
Seperti yang telah di minta Lucky, setiap jam istirahat makan siang Sri harus menemaninya makan. Walaupun Sri harus mengambil resiko dengan banyaknya pertanyaan dari Dila dan Niar karena sudah jarang ikut bergabung di kantin, Sri tetap harus memenuhi apa yang Lucky minta.
Selain sudah kewajiban istri untuk memenuhi apa yang di minta suami, itu juga karena tidak bisa menolak perintah sang Presdir. Dan Sri melakukannya dengan senang dan suka rela.
Siang ini mereka berkumpul di ruang rapat. Sri ikut bergabung bersama Lucky, Noah, Beni, dan juga Rian. Sri senang Rian akhirnya bisa bergabung bekerjasama dengan suaminya. Selain pintar, Rian juga pekerja keras.
"Aku sudah memeriksa bagian keuangan, Luck. Sepertinya kepala divisi keuangan terlibat dalam masalah ini. Bagaimana menurut mu?" tanya Noah Menatap Lucky.
Sri menyuapi suaminya dengan telaten. Sambil sibuk mengunyah, Lucky menjawab. "Berikan berkasnya pada Rian. Biar dia yang memeriksa lagi"
Noah menyerahkan tumpukan berkas pada Rian. Pemuda itu hanya pasrah menerima tumpukan berkas yang tinggi.
"No, coba kau dekati kepala divisi keuangan. Buatlah senatural mungkin. Aku yakin, ada beberapa orang penyusup. Kita jangan lengah"
Setelah mengatakan itu, Lucky membuka lagi mulutnya meminta Sri untuk menyuapkan nasi padanya. Noah melirik Sri sejenak. Jengah melihat kelakuan manja Lucky pada istrinya. Rian juga mencuri pandang ke arah Lucky dan Sri.
"Enak mas?"
Tanya Sri pada Lucky. Menatapi suaminya yang sibuk mengunyah dan memeriksa berkas di depannya. Lucky menoleh pada Sri dan tersenyum.
"Enak, sayang. Tapi kalau kamu yang suapin" Mengelus pipi Sri di sampingnya. Mengambil sendok dari tangan Sri lalu menyuapkan padanya.
"Eheemm!!" Noah berdehem kencang.
Lucky melirik Noah sebal. Merasa terganggu dengan deheman yang menurutnya di buat-buat. Sementara Sri tersipu malu melirik Noah.
"Cih.. cemburu!" gumam Lucky.
"Kita sedang rapat, Luck. Tapi kau malah suap-suapan" sinis Noah.
"Kenapa? Apa salah aku menyuapi istriku?" Lucky menaikkan dagunya pongah. Menantang Noah berargumen.
"Lebih baik kau makan saja dulu" Noah mulai terlihat kesal. Tak peduli jika Lucky adalah bos utama di perusahaan.
Rian melihat pertikaian kecil itu melongo. Tak menyangka Noah akan terlihat sangat kesal melihat kemesraan tuan pemilik perusahaan ini dengan istrinya.
Sungguh menyedihkan bukan? kedua lelaki menyukai seorang wanita yang telah di persunting, harus menyaksikan kemesraan wanita itu dengan pasangannya di depan mata kepala mereka sendiri. Cita Citata bilang, sakitnya tu di sini! š
"Sayang, lihatlah. Noah cemburu" Lucky mencolek dagu Sri sambil melirik Noah. Sengaja pamer kemesraan pada Noah kalau Sri sangat mencintainya. Sri semakin tersipu dengan pipi merona.
"Brengsek kau!" Noah melempar kertas yang di rematnya geram pada Lucky. Lucky hanya tergelak melihat kekesalan Noah.
"Tuan, jadwal kita dua jam lagi. Saya sudah mengkoordinasikan pihak bandara untuk ijin terbang" ujar Beni menyela pamer kemesraan itu.
__ADS_1
"Hem" Lucky mengangguk. Menatap istrinya lagi. "Sri, bersiaplah"
"Kemana mas?"
"Kau ikut denganku"
"Iya, tapi kemana?"
Lucky iseng melirik Noah dan Rian. Kedua lelaki itu sama-sama menatapnya. Itu membuat Lucky semakin di atas angin. Sangat senang ingin membuat mereka berdua semakin kelojotan karena rasa cemburu.
"Kita bulan madu kedua, baby" Mengusap bibir istrinya dengan lembut. Sri terlihat gugup dengan wajah semakin memerah kerena malu. Lucky memang gila membuat kedua lelaki di depannya cemburu.
Noah melengos mendengar itu. Sementara Rian langsung terlonjak panik. Rian berdiri dari duduknya. Melangkah tergesa menuju pintu.
"Hey.. mau kemana kau Rian?" Tanya Noah heran melihat kepanikan Rian.
"Maaf pak. Saya tidak tahan. Lebih baik saya mencari Agnes sekarang" jawab Rian menoleh kebelakang sebelum keluar dari pintu ruang rapat.
"Tapi untuk apa?" Noah mengernyitkan dahinya.
"Melamar Agnes, pak. Biar bulan madu juga" Rian melangkah keluar dengan membawa banyak berkas di tangannya.
"Hahahaa.. satu sainganku mundur! haha.." Lucky tergelak. Tapi Noah malah semakin cemberut.
š
š
š
"Mas, mami gimana? Belum tau kalo Sri pergi sama Mase lho."
"Aku sudah menghubungi mami. Tenang saja"
Sri hanya mengangguk mengiyakan. Mereka memasuki sebuah butik ternama. Cukup besar dan mewah. Beberapa karyawan butik langsung menyambut kedatangan mereka. Tersenyum ramah pada Lucky dan mengangguk hormat.
Sri sedikit heran melihat keadaan butik yang lengang. Tidak ada pengunjung lain selain mereka bertiga. Yang membuat itu adalah Beni. Lebih dulu meminta pemilik butik untuk mengosongkan butik dari pengunjung yang lain. Karena tuan Lucky akan datang.
"Selamat datang tuan" Sapa karyawan butik dengan ramah dan sopan.
Lucky hanya diam saja. Melangkah masuk menggandeng Sri. Sri tersenyum kecil pada para karyawan butik. Tetapi mereka malah menatap Sri dengan heran. Baru kali ini mereka melihat Lucky menggandeng seorang gadis lain selain Amira. Pemilik butik juga mengenal Amira dengan baik. Dan sangat mengenal siapa Lucky.Para karyawan mengikuti di belakang.
"Silahkan tuan, Lucky"
__ADS_1
Salah seorang dari mereka mempersilahkan Lucky duduk di sofa empuk. Lucky dan Sri duduk dengan santai. Sementara Beni berdiri di samping Lucky.
"Kalau boleh kami tau, anda ingin mencari gaun untuk acara apa tuan? Kamu akan tunjukkan" ujar seorang pelayan membungkuk hormat.
Cepat Lucky menaikkan tangannya. Menyuruh pelayan itu untuk tidak melanjutkan lagi.
"Biarkan aku yang memilih sendiri" ujar Lucky dingin.
Para pelayan menunduk hormat. Lalu menyingkir dari dekat Lucky. Mereka hanya bisa menatap iri pada Sri. Mereka berpikir, Sri adalah perempuan nakal yang sedang menjerat Lucky.
"Sayang" Lucky mengelus pipi Sri dengan sayang. "Pilih sesukamu. Aku menunggu disini"
"Ada acara penting mas?"
Lucky hanya menggeleng. "Pilih yang paling seksi. Acara kita hanya di kamar"
Sri mencubit perut Lucky dengan gemas. Tersipu malu dengan vulgarnya omongan Lucky. Suaminya hanya tertawa renyah.
"Benarkan kataku.. Tuan Lucky lagi selingkuh. Dengar tidak kalian tadi? acaranya hanya di kamar!" bisik pelayan di dekat kasir. Mereka bergosip ria sembari menunggu di panggil lagi.
"Iya. Siapa sih perempuan itu? kalian pernah lihat tidak?" yang lain menimpali.
Mereka melihat ke arah Sri yang sedang asik memilih gaun. Menatap sinis kearahnya. Merasa tidak suka seakan Sri adalah seorang pelakor yang sedang menjerat buruan besar.
"Palingan perempuan nakal. Lihat saja tingkahnya. Sok cantik!" mencebik jijik melirik Sri.
"Apa nona Amira tau tidak ya?"
"Mana dia tau kalau pacarnya lagi selingkuh"
"Iihh.. aku kira tuan Lucky itu setia. Padahal ada main di belakang nona Amira. Padahal kan, apa kurangnya coba? cantik, terkenal, kaya lagi"
"Iya ya.. Gak nyangka deh"
Mereka geleng-geleng kepala menatap sinis kearah sri. Berkasak kusuk dalam bisikan. Takut Lucky bisa mendengar. Melihat Sri yang sedang tertawa renyah menunjukkan sebuah gaun dan mematut ke tubuhnya di depan Lucky.
"Yang ini gimana, Mase?" Tanya Sri mematutkan sebuah gaun hitam panjang di depan Lucky.
"Hmm.. tidak cocok" Lucky menggeleng.
Sri mengganti yang lain. Menunjukkan pada Lucky lagi. Tapi tetap saja Lucky menggeleng lagi dan lagi. Sampai pada akhirnya Sri menunjukkan gaun putih mini bertali kecil. Lucky langsung mengangguk dengan senyum lebar.
"Ini aku suka"
__ADS_1
"Hmmpp..!" Sri mencebik. "Ya jelas suka. lah wong ini baju tidur!"
Lucky terkekeh. Membiarkan Sri mengambil beberapa potong pakaian. Dan memilihkan Lucky juga beberapa potong pakaian dan setelan jas untuk besok.