OJO NGONO MAS'E

OJO NGONO MAS'E
Minumannya Terasa Pahit


__ADS_3

"Mase ada janji toh?" tanya Sri menatap Lucky.


Lucky mengerutkan dahinya mengingat ada janji atau tidak.


"Ada. Tapi tidak di sini" jawabnya. "Tunggu sebentar"


Lucky beranjak melangkah mendekati pintu. Memeriksa sebentar dari lubang intip di pintu. Dan benar saja dugaannya. Itu Noah. Lucky melirik Sri sejenak. Gadis itu sedang pergi ke dapur.


Lucky membuka pintu sedikit. Hanya melongokkan kepelanya saja. Tak ingin membuka pintu lebih lebar. Menatap Noah di depannya. Tapi Noah tak lagi menunjukkan wajah kesal padanya.


"Kenapa di sini?" tanya Lucky dingin.


Noah diam saja. Malah semakin menunjukkan kekesalannya pada Lucky. Tanpa permisi, Noah mendorong pintu agar terbuka lebih lebar lagi. Tubuh Lucky mundur kebelakang akibat dorongan Noah. Mendelik marah atas kekurang ajaran Noah.


"Aku sudah menghubungimu berkali-kali. Tapi tidak kau jawab"


Noah mengomel sambil duduk di sofa tanpa di persilahkan tuan rumah. Melihat itu Lucky sangat kesal.


"Siapa yang menyuruh mu duduk?" tanyanya sambil mengedikkan dagunya.


"Apa aku harus menunggumu mengatakan itu?" Noah balik bertanya menantang.


Lucky menghela napas kasar. Jengkel sekali Noah tidak punya sopan santun masuk ke rumahnya. Menutup pintu lagi lalu melipat tangannya di dada. Berdiri tegak menatap Noah marah.


"Pertemuannya di tempat lain. Lalu kenapa kau kesini? kau sengaja ingin menggangguku?" Lucky menatap Noah sinis.


"Aku kan sudah bilang. Aku sudah menghubungimu berkali-kali. Kalau kau tidak percaya, cek saja ponsel mu" Noah bersikap cuek saja. Mengedarkan pandangannya ke sekitar.


Lucky menyadari apa yang di cari Noah dari pandangan matanya. Mendengus sebal. Sambil menuding Noah, ia berjalan mengambil ponselnya di Atas meja dapur.


"Jaga pandangan mu. Jangan mencari di mana istriku. Atau aku akan mencungkil mata jahatmu" Ancam Lucky serius.


Noah mencebik lalu tersenyum geli mendengar ancaman Lucky. Lelaki itu masih saja sangat posesif.


Lucky mengecek ponselnya. Ada puluhan panggilan tak terjawab. Ada nama Noah dan juga Beni. Mungkin mereka menghubungi ketika Lucky masih sibuk bersama istrinya, dan tertidur kelelahan. Dan kebetulan Lucky mengaktifkan silent mode pada ponselnya tadi.


"Siapa mas?"


Sri muncul dari dapur. Tertegun melihat Noah sudah duduk santai di sofa. Sri heran kenapa Noah sampai datang ke apartemen Lucky. Pasti ada sesuatu yang penting.


"Hai Sri" Noah melambaikan tangannya pada Sri dan tersenyum lebar.


SIIING!!!!


Lucky segera melirik mereka berdua. Tatapan membunuh langsung terpancar di matanya. Tapi Sri dan Noah seakan tak menggubrisnya.


"Pak Noah" Sri menatapnya seakan tak percaya. Berjalan mendekati Noah. "Ada apa pak Noah datang? pasti ada yang pen..."


"Jangan mendekat!" Seru Lucky.


Tubuh Sri tertarik kebelakang. Berhenti melangkah dan bicaranya terhenti. Tiba-tiba saja Tangannya sudah di tarik Lucky sampai tubuhnya terhuyung. Lucky menyembunyikan tubuh Sri di belakang punggungnya.


Agak mendongakkan dagunya menatap angkuh pada Noah yang masih tersenyum lebar. Melihat itu, senyum Noah langsung pudar.


"Loh Mase! kenapa sih?" Sri bingung. Melihat sikap keduanya yang seperti bermusuhan. Dan Lucky seakan tak rela jika Noah melihat ke arahnya.


Lucky berbalik dan memeluk Sri erat. Menyembunyikan tubuh mungil istrinya dari tatapan mata Noah yang menurutnya jahat. Menggeret sri berjalan dengan posisi miring agar Noah tidak melihat tubuh Sri.


"Aduhh.. apa sih Iki Mase!"

__ADS_1


Sri terpekik kesusahan bergerak. Berjalan tertatih mengikuti langkah Lucky menuju ke kamar. Noah sampai melongo melihat itu. Segitunya Lucky tak rela jika Noah melihat istrinya.


"Kamu ganti baju dulu. Baju yang tertutup, yang longgar. Kalau perlu, pakai mantel sekalian, baru boleh keluar" ujar Lucky membuka pintu kamar dan mendorong tubuh Sri pelan. Lalu seenaknya menutup pintu kamar.


Sri melongo mendengar perintah Lucky. Menatap penampilannya. Apa yang salah? sepertinya penampilannya wajar saja. Memakai baju berbahan kaos berlengan pendek dan sebatas lutut. Dan bajunya ini sudah longgar. Ini baju tidur! apa yang salah? tidak ketat dan juga masih sopan menurutnya.


"Kau sangat otoriter Luck" Noah menatap Lucky tajam.


Yang di tatap hanya mengedikkan bahunya. Merasa menang Noah tidak bisa melihat bagian tubuh Sri yang terbuka. Dan itu hanya kepala, lengan dan betis! itu miliknya. bukan Noah!


"Terserahku. Dia milikku.. jangan macam-macam mata jahatmu itu"


"Ck.. dasar!"


Noah berdecak kesal. Sebegitu takutnya Lucky jika Noah menatap Sri dengan pandangan tak senonoh. Padahal menurut Noah dia biasa-biasa saja menatap Sri.


"Maaf aku tidak mendengar panggilan mu. Tapi, kenapa kau sampai kesini? kita bisa bertemu besok" Lucky duduk di sofa lain bergabung bersama Noah.


Noah tak menjawab. Sebenarnya dia pun bingung kenapa sampai melangkah ke apartemen Lucky. Entah itu hanya perasaan mengkhawatirkan Lucky dan Sri, setelah Beni mengatakan padanya, bahwa panggilannya juga tidak di jawab Lucky.


"Kau sudah mempelajari berkas itu?" Noah mengalihkan pembicaraan.


"Hem" Lucky mengangguk. "Tapi, sepertinya ada kejanggalan di bagian keuangan"


"Tolong pelajari lagi lebih teliti. Kau akan melihat bagaimana bobroknya kantor cabang di bawah pengawasan paman Fardo dan Levi"


"Tapi aku pikir, pasti ada kesepakatan mereka dengan staf keuangan di kantor pusat. Bagaimana bisa kantor pusat tidak melihat banyaknya selisih itu? Kenapa kau bisa tidak jeli dengan itu?"


Sebelum Noah menjawab, pintu kamar terbuka. Seketika tubuh Lucky tampak menegang. Seketika, keduanya menoleh kearah yang sama. Tampak Sri berdiri di sana dengan pakaian astronot menurut Noah. Sri terlihat tenggelam dalam baju kebesaran itu. Hanya puncak kepalanya yang tampak menyembul keluar.


"Mphhpp.." Noah membekap mulutnya untuk meredam tawanya yang akan meledak.


"Hmm.." Lucky meliriknya sinis.


Lucky juga sebenarnya ingin tertawa melihat penampilan Sri. Tapi dia tahan sekuat tenaga agar wajahnya terlihat normal saja. Sri sudah tepat memakai baju seperti yang di perintahkannya tadi. Untung saja Sri tidak benar-benar memakai mantel hujan.


Sri mendekat dengan menunjukkan wajah yang cemberut. Berjalan tertatih karena menyeimbangkan langkahnya agar celana bagian bawahnya tidak sampai melorot dan terinjak kakinya sendiri.


"Kamu cantik sayang. Sini duduk denganku"


Mendengar itu sontak saja Noah mencebik. Apanya yang cantik dengan baju kebesaran begitu? Dasar lebay!


Tapi Lucky tidak peduli dengan tatapan jengah yang di tunjukkan noah. Lucky menepuk tempat di sebelahnya. Sri menurut. Segera Lucky merangkul pundak Sri. Mengecup pipinya mesra. Ingin mempertontonkan di depan Noah, betapa ia sayang istrinya.


"Tidak usah lebay. Kau takut karma itu berjalan padamu kan?" sarkas Noah.


Sri dan Lucky menatap Noah dengan pandangan yang berbeda. Sri curiga, dan Lucky sangat kesal.


"Karma? karma opo toh mas?" Sri menatap bingung keduanya bergantian.


"Ck.. tutup mulutmu. Itu bukan salahku" Lucky menendang kaki Noah. Melebarkan matanya, memberi isyarat agar Noah tidak melanjutkan topik itu lagi.


"Cih.. kau takut" gumam Noah.


Tak mau membuat Sri semakin penasaran, Lucky segera menyuruh Sri membuatkan minuman untuk Noah. Tapi Sri masih menatap mereka berdua menuntut penjelasan.


"Ono opo toh mas?" Sri memukul lengan Lucky Gemas.


"Si brengsek ini bermulut besar, sayang. Jangan dengarkan dia. Ayo, sana buatkan minuman untuknya" Lucky tak ingin Sri semakin banyak bertanya soal itu.

__ADS_1


Dengan cemberut Sri pergi ke dapur. Sampai Sri menghilang di dapur, Lucky menendang kaki Noah lagi.


"Jaga bicaramu. Itu bukan salahku. Kau saja yang tidak mampu" Lucky marah.


"Itu kenyataan. Aku bicara yang benar. Kau takut aku menikungmu kan? sudah lah kak. Jangan menutupi ketakutanmu itu"


"Sepertinya lebih baik kau pergi saja, No. Kau membuatku marah" geram Lucky.


"Hahahaa.. Seorang Lucky ternyata bisa takut juga ya?" Noah malah menyandarkan punggungnya di sofa dengan santai tanpa menghiraukan pengusiran Lucky.


Sri kembali dengan dua minuman diatas nampan. Menaruhnya di meja untuk kedua pria itu. Lalu duduk di samping suaminya.


"Siapa orang di divisi keuangan?" tanya Lucky pada Noah.


"Pak Lian"


"Menurutmu dia berkompeten?"


"Lumayan. Aku meminta paman Derry menunjuknya"


"Noah, kenapa bukan kau saja yang memimpin. Kau sudah bisa naik dengan kemampuanmu"


Noah melirik Sri sejenak. Lalu menatap Lucky lagi. "Kau tau bukan, selama ini aku menyembunyikan identitas ku sebagai keluarga Albronze. Aku tidak mau mereka tau kalau aku memantau mereka yang di bawah"


"Kenapa selalu bersembunyi?" Lucky menatapnya lekat.


Noah menghela napas panjang. Meraih gelas meniman dan meneguknya sedikit. Membalas tatapan Lucky penuh makna. Dan Lucky mengerti itu.


"Aku lebih suka bekerja di balik layar"


Lucky diam. Dia tahu kalau Noah menyembunyikan identitasnya dari dulu. Tidak suka embel-embel nama Albronze melekat di belakang namanya. Ada rasa sakit jika dia mengingat tentang ayahnya. Noah pernah mengatakan itu pada Lucky dulu. Sebab itulah dulu Amira tidak tahu kalau Noah adalah adik sepupu Lucky.


"Baiklah. Siapa yang mengerjakan laporan transaksi?" tanya Lucky. Noah menatap ke arah Sri.


"Sri, Mase" Sri mengacungkan jarinya.


"Oh.. kamu sayang? jadi istriku hanya staf yang membuat laporan transaksi?" Lucky menaikkan sebelah alisnya. Menatap Noah tak terima.


"Bukannya Sri yang bilang tidak mau jabatan penting?" Noah balik bertanya.


"Bagaimana kau tau?" selidik Lucky. "Dia bilang padamu?"


Noah agak kaget mendapat pertanyaan itu. Bukan Sri yang bilang. Tapi paman Frans. Noah tidak mau Lucky tahu kalau paman Frans sudah bicara padanya. tadi dia keceplosan.


"Sri kan memang Ndak mau mas. Berat itu. Sri mau meniti dari bawah" Jawaban Sri menyelamatkan Noah.


"Ah.. manisnya istriku" Lucky mengelus pipi Sri dengan tatapan sayang. Noah memutar bola matanya malas. Sri tersenyum kikuk melirik Noah.


"Aku pulang. Jantungku tidak dalam keadaan baik melihat tingkah kalian berdua"


Noah tiba-tiba bangkit dan berjalan menuju pintu. Lucky hanya tersenyum smirk. Merasa menang sudah membuat Noah jengah.


"Loh pak Noah.. ini minumannya belum habis" Sri berusaha mencegah. Merasa tak enak hati.


"Minumannya terasa pahit setelah melihat suamimu Sri"


Noah membuka pintu tanpa menoleh kebelakang lagi. Lucky berhasil membakar cemburu di hati Noah. Pria itu bisa melihat pancaran cinta di mata Noah untuk Sri. Dan Noah mati-matian menyembunyikan itu. Merutuki dirinya kenapa ada rasa kepada Sri. Melangkah keluar dan menutup pintu. Pergi tanpa penjelasan lebih lanjut.


Sri terbengong melihat itu. Mengernyikan dahi menatap Lucky yang menyunggingkan senyum lebar. Senyum kemenangan telak.

__ADS_1


"Ada apa toh mas?" tanya Sri penasaran.


"Tidak ada, sayang. Dia hanya cemburu"


__ADS_2