
Randi pun segera pergi meninggalkan nyonya Wulan seorang diri di ruang rawat tersebut, dia sengaja membiarkan nyonya Wulan agar bisa berpikir dan sungguh sungguh menyesali semua perbuatannya yang bisa menghancurkan banyak orang selama ini.
Nyonya Wulan sungguh menyesali semua perbuatannya dan dia hanya bisa menangis di ruangan itu seorang diri sambil meratapi nasibnya yang sudah berakhir.
"Hiks..hiks...maaf, tolong maafkan ibu Randi, ibu sudah gagal menjadi sahabat yang baik bagi ibumu dan kini ibu juga gagal menjadi ibu yang baik untukmu, maafkan ibu karena sudah buta akan harta hiks...hiks.." ucap nyonya Wulan sambil menangis tersedu.
Randi masih bisa mendengar ucapan nyonya Wulan dan dia hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat, lalu pergi menemui sekretaris Han yang tengah duduk di bangku tunggu tepat di samping pintu masuk ruangan nyonya Wulan.
"Tuan...bagaimana dengan nyonya Wulan, anda tidak memarahinya kan?" Ucap sekretaris Han sambil menatap serius dengan cemas kepada tuan Randi.
Randi hanya membalas tatapan sekretaris Han dengan tatapan tajam seakan memberi peringatan agar tidak membahas masalah itu, sekretaris Han pun langsung tertunduk dan diam membisu.
"Han...ikut aku ke kantor sekarang juga, banyak hal yang harus kita selidiki sekarang" ucap tuan Randi memerintah dan dia berjalan lebih dulu.
Tanpa banyak basa basi sekretaris Han mengikuti langkah tuan Randi, meskipun dia sangat penasaran dalam dirinya begitu menggebu.
"Ada apa dengan tuan Randi semakin ke sini malah membingungkan!" Gumam sekretaris Han sambil berjalan cepat mengikuti langkah tuan Randi.
Mereka pergi ke perusahaan dan tuan Randi nampak begitu panik dan dengan cepat membicarakan masalah foto foto yang dia terima dari sebuah nomor misteri yang di dapatnya sebelumnya.
"Sekretaris Han, aku sudah mengirimkan beberapa hal yang harus kau selidiki dan aku minta dalam satu jam kau harus sudah menemukan siapa pelakunya!" Ucap tuan Randi dengan tegas.
Sekretaris Han segera memeriksa ponselnya dan dia kaget melihat hanya sebaris nomor telepon yang dia dapatkan, melihat itu sekretaris Han langsung paham karena sudah terbiasa mendapatkan perintah tugas penyelidikan seperti ini.
__ADS_1
Bagi seorang sekretaris Han menyelidiki sebuah nomor ponsel adalah hal yang mudah dia langsung pergi ke ruangan kerjanya dan mulai mengutak ngatik laptopnya sampai satu jam kemudian dia berhasil menemukan siapa pemilik nomor tersebut, dan betapa terkejutnya sekretaris Han saat nama tersebut tertuju pada sekretaris Diah.
"Astaga apa yang sudah terjadi, kenapa pemilik nomor ini sekretaris Diah, apa yang sudah dia lakukan pada tuan Randi sampai dia semarah itu" gerutu sekretaris Han.
Karena penasaran dan dia juga harus segera memberitahu tuan Randi mengenai nomor yang dia selidiki, sekretaris Han pun segera menghadap pada tuan Randi.
"Tuan ini hasil penelusuran saya, dan pemilik nomor ponsel itu adalah sekretaris Diah dan sepertinya kini nomor itu sudah tidak digunakan lagi" ucap sekretaris Han melaporkan,
"Apa?, Sekretaris Diah?, Kenapa dia mau berurusan denganku, apa ini ada hubungannya dengan Zidan?" Ucap tuan Randi dengan kaget.
Sekretaris Han kembali semakin bingung ketika mendengar ucapan tuan Randi, dia pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan sebenarnya apa yang terjadi, mengapa anda nampak begitu emosi?" Tanya sekretaris Han dengan penasaran,
Saat sekretaris Han melihat foto mesra yang ditunjukkan oleh tuan Randi padanya, dia langsung membulatkan matanya sempurna dan menelan saliva dengan susah payah, dia sungguh tidak menyangka sekretaris Diah bisa melakukan hal semacam ini dan telah pergi mengusik keluarga Atmaja terlalu jauh.
"Tuan menurut saya sepertinya sekretaris Diah sengaja melakukan ini agar anda bisa menjauhkan tuan Zidan dan Ratu dengan begitu dia bisa mendekati tuan Zidan, bukankah dia sangat menyukai tuan Zidan sejak lama?" Balas sekretaris Han mengungkapkan pemikirannya.
Tuan Randi langsung terdiam dan mencerna ungkapan dari sekretaris Han, setelah dia pikirkan memang apa yang diucapkan oleh sekretaris Han sangat masuk akal dan memang begitu pantas untuk dijadikan sebuah jawaban atas apa yang dilakukan oleh sekretaris Diah sampai berani berhubungan dengan dirinya bahkan sampai berusaha memprovokasi dia dengan cara rendahan seperti itu.
Tuan Randi langsung meminta sekretaris Han agar mencari tahu keberadaan sekretaris Diah dan untuk memata matinya dengan tenang.
"Sekretaris Han, awasi dia sampai aku memikirkan cara untuk memberinya pelajaran sekaligus membalas dendam nyonya Wulan" kata tuan Randi dengan tatapan yang tajam,
__ADS_1
"Baik tuan, tapi untuk apa anda membantu nyonya Wulan, bukankah kini anda membencinya?"balas sekretaris Han dan balik bertanya.
Sekretaris Han sangat penasaran mengapa tuan Randi tiba tiba saja mau membantu nyonya Wulan untuk membalaskan dendam atas apa yang dilakukan sekretaris Diah sampai menyebabkan nyonya Wulan lumpuh permanen, dan sialnya mulut sekretaris Han saat itu tidak bisa di kunci, mulutnya tiba tiba saja berbicara sendiri menanyakan dengan lantang pada tuan Randi tanpa rasa takut sedikitpun.
"Han harusnya kau tau meski dia telah berniat berbuat jahat padaku namun dia juga yang membesarkan ku sampai seperti ini, aku hanya akan membalas budinya dan dengan membalas kan dendamnya itu akan sepadan atas apa yang dia lakukan padaku sejak kecil hingga sekarang" balas tuan Randi dengan serius.
Sekretaris Han akhirnya memahami dia bisa melihat sebuah kasih sayang yang tulus dari tuan Randi kepada nyonya Wulan saat dia melihat ekspresi tuan Randi ketika membicarakan pembalasan dendam itu.
Namun sekretaris Han juga tau kalau tuan Randi selama ini adalah pria yang tidak banyak bicara dan berwibawa dia ditakuti sebagai CEO yang begitu kejam kepada musuh musuhnya.
Meski begitu dia tetap memiliki kasih tersendiri kepada nyonya Wulan, sekretaris Han bisa tenang ketika melihat ternyata tuan Randi tidak benar benar membenci nyonya Wulan, ya setidaknya masih ada kasih sayang dan kepedulian yang tersisa di hati tuan Randi bagi nyonya Wulan.
Tak sampai di situ tuan Randi juga meminta sekretaris Han untuk kembali ke rumah sakit dan fokus merawat juga menemani nyonya Wulan, sebenarnya tuan Randi bisa saja melakukannya sendiri tapi rasa kesal di dalam hatinya yang begitu besar dia belum bisa melakukan semua itu dan memperlihatkan kepeduliannya kedap nyonya Wulan.
Tuan Randi hanya ingin memberikan sedikit pelajaran berharga pada nyonya Wulan agar dia sadar akan semua kesalahannya dan tidak pernah melakukan kesalahan yang sama untuk di kemudian hari.
Sedangkan di sisi lain setelah sekretaris Han pergi, tuan Randi tidak langsung kembali ke kediamannya ataupun mengerjakan tugas perusahaan dia justru malah segera menghubungi Ratu lewat panggilan video.
Padahal di sisi lain Ratu tengah bersiap untuk tidur dan dia sungguh merasa tidak enak karena baru saja menolak Zidan, semua kebaikan Zidan padanya membuat Ratu begitu merasa tidak enak ketika menolaknya, saat baru saja hendak merebahkan badannya di ranjang, ponselnya bergetar dan memperlihatkan panggilan video dari tuan Randi.
Mendapatkan panggilan video secara tiba tiba tentu saja Ratu merasa kaget dan panik terburu buru membenahi wajah juga penampilannya.
"Ya ampun kenapa tuan Randi tiba tiba melakukan panggilan video padaku, ahh..... Aku harus menyisir rambutku dulu" ucap Ratu dengan panik.
__ADS_1