
Hari ini suasana kantor sedikit heboh. Banyak staf yang sibuk menyiapkan berkas untuk di serahkan pada pimpinan divisi masing-masing. Sri sedikit bingung kenapa mereka semua tampak panik. Dia tidak mendapatkan informasi apapun.
"Mbak Dila" Sri menarik lengan Dila untuk menoleh padanya. Sedari tadi Dila hanya berkutat di laptopnya tanpa memperhatikan Sri sedikit pun.
"Jangan ganggu aku Sri. Aku harus menyiapkan laporan ini" Dila merengut kesal.
"Tunggu bentar to mbak. Iki Ono opo? kok pada sibuk banget mbak. Agnes sama Niar juga dari tadi gak kelihatan" Sri kembali menghentikan tangan Dila di atas keyboard.
"Kamu belum dapat info ya? Hari ini Presdir akan datang. Semua kepala divisi akan di panggil. Makanya aku sibuk nih harus selesaikan berkas laporanku. Udah ah.. Jagan ganggu"
Dila kembali bekerja. Sri mengalah. Kembali ke kubikelnya dan duduk. Tapi kenapa cuma dia yang tidak di serahi tugas? apa Noah sengaja tidak memberinya tugas apapun hari ini? Sri melirik ruang kerja Noah yang tertutup rapat. Sri belum bertemu Noah sejak pulang dari mansion Albronze kemarin.
Niar dan Agnes muncul. Membawa banyak berkas yang sudah di fotocopy. Berjalan tergesa menghampiri Dila dan menyerahkan berkas-berkas itu.
"Ini mbak Dila. Aku udah selesai loh ya" Niar menjentik tumpukan berkas di meja Dila.
"Mana punya mu, Nes?" Dila mendongak menatap Agnes.
"Ini mbak. Tapi ada sedikit lagi yang belum aku print mbak" ujar Agnes menunjuk kubikelnya.
"Aduuhh.. jadi kenapa kamu malah berdiri di sini? sudah sana kerjakan" Dila tampak gusar.
Agnes memutar bola matanya malas. Lalu beranjak ke kubikelnya. Sri kasihan melihat mereka semua bekerja keras. Sri mendekati Agnes.
"Mbak Agnes. Biar Sri bantu" Sri menawarkan.
"Eh.. beneran Sri? mau bantu?" Agnes berbinar. Mendapat angin segar menghembus dri Sri.
"Iya. Kebetulan tugas Sri sedikit. Nanti bisa di lanjutkan. Biar Sri bantu mbak Agnes dulu"
"Waahh.. kamu baik bangeeet..." Agnes menepuk tangan Sri centil. Sangat senang Sri mau membantunya.
Segera Agnes membagi tugasnya pada Sri agar cepat selesai. Dengan senang hati Sri membawa berkas ke mejanya. Mulai sibuk mengetik di laptopnya.
Tak lama berselang, pintu kerja Noah terbuka. Pria tampan itu keluar dari ruangannya. Menghampiri Dila yang masih sibuk mengerjakan tugasnya. Berdiri di depan kubikel Dila dengan kedua tangan masuk ke saku celananya.
Sri melirik Agnes. Tampak gadis itu menegang begitu melihat Noah berdiri dekat dengan kubikelnya. Niar juga mengangkang mulutnya melihat Noah berdiri menjulang tinggi. Sri hampir terkikik geli melihat reaksi teman-temannya.
__ADS_1
"Bagaimana Dila? Sudah selesai?" tanya Noah pada Dila.
Dila segera bangkit berdiri. Membungkuk sedikit dan tampak gugup.
"Maaf pak. Sedikit lagi"
"Hmm.. cepat selesaikan. Itu harus saya bawa nanti. Sebentar lagi Presdir akan datang. Jangan sampai terlambat" ujar Noah tegas.
"Baik pak" Dila membungkuk lagi.
Noah Beralih menatap Sri sejenak. Yang di tatap tampak sedikit kaget tak menyangka Noah akan menoleh ke arahnya. Dan yang lebih membuat Sri mendelik, Noah mengedipkan sebelah matanya lalu beranjak pergi.
Melihat itu, sontak saja Agnes dan Niar menoleh padanya dan menatap dengan pandangan yang susah di artikan Sri. Sri tersenyum canggung melirik mereka berdua bergantian. Lalu mengedikkan bahunya menyatakan dia juga tidak mengerti apa maksud Noah barusan.
Tak ingin mendapat pertanyaan lagi, Sri segera menunduk menatap laptonya. Membuat Agnes dan Niar kesal melihat Sri menghindari mereka.
Sembari mengerjakan tugas Agnes, Sri berpikir tentang apa yang di katakan Noah tadi. Presdir akan datang. Siapa? apa kakek Fredi? Atau seseorang dari keluarga Albronze? Sri juga belum bertemu CEO perusahaan ini. Kira-kira siapa?
Ia ingat tadi pagi sebelum berangkat, Lucky bilang akan bertemu lagi. Sri pikir, ya tentu bertemu Lucky lagi nanti setelah pulang kantor. Tapi apa ada hubungannya dengan kedatangan Presdir?
Setelah lama berkutat dalam pekerjaan yang menumpuk, kini tiba waktu istirahat makan siang. Tapi Dila tidak ikut. Masih berada di ruang kerja Noah. Sri, Niar dan Agnes juga makan dengan tergesa. Semua karyawan tampak tegang hari ini.
Tak berapa lama mereka harus segera kembali ke kantor. Banyak staf berkumpul di loby kantor. Tapi Sri tidak mau ikut berkumpul disana. Mengajak kedua temannya agak menjauh dari kerumunan.
Tampak Dila terduduk lesu. Mereka menghampiri Dila dan duduk berjejer mengelilinginya.
"Mbak Dila kenapa? Kok lesu ngene mbak?" tanya Sri memegang tangan Dila.
"Iya mbak. Kenapa?" Agnes menimpali.
"Huuuff.. capek" keluh Dila menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
"Apa belum selesai dengan pak Noah, ya mbak?" Niar tampak prihatin melihat wajah lesu Dila.
"Udah sih. Tapi tadi pak Noah marah sama aku. Dia bilang kita lemot"
Mereka bertiga saling pandang. Lalu menatap Dila lagi.
__ADS_1
"Pak Noah bilang, akan banyak perubahan di perusahaan ini. Jadi kita harus kerja lebih keras lagi"
"Hah? perubahan gimana maksudnya mbak?" tanya Agnes antusias.
"Gak tau aku Nes. Tapi pak Noah bilang gitu. Masih itu aja sih infonya. Kata pak Noah masih melihat perkembangan lagi. Kalau lancar, kita akan ganti Presdir"
"Waahh.. bakalan kerja keras lagi nih. Pasti peraturan akan berubah lagi" Niar menekuk punggungnya lemas.
"Mudah-mudahan peraturannya gak lebih ketat dari sekarang" jawab Dila.
"Eh.. itu udah pada rame. Yuk kita lihat Presdir datang tu. Katanya banyak dari pemegang saham datang hari ini"
Dila bangkit dari kursinya. Beranjak mendekati jejeran para staf di depannya. Mereka bertiga mengikuti. Berdiri berjejer mengerumun di samping Dila. Dari pintu masuk, Tampak para petinggi perusahaan memasuki lobi kantor. Noah berjalan bersama mereka. Semua orang tampak gagah. Yang membuat Sri tercengang, ternyata benar Presdir yang di maksud adalah kakek Fredi.
Lelaki tua itu duduk di kursi rodanya. Di dorong asistennya di belakang. Dan jantung Sri seketika berhenti berdetak melihat Lucky juga ada di sana. Berjalan gagah di sebelah papi Frans. Dan ada juga paman Fardo dan seorang pria muda seumuran Lucky berjalan di sampingnya. Sri tidak mengenalnya. Apa mungkin dia sepupu Lucky yang notabene putra paman Fardo?
Mereka berjalan dengan tegas. Menunjukkan kharisma yang tinggi sebagai orang-orang petinggi perusahaan Bronze yang megah ini.
Sri agak beringsut bersembunyi di balik punggung Dila. Dia tidak mau kakek Fredi melihatnya. Apalagi paman Fardo. Sri bergidik ngeri mengingat mulut pedas suami istri adik papi Lucky itu.
Tampak Lucky agak mengedarkan pandangannya ke arah para staf yang berjejer. Seperti mencari keberadaan seseorang. Dan Sri melihat itu dari balik punggung Dila. Hatinya menghangat. Dia tau pasti Lucky mencari keberadaannya.
"Iihh.. ngapain sih Sri?" Dila mengedikkan sebelah bahunya karena Sri merapat di sana.
Sri nyengir saja melihat Dila risih Sri mendusal di punggungnya. Agak keluar dari balik punggung Dila begitu melihat pandangan Lucky terpaku ke arah Sri. Netra mereka bertemu. Lucky tersenyum kecil dan mengedip nakal begitu sudah menemukan kekasih hatinya. Sri tersipu malu dengan wajah terasa panas terbakar.
"Heh.. kenapa wajah mu merah begitu?" Agnes mengagetkan Sri. Agnes menatapnya heran melihat wajah Sri tersipu dan merah padam.
"Eh.. Ndak apa mbak. Panas" jawab sri.
"Panas? aneh lu" Agnes mencebik. Lalu mengalihkan pandangannya kedepan lagi.
Jantung Sri berdegup kencang. Untung saja Agnes tidak memperhatikan siapa yang di tatap Sri di depan sana dengan senyum dan kedipan mata nakal yang menggoda.
Mereka bubar begitu para petinggi perusahaan sudah masuk ke lift. Kembali ke ruang kerja masing-masing. Dan di sibukkan dengan pekerjaan seperti biasanya.
Sri memikirkan kenapa keluarga Albronze berkumpul di sini hari ini? Lucky tidak mengatakan apapun padanya tentang kunjungan ini. Apa kakak Fredi akan pensiun? Lalu siapa yang akan menggantikannya? Lucky? atau Noah?
__ADS_1