PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Kesadaran


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit sekretaris Han sedikit kebingungan karena tuan Randi menyuruh dirinya yang merawat dan menemani nyonya Wulan padahal saat nyonya Wulan masih tak sadarkan diri dia sendirilah yang menemaninya di ruangan tersebut.


"Tuan kenapa anda tidak menyapa nyonya Wulan dahulu?, Apa anda tidak merasa cemas dengan keadaannya?" Ucap sekretaris Han,


"Tidak, karena dia bukan ibuku aku merawatnya hanya karena balas budi saja, kau urus saja dia aku akan mengurusi perusahaan" jawab tuan Randi lalu berlenggang pergi meninggalkan sekretaris Han begitu saja.


Sekretaris Han juga tidak bisa berbuat apapun dan dia langsung masuk ke ruang rawat nyonya Wulan lalu dia mendapati suster yang baru selesai memeriksa keadaannya.


"Nyonya syukurlah anda sudah sadar, bagaimana keadaan anda sekarang?, apa ada yang tidak enak?, Atau ada yang anda inginkan?" Ucap sekretaris Han,


"Sekretaris Han, siapa yang sudah melakukan semua ini padaku?, Dan apa kakiku sungguh tidak bisa bergerak lagi?, Apa aku akan lumpuh selamanya?, Jawab aku sekretaris Han!" Bentak nyonya Wulan dengan air mata yang berlinang.


Sekretaris Han bingung bagaimana menjelaskannya pada nyonya Wulan meski dia tau bahwa kaki nyonya Wulan memang mengalami lumpuh permanen namun dia juga sulit untuk menjelaskan semuanya, dia juga bingung apa harus memberitau nyonya Wulan mengenai sekretaris Diah atau tidak karena dia tidak mendapatkan perintah tersebut dari tuan Randi.


Karena bingung terpaksa sekretaris Han tetap menyembunyikannya, dia hanya takut jika tuan Randi tidak menyetujui keputusannya untuk memberitau nyonya Wulan.


"Maafkan saya nyonya, saya datang ke sini diutus oleh tuan Randi dan saya tidak mengetahui apapun mengenai kecelakaan anda, saya tidak bisa memberikan informasi apapun kepada anda" jawab sekretaris Han dengan tegas.


Nyonya Wulan hanya diam dan terus menangis sekretaris Han dapat merasakan betapa frustasi dan putus adanya nyonya Wulan dia harus kehilangan kesempurnaan dalam dirinya dan mulai saat ini mungkin dia hanya akan menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda.


"Han...dimana Randi, dia harus menangkap orang yang menyebabkan kecelakaanku, aku tau ini pasti perbuatan seseorang, aku tidak mungkin kecelakaan hanya karena kecerobohan diriku atau kerusakan mobilku, kau tau kan aku selalu memeriksa semua mobil yang akan aku gunakan ini pasti sabotase, kau harus mencari tau siapa dalangnya...hiks..hiks...hiks.." ucap nyonya Wulan dengan suara yang keras dan dia terus menangis.

__ADS_1


Nyonya Wulan ingin berontak namun energinya hanya bisa untuk berbicara dia belum mendapatkan semua energi di tubuhnya sehingga tidak leluasa untuk bergerak, dia hanya bisa menangis dan berteriak.


Sekretaris Han berusaha untuk menenangkan nyonya Wulan, meski dia sendiri sangat tidak tega melihat keadaan nyonya Wulan saat ini.


"Maafkan saya nyonya, sungguh saya minta maaf karena tidak bisa berbuat apapun, tapi saya yakin tuan Randi tidak akan membiarkan orang yang melakukan ini terhadapmu bebas begitu saja, kau harus mempercayai putramu, dan bersikap baiklah padanya mulai saat ini" ucap sekretaris Han yang membuat nyonya Wulan bisa sedikit tenang.


Kini nyonya Wulan mulai sadar bahwa semua ini mungkin adalah balasan karena dia tega ingin menipu putra sahabatnya sendiri.


"Sekretaris Han...hiks..hiks..aku tau aku salah.... Aku tau ini pasti peringatan dari semesta, aku hampir menjadi iblis karena buta akan harta, aku harus meminta maaf pada Randi dan menjelaskan semuanya, aku tau ini belum terlambat iya kan sekretaris Han?" Ucap nyonya Wulan yang mengira tuan Randi belum mengetahui akal busuk dia sebelumnya.


Sekretaris Han hanya bisa mengangguk untuk membuat nyonya Wulan memiliki harapan dan bisa tenang, sebenarnya dia dalam hati kecil sekretaris Han begitu merasa gundah gulana dan cemas dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika nyonya Wulan mengakui semua rencana jahatnya di depan tuan Randi, sekretaris Han hanya takut tuan Randi tidak bisa menahan emosi pada dirinya sendiri.


"Nyonya Wulan sebaiknya untuk saat ini anda fokus pada kesembuhan anda barulah setelah itu anda bisa memperbaiki semuanya, saya akan mendukung apapun keputusan anda selama itu tidak bertentangan dengan kehendak tuan Randi" ucap sekretaris Han.


Mengetahui kenyataan bahwa dirinya tidak bisa berjalan lagi dalam sisa hidupnya itu pasti akan menjadi ujian yang sangat berat, apalagi jika dia sampai kehilangan putra nya Randi, meski nyonya Wulan bersih keras ingin menguasai semua harta milik Atmaja namun dia sama sekali tidak pernah berniat untuk menelantarkan seorang Randi yang dia urus sejak kecil dan dia beri kasih sayang selama ini.


"Maafkan ibu Randi, ibu gagal menjalankan amanah dari ibu kandungmu, ibu akan menebusnya sekarang" gumam nyonya Wulan yang begitu merasa menyesal.


Terkadang penyesalan memang datang di akhir, dan bukan takdir lah yang tidak adil pada kita namun keputusan kita sendiri yang membuatnya seakan tak berpihak.


Sedangkan di sisi lain Ratu yang tengah menemani Zidan untuk memeriksa proyek terbaru mereka di sebuah wilayah tak jauh dari kota, nampak mereka pergi berdua menggunakan mobil yang biasa Zidan gunakan, selama perjalanan menuju lokasi proyek tersebut sebenarnya Zidan sama sekali tidak memikirkan masalah pekerjaan karena dia yakin apapun yang digarap oleh Steven pasti tidak akan mengecewakannya.

__ADS_1


Terlebih Zidan tau bahwa Steven lebih berpengalaman dari pada dirinya di bidang bisnis seperti ini, namun yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya mendapatkan hati Ratu lebih dulu dari pada tuan Randi.


Zidan pun memberanikan diri untuk bertanya pada Ratu mengenai jawabannya yang sampai saat ini tidak ada kejelasan dari Ratu.


"Eumm..Ratu" ucap Zidan membuat Ratu langsung menolah ke arahnya,


"Iya ada apa pak?" Tanya Ratu,


"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu, tapi ini bukan masalah pekerjaan" ucap Zidan meminta izin terlebih dahulu,


"Tentu saja boleh, apa yang mau ditanyakan?" Jawab Ratu sambil tersenyum,


"Begini, masalah pernyataan cintaku sebelumnya, apa kamu sudah memiliki jawaban untukku?, Aku sungguh menunggu jawabanmu selama ini dan aku merasa tidak tenang jika kamu belum memutuskan apapun" ucap Zidan dengan sedikit gugup dan bicara dengan cepat,


"A...ahh...masalah itu yah, pak bisakah kita membahasnya di luar jam kerja, saya tidak mau menyatukan urusan pribadi dengan pekerjaan, saya harap anda mengerti" jawab Ratu beralasan.


Sebenarnya saat itu Ratu sangat bingung dia kaget karena Zidan tiba tiba saja membahas masalah hal sesensitif itu di dalam mobil yang hanya ada mereka berdua terlebih saat itu masih dalam perjalanan menuju peninjauan proyek, Ratu bingung bagaimana mungkin dia bisa menjelaskan semuanya saat ini.


Dia hanya tidak mau jawaban darinya mempengaruhi pekerjaan Zidan nantinya, maka dari itu Ratu juga beralasan agar membahasnya di luar jam kerja, agar dia juga memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan keputusan terbaik.


Zidan benar benar sangat gugup setelah mendapat jawaban Ratu, dan dia pun berhenti membahasnya terlebih Ratu selalu berbicara pormal kepadanya ketika di jam kerja itu membuat Zidan sedikit merasa aneh mendengarnya.

__ADS_1


"A..ahh..iya, aku hanya sedikit penasaran dan tidak sabar saja, maaf jika aku membahasnya di jam kerja seperti ini" ucap Zidan merasa malu,


"Tidak papa saya paham perasaan anda pak" jawab Ratu yang membuat Zidan semakin gugup.


__ADS_2