
Sri tidak menunggu Lucky kembali. Mengirim pesan di aplikasi chating mengatakan kalau dia sudah pergi dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Lucky membalas dan mengatakan oke saja.
Tapi begitu Sri masuk ke ruangannya, semua teman kerja sudah selesai bekerja dan bersiap untuk pulang. Terpaksa Sri juga membatalkan niatnya melanjutkan pekerjaan. Yang ada dia juga bersiap untuk pulang.
Agnes mengekorinya sampai ke lobi kantor. Selalu menempel pada Sri bagai perangko yang baru di tempel. Sri sedikit heran melihat itu. Biasanya Agnes akan segera menghilang ketika jam pulang kantor. Tapi sekarang lengket dengannya tak mau terpisah.
"Mbak Agnes, emang Ndak pulang?" Tanya Sri menatap Agnes curiga. Tentu saja Agnes cuma bisa nyengir karena sibuk memikirkan alasan.
"Ntar aja Sri. Masih pingin Deket sama kamu. Heheee.."
Agnes melendot manja di lengan Sri. Gadis itu seperti baru jadian dengan pacarnya. Manja tak menentu.
"Iih.. apaan sih mbake? Kayak orang pacaran wae lho.." Sri mengibaskan lengannya risih.
"Anggap aja begitu" Agnes cuek.
"Idiihh.. Ndak ah. Geli!" Sri mendorong pelan kepala Agnes yang bersandar di bahunya.
"Heehhee.." Agnes terkekeh. Sebenarnya dia juga merasa geli dengan tingkahnya. Tapi demi membayangkan gaji tiga kali lipat yang di tawarkan Lucky, dia harus membuat Sri percaya.
"Udah Sri, ayo aku antar sampai naik ke mobil"
Agnes menarik tangan Sri keluar dari lobi.Tapi Sri mengibaskan tangannya. Menolak untuk di bawa Agnes keluar.
"Ndak usah mbak, Nes. Sri sendiri aja. Mbak Nes kalo mau pulang, deluan aja mbak"
Agnes tampak kecewa. Tapi belum menyerah. Kembali menarik tangan Sri.
"Aku pingin ketemu pak Karim" ujarnya tegas.
Sri melongo mendengar itu. Yang benar saja? Agnes ingin ketemu pak Karim? apa gadis ini sudah berpindah selera?
"Ngapain ketemu pak Karim? Mbake suka pak Karim toh?"
"Alaaahh.. Bawel amat kamu Sri. Udah ayo, aku temenin"
Agnes menarik Sri keluar sampai kehalaman kantor. Menggandeng tangannya berjalan keluar dari area kantor. Berjalan beriringan di terotoar. Terlihat mobil yang menjemputnya sudah ada di persimpangan jalan di tempat biasa.
Tapi belum sampai kesana, mereka berdua di kejutkan dengan sebuah mobil yang berhenti tepat di samping Agnes. Seseorang keluar dari mobil berwarna silver itu.
"Nona Sri" panggilnya.
Sri dan Agnes sontak saja menghentikan langkah. Melihat siapa yang memanggil nama Sri. Dia seorang perempuan. Sri tidak mengenalinya. Agnes langsung berdiri tegak menghalangi Sri.
"Anda siapa?" tanya Agnes curiga.
Wanita itu berjalan memutari mobilnya. Berhenti tepat di depan Agnes dan Sri.
"Maaf nona. Saya Yesi, asisten nona Amira"
__ADS_1
Sri dan Agnes saling pandang. Asisten Amira? mau apa menemui Sri?
"Lalu? ada keperluan apa anda menemui nona Sri disini? Mau nyulik ya?" Agnes berkata pongah. Seakan menunjukkan taringnya di depan Yesi.
"Maaf. Nona Amira ingin bertemu dengan nona Sri. Apakah anda berkenan?"
Sri mengernyitkan dahinya. Mau apa lagi Amira ingin bertemu? bukannya Lucky sudah menolaknya? Lalu mau apa lagi sekarang?
"Untuk apa?" tanya Agnes.
"Nona Amira mengundang nona Sri hanya ingin minum kopi sebentar. Dan.. ngobrol"
Sri langsung teringat apa yang di katakan Lucky. Bahwa Amira pasti akan selalu membuat jebakan padanya. Amira ingin dia dan Lucky hancur. Tapi Sri harus menjadi istri yang tegar. Kalau dia menolak, itu artinya dia kalah sebelum bertempur.
"Dimana?" tanya Sri.
"Di kafe dekat sini saja, nona. Saya harap nona Sri berkenan" Yesi tersenyum hangat.
Sri saling tatap dengan Agnes sejenak. Agnes tampak cemas. Menarik Sri agak menjauhi Yesi.
"Jangan Sri. Kamu ingat kan kejadian di apartemen? entar kalau ada apa-apa, gimana?" Bisik Agnes.
"Ndak apa-apa mbak Nes. Cuma sebentar kan?"
"Iya. Tapi..."
"Wes ra popo mbake. Santai aja" Sri mengibas tangannya di udara.
"Baik mbak Yesi. Bentar ya"
Yesi hanya mengangguk dan tersenyum manis. Menatap Sri menghampiri pak Karim di mobil.
"Nona Yesi" panggil Agnes. Yesi mengalihkan pandangannya pada Agnes. " Jangan macam-macam kalian, ya. Saya akan langsung panggil polisi kalau kalian berbuat curang" Ancam Agnes.
Yesi hanya tersenyum sinis melihat Agnes. Tidak mau menjawab apa yang di katakan Agnes. Sri sudah balik lagi setelah menyuruh pak Karim untuk pulang deluan.
"Ya sudah. Ayo mbak" ujar Sri mantap.
Yesi membukakan pintu untuk Sri dan Agnes. Amira pasti senang karena dia berhasil membawa Sri dengan mudah tanpa banyak penolakan berarti. Agnes dan Sri masuk ke mobil Yesi. Yesi langsung mengemudikan mobil dengan mulus.
mereka sampai di sebuah kafe ternama di tengah kota. Yesi turun dan membukakan pintu untuk Sri. Sri dan Agnes keluar dari mobil. Yesi langsung mengarahkan mereka masuk ke kafe mewah itu.
Tampak pengujung lumayan ramai. Dekorasi kafe yang mewah menyajikan pandangan teduh di mata. Sajian live music mengalun lembut. Seorang pelayan datang menghampiri dan setelahnya membawa mereka untuk masuk lebih kedalam kafe.
Banyak bagian ruangan yang tersekat untuk memisahkan satu meja dengan yang lain. Untuk menjaga privasi pengunjung. Beberapa meja bundar besar, di isi beberapa pengunjung. Mereka sampai di bagian paling pojok. Bagian ini tampak sepi. Hanya ada tiga pengunjung yang duduk di meja lain. Tampak Amira duduk disana sendirian.
Begitu mereka bertiga sampai di meja Amira, Gadis itu langsung berdiri dan menatap takjub pada Yesi. Tak percaya Yesi bisa membawa Sri dengan mudah. Senyum senang tersungging di bibirnya.
"Halo, Sri. Apa kabar?" sapanya dengan suara empuk yang enak di dengar. Menyodorkan tangannya di depan Sri. Dan Sri menyambutnya.
__ADS_1
"Saya baik mbake" Sri membalas senyum Amira.
"Ohh.. ya. Silahkan duduk"
Sri menurut. Duduk di depan Amira. Sementara Yesi membawa Agnes ke meja di sebelahnya. Tidak mau mengganggu Sri dan Amira. Dengan berat hati Agnes menuruti Yesi. Berjalan ke meja di sebelah meja Sri. Duduk di sana sambil matanya tak lepas memperhatikan gerak-gerik Amira. Dan secepat kilat dia mengirim pesan pada Beni.
"Ah.. Sri, kamu mau minum apa? katakan saja" ujar Amira.
Sri masih diam saja. Otaknya seakan mencerna dengan cermat apa yang sebenarnya di inginkan Amira.
"Terserah mbak Mira aja" jawab Sri.
Amira masih memamerkan senyum manisnya. Menyuruh Yesi memanggil pelayan kafe dan menyebutkan pesanan untuk Sri dan Agnes.
"Maaf ya Sri, Aku mengundang mu tiba-tiba" Amira berbasa basi.
"Ndak apa mbak" jawab Sri. "Tapi.. ada apa ya mbak? kenapa mbake mau ketemu Sri?"
Amira menatap Sri lekat. Hatinya bersorak girang bisa bertemu Sri di sini. Dan mengakui kalau Sri sungguh berani mau menemuinya sendiri.
"Jangan tegang begitu. Aku hanya ingin ngobrol dengan mu" Amira melirik Yesi sejenak. Lalu menatap Sri lagi sambil menyunggingkan senyum yang di mata Sri, senyum itu penuh kepalsuan.
Pelayan datang dan menaruh minuman Sri di meja. Lalu membungkuk hormat dan pergi lagi. Sri menatap minuman itu dengan teliti. Amira memesankannya Condense cold brew coffee cuss.
"Silahkan diminum Sri" Amira mempersilahkan.
Sri masih menatapi saja tanpa ada niat meminumnya.
"Haha.. jangan takut. Tidak ada sianidanya" Amira tergelak manja melihat Sri terlihat bimbang.
Sri hanya tersenyum kecut. Itulah yang ada di otaknya. Siapa tahu kalau Amira nekat dan memberi racun di minumannya? semua bisa terjadi mengingat tergila-gilanya Amira pada Lucky.
"Bukan begitu mbake. Kalau melihat dari suguhan minuman yang mbak Amira pesan, Sri pikir, ini sama beratnya seperti apa yang ingin mbak Amira sampaikan" sarkas Sri menatap Amira.
"Hahaha.." Amira tergelak lagi. "Kau sangat cerdas, Sri"
"Jadi, silahkan mbake bilang apa aja yang mbak Amira mau"
"Kau akan mengabulkan?" mata Amira langsung menatap netra Sri.
"Tergantung"
"Hh.. aku tau itu" gumam Amira.
Sri Membiarkan saja dan mengikuti apa yang di inginkan Amira. Sri sudah bisa menebak apa keinginan mantan kekasih suaminya ini.
"Sri" Amira mencondongkan tubuhnya kedepan. Meraih tangan Sri di atas meja dan menggenggamnya. "Kamu pasti sudah tau hati ku bukan? aku tidak bisa berpisah dengan Lucky. Jadi aku mohon, tolong tinggalkan dia, Sri. Aku mohon"
Deg!
__ADS_1
Benarkaaann...