
Zidan mulai menaruh kecurigaan pada Astrid dan dia meminta polisi untuk menyelidikinya lebih dalam tak lupa Zidan juga sudah menyuruh beberapa anak buah kepercayaannya agar mencari keberadaan Astrid.
Malam itu Zidan menghabiskan waktu yang lama menunggu Steven hingga di siuman, karena banyak pertanyaan yang harus diajukan oleh pihak kepolisian dan Zidan juga butuh penjelasan langsung dari Steven tentang apa yang sebenarnya menimpa Steven malam itu.
Zidan kembali ke rumahnya untuk memberikan kabar kepada Oma Rika dan saat mendapatkan kabar itu Oma Rika begitu kaget juga tidak menyangka.
"Apa...Steven keracunan?, Bukankah dia sudah menikah dengan Astrid dan terakhir kali Oma lihat hubungan mereka baik baik saja kenapa bisa sampai begini, lalu sekarang di mana Astrid?" Tanya Oma Rika keheranan,
"Aku juga tidak tau Oma, aku curiga ini adalah ulah Astrid dia bukan hanya sekali dua kali melakukan kejahatan semacam ini aku yakin ini pasti berhubungan dengan Astrid, meski kelihatannya hubungan mereka baik tapi itu tidak se sederhana apa yang terlihat, Oma tau kak awalnya Steven menyukai Ratu namun Astrid merebutnya" ucap Zidan mengingatkan Oma Rika,
"Kamu benar tapi Zidan, Oma titip padamu jangan terlalu ikut campur dengan urusan Steven, Oma tidak mau kamu juga akan terseret oleh Astrid yang sangat jahat itu" ucap Oma Rika mengingatkan Zidan juga,
"Baik Oma, Zidan mengerti, kalau begitu Zidan harus segera kembali ke rumah sakit" jawab Zidan terburu buru.
Oma Rika juga membantu Zidan membereskan beberapa barang yang akan diperlukan oleh Steven nantinya, selesai memasukkan semuanya ke dalam mobil Zidan langsung meluncur ke rumah sakit secepat yang dia bisa.
Saat sampai di rumah sakit nampak pihak kepolisian sudah menunggu kedatangannya dan merika meminta penjelasan tentang kronologis kejadian kepada Zidan, Zidan pun menceritakan semuanya dan bahkan dia memberikan bukti panggilan telpon sebelumnya dari Steven agar pihak kepolisian tidak mencurigainya sebagai tersangka.
Setelah polisi selesai mewawancarai Zidan mereka pergi dan meminta agar Zidan segera memberitau mereka apabila Steven sudah siuman.
"Baik pak saya akan bekerja sama dengan pihak yang berwajib" jawab Zidan dengan tegas.
Zidan langsung masuk ke dalam kamar rawat jalan yang ditempati oleh Steven nampak wajah Steven yang sudah begitu pucat pasi, Zidan sungguh sangat sedih dan marah ketika melihat keadaan sahabat terbaiknya seperti itu hanya karena seorang wanita.
"Steven kenapa dulu kau membuat keputusan yang sangat bodoh, kenapa kau harus terlahir tampan dan lemah?, Kenapa kau mencampakkan Ratu dan membela wanita iblis itu, yang pada akhirnya semuanya sirna darimu" ucap Zidan dengan air mata yang tumbuh begitu saja membasahi pipinya,
Tak lama Steven mulai tersadar dan tangannya bergerak memberikan reaksi, matanyapun mulai mengerjap ngerjap hingga dia bisa melihat ke berbagai arah.
"Steven...Lo sadar....dok...dokter" teriak Zidan begitu senang dan segera meminta dokter agar memeriksanya,
Dokter datang dengan cepat dan langsung memeriksa kembali Steven dengan teliti, senyum lebar tergambar dalam wajah dokter dan dia mengatakan bahwa Steven sudah benar benar siuman, racun dalam tubuhnya sudah bersih dan ternetralisir dengan baik dia hanya membutuhkan banyak istirahat untuk beberapa waktu.
Zidan sangat senang mendengar kabar tersebut dan dokter kembali ke ruangannya, Zidan menghampiri Steven dengan kebahagiaan yang tak terkira.
__ADS_1
"Steven akhirnya lonsadar juga, gua bener bener gak bisa membayangkan kalau Lo sampai terbunuh oleh istri Lo sendiri" ucap Zidan membuat Steven kembali mengingat semuanya,
"Zidan makasih Lo masih mau nerima gue dan mau ngebantuin gue di saat seperti ini" ucap Steven,
"Udahlah Lo tenang aja sampai kapanpun kita akan tetap menjadi sahabat. Steven sebelum polisi datang Lo harus ceritain semuanya sama gue!" Ucap Zidan dengan penasaran.
Steven mengerti apa yang dimaksud oleh Zidan dia pun Mai menceritakan mengenai kebangkrutan perusahaannya juga tentang Astrid yang masih terbitkan oleh harta, semua tabungan dan uang yang dimiliki oleh Steven semuanya sudah habis diambil oleh Astrid dan terakhir kali Steven masih sempat mendengar bahwa Astrid akan pergi ke luar negeri membawa semua uang tersebut.
"Aku sudah salah memilih Astrid, aku memang tidak pernah menyukainya tapi aku membuat keputusan paling buruk dalam hidupku" ucap Steven penuh penyesalan dalam dirinya,
Zidan hanya bisa mendengarkan semua yang diceritakan oleh Steven dari awal hingga akhir, sungguh Zidan juga tidak bisa banyak membantu Steven karena Oma Rika sudah memperingati dia sebelumnya.
"Steven maafkan aku, tapi biarkan polisi saja yang menangani semua ini sementara aku akan terus mencari tau tentang posisi Astrid saat ini" ucap Zidan dengan serius,
"Terimakasih Zidan, aku akan memberinya pelajaran mulai sekarang, aku tidak akan membiarkannya hidup dengan bahagia di atas kehancuran keluargaku" ucap Steven dengan kedua tangan yang dia kepalkan dengan kuat.
Zidan bisa melihat dengan jelas sorot mata yang penuh amarah juga dendam dari Steven kepada Astrid, saat itu karena mengingat kondisi Steven yang masih lemah Zidan hanya membiarkannya untuk istirahat dan polisi mengatakan akan mewawancarainya besok pagi.
"Steven aku harus pergi, apa tidak papa jika kau sendirian di sini?" Tanya Zidan berpamitan,
"Tidak papa, aku tau kau sibuk" jawab Steven memahami.
Zidan segera pergi ke perusahaan dan mengerjakan semua pekerjaan yang harus segera dia selesaikan, nampak pagi pagi sekali Zidan sudah sangat sibuk dengan sebuah berkas di mejanya yang berserakan.
Tak lama kemudian Ratu datang dan masuk ke dalam ruangannya, Zidan mempersilahkan Ratu untuk duduk di depan meja kerjanya, Ratu melihat dengan heran karena tidak biasanya meja kerja Zidan begitu berantakan.
"Astaga Zidan ada apa denganmu, kenapa semua berkas ini berserakan begini apa kau mengerjakan semuanya sendiri lagi?" Tanya Ratu sambil membantunya membereskan semua berkas,
"Iya tentu saja, habisnya aku belum menemukan sekretaris yang cocok, jika aku menawarkan lagi pekerjaan itu padamu, apa kamu mau bekerja lagi denganku?" Tanya Zidan mulai melancarkan aksinya,
"Zidan jangan bercanda, nyonya Wulan tidak pernah main main dengan ancamannya kepada siapapun, aku tidak mau membuat perusahaan yang sudah dibangun dengan jerih payah hancur hanya karena mempekerjakan aku" jawab Ratu yang mengira itu hanya candaan,
"Ratu kau lihat aku baik baik, apa kali ini terlihat seperti aku sedang bercanda, aku sungguhan Ratu, perusahaanku sudah bisa berdiri sendiri dan aku bersumpah tidak akan pernah berhubungan lagi dengan perusahaan tuan Randi ataupun keluarga Atmaja, aku akan berusaha menyaingi mereka, jadi tolong bantu aku" ucap Zidan begitu serius dengan memegang kedua pundak Ratu dengan erat.
__ADS_1
Ratu diam termenung dan sedikit kaget karena dia merasa Zidan begitu serius hari ini bahkan caranya memegangi oundak Ratu begitu terlihat penuh tekad dan keyakinan.
"Zidan apa yang membuatmu tiba tiba bersemangat seperti ini, dan bagaimana bisa semua itu sudah selesai dalam waktu yang singkat, bukankah kau sendiri yang mengatakan suntikan dana tersebut sangat besar" ucap Ratu bertanya karena masih merasa janggal,
Zidan tersenyum seketika dan dia berjalan menghampiri Ratu lalu tiba tiba saja memeluk Ratu dengan erat, Ratu benar benar membelalakkan matanya sempurna karena dia kaget mendapatkan pelukan dari Zidan seperti ini.
"Astaga Zidan apa yang kamu lakukan, lepaskan aku ini di kantor bagaimana kalau orang lain melihatnya" ucap Ratu mulai panik,
"Biarkan seperti ini sebentar saja, aku sangat senang sekarang" ucap Zidan yang membuat Ratu tidak bisa berontak lagi,
Mereka terdiam sejenak dan Ratu membiarkan Zidan memeluknya sampai beberapa saat akhirnya Zidan melepaskan pelukan itu dan dia mulai menjelaskan masalah Oma Rika yang sudah membantu dia lepas dari genggaman nyonya Wulan yang licik.
Mendengar itu Ratu juga kaget dan tidak menyangka dia bahkan menutup mulutnya yang terbuka saking senangnya.
"Ahh...benarkah itu?, Jadi sekarang aku bisa kembali bekerja padamu?" Teriak Ratu begitu antusias dan tidak bisa menahan kebahagiaan ini,
Zidan mengangguk dan Ratu sangat senang namun tiba tiba saja terlintas kalau dia juga sudah memperbaiki toko bunganya untuk kembali membangun usaha kecilnya, Ratu langsung diam tertunduk dengan lesu dan menghembuskan nafas pelan.
"Ratu ada apa, apa kamu tidak senang lagi?" Tanya Zidan merasa bingung,
"Bukan begitu Zidan, tapi.....aku sudah memperbaiki kembali toko bungaku ya walaupun semuanya akan dimulai sejak awal lagi tapi aku harus memperjuangkan toko itu, aku tidak bisa kembali bekerja lagi denganmu" ucap Ratu menjelaskan kegelisahannya,
"Bukankah ada Mala kenapa tidak dia saja yang menjaganya seperti sebelumnya, jadi kamu bisa tetap bekerja denganku, Ratu aku mohon" ucap Zidan memohon.
Zidan membujuk Ratu sampai memohon seperti itu bukanlah semata mata karena ingin terus berada di dekat Ratu namun karena dia tau seberapa hebat kemampuan Ratu dalam menjalankan pekerjaan sebagai seorang sekretaris, dan bagi Zidan Ratu adalah orang yang tepat sebagai rekan kerja yang kompak dan cocok baginya.
Ratu terus terdiam di saat Zidan terus berusaha memohon dan membujuknya.
"Zidan aku belum bisa menjawab semuanya sekarang, aku harus mendiskusikannya dengan Mala, lagi pula kamu tau kan Mala sudah lulus dan dia juga akan mencari pekerjaan aku ingin Mala bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuknya dan sesuai dengan apa yang dia inginkan" ucap Ratu menjelaskan lagi,
"Baiklah aku mengerti, kamu bisa membicarakannya dulu dengan Mala, tapi aku sungguh sangat berharap kamu bisa kembali bekerja denganku, mari kita pertahankan perusahaan ini bersama dan tunjukan pada tuan Randi bahwa kamu juga bisa menjadi sukses dengan caramu sendiri, aku akan selalu ada untukmu Ratu" ucap Zidan dengan menggenggam tangan Ratu cukup erat.
Ratu mengangguk dan memahami semuanya dia pun berpamitan karena harus segera pergi dari sana dan tidak ada yang bisa dibicarakan lagi diantara mereka.
__ADS_1