
Ratu dan Zidan mulai melepaskan pelukan mereka dan tanpa mereka sadari semua percakapan diantara mereka sejak awal hingga mereka berpelukan terdengar dan di lihat langsung oleh mata kepala tuan Randi, ya saat sampai di ruangannya tuan Randi marah besar pada nyonya Wulan karena sudah mengancam Zidan untuk memecat Ratu.
Karena kesal dan marah tuan Randi memutuskan untuk kembali dan menjelaskan semuanya pada Ratu juga Zidan namun sayangnya dia terlambat saat itu Zidan tengah memecat Ratu dan bahkan berpelukan, melihat Zidan dengan Ratu begitu dekat tentu saja tuan Randi merasa sangat kesal tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun dia hanya bisa mengamatinya dari jauh secara diam diam lalu kembali pergi ke ruangannya untuk menemui ibu Wulan.
"Brak....." Suara pintu yang dibuka dengan keras oleh tuan Randi,
Saking kencangnya suara pintu itu ibu Wulan yang tengah duduk di sofa ruangan Randi langsung bangkit berdiri dan sangat kaget melihat putranya masuk menghadap dia dengan sikap seperti itu.
"Randi apa yang kamu lakukan, apa kamu sudah berani menentang ibumu sendiri!" Bentak ibu Wulan Atmaja,
"Iya dan semua ini karena ibu, bu jika ibu membenci Ratu hanya karena dia dari keluarga yang sederhana kenapa juga ibu harus mempersulitnya, dia bahkan tidak bekerja denganku lagi kenapa ibu menyuruh Zidan untuk memecatnya seperti tadi?" Bentak tuan Randi untuk pertama kalinya dia melawan sang ibu penuh emosi,
"Karena Zidan juga berada di bawah naungan perusahaan Atmaja, ibu tidak mau wanita itu bekerja di tempat yang bisa memungkinkan dia bertemu denganmu, kalau bisa ibu akan mengirim ya ke luar negeri agar dia pergi jauh darimu!" Jawab ibu Wulan,
"Aku benar benar tidak habis pikir dengan apa yang ibu lakukan pada Ratu, jika ibu terus begini aku juga bisa berontak lebih parah lagi!" Bentak tuan Randi dan langsung pergi dari ruangan itu.
Ibu Wulan tidak berbicara sepatah katapun setelah melihat amarah putranya, dia hanya menatap punggung Randi yang semakin jauh dari pandangan, karena perdebatan hebat barusan ibu Wulan semakin cemas jika putranya Randi akan semakin dekat dan semakin jatuh hati pada Ratu, dia kembali mencari cara untuk membuat Randi membenci Ratu dengan sendirinya.
"Selama aku hidup, maka mereka tidak akan pernah bisa bersama!" Gumam ibu Wulan dengan semua ambisi di dalam dirinya untuk memisahkan Ratu dan Randi.
*****
Di sisi lain Ratu yang saat itu hendak masuk ke dalam mobil Zidan tangannya di tahan oleh tuan Randi.
"Ratu, tunggu" teriak tuan Randi dengan wajah yang serius.
Ratu menatap tuan Randi beberapa saat karena dia kaget dan merasa bingung dengan kedatangan tuan Randi secara tiba tiba setelah sebelumnya dia berjalan dengan wajah dingin dan datar bersama ibunya yang melontarkan ancaman hingga membuat dia harus dipecat saat itu juga oleh Zidan.
"Lepaskan tangan saya!" Ucap Ratu dengan tegas,
"Ratu tolong beri aku sedikit waktu, ada yang ingin aku ucapkan padamu" ucap tuan Randi memohon,
"Maaf tuan tapi saya sibuk, permisi" jawab Ratu yang mengabaikan tuan Randi lalu langsung masuk ke dalam mobil.
Zidan yang paham akan situasinya dia segera melajukan mobil meninggalkan tempat itu, sedangkan Ratu hanya duduk dengan lesu dan terus menatap ke depan meski kaca mobilnya di ketuk oleh Randi terus menerus.
Saat mereka sudah jauh dan nampaknya tuan Randi tidak mengejarnya Zidan terus menatap Ratu sesekali dengan ujung matanya untuk memastikan keadaan Ratu.
"Ratu apa kamu baik baik saja?, Jika kamu merasa menyesal aku bisa membawamu kembali menemui tuan Randi" ucap Zidan menawarkan.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak ingin menemuinya lagi" ucap Ratu dengan wajah yang membohongi ucapannya sendiri.
Bukan tanpa alasan Zidan bertanya demikian karena setelah melewati tuan Randi justru Ratu terus melihat ke belakang dan tertunduk lesu saat menyadari tuan Randi tidak mengejarnya itulah yang membuat Zidan berpikir mungkin Ratu menyesal karena tidak memberikan kesempatan pada tuan Randi sebelumnya.
Meski Zidan sudah menawarkan Ratu untuk menemui Randi kembali namun jawaban Ratu masih tetap sama dia tidak ingin kembali sehingga Zidan mengantarnya pulang, saat Zidan sudah pergi dan Ratu duduk seorang diri di rumah barulah Ratu kembali teringat dengan tuan Randi.
"Sebenarnya aku sangat penasaran apa yang ingin tuan Randi bicarakan padaku, tapi mengingat perbuatannya aku tiba tiba tersulut emosi dan malah mengabaikannya" gerutu Ratu sedikit menyesal.
Baru saja Ratu tengah memikirkan tuan Randi tak lama tuan Randi benar benar datang ke rumahnya bersama sekretaris Han, tuan Randi mengetuk pintu rumah Ratu dengan keras berkali kali sambil berteriak memanggil Ratu.
"Tok...tok....tok....Ratu....tok...tok...Ratu keluar aku mau bicara padamu, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya..." Teriak tuan Randi yang membuat Ratu sangat kaget.
Ratu langsung terperanjat dan mengintip dari balik jendela rumahnya untuk memastikan.
"Ternyata benar itu tuan Randi, tapi kenapa dia sampai menyusulku kemari, tadi saat di perjalanan aku tidak melihat mobilnya mengikutiku" gerutu Ratu kebingungan,
"Ratu...aku mohon keluarlah, sampai kapan kau akan marah seperti ini padaku" teriak tuan Randi lagi,
Geram mendengar teriakkan tuan Randi yang terus saja berteriak tanpa henti Ratu memutuskan untuk menutup kupingnya dengan kedua tangan, namun tetap saja dia masih bisa mendengar teriakkan tuan Randi saat Ratu hendak membuka pintu tiba tiba Mala datang dan memarahi tuan Randi di luar hingga membuat Ratu mengurungkan niatnya untuk menemui tuan Randi.
"Eh...eh..eh... Sedang apa kalian di sini, berteriak begitu keras dan memukul pintu rumahku seperti itu, apa kalian mau merusak rumahku yah!" Bentak Mala tanpa rasa takut sedikitpun,
"Huuh....kau menatapku seperti itu aku juga tetap tidak akan takut dan tidak akan pernah menuruti perintahmu, lagi pula kakak ku kan masih bekerja di jam segini tidak mu gkin dia ada di dalam" ucap Mala yang belum mengetahui kebenarannya.
"Hah...asal kau tau kakakmu sudah di pecat oleh Zidan, dan sekarang tuan Randi mau memintanya kembali apa kau paham!" Ucap sekretaris Han menjelaskannya,
"Apa..dipecat lagi?, Aish....mereka ini kenapa sih semuanya hanya bisa mempermainkan kakakku, tidak masalah jika hanya pekerjaan tapi hatinya juga dipermainkan kau dan si Zidan itu sama saja aku tidak menyukainya jadi kau urus saja kakak ku sendiri!" Bentak Mala dengan kesal,
Saat Mala hendak masuk ke dalam rumah sekretaris Han langsung menghadang untuk menghalanginya, meski sebelumnya sekretaris Han tidak berani namun karena itu tuntutan perintah dari tuan Randi sehingga mau tidak mau dia harus melakukannya.
"Heh.... Kau tidak akan bisa masuk ke dalam sebelum kau membantu kamu meminta kakakmu keluar untuk menemui tuan Randi" ucap sekretaris Han memberanikan diri,
"Ouh....kau mau aku hajar lagi yah, atau kau mau hidungmu itu aku buat jadi pesek!" Bentak Mala mengancam dengan kepalan tangan yang sudah dia siapkan.
Melihat itu nyali sekretaris Han langsung ciut, kakinya gemetar saking takutnya, dia pun menatap pada tuan Randi sambil menggelengkan kepalanya memberikan isyarat kalau dia tidak bisa lagi menahan Mala karena takut dengan ancaman yang dia dapatkan, namun tentu saja tuan Randi tidak mengijinkan.
Tuan Randi terus menatap tajam pada sekretaris Han sehingga membuat Han tetap berdiri di posisinya dan menghalangi pintu dari Mala.
Sedangkan Mala yang geram karena sekretaris Han tidak menyingkir dari sana terpaksa Mala mulai meluncurkan aksinya dan hampir memukul wajah sekretaris Han lagi.
__ADS_1
"Oke...rasakan ini...." Ucap Mala dan hendak mendaratkan pukulannya,
Ratu langsung keluar dari rumah dan menahan tangan Mala dalam waktu yang tepat sehingga pukulan Mala tidak mengenai sekretaris Han, sekretaris Han yang sudah menutup rapat kedua matanya sambil bergetar hebat dia merasa sangat lega ketika tau Ratu menyelamatkan dia, sekretaris Han langsung menyingkir dan pergi ke belakang Ratu untuk berlindung dari Mala.
"Kakak...kenapa kakak keluar dan menahanku, biarkan aku memberinya satu pelajaran lagi" ucap Mala yang merasa kesal,
"Mala.... Jangan lakukan itu lagi, kamu tidak bisa memukul orang seenaknya" ucap Ratu memberi nasehat.
"Tapi kak dia itu ...." Ucap Mala yang terpotong,
"Kakakmu benar kau tidak bisa memukul Han semaumu dia diperintah olehku dan aku bisa saja melaporkanmu ke kantor polisi karena sudah melukai sekretaris ku tanpa sebab yang pasti, dan kau bisa mendekam di penjara selama yang aku inginkan!" Ucap tuan Randi seperti memberikan peringatan keras pada Mala.
Mala langsung terdiam dan menatap dengan gugup dia sangat cemas dan takut tuan Randi sungguh akan melaporkannya, karena jika semua itu terjadi dia akan membunuh mimpi dirinya sendiri dan akan mengecewakan harapan kakaknya.
Melihat Mala yang tertekan Ratu langsung memegang lengannya dan tersenyum memberikan ketenangan pada Mala.
"Berhenti membuat adikku tertekan, jika kau memang ingin melaporkan adikku karena kejadian sebelumnya maka aku juga tidak akan tinggal diam" ucap Ratu membela Mala.
Tuan Randi menatap lekat wajah Ratu dan dia berjalan menghampirinya semakin dekat.
"Ratu padahal aku bisa saja membantumu dalam segala hal, menanggung biaya kuliah Mala dan membuatmu menjadi wanita paling bahagia, seandainya kamu mau berada di sampingku tanpa harus aku memaksamu, kembalilah padaku Ratu" ucap tuan Randi dengan mata yang berbinar penuh harapan,
"Tidak. Aku sudah memberika kesempatan kedua namun kau mengecewakanku lagi, aku tidak bisa memberimu ke sempatan berikutnya karena kau akan melakukan hal yang sama" jawab Ratu dengan penuh kemantapan.
"Ratu tolong jangan mempersulit tuan Randi, kali ini dia bahkan rela memberontak pada nyonya Wulan demi membelamu dan mempertahankan posisimu di perusahaan" tambah sekretaris Han,
"Tapi aku tidak pernah meminta dia untuk melakukannya, lalu kenapa seakan kau berbicara aku harus menurutinya dan memaafkan dia lagi, sekretaris Han bukankah seharusnya sekarang kau membelaku, kau tidak pernah senang dengan kedekatanku bersama tuan Randi kan, kenapa sekarang membelanya" ucap Ratu merasa curiga.
Sekretaris Han mulai gelagapan dia menunduk dan mulai menjawab ucapan Ratu dengan sedikit gugup dan terbata bata.
"A..aku...aku....Aku merasa kasihan saja pada tuan Randi dan setelah kepergian tuan besar tentu saja aku harus mengabdi pada tuan Randi sebagai penerusnya, meski aku sangat tidak menyukaimu" ucap sekretaris Han memberi jawaban,
"Sekalipun yang kalian bicarakan adalah kejujuran aku tetap tidak akan kembali bekerja dengan kalian lagi, jadi silahkan kalian pergi dari rumahku dan jangan pernah menemuiku lagi!" Ucap Ratu lalu langsung masuk ke dalam rumah dengan Mala.
"Ratu....Ratu...tunggu....Ratu dengarkan dulu aku bahkan belum menjelaskan apapun" teriak tuan Randi yang diabaikan oleh Ratu.
"Tuan sebaiknya sekarang kita kembali saja, masih banyak waktu untuk membujuknya lagi, nanti kita pikirkan cara lain" ucap sekretaris Han mencoba menghibur tuan Randi.
Randi menghembuskan nafas kasar dan dia kembali ke perusahaan dengan kecewa karena gagal membawa Ratu padanya lagi, saat itu Randi sungguh menyesali semuanya, dia menyesal kenapa saat itu dia tidak bisa mempertahankan Ratu hanya karena kedatangan ibunya, padahal mau ada atau tidaknya Ratu di kediamannya tetap saja ibunya akan menyelidiki Ratu dan semuanya tetap terungkap.
__ADS_1