OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Menjenguk Kakek Fredi


__ADS_3

Tidak selesai hanya di situ, Lucky, Noah, Rian dan Frans harus segera menyusul ke kantor polisi. Menyerahkan semua barang bukti yang di perlukan. Richard telah menunggu mereka di sana. Pengacara handal itu segera meng-handle semuanya.


Setelah memberi pernyataan saksi, mereka di perbolehkan pulang. Kelelahan, pasti. Wajah-wajah lelah tergambar jelas. Tapi kepuasan telah membongkar kejahatan Levi dan Fardo tak dapat di sembunyikan.


Semuanya selesai sampai menjelang dini hari. Frans memutuskan mereka pulang ke mansion Albronze. Sekalian menjenguk kakek Fredi di sana. Kebetulan Fredi sudah pulang dari rumah sakit tiga hari yang lalu. Lucky menyetujui itu.


Yang menyedihkan adalah Geby. Gadis remaja adik Levi itu menangis ketakutan. Melihat di televisi, ayah, ibu, dan kakaknya di tangkap polisi.


"Kakak, Geby tidak bermaksud agar papa dan mama di tangkap polisi. Hikss.. Hikss.. Tapi, kenapa jadi begini?" Isak Geby sambil memeluk Lucky.


""Hey.. Sayang.. Ini bukan salahmu. Mereka di tangkap karena hasil perbuatan mereka. Jangan menyalahkan dirimu sendiri" Lucky mengecupi puncak kepala Geby dengan sayang.


"Tidak, kak. itu semua salahku. Aku yang mengadu pada kakak."


Lucky merenggangkan pelukan Geby. Menggamit dagu gadis remaja itu. Berlinang air mata dan terisak sedih. Merasa bersalah karena dia yang mengadu pada Lucky tentang apa yang pernah ia dengar dari percakapan ayah dan ibunya tentang rencana keji mereka.


"Geby, apa Geby suka jika papa dan mama serta kak Levi melakukan kesalahan? Hmm?" Geby menggeleng lemah. Lucky tersenyum. "Karena itu jangan merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada mereka. Yang kamu lakukan sudah benar. Karena itu, Geby harus ingat. Jangan pernah melakukan kesalahan seperti itu. Oke?"


Geby memeluk Lucky lagi dengan erat. Dia tau yang di lakukan ayah dan ibu serta kakaknya adalah salah. Karena itu dia mengadu. Tapi Geby tidak pernah membayangkan jika keluarganya akan di jebloskan kepenjara. Itu yang membuat dia ketakutan dan meresa bersalah.


"Lalu, Geby sama siapa sekarang kak? Geby sendiriii.. Huaaaaa...." Geby meraung sedih.


"Hey.. masih ada kakak. Kak Noah juga. Geby masih punya keluarga. Ada nenek, kakek, paman, bibi.. kami semua keluargamu, Geby"


"Geby tidak masuk penjara juga? Hikss.." Geby menatap netra Lucky dengan air mata berderai.


"Oowwhh.. kenapa gadis semanis dirimu harus masuk penjara? Seharusnya kamu malah harus di beri piagam penghargaan karena telah membongkar kejahatan" Lucky mengedipkan matanya.


Geby merasa tersanjung mendengar pujian Lucky. Gadis polos itu agak tersenyum walau masih menangis.


"Sudah lah. Jangan menangis lagi. Kakak masih ada bersamamu. Dan harusnya kau sudah tidur dini hari begini. Apa kau berencana ingin menunggu lelaki tampan?"


"Siapa?" Geby mengerutkan keningnya sambil menyeka air matanya.


"Lihat kesana" Lucky menunjuk Rian. Geby membelalakkan matanya.


"Iiihh.. Tidak kak!"


"Hehehe.. Dia kan tampan"


"Jelek! hidungnya terlalu besar" Geby menatap Rian ngeri. Yang di tatap malah cengengesan.


"Hahaha.." Lucky terbahak senang melihat Rian memegangi hidungnya karena di ejek Geby.


"Pak Noah. Apa iya hidungku sebesar itu?" bisik Rian pada Noah. Noah hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Geby menurut ketika Lucky memintanya untuk beristirahat. Gadis remaja itu masih menyempatkan menjulurkan lidahnya mengejek Rian sebelum ia pergi ke kamarnya. Rian hanya terbengong melihat tingkah gadis remaja itu.

__ADS_1


"Ehem.." Noah berdehem ketika melihat Rian memandangi arah perginya Geby. Menoleh menatap Noah di sampingnya. "Jangan coba-coba kau menggodanya, Rian.Ingat itu!" ancam Noah.


"Eh.. Salah lagi.." keluh Rian sambil menggaruk kepalanya.


šŸ’–


šŸ’–


šŸ’–


Paginya, setelah selesai sarapan pagi, mereka menemui kakek fredi. Hanya Rian yang tidak ikut. Merasa tak punya kepentingan untuk menemui kakek Fredi, Rian lebih memilih tinggal di kamarnya.


"Nenek." Lucky bersimpuh di depan nenek Liana. "Maafkan aku jika membuat nenek sedih. Tapi, aku harus melakukan itu." Lucky meminta maaf telah memenjarakan pamannya.


Nenek Liana hanya tersenyum kecil dalam keharuan. Menepuk bahu Lucky penuh pengertian.


"Tidak apa-apa, Lucky. Sudah seharusnya kau melakukan itu. Nenek tidak marah. Fardo pantas mendapatkan itu. Dia tidak menyadari siapa yang ingin dia hancurkan."


Lucky menggenggam tangan keriput nenek tirinya ini. Menatapnya sendu. Ia mengerti bahwa neneknya ini sangat merasa sedih dan terpukul mengetahui apa sebenarnya yang Fardo pikirkan.


"Itu hanya sebagai pelajaran untuk mereka nek."


"Ya. Aku tau. Dia sudah keterlaluan. Tidak tau balas Budi. Ayahnya lah yang telah membesarkan dan memberinya kedudukan. Tapi ia malah tidak pernah menganggap itu." mata nenek Liana berkaca-kaca. "Aku juga kecewa padanya, Luck."


Lucky memeluk Liana. Membagi rasa yang selama ini di pendam. Setegar apapun nenek Liana, dia tetap seorang ibu yang pasti merasa sedih melihat anaknya harus mendapat hukuman akibat kesalahan yang di lakukan. Tapi Liana tegar menerima itu. Fardo dan keluarganya memang pantas di hukum.


"Kemarilah, nak" Fredi meminta Lucky mendekat dan duduk di sampingnya. "Tidak salah jika aku membandingkanmu dengan Levi, bukan? Kau pantas mendapatkan itu"


"Terima kasih kek" jawab Lucky sambil tersenyum.


"Bagaimana istrimu? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana calon cicitku?"


"Dia baik-baik saja, kek. Dan calon cicit kakek pasti juga baik dan sehat"


"Itu sangat baik. Syukurlah. Jaga dia dengan baik, Luck" Lucky mengangguk. Fredi melirik ke arah Noah yang sedari tadi diam saja. "bagaimana dengan lajang lapuk itu?" menunjukk Noah dengan gerakan matanya. "Apa dia begitu tidak laku, sampai tidak ada yang mendekatinya?" sindir Fredi pada Noah.


Mendengar itu, Noah sedikit menegang dengan wajah kaku. Kakeknya ini selalu menanyakan hal yang sama setiap kali Noah ada di dekatnya. Makanya Noah selalu menghindar.


"Hh.. Dia bukan tidak laku, kek. Dia hanya terlalu pemilih" sarkas Lucky.


"Eh.. Pemilih bagaimana, kak? Jangan asal" Noah membela diri.


"Memilih istri. Apalagi?" Lucky menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak begitu, kek. Lucky hanya asal bicara" Noah menghindar.


"Oh.. Jadi kau tidak memilih? Hmm.. Baiklah. Ada seorang gadis yang menyukaimu mati-matian. Apa kau akan menerimanya?" tanya Lucky.

__ADS_1


"Emm.. Siapa?"


"Siapa, Luck?" Fredi juga bertanya dengan antusias.


"Ada kek. Noah juga kenal"


"Tapi siapa, kak?"


"Agnes."


"Astaga!" Noah terjengkit kaget. Tanpa bicara, dia bergeser ke arah pintu. Keluar tanpa peduli Lucky memanggilnya dengan kencang.


"Kau selalu memilih, Nooo.." teriak Lucky.


"Diamlah!" Noah balas berteriak.


Frans dan Fredi tertawa. Lucky malah mengomel mengatai Noah dengan sifat pemilihnya.


"Biarkan dia. Mungkin Noah masih ingin sendiri." Frans menengahi.


Lucky hanya menatap papinya penuh arti. Diantara mereka, siapa yang tidak tahu jika Noah juga menyukai Sri? Tapi Frans hanya tersenyum membalas tatapan Lucky yang menatapnya menuntut. Seakan mengadu dan juga protes sekaligus. Masih tidak rela jika istrinya di sukai orang lain.


"Luck, jangan terlalu lama membiarkan istrimu sendiri. Pergilah. Jemput dia pulang" ujar Fredi dengan suara bergetar khas kakeknya.


"Segera, kek. Tapi mungkin aku gak lama di sana. Aku ingin bersama istriku"


"Tidak apa-apa. Papimu masih bisa mengatasi di sini. Ambil waktumu. Jaga cicitku"


"Baik kakek. Aku pasti menjaga mereka berdua."


Lucky dan Frans pamit keluar dari kamar fredi. Di jalan menuju tangga ke lantai bawah, Lucky memberhentikan papinya.


"Ada apa, Luck?" Frans agak heran.


"Ehmm.. Pap, aku lupa bertanya. Sebenarnya, setelah selesai oprasi, apa yang kakek bisikkan pada papi?"


"Kenapa?"


"Aku hanya penasaran. Setelah itu papi menyuruh semua orang keluar. Apa yang di bisikkan kakek?"


Frans tersenyum. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga lucky, dan berbisik mencontohkan apa yang di bisikkan Fredi padanya.


"Frans.. Aku mau kencing"


Lucky mendelik. Lalu tanpa kata, dia menuruni anak tangga lebih dulu tanpa menunggu Frans. Melihat itu, Frans terkekeh geli.


"Hehehe.. Lucky.. Lucky.. Kau juga kadang bodoh, nak. Mana mungkin kakek mu membisikkan itu. Paska operasi pasti masih ada kateter. Hehehe.. Maaf Luck. Papi tidak mengatakan padamu. Karena kalau kau tau pa yang di bisikkan kakek mu, pasti kau tidak akan buang waktu untuk mengatur strategi. Pasti kau sudah melenyapkan Levi saat itu juga."

__ADS_1


Frans menuruni anak tangga sambil bergumam pada dirinya sendiri. Ya, Frans tidak bicara jujur. Masih menyembunyikan apa yang di bisikkan ayahnya waktu itu. Jika Lucky sampai tahu, dia tidak akan segan untuk segera mengabulkan itu. Yang sebenarnya di bisikkan kakek Fredi pada Frans adalah.. "Frans.. habisi mereka!" dan Frans tahu siapa yang harus di habisi.


__ADS_2