PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
BERPERASANGKA


__ADS_3

Mamah Diva sedikit heran saat mendengar bahwa Ratu pulang diantar oleh CEO nya sendiri di jam segini.


"Ehh...Ratu mamah pikir kamu lembur yah hari ini, pulang dengan siapa mamah tidak melihat kau membawa sepeda?," tanya mamah Diva.


"Aku pulang diantar CEO ku mah, dia juga mau menemui mamah, dia ada di depan ayo mah," ucap Ratu.


Mamah Diva pun mengikuti Ratu dan bersalaman dengan tuan Randi, seperti yang diinginkan tuan Randi dia hanya memperkenalkan diri dan meminta izin mengantarkan Ratu karena malam malam begini tidak sesuai dengan jam kerjanya lalu dia berpamitan pulang, padahal mamah Diva sudah mengajaknya untuk makan malam dahulu di rumah tapi tuan Randi menolaknya dengan tegas sepertinya mood dia memang belum sepenuhnya stabil, Ratu pub memahami itu, dan setelah kepergian tuan Randi Ratu langsung saja di introgasi oleh mamahnya sendiri, apalagi saat mamah Diva lihat Ratu mengenakan jas bosnya itu.


"Ratu kenapa kau masih memakai jas CEO mu itu, apa yang sudah kalian lakukan hayohh......jawab jujur," ucap mamah Diva.


"Enggak kok mah ini gak seperti yang mamah bayangkan," ucap Ratu sambil langsung membuka jas tuan Randi yang dia kenakan sebelumnya.


Dan saat Ratu membuka jas itu mamah Diva melihat pakaian Ratu yang terbuka dia pun langsung menutup mulutnya dan sudah berprasangka kemana mana.


"Astaga...Ratu apa yang suda kamu lakukan dengan CEO Randi hah, kenaoa pakaianmu terbuka seperti ini," bentak mamah Diva membuat Ratu kaget.

__ADS_1


"Astaga...mamah tenang dulu baru juga Ratu hendak menjelaskan," jawab Ratu.


"Apa ayo cepat jelaskan," ucap mamah Diva mendesak.


Ratu pun menjelaskannya dengan sedetail mungkin dan sebaik mungkin pada mamah Diva agar tidak terjadi lagi kesalah pahaman yang akan memperumit suasana kedepannya, setelah selesai mendengar penjelasan dari putri angkatnya itu akhirnya mamah Diva percaya dan dia menghembuskan nafas lega karena ternyata semua dugaannya salah dan berlebihan saja.


"Huahhhh.....syukurlah ternyata dugaan mamah salah," ucap mamah Diva lega.


"Mamah sih mikirnya kemana mana, udah yah mah Ratu mau makan lapar mamah juga lapar kan ayo kita makan bersama mah," ajak Ratu sambil berjalan menuju meja makan mereka yang kecil.


Walau sekarang dia bukan lagi orang kaya, pakaiannya tak sebanyak dulu, penampilannya juga tak bisa se glamor dulu, bahkan ponsel saja dia dikasih orang lain dan esok pagi harus membayar masalah pakaian yang di belikan Zidan padanya, makananpun bukan makanan mahal dan berkelas lagi yang Ratu makan, sekarang dia hanya masyarakan biasa yang tinggal di pinggiran kota yang jarang dikenal masyarakat konglomerat di luar sana, padahal dulunya dia adalah putri kesayangan seorang pengusaha muda yang sukses dan bijak sana, tapi sekarang dia harus hidup menderita seperti ini, Ratu memang sudah mengikhlaskan semua miliknya yang sudah diambil oleh Astrid, Ratu juga tak merasa rugi karema Astrid sudah menukarkan semuanya dengan ibunya sendiri orang yang jauh lebih berharga dibanding harta kekayaan sebanyak apapun di dunia fana ini, itulah yang selalu Ratu syukuri dalam setiap detik hidupnya saat ini, sekaya apapun Astrid di sana dan seenak apapun hidup dia tetap saja tanpa sosok seorang ibu semuanya akan hampa karena Ratu sendiri sudah lebih dulu merasakannya.


Di sisi lain ibu tuan Randi yang kita tau namanya nyonya Wulan dia terus uring uringan dan marah besar selesai pulang dari kantor putranya itu, saat ini saja dia tengah berdiri di depan pintu kediamannya yang bak seperti istana menunggu kepulangan Randi.


Sampai saat mobil Randi mulai masuk ke dalam halaman luas rumahnya dan berhenti telat di depan teras rumah yang luas, lalu Randi turun dan memberikan kunci mobil pada satpam penjaga untuk memasukan mobilnya ke garasi, dan dengan santai Randi masuk ke dalam rumah dengan mengabaikan ibunya yang berdiri di samping pintubsedari tadi menunggui kedatangannya, melihat dirinya yang diabaikan oleh anaknya sendiri, tentu saja nyonya Wulan semakin geram dan kesal dia langsung berjalan menghentikan Randi.

__ADS_1


"Randi....berhenti.....Randi dengarkan ibu....heh.....apa kau mau menjadi anak yang durhaka?," bentak nyonya Wulan dengan mata yang melotot merah menahan amarah.


"Bukan aku yang durhaka tapi ibu sendiri yang memaksaku untuk menjadi durhaka," jawab Randi dengan santai tanpa berbalik sedikitpun.


Tuan Randi terus berjalan menuju kamarnya, sedangkan nyonya Wulan nampak kesal dan berdecak sangat kesal sambil menghentakkan kakinya dia sungguh sangat kesal dan dia mengadukan semua perilaku Randi pada suaminya om Anton, om Anton yang mendengar pengakuan istriny dia langsung pergi menuju kamar Randi dan menggedor kamarnya itu dengan keras dan sekuat tenaga, tapi karena Randi tengah mandi membersihkan dirinya dan menyalakan sower jadi dia tidak bisa mendengar dengan jelas teriakan dan ketukan pintu yang keras dari ayahnya.


Sampai saat om Anton mengancam untuk mendobrak pintu kamar Randi dan tepat saat Randi baru keluar dari kamar mandinya dengan hanya menggunakan sebuah handuk berukuran sedang yang dia lilitkan di pinggangnya, Randi kaget mendengar ancaman dari ayahnya dan dia buru buru membuka pintu kamarnya, dilihatnya wajah sang ayah yang merah padam dan berjalan perlahan masuk ke dalam kamar mendekati Randi.


"Dasar kau anak kurang ngajar, berani beraninya kau mengabaikan ibumu sendiri hah, cepat minta maaf sekarang juga," bentak ayah Anton pada tuan Randi.


Tuan Randi tersenyum singkat sejenak melihat amar ayahnya yang menggebu pada dirinya seperti ini tanpa dia tau siapa sebenarnya yang salah dan jahat sesungguhnya.


Awalnya tuan Randi ingin menjelaskan semua kejadian yang sesungguhnya pada ayah Anton, namun melihat situasi dan wajah ayahnya yang sudah terlanjur marah seperti itu tuan Randi pun memilih untuk mengalah juga memberikan kesempatan pada ibunya.


"Baiklah ayah, aku akan minta maaf pada ibu," jawab tuan Randi.

__ADS_1


Ayah Anton pun sedikit mereda dan Randi langsung berjalan mendekati ibunya lalu meminta maaf dengan sopan sampai ibunya memaafkan dia di depan ayahnya, setelah nyonya Wulan sudah memaafkan Randi ayah Anton mengancam Randi agar dia tidak bersikap seperti itu lagi kepada ibunya, Randi mengangguk karena dia enggan memperbesar masalah seperti ini.


Nyonya Wulan dan ayah Anton kembali ke kamar mereka dan tentu saja nyonya Wulan sangat puas dia senang akhirnya putranya yang keras kepala bisa takluk juga dengannya dan mulai saat ini nyonya Wulan sudah tau apa kelemahan Randi yakni dengan mengadukan apapun pada ayahnya sebab Randi sangat menghormati ayahnya yang bijak sana saat di rumah maupun di kantor, ayahnya adalah oanutan terbaik baginya.


__ADS_2