
Lucky meradang marah sekaligus kebingungan. Istrinya tidak membalas semua chatingannya. Malah sekarang menonaktifkan ponselnya. Berulang kali Lucky menghubungi, tapi nihil.
Menghubungi Noah berulangkali, tapi selalu sibuk. Menghubungi ke kantornya, mereka bilang Noah sedang di luar.
"Ah.. Ada apa ini? Kenapa semua orang sangat sibuk ketika di hubungi?!" geram Lucky frustasi. "Kamu dimana Sri? kenapa ponsel mu sekarang malah nonaktif?!"
Hampir saja Lucky membanting ponselnya. Kebingungan sendiri kenapa Sri tidak menjawab semua pesannya. Dari tadi sudah menyuruh orangnya untuk langsung memeriksa di kantor Sri. Tapi belum ada kabar dari mereka.
Ingin rasanya meminta pihak perusahaan Bronze untuk memeriksa keberadaan Sri dan segera menyuruh mereka mengantarkan istrinya ke kantornya sendiri. Tapi dia belum ada kuasa sepenuhnya di sana. Tidak bisa juga sembarangan memberi titah.
Sekarang dia menyesal kenapa tidak mengambil kesempatan yang di tawarkan kakeknya untuk memegang tampuk kekuasaan tertinggi di sana. Sekarang dia sangat kesusahan memantau istrinya.
Ingin menghubungi paman Barry sebagai CEO di sana, tapi gengsi masih kuat mengendurkan keinginannya. Lucky mengusap wajahnya kasar.
Tok tok tok..
Lucky menatap pintu dengan malas. Membiarkan saja ketukan itu menggema. Tanpa dia menyuruh masuk, Beni sudah lebih dulu membuka pintu. Sekretarisnya itu mendekat.
"Tuan, nona Sri tidak ada di kantor"
"Apa?!" Lucky berdiri tegak dengan raut wajah merah padam. Marahnya sudah tak bisa di bendung. "Lalu di mana istri ku?"
"Dari informasi yang saya terima, nona Sri keluar dari kantor setelah rapat, tuan. Tapi mereka tidak tau nona Sri kemana"
"Dengan siapa?"
"Tuan Noah"
Rahang Lucky mengetat. Itulah sebabnya Noah pun tidak bisa di hubungi. Ponselnya selalu sibuk. Dan Sri juga mematikan ponselnya. Apa ini ada hubungannya? Apa mereka berselingkuh di belakangnya?
"Cari mereka secepatnya. Aku tidak mau ada alasan! bawa istri ku pulang"
"Tapi tuan..."
"Apa lagi?!" sentak Lucky marah.
"Ada tuan Levi menunggu bertemu anda"
"Levi? Mau apa dia?" Lucky mengerutkan keningnya.
"Sepertinya ada yang penting, tuan"
__ADS_1
Lucky diam sesaat. Memikirkan ada apa sampai Levi datang menemuinya?
"Baiklah. suruh dia masuk. Dan jangan lupa, suruh orang mu menemukan istri ku. Segera!"
"Baik tuan"
Beni beranjak keluar. Lucky bersiap menerima kedatangan Levi. Entah apa yang di inginkan sepupunya itu. Pikiran Lucky bercabang dan membuatnya sedikit tidak fokus. Memikirkan istrinya yang menghilang entah kemana.
Beni, Levi, dan seorang asisten Levi yang bernama Dino masuk ke ruang kerja Lucky. Lucky hanya menatapnya dingin. Sedangkan Levi memamerkan senyum remeh di wajahnya.
Levi tampak gagah. Memakai jas navi dengan celana slim fit yang mencetak kaki jenjangnya. Ukuran tinggi tubuh mereka hampir sama. Dan pemuda ini selalu berpenampilan memukau dengan wajah tampannya. Memang agak sulit membedakan ketampanan antara Lucky, Levi, dan Noah. Sama-sama tampan dan gagah. Tapi mempunyai sisi kharisma masing-masing.
"Ada yang ingin kau bicarakan? Ada apa sampai menemui ku kesini?" tanya Lucky begitu Levi duduk di depannya.
Levi semakin menyunggingkan senyum lebar. Kakak sepupunya ini selalu tidak bisa berbasa-basi. Tegas dan menusuk.
"Jangan terlalu tegang, Luck. Haha.. aku hanya mampir sebentar" jawab Levi tertawa renyah. Tapi bagi Lucky, tawa itu lebih tepatnya mengejek.
"Aku tidak punya waktu untuk basa basi mu. Langsung saja" terdengar dingin suara Lucky. Menatap Levi tajam.
"Hmm.. baiklah.. baiklaaahh.. Kau selalu kaku, Luck"
Levi menautkan jari jemarinya membentuk Piramida. Menatap serius kearah Lucky.
Lucky langsung mengerti kemana arah bicara Levi. Saling menatap satu sama lain dalam dinginnya sorot mata tajam yang sangat mematikan.
Sedari dulu Lucky selalu tidak bisa akur dengan para sepupunya. Untung saja Noah lebih bersifat kalem dan dapat memaklumi sifat keras Lucky. Kalau tidak, mereka berdua pun pasti sudah menjadi musuh bebuyutan. Apalagi pernah bermasalah tentang Amira.
"Apa maksud mu Lev?"
"Hh.. aku tau kau cerdas. Jadi tidak perlu aku menjelaskan bukan?"
"Sebenarnya, apa yang ada di otak mu, Lev? Jika kau bersikap Sesuka hati, bukankah yang hancur juga keluarga mu? begitu senangkah kau jika perusahaan kakek jatuh? Apa yang kau dapatkan?" Lucky sudah tidak tahan untuk bertanya banyak pada Levi.
"Hahahaa... kau memang cerdas Luck. Aku akui itu" Levi bertepuk tangan senang Lucky bisa mengikuti jalan pikirannya. "Tapi aku tidak mau berbagi" ujarnya menatap Lucky dengan pandangan licik.
"Hhh.. cih.. kau serakah" gumam Lucky berdecih.
"Terserah kau mau bilang aku apa" Levi merentangkan kedua tangannya. Tidak menggubris ejekan Lucky padanya. "Sejauh ini.... aku cukup tenang kau tidak menerima permintaan kakek. Karena kau sudah memiliki harta mu sendiri"
Lucky diam saja. Masih menunggu apa yang akan di lanjutkan Levi.
__ADS_1
"Dan aku minta, tetaplah begini"
Lucky sungguh muak melihat sepupunya yang satu ini. Dari dulu sampai sekarang, entah kenapa keluarga pamannya ini sangat suka membuat keonaran di keluarga Albronze.
"Kalau tidak? kenapa?"
"Hhaahhaa.." Levi tertawa kencang. Lalu tiba-tiba menghentikan tawanya. "Aku sudah meminta mu terang-terangan. Aku tidak suka di saingi Luck. Siapapun. Tidak kau! tidak juga Noah!"
Lucky memicingkan matanya. Sangat merasa jijik dengan keserakahan Levi pada harta. Lucky malah tidak berminat sedikitpun soal harta kekayaan keluarga Albronze. Menurutnya itu hanya akan menimbulkan pertikaian. Entah dosa apa yang telah di lakukan nenek dan kakeknya sehingga anak cucunya tidak bisa bersatu di dalam kedamaian.
"Kau terdengar mengancam ku" ujar Lucky semakin menggeram marah.
"Ah... cerdas!" Levi menjentikkan jarinya dengan seringai iblisnya. "Jangan mengajukan diri mu dalam sidang terakhir dewan direksi nanti. Atau.."
"Apa!?" Lucky sudah sangat ingin menghajar mulut kotor Levi.
"Orang-orang yang kau sayang akan melayang satu persatu" desis Levi.
"Bajingan!!"
Lucky bangkit berdiri. Bergerak maju dengan tangan terkepal siap meninju wajah tampan Levi. Tapi Beni segera mencegahnya. Memang Levi sengaja memancing reaksi Lucky. Dan dia akan mem-framing kalau Lucky mencari keributan dengannya.
"Sabar tuan Lucky. Kendalikan diri anda" Beni memegangi Lucky sekuat tenaga. Lucky mendengus marah.
"Haha.. Aku hanya mampir sebentar Luck. Tapi ingatlah kata-kata ku tadi" Levi bangkit berdiri. Berjalan menuju pintu.
"Levi!" seru Lucky.
Levi berhenti di ambang pintu. Menoleh kebelakang melirik Lucky.
"Aku suka tantangan. Kita lihat saja siapa yang hancur" ujar Lucky tegas.
Levi berbalik menatap Lucky lagi dengan kening sedikit mengernyit. Tampak tidak suka dengan apa yang di katakan Lucky barusan.
"Berarti kau suka jika paman Fardan jatuh lagi dari lantai sepuluh?"
"Kita lihat saja nanti. Otak siapa yang akan pecah lebih dulu" Lucky tersenyum sinis. Tampak Levi menatapnya menyembunyikan rasa hati yang menggelegak marah.
"Pergilah. Aku sibuk"
Lucky langsung mengusir Levi terang-terangan. Levi berbalik lagi keluar dari ruangan Lucky dengan tangan terkepal. Lucky tersenyum menang melihat itu.
__ADS_1
Setelah Levi pergi, Lucky menghembuskan napas berat. Entah apa yang di pikirkan keluarga paman Fardo sampai tega ingin menghancurkan keluarganya sendiri hanya demi harta kekayaan. Sungguh malang nasip kakeknya itu.
"Ah.. Noah! dimana kau?! Kenapa kau membawa lari istri ku!! brengsek!!"