
pagi.
Pagi ini hawa dingin meningkat akibat gerimis turun membasahi bumi. Tetesan hujan di tepi atap Kondominum dapat terlihat dari kaca pintu besar pembatas balkon kamar. Tetesannya lemah. Menanti gerimis lain datang menyerbu atap dan menyatu membentuk buliran kecil.
Terlihat suasana Kondominium mewah itu masih sepi. Temaram pagi menambah syahdu suasana hati. Lampu belum menyala sepenuhnya. Hanya lampu tidur yang masih menemani hingga pagi menjelang. Ranjang berantakan dengan pakaian yang berserak di sana sini.
Sepesang anak manusia masih bergelung di bawah selimut tebal. Saling merangkul satu sama lain. Seakan tak ingin terpisah walau satu inci saja. Menyalurkan kehangatan di setiap raga pasangannya. Memberi kehangatan untuk menepis rasa dingin yang semakin membekukan kulit.
Sri membuka matanya mengerjap sejenak. Mengumpulkan nyawanya yang masih bertebaran di ruang waktu tempat lain. Merasakan hawa dingin menerjang punggung telanjangnya. Berinisiatif menarik selimut lebih ke atas. Bergelung lagi mendusalkan wajahnya di dada hangat tepat di depannya.
Apa??!! Dada??!!
Sontak Sri membuka matanya lebar. Menatap dada bidang yang berotot liat tepat di depan matanya. Spontan bergerak menjauhkan kepalanya dari dada itu. Tapi gerakannya terhenti seketika. Tubuhnya terasa sakit. Pegal-pegal di setiap sendinya. Sri bingung kenapa tubuhnya terasa remuk redam. Bergerak bergeser lebih menjauh.
"Aduuuhh.." rintihnya pelan.
Area intinya sakit. Terasa perih jika bergerak yang menghasilkan gesekan. Sri diam membeku. Mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam. Jantung Sri mencelos. Teringat kejadian tadi malam.
Lucky dan dirinya bagai orang kesetanan mengulangi adegan panas itu lagi dan lagi. Lucky merngkuhnya dalam kenikmatan hakiki. Tidak mau melepasnya barang sedetik pun. Itu yang membuat tubuhnya sekarang menjadi terasa luluh lantak. Melakukan itu sebanyak yang mereka bisa. Selalu candu dan merasa ingin selalu mengulangi rasa nikmatnya.
Wajah Sri merah padam. Terasa panas sampai ke telinganya. Menoleh kesamping kirinya. Terlihat wajah tampan paripurna itu masih terlelap kelelahan. Tidurnya sangat pulas seperti bayi baru lahir.
"Aahh"
Sri menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Menyembunyikan wajah merah meronanya. Malu jika mengingat apa yang mereka berdua lakukan tadi malam. Menghabiskan malam dengan rintihan dan racauan nakal yang membangkitkan gelora cinta.
Lucky seperti seorang gladiator sadis mengeksekusi tubuh Sri dengan peluh yang membanjir tiada henti. Berbagai gaya di lakoni. Sampai Sri menjerit minta ampun dan Lucky terengah dalam kepuasan hakiki.
Sri membuka tangannya. Menatap wajah tampan suaminya. Seakan tak percaya Lucky sudah menyentuhnya dan bergumul dengannya tanpa rasa jijik yang setiap kali ia tunjukkan selama ini.
Memberanikan diri menyentuh wajah damai dengan napas teratur itu. Menyentuh bibir yang sudah melu mati setiap inci tubuhnya. Bunga bermekaran di dalam hatinya. Sepertinya rasa cinta sudah muncul tanpa bisa di cegah. Jantungnya berdegup menghasilkan irama indah bernada mesra.
"Eehhmm.. Kau sudah bangun?" tanya Lucky tiba-tiba dan membuka matanya perlahan.
Sri kaget. sontak ia menarik tangannya dari wajah Lucky. Wajah meronanya kini semakin terasa merah membara. Malu ketahuan menatap penuh cinta pada wajah tampan di depannya.
"Hhhhpm" Lucky tersenyum melihat Sri malu dan menyembunyikan wajah ke dadanya.
Mengecup puncak kepala Sri dengan lembut. Merangkul tubuh Sri dengan sayang. Memeluk istrinya lebih erat. Pagi yang menyajikan udara dingin ini menambah suasana romantis diantara mereka berdua.
Menarik selimut menutupi punggung telan Jang istrinya. Tak ingin hawa dingin ikut mencumbui kulit punggung Sri. Sri semakin merapatkan tubuhnya pada Lucky. Ia bisa mendengar degup jantung suaminya dengan irama teratur.
"Sri" panggil Lucky dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hm?" Sri mendongak menatap wajah Lucky diatas kepalanya.
__ADS_1
Mata mereka bertemu. Saling menatap sejenak. Lalu sama-sama tersenyum.
"Kamu panas sekali malam tadi" bisik Lucky.
Sontak semburat merah memenuhi pipi Sri. Menunduk lagi dan memukul dada Lucky pelan. Tersenyum malu yang membuat jantungnya berdebar keras.
"Haha.."
Lucky tertawa senang. Ia menang. Telah menaklukan Sri si gadis bandel. berkeyakinan, Sri tidak akan mendekati lagi pria yang bersamanya kemarin. Dia akan membunuhnya jika itu terjadi.
"Sri" panggilnya lagi.
"Ya mas" Sri mendongak lagi. Menatap netra hitam milik Lucky.
"Mau lagi?"
Duar!!!
Pertanyaan macam apa itu? Mau lagi? setelah apa yang mereka lakukan tadi malam sampai membuat tulangnya terasa di lolosi dari tubuhnya, masih bertanya mau lagi?? Gila apa?!
Wajah Sri semakin merah terasa panas terbakar. Pertanyaan vulgar itu membuat jantungnya seakan mau lompat dari tempatnya.
"Apaan sih mas?" ujar Sri mencubit dada liat Lucky dengan gemas.
"Iisshh.. Mase Iki.. Maruk"
Sri memukul lagi dada Lucky dengan gemas. Menyembunyikan wajahnya di sana. Lucky tertawa pelan dan merngkuh tubuh mungil Sri dengan erat. Mengecupi puncak kepala istrinya lagi berkali-kali. Menekan-nekan lembut bagian bawahnya. Sri bisa merasakan pentungan gede itu kembali mengeras. Sontak Sri mendelik menatap Lucky.
"Iiihh.. Mase.. iku loh.. udah bangun aja"
"Haha.. biasanya begitu kalau pagi. Dia cuma ingin menyapa mu. Katanya selamat pagi"
"huh!! mesum eram!"
Sri merengut manja. Tersenyum mendengar suara tawa Lucky menggema di seluruh kamar. Mereka berangkulan lagi. Tapi semua itu harus berakhir dengan suara deringan nyaring ponsel Lucky. Awalnya lucky hanya mengabaikan. Tapi karena merasa terganggu, Lucky berdecak sebal dan melepaskan pelukannya pada Sri. Bangkit dari tidurnya dan mencari-cari suara ponsel itu berasal.
Meraih celana panjangnya yang berserakan di lantai tanpa turun dari tempat tidur. Merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya yang menjerit-jerit cukup lama. Begitu melihat ke layar ponsel, tubuh Lucky kaku tak bergerak.
SAYANG!!
Itu Amira. Lucky lupa pada Amira. Sekarang gadis itu pasti sudah mencak-mencak marah. Dari semalam Lucky tidak menghubunginya. Padahal dia sudah berjanji untuk menyusul kekamar Amira setelah gadis itu menurut untuk pergi dari kamarnya.
Lucky melirik Sri sejenak. Gadis itu hanya diam memperhatikan. Lucky kembali berbaring di sebelah Sri dan memutuskan membuka panggilan Amira.
Sri tak mendengar apa yang di bicarakan Amira di telepon. dia hanya mendengar samar-samar suara melengking marah. Melirik wajah Lucky yang hanya diam mendengarkan dengan raut datar.
__ADS_1
"Hem. baiklah. Oke"
Hanya itu yang keluar dari mulut Lucky. Lalu memutuskan panggilan telepon. Menaruh ponselnya di atas nakas. Menghempaskan napasnya kesal. Sri tak berani bertanya. Takut suasana hati Lucky semakin tidak karuan.
Lucky menoleh menatap Sri yang hanya diam telentang di sampingnya. Merasa suasana hatinya menjadi buruk pagi ini setelah panggilan Amira.
"Sri" panggilnya.
"Hm" Sri menoleh menatapnya.
"Ayo mandi" ajak Lucky.
"Aduh, dingin mas. Sri Ndak tahan" tolak Sri halus.
Lucky mengetatkan rahangnya. Entah kenapa timbul emosi setelah Amira meneleponnya tadi. Lucky menyibak selimut dari tubuhnya. Tak peduli kondisinya yang polos tanpa sehelai benang pun. Sri memalingkan wajahnya tak ingin melihat polosnya tubuh Lucky.
Lucky beranjak ke kamar mandi dengan suasana hati yang tidak karuan. Amira mengganggu suasana hangat tadi. Moodnya tiba-tiba langsung jatuh. Lucky Menghilang di dalam kamar mandi.
Sri menghela napasnya berat. Menatap ke langit-langit kamar kondominium mewah ini. Jantungnya seakan di tumbuk keras dengan palu besar. Suara lonceng yang nyaring tiba-tiba memenuhi gendang telinganya. Memaksanya bangun dari mimpi indah.
Dia lupa. Lupa jika masih ada Amira di antara meraka. Lupa dengan status pernikahan yang mereka bangun sejak awal. Lupa jika Lucky hanya milik Amira seorang. Lalu apa yang mereka lakukan tadi malam? Lucky sangat lembut menjamahnya. Merasa cemburu melihatnya dengan Noah. Berkali-kali memanggilnya dengan kata 'sayang'. Berkali-kali menyebut namanya ketika pelepasan.
Mungkinkah itu hanya nafsu sesaat? Mungkinkah itu hanya ekpresi bercinta yang sering Lucky lakukan ketika bersama Amira? Atau hanya ingin meluluhkannya dengan cara bercinta yang bergelora?
Mata Sri memanas. Hatinya menjerit pilu. Dia bodoh sampai terbuai dengan kelembutan Lucky yang baru dia tunjukkan saat menggagahinya. Dia bodoh sampai membiarkan rasa cinta itu muncul di hatinya pagi ini ketika bangun dan melihat wajah tampan suaminya.
Sri merasa salah langkah. Sri merasa kecolongan. Sri merasa bodoh. Rasa menyesal akibat kecerobohan berpikir cetek menghantuinya sekarang.
Lucky keluar dari kamar mandi. Cepat-cepat Sri menghapus air mata di sudut matanya. bergerak miring memunggungi Lucky. Tidak ingin Lucky melihat suasana hatinya yang tiba-tiba jatuh dari ketinggian yang semula indah pagi ini.
Lucky berjalan ke arah lemari. Berpakaian dan menyisir rambutnya. Memakai parfum dan lalu mendekati Sri di tempat tidur.
"Sri" suara bariton itu memanggilnya tegas.
"Hm?" Sri menyahut Tampa melihat ke arah Lucky.
pria itu diam sejenak. Menghela napas lalu menyambung kata-katanya lagi.
"Aku mau keluar. Nanti pelayan akan mengantar sarapan mu. Aku akan tau kalau kau tidak sarapan" ujarnya datar.
Ada jarum yang menusuk jantung Sri mendengar intonasi datar suara Lucky. Lalu Sri mendengar suara langkah menjauh dan pintu terbuka dan menutup kembali.
Air mata yang semula di tahan, kini luruh pada akhirnya. Hati Sri seakan di remas kuat. Setelah rasa indah yang diciptakan Lucky tadi malam, kini berganti rasa terhina di campakkan begitu saja.
Tapi rasa cinta itu telah tumbuh subur. Sri tak dapat menghapusnya dengan mudah. Baru saja rasa indah itu tumbuh. Tapi kini cinta itu berganti nestapa yang menrjangnya tanpa ampun.
__ADS_1