
Sedangkan Steven yang saat itu baru saja selesai menghadiri rapat penting di kantornya dia baru memeriksa ponselnya lagi dan matanya langsung membelalak saat membaca pesan singkat dari Zidan, Steven sangat murka dan dia berusaha menelpon Zidan namun sayangnya nomor Zidan sudah tidak dapat dihubungi.
"Steven maaf karena aku harus pergi ke perusahaan pusat dan bergantian kepemimpinan dengan ibuku, kerjasama kita akan tetap berjalan meski tanpa aku, tolong jemput Ratu di bandara di mungkin dia masih ada di sana saat kau melihat pesan ini, jaga dia seperti aku pernah menjaganya dulu, aku hanya mempercayaimu" isi sebuah pesan teks dari Zidan yang membuat Steven langsung berlari menuju mobilnya dan pergi ke bandara saat itu juga.
"Dasar bocah sialan, dia pergi begitu saja tanpa memberitahuku dan dia malah meninggalkan Ratu di bandara seorang diri, aishh awas saja kau Zidan sampai kau kembali aku akan menghajarmu sampai puas!" Gerutu Steven dengan kesal.
Di sepanjang perjalanan Steven terus menggerutu dengan kesal bahkan dia sempat memukul setir mobilnya beberapa kali untuk meluapkan kekesalan dalam tirinya hingga sesampainya di bandara dia langsung berlari dengan cepat masuk ke dalam dan mencari keberadaan Ratu.
Hingga tak jauh dari tempatnya berdiri Steven mulai melihat Ratu yang berjongkok sambil menunduk menyembunyikan wajah dia diantara lututnya.
"Ratu, akhirnya aku menemukanmu" ujar Steven dan segera berlari kecil menghampirinya.
Saking sakitnya kesedihan yang dirasakan oleh Ratu dia bahkan tidak menyadari kedatangan Steven dan saat sudah berdiri di hadapan Ratu awalnya Steven berniat untuk menyapanya dan segera mengantar Ratu untuk kembali pulang namun saat Steven melihat betapa terpuruknya Ratu.
Dan betapa sedihnya Ratu atas kepergian Zidan dia tidak tega untuk mengajar Ratu pergi dari sana saat itu, sehingga Steven memutuskan untuk tetap berdiri di sana dan menunggu hingga Ratu mulai merasa tenang.
Selama berdiri di sana Steven sesekali meminta agar orang orang berjalan dengan hati hati dan menjaga Ratu agar tidak di tabrak oleh banyak orang yang lalu lalang di sana.
Dia selalu sigap menjaga Ratu sampai tak lama Ratu mulai merasa tenang dan berhenti menangis terisak dia mengangkat kepalanya dan melihat di depannya ada sepasang kaki yang berdiri dengan tegak.
Saat Ratu menengadahkan kepalanya ke atas dia melihat sosok Steven yang tersenyum menatapnya lalu Steven pun segera mengulurkan tangan pada Ratu namun Ratu tidak meraih ularan tangan darinya, Ratu justru segera berdiri sendiri dan mengabaikan uluran tangan dari Steven.
"Sejak kapan kau di sini?" Tanya Ratu dengan wajah yang lumayan bengkak karena menangis terlalu lama,
"Tidak lama hanya sekitar 30 menitan saja" jawab Steven dengan jujur,
__ADS_1
"Bodoh!, Kenapa kau tidak memberitahuku" ujar Ratu dengan suara yang dingin.
Ini adalah pertama kalinya Zidan mendengar Ratu mengeluarkan kata kasat seperti itu dengan tatapan mata yang dingin dan wajah tanpa ekspresi, sebelumnya Ratu tidak pernah seperti ini dia adalah wanita cantik yang ramah dan lemah lembut, Steven cukup kaget ketika mendengar kalimat dan perubahan sikap pada Ratu saat itu.
"Ahaha...tidak papa aku hanya tidak ingin menganggu mu, aku tau kau sedang sedih tidak mungkin aku membuatmu semakin sedih ya kan" ucap Steven sambil tersenyum canggung,
"Berhenti menatapku aku sedang terlihat buruk, aku tidak mau kau melihatku dalam keadaan semenyedihkan ini" kata Ratu sambil kembali menundukkan kepalanya lesu.
Akhirnya Steven sadar bahwa sikap kasar dan dingin Ratu sebelumnya hanyalah untuk menutupi kerapuhan dalam dirinya, dia melakukan itu hanya karena malu bisa terlihat sedih di hadapan Steven padahal Steven tidak keberatan melihatnya dalam kondisi apapun.
"Ratu tidak perlu merasa canggung denganku, jangan anggap aku orang asing lagi aku akan menjagamu seperti Zidan pernah melakukannya dulu, jadi kau tidak perlu berpura pura di hadapanku" ungkap Zidan dengan tatapan empati dan serius pada Ratu.
"Jangan melindungiku, jangan menyayangiku dan jangan dekat denganku semua orang yang menyayangiku selalu berakhir tidak baik dan mereka selalu meninggalkanku pada akhirnya, aku tidak mau kehilangan lebih banyak orang lagi setelah Zidan" balas Ratu sambil menghapus sisa air matanya di pipi.
Ratu tak sanggup menahan air matanya lagi dan dia tidak ingin terlihat semakin menyedihkan di depan Steven dia takut Steven akan merasa kasihan padanya dan bersikap baik kepadanya lalu pada akhirnya Ratu hanya takut dia akan kehilangan Steven seperti sebelumnya atau bahkan akan kehilangan Steven sama seperti dia kehilangan Zidan saat ini.
Itu akan membuatnya semakin sakit dan terasa sulit di kehidupan dia selanjutnya dan Ratu hanya berusaha menghindari hal itu, dia berlari dengan cepat dan mengabaikan semua rasa sakit di kakinya yang mulai berdarah dan terluka cukup dalam.
Steven mengambil sepatu hak tinggi yang Ratu tinggalkan dan dia segera berlari mengejar Ratu namun sayangnya Ratu sudah langsung pergi lebih dulu dengan masuk menaiki sebuah taxi dan Steven tidak berhasil mengejarnya.
"Aishh....sial ke mana taxi itu pergi, aku tidak boleh membiarkan Ratu sendiri dalam keadaan seperti ini" ujar Steven dengan penuh kecemasan dan dia terus berkeliling mencari Ratu ke semua tempat.
Sedangkan Ratu yang tengah duduk di sebuah taxi dia mulai mencurahkan semua tangisan yang dia tahan sebelumnya, lagi lagi dia kembali menangis bahkan wajahnya sudah bengkak cukup parah ditambah kakinya yang penuh luka, seorang supir taxi tidak berani bertanya pada Ratu karena dia takut menyinggung perasaannya.
Ratu pergi ke danau tempat dimana Zidan selalu membawa dia ketika Ratu mengalami kesulitan, rasanya sangat sakit ketika Ratu berjalan dengan gontai sambil memegangi ujung pakaiannya dengan erat.
__ADS_1
Ratu berusaha menahan emosinya yang terus meluap, sampai ketika dia melihat sepasanga kekasih yang menaiki perahu ke tengah danau, dia kembali teringat kenangannya dengan Zidan, Ratu membayangkan saat dia pernah menaiki perahu yang sama bersama Zidan ke tengah danau dan dia merasa sangat beruntung saat itu karena bisa menyangsikan pemandangan yang begitu luar biasa.
"Aku juga pernah berada di posisi wanita itu dan dulu aku tidak menyadari betapa berharganya momen itu" ungkap Ratu dengan air mata yang berderai.
Dada Ratu terasa semakin sesak dan dia duduk di sebuah bangku tepi danau yang sudah di cat dengan warna hitam, padahal dulu ketika terakhir kali dia mengunjungi danau ini bersama Zidan bangku yang dia duduki berwarna putih bersih dan Zidan senang sekali duduk di sampingnya sambil menatap luasnya danau yang terbentang di hadapan mereka.
"Zidan seandainya aku tidak menolakmu saat itu, mungkin ini tidak akan terjadi, apa aku sudah salah memilih?, atau aku hanya terlalu menyayangimu sebagai sahabat?" Tambah Ratu bicara pada dirinya sendiri.
Ratu merasa dia sangat kehilangan Zidan dan begitu sedih, cukup lama Ratu duduk terdiam dengan tatapan kosong menatap ke arah danau dan memperhatikan beberapa pasangan yang datang ke sana untuk menikmati keindahan danau dan melihat matahari tenggelam dari tengah danau.
Ratu menyewa satu perahu dan dia menaiki perahu itu sendirian bahkan Ratu terus mendayung perahu yang dia naikki seorang diri meski sebelumnya petugas di sana sudah menawarkan bantuan untuk membantunya mendayung.
Namun Ratu menolaknya dengan tegas.
"Nona apa anda yakin sanggup mendayung seorang diri?" Tanya sang panitia di sana memastikan,
"Aku tidak akan pergi terlalu jauh dan aku hanya akan mengingat beberapa kenangan saja di sini, aku bisa melakukannya" jawab Ratu dengan penuh keyakinan.
Meski pun panitia itu merasa cemas sebab melihat kondisi Ratu yang sangat terlihat bahwa wajahnya baru saja selesai menangi tapi panitia itu tidak bisa memaksa keinginan Ratu karena dia juga salah satu pengunjung langganan di sana.
Alhasil dengan berat hati panitia di sana memberikan sebuah kapan dan sepasang dayung pada Ratu lalu mereka membantu Ratu mendorong perahu tersebut sedikit ke tengah hingga Ratu bisa mulai mendayungnya sendiri.
Ratu bersih keras ingin pergi seorang diri karena dia ingin mengulang kembali kenangan paling indah masa masa dia bersama Zidan di mana pertama kalinya Zidan mengungkapkan perasaan dia kepadanya.
Meskipun kali ini Ratu mengulangnya seorang diri tanpa ada Zidan di sampingnya namun hanya itu yang bisa dia lakukan di saat dia sangat merindukan Zidan saat ini.
__ADS_1