
Sesampainya di perusahaan Randi langsung masuk dan duduk terpenung sambil menarik kedua tangannya diatas meja, sekretaris Han yang ada disampingnya mulai merasa bingung apa yang harus dilakukannya untuk meredakan emosi bosnya itu, sementara di sisi lain dia juga bingung kenapa ketiga sahabat itu bisa bermusuhan seperti sekarang padahal sekretaris Han sempat melihat foto kebersamaan mereka di kamar tuan Randi bahkan sampai saat ini masih terpajang, namun sepertinya Randi cukup gengsi untuk mengakui kalau dia masih menyimpan foto itu.
Tiba tiba Randi berbicara sendiri dengan penuh emosi sampai membuat sekretaris Han terheran heran.
*Sialan, kenapa juga si Steven itu tidak berubah sudah berapa lama dia bersama perempuan murahan seperti itu, Zidan juga sama saja mereka semua sama hanya sampah sialan, aishhhhh* ucap Randi frustasi.
Sekretaris Han hanya bisa mengerutkan kedua alisnya kebingungan dia ingin menanggapi ucapan tuan Randi namun takut salah bicara tapi dia diam saja juga tetap akan kena marah akhirnya sekretaris Han memberanikan mengeluarkan pendapat.
*Bos sebaiknya kau tenangkan dirimu dulu jangan terbawa emosi sesaat begini, lagi pula bagaimanapun mereka kan sahabatmu* ucap sekretaris Han.
__ADS_1
Tiba tiba Randi berbalik dan menatap tajam bak macan yang siap menerkam mangsanya, sekretaris Han mundur perlahan sambil menelan ludahnya gugup, Randi terus saja memberikan sorot mata tajam dengan kerutan di dahinya.
*M..ma..ma..maaf bos saya tidak bermaksud menasehati tapi mereka memang sahabatmu kan* ucap sekretaris Han lagi lalu dia segera pergi dari ruangan itu karena takut emosi Randi tak tertahan.
Selepas kepergian sekretaris Han Randi berusaha menenangkan hati dan pikirannya, tapi dia tetap saja tidak terima melihat Zidan masih berhubungan dengan Steven meski mereka bersahabat dan tidak bisa dibohongi bahwa Randi juga merindukan kebersamaan mereka tapi karena melihat Steven yang belum berubah dia masih belum bisa menerima kembali sahabatnya itu, akhirnya Randi tetap menarik seluruh saham dari perusahaan Zidan, alhasil semua itu seketika membuat Zidan kebingungan dia berusaha untuk menutupi ketidak seimbangan dalam perusahaannya, dia sudah berusaha menjual beberapa aset miliknya untuk menutupi kekurangan dalam perusahaannya namun semua itu tetap saja tidak cukup, beberapa karyawan juga sudah ada yang di berhentikan karena Zidan tak sanggup menggajinya, terpaksa Zidan harus menjual rumah dan apartemen pribadinya, Zidan pikir semoga semua itu bisa setidaknya mempertahankan perusahaan peninggalan ayahnya untuk tetap berdiri.
Satu Minggu berlalu dan perusahaan Zidan masih diombang ambing tak karuan sungguh semuanya tengah diambang kebangkrutan, Zidan tidak menyerah dia terus mengupayakan banyak hal agar perusahaannya tetap berdiri, hingga akhirnya Oma Rika mendapatkan kabar mengenai keadaan perusahaan dari sekretaris Zidan, Oma Rika yang saat ini tengah berada di Singapura karena menjalani terapi tulang agar dia tetap bugar dan bisa berjalan lagi, Oma Rika sungguh kaget saat mendapatkan kabar tersebut dan dia segera menelpon Zidan.
*Cepat jawab apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mengurusi perusahaan kecil saja kamu tidak bisa?* ucap Oma Rika.
__ADS_1
*Masalahnya Randi mencabut semua sahamnya sedangkan Oma tau sendiri dia adalah penanam saham terbesar di perusahaan kita bahkan hampir setengahnya, bagaimana aku bisa menutupi semuanya Oma* ucap Zidan frustasi sambil mengacak rambutnya.
*Kau ini memang tidak becus, sudah biar aku suntikkan dana dari perusahaanku dan kau harus menerimanya* ucap Oma Rika lalu menutup telponnya.
*tidak Oma, tunggu Oma...halo..Oma..* ucap Zidan terlambat.
Lagi lagi Zidan semakin pusing dan frustasi dia tidak bisa menerima bantuan dari Omanya karena dia juga tau Oma membutuhkan banyak sekali biaya untuk pengobatannya tiap bulan, belum lagi perusahaan Oma di Singapura hanya dikelola oleh ibunya seorang diri, Zidan merasa gagal sebagai seorang putra bukannya dia menafkahi keluarganya justru malah dia yang membuat semua orang kesusahan, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa, Zidan sudah mengusahakan semua yang dia bisa bahkan kini Zidan tinggal di rumah peninggalan ayahnya yang lebih sederhana dibanding rumah dan apartemen pribadinya, walau begitu Zidan tak keberatan ataupun berkecil hati dia masih semangat dan akan terus berusaha mempertahankan serta mengembangkan perusahaan ayahnya tersebut.
Sekarang Zidan bisa sedikit merasa lega dan tenang karena sudah mendapatkan suntikan dana dari perusahaan Oma Rika, tapi Zidan masih menganggap bahwa suntikan dana tersebut adalah hutang yang suatu saat nanti dia pasti akan membayarnya, itulah yang Zidan tanamkan dalam hatinya dan membuat dia semakin bersemangat untuk terus mengembangkan perusahaan itu.
__ADS_1
Saking fokusnya pada perkembangan perusahaan Zidan sampai tidak memiliki waktu untuk sekedar menjenguk atau melihat keadaan Ratu di desa, sudah sekitar 3 bulan berlalu Zidan tidak menemui Ratu dia sering terpikir mengenai bagaimana kondisi Ratu, sedang apa dia dan bagaimana dengan tokonya namun Zidan masih belum memiliki waktu untuk menjumpainya selama perusahaannya dalam pengembangan dia tidak bisa pergi menemui Ratu jadwalnya selalu padat setiap hari, dia selalu meeting bahkan waktu tidurnya hanya 4 jam sehari, dia juga tengah berusaha membujuk Randi agar mau kembali bekerja sama dengannya, meski selalu menerima penolakan dalam setiap tawarannya Zidan tidak pernah putus asa, karena dia tau bahwa Randi seperti itu pasti ada alasannya.