilannya yang super fresh, dan bentuk tubuh yang terlihat masih gadis. Cantik.


Mereka keluar dari lift. Dan menuju ke pintu keluar. Suami Dila sudah menunggu di depan parkiran.


"Sri, aku deluan ya? jangan lupa besok jam delapan sudah datang" ujar Dila sambil berjalan menjauhi Sri, dan melambaikan tangannya.


"Siap mbak" Sri membalas lambaian tangan Dila dan tersenyum.


Sri melangkah lagi ke luar area kantor. Tidak mau terlihat karyawan lain kalau dia di jemput sopir. Bukan apa-apa, Sri tak mau ada pergunjingan lagi mengenai dirinya. Masak iya, seorang karyawan di jemput mobil mewah yang di kendarai seorang lelaki paruh baya. Sri takut di gosipkan di jemput om-om.


Agak mencari tepat terlindung untuk menunggu. Menserlok pada pak Karim agar supirnya itu tau harus berhenti di mana menjemputnya. Tak berapa lama pak Karim datang. Sri harus mengawasi rekan kerja dulu baru masuk ke mobil. Bernapas lega sudah bisa masuk ke mobil tanpa ada yang melihatnya.


Sesampainya di mansion, Sri tidak di sambut Melani. Pak Sam bilang, ibu mertuanya itu sedang keluar. Sri langsung saja menuju ke kamarnya. Lucky juga belum pulang. Dia bisa meregangkan otot-ototnya yang sedari tadi kaku karena duduk seharian.


Berendam di bathup itu adalah langkah yang baik. Sri agak berlama-lama merendam tubuhnya di bathup. Hampir tertidur kalau saja rasa dingin tidak menyerang kulit tubuhnya.


Segera Sri menyudahi sesi ritual rendam-rendaman di bathup. Setelah memakai baju rumahan, Sri turun kelantai bawah. Sepi. Melani pergi. Frans dan Lucky juga belum pulang. Sangat membosankan bukan?


Rumah semegah dan mewah ini, kenapa tidak ada penghuni yang betah tinggal di sini? semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sri membayangkan bagaimana keadaan di sini sebelum dia datang? Pasti lebih sepi lagi. Hanya pelayan yang ada di sini. Mereka bisa merasakan menjadi tuan rumah sementara.


Sri terkikik geli sendiri. Sebenarnya Sri sangat bosan tanpa teman. seandainya boleh, dia akan membawa Nunik tinggal di sini. Bisa mengeksplor semua yang mereka inginkan seperti ketika di kampung dulu. Pergi kemana saja dengan bebas.


Pak Sam datang mendekat. Membungkuk hormat seperti biasa. Lelaki tua ini terlihat sangat formal sekali. Terkadang Sri risih di perlakukan seperti princes keluarga kerajaan saja. Biasanya juga cewawakan lebih menantang dari pada hanya mengangguk dan membungkuk.


"Makam malam sudah siap nona" ujar pak Sam hormat.


"Nanti saja pakne. Sri belum laper" jawab Sri cuek sambil matanya terus mengarah ke televisi di depannya.


"Tapi nyonya bilang, nona Sri harus makan tepat waktu"


Perhatian Sri terpecah. Menoleh menatap pak Sam yang tertunduk takzim. Apa-apaan ini? emangnya Sri anak TK yang harus makan tepat waktu? dia sudah nikah pak! pak Sam! Sri ini sudah menikah! menikah paaakk!!


Tapi teriakan itu hanya ada di hatinya. Menyadari kalau pak Sam hanya menjalankan pekerjaannya dari tuan rumah. haduuhh.. Mamiii.. segitunya ya, sampai pesan harus makan tepat waktu?


"Ya sudah pak, sebentar lagi saya makan" jawab Sri akhirnya.


Pak Sam pergi meninggalkannya sendiri. Merasa tidak ada yang perlu di kerjakan lagi, dengan malas Sri bangkit dan beranjak ke ruang makan. Melihat makanan yang begitu banyak di meja, hanya dia sendiri yang menghadapinya.


"Gini banyak makanan, siapa yang ngabisin ini?" gumam Sri melihat semua menu makanan itu tak berminat.


Sayang sekali jika makanan ini tak ada yang menghabiskan. Memanggil pak Sam untuk menemaninya. Lelaki tua itu hanya berdiri agak jauh. Membiarkan Sri makan sendiri.


"Pakne, sini. Makan sama Sri" panggil Sri lagi.


Pak Sam hanya diam mematung. Lalu membungkuk kaku.


"Silahkan di nikmati, nona" ujarnya.


Ah.. sebal sekali melihat sikap formal itu. Di kampung, Sri berbaur dengan semua pekerja di rumahnya dan di warung lesehan ibunya. Tapi di sini, banyak sekali aturan yang semua pelayan harus patuhi.


"Apa pak Sam sudah makan?" tanya Sri.


"Sudah, nona"

__ADS_1


"Yang lain? apa sudah makan juga?"


"Mereka di paviliun, nona"


"Panggil mereka semua kemari" perintah Sri.


"Ada yang perlu saya bantu nona Sri?" pak Sam balik bertanya.


"Saya mau ajak mereka semua makan" tegas Sri.


Pak Sam diam. Terlihat menolak apa yang di inginkan Sri.


"Kenapa pakne? Ndak boleh?"


"Peraturannya tidak begitu nona" ujar pak Sam.


"Kalau begitu, pakne yang sini. Temani saya makan"


Pak Sam tidak menyahut. Dan masih tetap diam di tempatnya. Sri kesal sekali melihat sikap kaku itu. Pak Sam sangat mematuhi peraturan di mansion. Apalagi dia sebagai kepala pelayan. Jika dia saja melanggar, bagaimana dengan pelayan lain?


"Ya sudah. Saya Ndak jadi makan"


Sri bangkit dari duduknya. Berjalan keluar ruang makan. Pak Sam tidak bisa mencegah Sri. Sri juga sebagai nyonya rumah di mansion ini. Pak Sam tidak terlalu berani menghalangi Sri.


Terdengar deru mesin mobil di depan mansion. Itu Lucky. Tumben tuan kaku itu pulang lebih cepat dari biasanya. Sri melangkah ke depan. Menyambut Lucky yang baru pulang.


Tapi begitu bertemu, ada yang lain dari wajah Lucky. Pria itu menekuk wajahnya. Sri sampai bergidik melihat wajah dingin dan penuh amarah itu.


"Mas" Sri menyapa di depan pintu.


Tapi Lucky diam saja. Melewatinya bagai bayangan tak berwujud. Sri terbengong. Ada apa dengan pria ini? Apa terjadi sesuatu di kantor?


Hah? Apa itu? perintah dengan intonasi tegas dan dingin. Menusuk sampai ke tulang. Bulu kuduk Sri meremang. Apalagi sekarang? Kenapa Lucky marah? Apa Sri melakukan hal yang salah?


Lambat sekali Sri mengikuti langkah Lucky naik ke anak tangga. Menatap belakang punggung kekar Lucky yang sudah sampai di anak tangga paling atas. Sri memiringkan kepalanya Melihat kaki Lucky menapak di tangga atau tidak. Pria itu seperti tidak berjalan. Tapi melayang saking cepatnya.


Tiba-tiba Lucky berhenti. Menoleh kebelakang di bawahnya. Menatap Sri yang masih memiringkan kepalanya.


"Ngapain kamu?" sorot mata Lucky tajam menusuk. Dia bersikap seperti saat pertama mereka menikah. Dingin dan tajam.


Sontak Sri menegakkan lagi kepalanya secepat mungkin. Tergagap menyadari Lucky tahu apa yang di lakukannya.


"Eh.. Ndak ada mas" Sri nyengir dengan kaku. Tertangkap basah sedang memperhatikan Lucky.


Lucky berbalik dan melanjutkan lagi langkahnya. Sri mengikuti naik ke tangga sambil berpikir apalah gerangan yang membuat Lucky menjadi dingin dan terlihat kejam begini?


Di kamar, Lucky membuka jas dan mencampakkannya di sembarang tempat. Membuka dasinya dengan kasar. Lalu melemparkannya sesuka hati. Sri terbengong melihat semua gerakan brutal Lucky. Membuka kancing di tangan kemejanya. Menggulung sampai kesiku.


Astaga! Sri ingat apa yang Lucky katakan di mobil tadi pagi. Dia meminta jatah pertamanya malam ini. Merinding tubuh Sri membayangkan itu. Semua gerakan Lucky membuka kancing kemejanya seakan terlihat menjadi slow motion di mata Sri.


Lucky berkacak pinggang. Seperti seorang ayah yang siap akan memarahi anak perempuannya karena bersikap nakal. Tubuh kekar itu bagaikan raksasa yang membuat Sri merasa kerdil di dekatnya. Pandangan mata Lucky masih tajam menusuk.


"M-mase.. k-kenapa?" tanya Sri gugup. Ngeri membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.


Lucky melangkah mendekati Sri. Gadis itu melangkah mundur dengan wajah takut. Tergagap dengan napas tersengal. Sampai mentok ke pinggir tempat tidur. Lucky terus mendekat dan berdiri menjulang tepat di depan Sri.


Sri sampai mendongak melihat wajah Lucky di atasnya. Matanya mendelik gusar. Menatap nanar mata setajam elang itu. Seakan Lucky algojo yang siap mencabut nyawanya saat ini juga.


"Kamu dari mana?" tanyanya dingin.


"Eh... B-baru dari ruang m-makan mas. Sama pak Sam" jawab Sri gugup. Menelan ludahnya dengan susah payah.

__ADS_1


"hmm.. ck, aku tanya kamu dari mana tadi?" Suara Lucky menggeram tak sabar.


"Y-yang m-m-mana Mase?"


Mata itu semakin berkilat kejam. Merasa tak puas dengan jawaban Sri.


"Kamu tidak di kantor itu. Kamu ke mana? Kamu tidak ikut interview. Kamu pergi kemana?" tanya Lucky berentetan.


Deg!


Gimana bisa tahu? Apa Lucky mengikutinya? Astaga! Noah! Kalau Sri bilang di ajak Noah ke perusahaan lain, bisa gawat ini! Seperti di pulau waktu itu. Lucky marah ketika tahu Sri bersama pria lain.


"hah? A-anu mas. I-itu interviewnya gagal. Sri terlambat"


Da,da Sri semakin berdetak kencang. Kerongkongannya serasa kering mendadak. Kejam sekali pandangan Lucky menyelidiki matanya. Mencari kebohongan disana.


"Trus kamu kemana?"


Wajah Lucky semakin dekat. Napasnya menyapu seluruh wajah Sri hangat. Sri kembali dapat menghirup aroma tubuh Lucky. Matanya bergerak mencoba berbohong sebaik mungkin. Bisa gawat kalau Lucky tahu dia pergi bersama Noah.


"Sri cari kerja lain"


"Dimana?"


Nah Lo!! mau jawab apa? Sri tidak tahu banyak tempat-tempat di ibu kota. Apa yang harus dia katakan? jujur? bisa di umek-umek ntar dia!


"Aduh! Mase kenapa toh? Aneh gini"


Sri mendorong tubuh kekar Lucky. Mencoba mengalihkan perhatian Lucky dari matanya. Pria ini sungguh lihai mengorek dari pandangan gugup yang terpancar di matanya.


Tapi pria ini bergeming. Tubuh tinggi menjulang itu bagaikan tembok besar yang tak bisa di robohkan. Sri selalu gagal ketika mendorong Lucky agar menjauh. Tubuhnya terlihat kerdil jika berhadapan langsung dengan Lucky seperti sekarang ini.


Lucky meraih pinggang Sri merapatkan ke tubuhnya. Tanpa aba-aba, Lucky menyumpal bibir Sri dengan pagutan panas. Sri gelagapan karena gerakan Lucky yang tiba-tiba. Menyesapnya hangat. Menelusup masuk memagut sebanyak yang ia suka.


"Mmpphhh.."


Lenguh Sri dalam ******* Lucky. Tubuhnya menegang menampilkan reaksi kaget ketika tiba-tiba tangan Lucky sudah mampir meremas dadanya dan memi Lin lembut di puncaknya. Membuat Sri menggelepar seperti ikan kehilangan air.


Lucky melepas pagutannya. Menatap sayu ke mata Sri yang terpejam erat. Tangannya masih nakal di balik baju Sri. Memutar dan sesekali memainkan ujungnya.


"Aku tadi ke kantor itu.. hhmm.. mereka bilang, Kamu.. ssshh.. tidak ada. Kamu pergi kemana Sri?" Suara Lucky tertahan dan menggeram dalam desa han.


Sri membuka matanya. Menatap Lucky dengan pandangan berkabut. Jari-jari lincah Lucky membuat otaknya tak bisa berpikir jernih. Tidak konsen dengan jawabannya sendiri.


"Sriii.. mmhhh.. ke kan-tor.. hhmm.. lain m-mas"


Tersengal Sri menjawab. Meremas kemeja Lucky di bagian dada.


"Namanya?"


"B-bro.. aduh.. B-b.."


Tak sabar Lucky melu mat lagi bibir basah menggoda itu. Memainkannya tak peduli Sri sudah belingsatan tak karuan. Memegangi wajah Lucky mengisap madu di bibirnya rakus.


Sri mengeluh dalam hati. Tadi dia berpikir tidak akan jujur. Karena kalau Lucky tahu dia pergi dengan Noah, pastilah Lucky akan marah. Tapi, sekarang jadi semakin berbeda dari yang di bayangkan Sri. Malah semakin menjeratnya dengan permainan Lucky.


Dasar modus! Maunya memang mesum! Bertanya atau tidak, tetap saja pinginnya nyosor. Sri jujur atau tidak, ya tetap saja di umek-umek. Sekarang malah semakin lumer. Bahasa kerennya semakin Mbelenyek nyek nyek


šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚


NB : Tolong bantu vote ya readers. Biar otor semangat gitchuuhhh.. šŸ™šŸ„° salam sayang dari otor. ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2