
"Pak Noah!"
Sri terkesiap. Tapi cepat meredam rasa terkejutnya. Lucky langsung menatapnya tak suka. Menariknya duduk lebih merapat dan merengkuh pinggangnya. Sri menoleh menatap Lucky dengan kikuk.
Sementara Frans bersikap tenang. Dan Melani hanya tersenyum anggun. Tapi Vira tampak melirik Frans sejenak, lalu cepat membuang pandangannya kearah lain. Sri menangkap suatu kilatan aneh disana, tapi itu hanya sekilas. Vira dapat menyembunyikan itu dengan baik. Sri dapat melihat sikap wanita di kediaman keluarga Albronze. Elegan. Sungguh berbanding terbalik dengannya yang biasa bersikap bersahaja seperti orang kebanyakan.
Setelah memeluk Frans, Noah menyalami bibinya. Melani menyentuh pipi Noah dengan sayang. Keponakannya ini memang tampan. Tak kalah tampan dengan putranya.
"Noah, sayang.. ini Sri istri kakakmu" ujar Vira mengenalkan Sri pada Noah.
"Halo kakak ipar. Senang bertemu denganmu" ujar Noah mengulurkan tangannya ke depan Sri.
Sri ingin berdiri untuk menyambut tangan Noah. Tapi Lucky menahan pinggangnya erat. Membuat Sri mengurungkan niatnya. Menatap canggung bibi Vera yang mengulum senyum geli melihat tingkah Lucky. Jadilah Sri menyalami Noah dengan tetap duduk di tempatnya.
Noah hanya memiringkan sedikit ujung bibirnya. Dia tahu si brengsek saingannya ini pencemburu berat. Tak menghiraukan sikap canggung Sri, Noah juga mengulurkan tangannya pada Lucky.
"Selamat datang kak" sapanya.
Dengan malas, Lucky menyambut uluran tangan Noah. Lalu cepat menariknya lagi. Sungguh Sri sangat ingin bertanya pada kedua pria itu. Ternyata selama ini mereka berdua menyembunyikan tentang hubungan kerabat diantara keduanya. Rasanya Sri ingin menjitak kepala mereka berdua.
Pak Gani yang ternyata kepala pelayan di mansion Albronze datang menghadap, dan membungkuk hormat.
"Maaf tuan, Tuan besar sudah menunggu" ujarnya.
Mereka semua saling melempar pandang. Terlihat wajah Lucky berubah kelam. Lalu Noah berdiri dan mengajak mereka semua menuju kelantai atas. Semua orang mengikuti.
Sesampainya di depan sebuah pintu besar, semua orang berhenti. Noah menatap Frans.
"Sebaiknya paman yang masuk lebih dulu" ujarnya. Tapi Frans hanya diam. Lalu melihat pada Lucky.
"Kau ingin masuk lebih dulu, Luck?" tanyanya.
Rahang Lucky mengetat. Papinya masih saja mencoba memberinya peluang untuk meluruhkan rasa marah itu. Tapi Lucky belum bisa. Hanya menghindari tatapan papinya.
Menyadari itu, Noah mengalah. Dia membuka pintu lebar, dan masuk lebih dulu. Entah kenapa suasana menjadi lebih tegang saja. Sri dapat merasakan aroma permusuhan yang kental dari sikap Lucky. Suaminya ini tampak sangat dingin.
Terlihat kamar tidur yang sangat luas di dalamnya. Ada ranjang king size dengan kepala kayu jati berukir indah. Dan di tengahnya ada seorang lelaki tua renta yang terbaring diam. Tapi Sri belum bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Di sebelahnya ada seorang wanita tua yang duduk di kursi goyang. Menatap Noah dan melirik keluar kamar tempat semua orang menunggu.
Noah tampak mendekat ke ranjang. Entah apa yang di bicarakannya. Lalu balik lagi menemui semua orang di luar.
"Silahkan masuk paman" ujar Noah mempersilahkan.
Mereka semua masuk satu persatu. Lucky masih tetap diam di tempat. Wajahnya terlihat sangat kaku dan serius. Noah menatapnya menanti Lucky melangkah masuk.
Sri menyentuh tangan Lucky dan menggenggamnya erat. Lucky menoleh padanya dan Sri mengangguk tersenyum. Menyalurkan kekuatan untuk Lucky.
Dengan mantap, Lucky akhirnya ikut melangkah masuk. Tetap menggandeng tangan Sri seakan tak ingin terpisahkan. Mereka semua sudah berada di dalam kamar megah ini. Semua orang diam dengan napas tertahan.
Sri dapat merasakan ketegangan di antara mereka. Sedikit bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Mengapa mereka sekeluarga saling bermusuhan dan seperti menebarkan perang dingin.
__ADS_1
Sri baru dapat melihat dengan jelas keadaan lelaki tua di tempat tidur itu, dan wanita di sebelahnya. Pastilah mereka berdua adalah kakek dan nenek Lucky, orang tua dari papi Frans.
Wajah tua renta yang masih menyisakan ketampanan itu terlihat lemah. Kulit keriputnya tampak jelas. Kalau dilihat, mereka berdua berusia sekitar delapan puluh tahunan. Dan yang wanita menatap Melani tanpa bisa digambarkan arti tatapannya. Wanita tua dengan wajah oval yang tampak tegas.
Kakek Fredi menggapai-gapaikan tangannya pada papi Frans. Dan segera papi Frans datang mendekat padanya. Berlutut di samping ranjang besar itu, dan menggenggam tangan keriput itu dan menciumnya.
"Ayah.."
"Kau datang Frans.." suara tua itu bergetar.
"Ya ayah. Aku disini"
"Terima kasih kau sudah datang"
Frans hanya mengecupi tangan keriput itu. Tampak air mata mengalir dari sudut mata kakek Fredi.
"Frans.. aku sangat merindukan mu" ujarnya lemah.
Frans diam. Masih berlutut dan menundukkan kepalanya. Suasana haru seketika menyergap mereka. Tapi Sri heran melihat nenek Lucky. Wanita tua itu hanya menatap diam tanpa ekspresi. Frans beralih padanya. Menggenggam tangan wanita tua itu dengan erat. Menatapnya sejenak, lalu mengecup punggung tangan keriputnya.
"Ibu.. Aku pulang" ujar Frans.
"Kau melupakan kami Frans" ujarnya dengan tegas. Menatap Frans dengan tajam.
"Aku selalu mengingat kalian. Tidak pernah lupa. Ibu dan ayah ada disini" Frans menunjuk dadanya.
Tak di sangka, wanita itu menangis. Matanya belinangan air bening yang bergulir deras. Semua wanita yang ada di situ juga mengalirkan airmata haru. Kecuali Sri yang masih bingung akan situasi yang dia tidak mengerti.
"Maafkan ayah dan ibu mu nak" ujarnya lemah dan terisak pilu.
"Lani.. kemarilah" kakek Fredi memanggil mami Melani.
Melani melangkah kedepan. Berhenti tepat di samping ranjang besar itu. Menatap kakek Fredi dengan linangan air mata.
"Lani.. menantuku. Maukah kau memaafkan aku si tua ini?" tanya Fredi memohon.
Melani segera berlutut di samping ranjang. Menggenggam tangan ayah mertuanya.
"Ayah.. jangan bicara begitu. Melani tidak pernah membenci kalian. Kami yang harus meminta maaf karena baru datang sekarang" jawab Melani terisak.
"Kau selalu baik hati. Aku salah telah memperlakukan mu tidak baik. Frans beruntung mendapatkanmu" kakek Fredi menghela napas dalam.
"Ayah" Melani mencium tangan ayah mertuanya. Lalu beralih pada ibu mertuanya. "Ibu..."
Tak disangka, nenek Liana langsung merengkuh tubuh Melani. Memeluknya erat dan mengucapkan rentetan kata maaf sambil terisak.
"Maafkan aku Lani.. Maafkan aku"
Mereka saling berpelukan erat. Tak ada yang bisa tahan melihat suasana haru itu. Bibi Vira sudah menangis sejak tadi. Noah hanya menunduk dalam. Tapi lain dengan Lucky. Pria ini hanya berdecih dan bergumam tak jelas.
Melani mengurai pelukan dengan ibu mertuanya. Menatap Lucky dan sri. Memanggil mereka berdua untuk mendekat. Kaki Lucky seakan kaku tak bisa bergerak. Tubuhnya menolak untuk mendekat. Sri bingung antara memenuhi panggilan Melani, atau diam di samping Lucky.
__ADS_1
"Mase, ayo" Sri agak menarik lengan Lucky untuk mendekat. Tapi Lucky masih diam. Rasa benci masih tersisa di hatinya.
"Lucky.. Tidak maukah kau memaafkan kakek mu ini?" Kakek Fredi menatap Lucky nelangsa.
Melihat itu, Sri tidak tega. Sebening itukah Lucky pada kakek dan neneknya? sampai tubuhnya mengejang kaku. Menolak untuk mendekat.
Melani mendekati Lucky. Menyentuh pipi putranya dengan sayang. Lucky melihat wajah ibunya dalam diam.
"Sayang, jangan begitu. Dia kakek dan nenek mu. Lembutkan hatimu nak" ujar Melani tersenyum menenangkan hati putranya yang bergemuruh.
Lucky menghela napasnya berat. Karena ibunya dia rela meluluhkan rasa benci yang tertanam sekian tahun di hatinya. Menatap Sri dan menariknya untuk mendekat ke ranjang kakeknya.
Fredi menatap cucu pertamanya ini dengan air mata mengalir di sudut matanya. Terenyuh Sri melihat itu. Penyesalan yang dalam tergambar jelas di mata tua itu.
"Lucky.. kau tidak mau memaafkan kakek?" tanya Fredi.
Sri menarik tangan Lucky untuk mendekat ke kakek Fredi. Dan Lucky menurut. Duduk di sisi tempat tidur kakeknya.
"Kau gagah sekali. Aku kalah" kakek Fredi menyentuh tangan Lucky. dan tersenyum sedih.
Rasa bersalah terlihat jelas di matanya. Mengagumi cucu pertamanya. Cucu yang dulu tidak diakuinya. Cucu yang menurutnya hanya membawa sial. Tapi kini, Lucky terlihat sangat menawan hatinya, dan dialah yang akan mewarisi sebagian besar harta kekayaan keluarga Albronze.
"Maafkan aku Luck" ujar Fredi lirih. Menggenggam tangan Lucky erat. "Kau memaafkan aku bukan?" tanyanya lagi.
Lucky menghela napas berat dan mengangguk kecil tanpa membuka suara. Itu sudah cukup melegakan bagi Fredi. Dia memang bersalah telah menyia-nyiakan Lucky. Kini dia harus mengakui kekalahannya karena menghalangi cinta antara Frans dan Melani. Fredi melihat pada Sri. Sri mengangguk kecil dan tersenyum hangat.
."Dia istrimu?" tanya Fredi pada Lucky.
Tampak wajah Lucky kembali mengeras. Dengan tegas berdiri dan merengkuh pinggang Sri. Menatap kakeknya dengan tajam. Trauma itu masih ada.
"Dia Sri istriku. Jangan menyentuhnya" Suara tegas itu tanpa sadar meluncur dari bibir Lucky.
Fredi terkekeh pelan. Ternyata cucunya masih menyimpan trauma dengan masa lalu.
"Mendekat lah. Aku tidak akan mengusiknya" ujar Fredi menggerakkan tangannya memanggil Sri untuk mendekat. Lucky agak menahan Sri. Tak rela jika Sri menjauh darinya. Rasa khawatir menguar di dadanya. Sri tersenyum lembut pada Lucky. Mengatakan lewat tatapannya bahwa ini akan baik-baik saja.
Dengan berat hati Lucky membiarkan Sri lepas dan mendekat pada Fredi. Meraih tangan keriput itu dan mencium punggung tangannya.
"Gadis baik" Fredi tersenyum hangat. "Kau harus jaga cucu dinginku ini. Dia perlu perawatan ekslusif"
Sri kaget mendengar itu. Kakek Fredi membuat lelucon kecil yang membuat semua orang tersenyum haru. Dan Lucky hanya melengos kesal.
"Iya kakek. Sri akan menjaga mas Lucky dengan baik" jawab Sri.
"Kau tidak ingin mengenalkannya pada nenek, Luck?" suara tua itu menyapa Lucky.
Lucky melihat kearahnya. Tapi diam saja. Sri langsung mengambil inisiatif untuk segera mendekat.
"Nenek.. Saya Sri. Istri Mase" ujar Sri.
"Kau manis sekali" wajah tua Liana berbinar. Sri dapat merasakan kehangatan keluarga di matanya. "Peluk aku"
__ADS_1
Sri memeluk nenek Liana. Semua orang dapat bernapas lega sekarang. Keluarga ini bisa berkumpul kembali. Menjadi keluarga seutuhnya. Walau memang masih ada yang kurang. Anak kedua kelurga Albronze belum muncul. Dan anak ketiga yang adalah ayahnya Noah, juga belum terlihat.
Yang terpenting, kebencian itu sudah mulai luntur. Lucky sudah menerima maaf dari kakek dan neneknya. Masih ada satu lagi biang masalah di dalam keluarga ini yang belum mereka temui. Fardo Albronze. Anak kedua dari Fredi Albronze.