
Tanpa Mala sadari gerutuannya itu justru terdengar oleh sekretaris Han meskipun hanya sama samar. Sekretaris Han pun langsung menegur Mala dengan menggebrak mejanya cukup keras sampai membuat Mala kaget dan dia menatap Mala dengan tatapan yang sangat tajam dan menusuk sekaligus memberikan peringatan kepadanya dengan menunjuk Mala dengan kedua jarinya seakan memberikan isyarat bahwa dia memperhatikan Mala dari tempat duduknya.
"Brakk...."suara meja yang di gebrak sekretaris Han,
"Ya ampun, ada apa lagi dengannya, kenapa dia menatapku begitu?" Gerutu Mala kebingungan.
"Ehhh, dia mengancamku apa apaan ini, menyebalkan" tambah Mala menggerutu tiada habisnya.
Melihat wajah sekretaris Han yang menatapnya dengan begitu menyeramkan, Mala segera mengerjakan pekerjaan yang di berikan oleh sekretaris Han pada dia sebelumnya.
Bahkan saking takutnya Mala langsung mengerjakan pekerjaannya dengan terburu buru, dan sesekali melihat ke arah sekretaris Han yang sudah kembali fokus pada pekerjaannya juga, melihat sekretaris Han yang sudah tidak menatap tajam ke arahnya barulah Mala bisa merasa tenang dan damai.
"Ahhh....syukurlah dia sudah memalingkan pandangannya dariku, aishh dasar manusia menyebalkan!" Ungkap Mala menggerutu lagi.
Dia pun terus memasukkan semua data data yang diberikan oleh sekretaris Han padanya, berkas yang harus di kerjakan oleh Mala begitu banyak dan menumpuk sehingga wajah saja jika seorang Mala terus menggerutu dan mengeluh dengan pekerjaannya yang begitu berat dan tiasa habisnya untuk dia.
"Huhu tanganku sudah sangat pegal terus mengetuk sedari tadi, sampai kapan pekerjaan menyiksa ini akan selesai" keluh Mala dengan wajah yang lesu dan bibir yang mengerucut.
Sekretaris Han masih bisa mendengar semua gerutuan Mala sedari tadi dan dia sudah berusaha keras untuk menahan diri agar tidak tersulut emosi hingga akhirnya dia memutuskan untuk segera pergi menemui tuan Randi lebih awal agar bisa menghindari kenaikkan emosinya terhadap Mala yang terus mengeluh dengan pekerjaannya.
"Heh, kerjakan semuanya dengan baik dan teliti aku mau besok sudah siap semuanya, jika perlu kau lembur saja. Mengerti!" Ucap sekretaris Han meluapkan emosinya dengan sedikit bentakkan,
"Iya iya...ini juga sedang aku kerjakan kenapa sih" balas Mala dengan jengkel.
__ADS_1
Sekretaris Han pergi dari ruangan itu dan Mala terus mengerjakan semua pekerjaannya dengan sangat serius dan teliti.
Sedangkan di sisi lain Ratu yang tengah berada di toko bunga dia juga mengeluh sebab semenjak tokonya sering tutup banyak pelanggan yang kabur, itu mengakibatkan pemasukkan untuk tokonya semakin berkurang dari hari ke hari dan kini orang orang lebih banyak yang memilih menggunakan bunga palsu atau bunga hiasan yang bisa awet lebih lama tanpa harus merawatnya dengan susah payah.
Sehingga toko bunga sederhana miliknya tidak memiliki kekuatan untuk melawan harga pasar, Ratu duduk dengan lesu di tokonya seorang diri sambil menatap ke arah luar toko.
"Jika toko ini terus sepi, apa aku lebih baik menjualnya ya?" Ucap Ratu memikirkan.
Ratu sudah mulai memikirkan untuk beralih usaha karena rupanya bisnis dengan bunga tidak cukup baik di lingkungan itu karena jaraknya yang jauh dari kota sehingga menyulitkan pengunjung asing untuk menjangkau tempat ini, di tambah saingannya kini jauh lebih banyak dan mendapatkan pelanggan tidak semudah dulu lagi.
Ratu sangat bosan dan dia mulai memikirkan mengenai tawaran tuan Randi padanya dan pernyataan cinta yang harus dia jawab segera kepada tuan Randi karena dia sudah berjanji sebelumnya.
"Aaahhh...bagaimana aku bisa melupakan janjiku sendiri, sekarang jawaban apa yang harus aku berikan padanya, masalah toko saja belum selesai, masalah perusahaan Zidan juga malah kacau, apa yang bisa aku lakukan aku tidak ingin membuat tuan Randi kesulitan sama seperti aku membuat Zidan pergi jauh sebelumnya" tambah Ratu berbicara pada dirinya sendiri.
Dia bahkan masih belum bisa menemukan pria mana yang sebenarnya dia cintai antara Zidan atau pun tuan Randi, namun satu hal yang Ratu ketahui dengan jelas dia merasa sangat nyaman ketika berada di sisi Zidan, ketika dia berbicara dan bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama Zidan, namun di sisi lain Ratu selalu merasa gugup dan gembira ketika mendapat kabar dari tuan Randi.
"Aku sudah menolak Zidan, jika aku menerimanya lagi secara tiba tiba aku takut pilihanku salah lalu kembali menyakitinya, apa sebaiknya aku mencoba lebih dekat dengan tuan Randi yah?" Ujar Ratu yang terus kebingungan sendiri.
Berbeda dengan Ratu yang masih plin Olan dan kebingungan dengan perasaannya sendiri tuan Randi justru sudah sangat mantap dan penuh semangat untuk menjadikan Ratu pasangan hidupnya, bukan hanya sekedar pacar ataupun tunangan, namun tuan Randi sungguh ingin menjadikan Ratu satu satunya wanita yang menemani dirinya hingga akhir hayatnya.
Saat ini saja ketika sekretaris Han masuk menemuinya dan masih ada waktu beberapa menit untuk mereka pergi memulai rapat penting, tuan Randi justru menggunakan waktu luangnya dengan melihat lihat restoran mewah dan romantis di pencarian internetnya.
Saking fokusnya mencari informasi untuk makan malam romantis dengan Ratu, tuan Randi sampai tidak menyadari bahwa sekretaris Han sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
"Tuan....tuan Randi....tuan....apa kau baik baik saja" teriak sekretaris Han menyadarkan tuan Randi.
Bukan tanpa alasan mengapa sekretaris Han berbicara seperti itu sampai dia berani meninggikan suaranya kepada tuan Randi, tapi dia hanya khawatir karena melihat tuan Randi yang tersenyum sendiri sambil memainkan ponselnya sehingga sekretaris Han langsung menyadarkannya agar tuannya itu bisa sedikit lebih fokus pada pekerjaan.
Tuan Randi yang baru tersadar dia langsung menatap sekretaris Han dengan tajam karena merasa tidak terima dengan nada bicara sekretaris Han yang seakan membentaknya barusan.
"Han, kau berani meninggikan suara padaku sekarang?" Tanya tuan Randi menatap sangat serius,
Sekretaris Han membelalakkan matanya dia cukup kaget dan merasa tidak percaya mengapa tuan Randi bisa bersikap seperti itu dan berubah secara tiba tiba, kini malah dirinya yang kebingungan dan mulai merasa cemas untuk dirinya sendiri karena dia takut tuan Randi akan memarahinya sebab ucapan dia sebelumnya.
"E..ehh ..tidak tuan saya tidak akan berani seperti itu, tadi saya hanya merasa khawatir karena anda terus tersenyum sendiri dengan ponsel anda, maafkan saya tuan" balas sekretaris Han dengan perasaan yang tak menentu,
"Huuh, dasar kau sudahlah untuk kali ini kau aku ampuni tapi jika nanti ada yang kedua kalinya, gajihmu aku potong selama lima bulan" ucap tuan Randi yang membuat sekretaris Han sangat kaget dan menghembuskan nafas pasrah.
"I..iya baik tuan saya tidak akan mengulanginya lagi" balas sekretaris Han dengan kepasrahan,
"Oh ya Han, booking restoran ini untukku nanti malam" ujar tuan Randi sambil menunjukkan sebuah foto restoran di dalam ponselnya.
Karena takut dengan ancaman lainnya dari tuan Randi sekretaris Han dengan cepat menyetujuinya, dia bahkan hanya melihat nama restoran itu sekilas dan segera melakukan perintah dari tuan Randi barusan dengan cepat.
Setelah semuanya selesai mereka segera pergi menuju meeting penting dengan beberapa pemimpin perusahaan besar lainnya yang sudah bekerjasama dengan perusahaan itu sejak lama.
Selama meeting berlangsung tuan Randi nampak tidak mendengarkan penjelasan dari staf perusahaan yang tengah menjelaskan presentasi di depan sana, dia hanya terus membayangkan rencana nanti malam.
__ADS_1
Di mana dia akan memberikan sebuah kejutan yang dia susun dan dia rencanakan sendiri, tuan Randi melakukan itu karena dia tau Ratu tidak sudah banyak orang terlibat sehingga tuan Randi dengan khusus melakukannya sendiri walaupun ujungnya tetap saja memerintah pada sekretaris Han.
"Haha...aku yakin nanti malam Ratu akan terpukau dengan semua yang sudah aku siapkan untuknya, aahh aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu" gumam tuan Randi mulai membayangkan.