
"Oma bangga padamu Zidan, kamu persis seperti kedua orangtuamu yang selalu ingin membantu orang" tambah Oma Rika sambil menatap foto keluarga nya.
Ke esokan paginya di kediaman Ratu Salsabila, dia bangun sangat awal dan segera membersihkan diri dan memulai hari dengan sangat semangat juga ceria Ratu sudah kembali seperti biasanya dia sudah menyembunyikan kesedihan yang dia rasakan malam tadi.
Ratu membereskan seisi rumah bahkan membuat Mala heran saat baru keluar dari kamarnya dan melihat rumah sudah sangat bersih dan rapih bahkan makanan untuk sarapan sudah tersaji di atas meja.
"Aku harus semangat dan terlihat ceria juga bahagia ketika dihadapan Mala, dia tidak boleh mengetahui yang sebenarnya" gumam Ratu sambil terus mengembangkan senyum lebar di wajahnya.
Saat Ratu tengah mengelap meja, Mala keluar dari kamarnya sambil mengucek mata dan terlihat baru bangun dari tidurnya.
"Eumm....waahhh....ada apa ini?, Apa kak yang membereskan semua ini?" Tanya Mala dengan kaget,
"Tentu saja, habisnya siapa lagi kalau bukan kamu, ya berarti itu kakak yang tinggal di rumah ini kan hanya kita berdua, kamu ini bagaimana sih"
Mala tersenyum dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian saat melewati dapur dia juga melihat makanan untuk sarapan sudah berjejer rapih di atas meja.
"Wah ...wahh... Kenapa hari ini kakak tiba tiba rajin begini, ada apa nih?" Ucap Ma dengan suara yang keras.
Ratu datang menghampirinya dan segera duduk di depan meja makan.
"Iya kakak sengaja membuat ini khusus untuk adik kakak tercinta karena sudah mau menjaga toko" ucap Ratu beralasan sambil mengusap lembut kepala Mala.
Mala tersenyum senang lalu dia langsung menyantap makanan itu bersama Ratu dan mereka bersiap siap karena hendak pergi menjenguk Steven ke rumah sakit bersama Zidan.
Ratu dan Mala pergi ke perusahaan Zidan dan mereka menunggu Zidan hingga turun dari kantornya, Ratu sengaja menunggu di bawah karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Zidan.
Saat itu Zidan baru saja sampai di perusahaan karena dia bahkan tidak sempat pulang ke rumah untuk mengganti pakaian sehingga dia menggunakan pakaian cadangan yang ada di kantor sebab jarak rumah sakit dan kantor jauh lebih dekat dari pada ke rumahnya.
Saking sibuknya Zidan mengurusi kantor dan urusan Steven dia bahkan sampai lupa kalau memiliki janji dengan Ratu untung saat Zidan hendak kembali dia berpapasan dengan Ratu.
"Eh ... Ratu ada apa kemari?" Tanya Zidan membuat Ratu bingung,
"Bukankah kita sudah janjian akan menjenguk Steven di rumah sakit, jangan bilang kalau kamu lupa" ucap Ratu sedikit kesal.
Saat Ratu sudah membicarakannya Zidan baru ingat dan dia langsung meminta maaf karena hampir melupakan janjinya tersebut.
"Ahhh...iya maaf Ratu aku hampir saja lupa untung kita bertu di sini, ayo...aku juga mau ke sana sekarang" ucap Zidan yang nampak terburu buru.
Ratu mengikutinya dari belakang dan masuk ke dalam mobil Zidan bersama Mala, saat di dalam mobil Ratu melihat ada yang berubah dengan Zidan dia nampak lebih diam dari biasanya, jika biasanya Zidan selalu mengajaknya mengobrol dan membuka pembicaraan lebih dulu, kini justru Zidan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Dia hanya menyetir dengan fokus sampai mereka sampai di rumah sakit, Ratu juga melihat wajah sayuo Zidan yang sangat kelelahan bahkan Mala juga menyadari hal itu dia berbisik pada Ratu saat baru keluar dari mobil.
"Kak...apa kak Zidan sedang tidak enak badan wajahnya pucat sekali" ucap Mala berbisik pada Ratu,
"Kakak juga tidak tau, mungkin dia kelelahan karena bekerja" jawab Ratu menjawab Mala.
"Ratu, Mala kenapa masih di sana, ayo ikut aku ruangan rawatnya di sana" ucap Zidan dengan lesu.
Cara berjalan Zidan juga sudah mulai tidak seimbang Ratu mendekatinya dan menggandeng Zidan untuk menahan tubuhnya agar dia bisa berjalan dengan seimbang dan tidak jatuh ataupun menubruk orang lain.
"Zidan apa kamu sakit?" Tanya Ratu sambil menggandeng Zidan berjalan menuju ruangan Steven,
"Ahh...aku baik baik saja,ungkin hanya sedikit kelelahan karena mengurusi beberapa urusan" jawab Zidan sambil tersenyum,
Ratu tidak mempercayainya karena jelas wajah Zidan sudah pucat pasti dia sangat kekalahan dan tidak baik baik saja.
__ADS_1
Saat sampai di ruangan Steven Ratu justru malah mengurusi Zidan sedangkan Ma.langsung menghampiri Steven yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit, Steven juga kaget melihat Ratu datang dengan Zidan saat itu.
"Ratu...apa itu kamu?" Tanya Steven dan langsung bangkit terduduk,
Mala juga sempat kaget karena Steven bisa langsung mengenali kakaknya padahal saat itu Ratu hanya berjalan melewatinya dan membantu Zidan duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu.
Ratu menatap Steven dan menjawabnya.
"Iya ini aku, apa kabar Steven sepertinya kamu sudah lebih baik, aku harus mengurus Zidan dulu sepertinya dia sakit" ucap Ratu mengabaikan Steven,
Steven mengangguk mengerti dan dia justru terus mengobrol dengan Mala, selalu ada saja yang Mala bicarakan dengan Steven dan Steven juga banyak bertanya tentang Mala dan Ratu sedangkan Ratu sibuk mencari obat untuk Zidan dan membelikan dua bubur untuk Zidan juga Steven.
Saat kembali Ratu langsung memberika satu bubur kepada Steven dan satunya lagi dia bawa untuk Zidan, saat itu jelas sekali rasa cemburu terpancar jelas dari wajah Steven ketika melihat Ratu begitu memperhatikan Zidan dia tidak pernah mengira Zidan bisa sedekat itu dengan Ratu orang yang dulu menjadi pujaan hatinya bahwa masih tetap menjadi Ratu dalam hatinya.
"Ahh...Steven ini aku membelikan bubur untukmu, biar Mala yang membantumu makan jika kamu merasa masih lemas" ucap Ratu sambil memberikan semangkuk bubur pada Mala.
Tentu saja dengan senang hati Mala menerima bubur itu dan langsung menyuapi Steven dengan tulus dan berbunga bunga.
Sedangkan Ratu segera menghampiri Zidan dia duduk di sampingnya dan memberikan minum pada Zidan.
"Zidan kamu juga pasti lupa makan, makanya lemas dan pucat seperti ini, kamu janga berfokus mengurus orang lain sedangkan kamu lupa dengan dirimu sendiri, kamu ini bagaimana sih, sini biar aku suapi makan lah dengan lahap aaa..." Ucap Ratu mengomel.seperti seorang ibu yang merawat anaknya,
Mala tertawa kecil bersama Steven melihat Zidan yang mendapatkan teguran dan nasihat dari Ratu, setelah Zidan menghabiskan bubur, Ratu langsung menyuruhnya untuk beristirahat dan mengambil selimut dari Steven lalu dia gunakan untuk Zidan.
"Steven aku pinjam selimutmu dulu yah nanti aku bawakan yang baru untukmu" ucap Ratu meminjamnya dan mengambil begitu saja,
"Zidan pakai selimut ini dan istrihatlah beberapa saat, jangan protes menurut denganku ini demi kesehatanmu juga" ucap Ratu yang memotong Zidan saat hendak berbicara padanya.
Zidan pun hanya bisa tersenyum dan segera menutup mata menuruti perintah Ratu, sedangkan Mala sedikit merajuk karena Ratu mengambil selimut Steven begitu saja.
"Kak Steven kan sudah ada kamu yang mengurusi lagi pula kamu tidak lihat Zidan kelelahan juga karena mengurusi Steven iya kan" ucap Ratu menjawabnya.
Steven langsung menahan Mala dan menyetujui ucapan Ratu,
"Sudah Mala tidak papa lagi pula aku sudah baik baik saja dan Ratu benar Zidan seperti itu karena membantuku, aku berhutang banyak padanya hanya meminjamkan selimut itu bukan masalah besar" ucap Zidan menenangkan Mala.
Ratu kaget mendengar Steven sudah akrab dalam waktu yang begitu cepat dengan Mala.
"Ehh...kalian berdua ini cepat sekali sudah saling mengenal satu sama lain, padahal aku belum sempat memperkenalkan adikku ini" ucap Ratu menghampiri Steven,
"Mala sudah membicarakan semuanya, dia gadis kecil yang manis sama sepertimu dulu" jawab Steven membuat Ratu membelalakkan matanya,
"Kak tolong jangan mengungkit masa lalu, sekarang kita sudah seperti seumuran, dan jangan memikat adikku" ucap Ratu memperingati.
Ratu hanya takut Mala menjadi menyukai Steven melebihi seorang idola dan ikut akan sangat bahaya sebab Ratu sudah mengenal Steven dengan baik jauh lebih baik dari siapapun.
Steven hanya tertawa dan mengiyakan ucapan Ratu, lagi pula saat pertama melihat Mala dan mendengar banyak cerita dari Mala, justru Steven hanya fokus pada bagian dimana Mala menceritakan mengenai Ratu dia masih menyayangi Ratu seperti sebelumnya.
"Tenang saja aku tidak mungkin membuat calon adik ipar menyukaiku iya kan Mala" ucap Steven yang dibalas anggukan oleh Mala.
Melihat reaksi dari Mala yang begitu kompak dengan Steven tentu saja Ratu semakin bingung, kaget dan tak karuan dia tidak terima Steven bisa menghipnotis Mala begitu cepat rasanya Ratu ingin membawa Mala pergi menjauh dari Steven mulai saat itu juga.
"Eihh....kenapa kamu malah kompak begini dengan kak Steven....Mala ingat yah kamu itu baru mengenalnya apa dengan semudah itu kamu menyetujui orang yang baru kamu kenal untuk menjadi kakak iparmu?" Ucap Ratu tidak terima,
Mala hanya tertawa menanggapi reaksi Ratu yang terlalu serius dengan jawaban darinya.
__ADS_1
"Ahaha...kakak ayolah jangan terlalu serius aku akan menyetujui dengan siapapun kakak berjodoh, entah itu tuan Randi, kak Zidan atau kak Steven aku setuju kok, asalkan kakak bahagia" jawab Mala sambil tertawa lepas.
Ratu membelototi Mala dan memperingatinya agar tidak menggoda dia lagi di hadapan Steven.
Selesai saling menggoda dan berdebat membicarakan hal yang kurang penting Ratu mulai bertanya mengenai hal serius tentang Astrid dan kejadian yang sebenarnya menimpa pada Steven sampai dia bisa mengalami kebangkrutan dan harus di rawat di rumah sakit ini.
"Kak Steven sebenarnya apa yang terjadi kenapa bisa seperti ini, om dan tante ke mana apa mereka tau tentang semua ini?" Tanya Ratu menanyakan kabar kedua orangtua Steven.
Ratu memang sudah lama memutuskan hubungan dengan Steven juga Astrid sehingga dia sama sekali tidak mengetahui mengenai kepergian kedua orang tua Steven yang di sebabkan oleh Astrid juga.
Saat mendapatkan pertanyaan itu dari Ratu, Steven menunduk lesu dan dia berdiam cukup lama sampai akhirnya menguatkan diri sendiri menceritakan semua kebenaran kepada Ratu dan Mala. Steven sama sekali tidak merasa keberatan saat membicarakan semua kenangan buruk ya dengan jujur dan apa adanya padahal saat itu ada Mala yang juga mendengarkan pembicaraannya.
Karena takut Steven keberatan Ratu bertanya soal itu untuk memastikan.
"Kak Steven apa kamu tidak keberatan Mala juga mengetahui semuanya?, Kenapa kamu menceritakan semua ini padaku dengan begitu mudah, aku juga turut berduka atas kepergian om dan tante, maaf karena aku tidak mengetahui semua ini" ucap Ratu merasa bersalah,
"Tidak papa, lagi pula memang aku sendiri yang berbagi cerita denganmu juga Mala aku tidak keberatan sama sekali, dan terimakasih sudah mau menjengukku hari ini" ucap Steven sambil tersenyum tulus.
Ratu pun banyak mengobrol tentang berbagai hal bersama Steven juga Mala mereka begitu dekat sampai tak lama Zidan terbangun dan ikut bergabung, dokter memeriksa Steven dan mengatakan bahwa Steven sudah semakin membaik itu membuat Ratu senang karena Steven bisa membaik dengan cepat.
Hingga waktu berlalu begitu cepat Ratu memutuskan untuk pulang karena banyak pekerjaan lain yang harus dia kerjakan terutama untuk mempersiapkan pembukaan tokonya lagi, Ratu berpamitan pada Steven dan Zidan mengantarkannya.
"Kak Steven cepatlah membaik dan kembali seperti dulu, aku pulang yah jaga dirimu baik baik" ucap Ratu berpamitan,
"Kak...aku juga pulang yah, jangan lupa save nomorku aku mengidolakan mu sejak lama hehe" tambah Mala membuat Ratu menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Maafkan Mala ya kak, aku akan memberinya pelajaran" tambah Ratu sambil menarik Mala membawanya segera pergi dari sana,
"Tidak papa Ratu aku suka gadis manis sepertinya..." Teriak Steven yang membuat Ratu semakin kesal karena mereka berdua sama saja.
Saat itu Ratu menolak Zidan yang mau mengantarkannya pulang karena Ratu tau kesehatan Zidan belum benar benar membaik namun Zidan terus bersih keras ingin mengantarkannya sehingga Ratu tidak bisa menolak lagi ditambah Mala yang justru malah sudah masuk ke dalam mobil Zidan lebih dulu.
"Sepertinya aku salah karena sudah membawa Mala denganku hari ini" gerutu Ratu menyesal.
Zidan hanya tersenyum dan membukakan pintu untuk Ratu lalu dia juga ikut masuk dan menjalankan mobil dengan cepat menuju kediaman Ratu.
Saat di perjalanan Ratu membuka suara dan menyampaikan persetujuannya menyengat kembali bekerja di perusahaan Zidan.
"Zidan...aku menerima tawaranmu" ucap Ratu tiba tiba yang membuat Zidan kaget dan bingung,
"Apa?, Maksudmu tawaran yang mana?, Menjadi pacarku atau bekerja denganku?" Goda Zidan membuat Ratu tersipu malu,
"Zidan kamu ini apa apaan sih, tentu saja bekerja menjadi sekretarismu, jangan bicara hal lain saat ada Mala aku tidak suka" ucap Ratu menahan Malu.
"Hehe...kakak kenapa harus malu denganku aku kan sudah bilang aku tidak....eumm..eummm" ucap Mala yang tertahan karena Ratu langsung membungkam mulutnya.
Ratu tersenyum pada Zidan sambil membungkam mulut Mala dengan tangannya setelah beberapa saat barulah Ratu melepaskan bungkamannya, dan Mala tidak berani lagi untuk melanjutkan niat dia menggoda Ratu lagi.
"Kak Ratu kamu sudah tidak menyayangiku lagi yah, membungkam mulut manisku ini" ucap Mala menggerutu,
"Aku sangat menyayangimu makanya menjaga mulutmu itu" ucap Ratu sambil tersenyum.
Mala hanya mengangguk patuh dan mengerti dengan tatapan tajam Ratu padanya, dia pun akhirnya seketika diam dan tidak banyak bertingkah sampai mereka tiba di kediaman Ratu, saking malunya Ratu langsung keluar dan berlari tanpa berpamitan lagi pada Zidan dan masuk ke dalam rumah begitu saja.
Zidan hanya tersenyum melihat tingkah Ratu yang begitu lucu baginya ketika dia tersipu dan malu dengan godaan darinya.
__ADS_1