
"Aishh apa kau buta hah, atau matamu rabun bagaimana kau bisa bilang aku mbak mbak aku ini seorang nona aishhh tampan tapi tidak bisa melihat dengan jelas" ucap Seli dengan kesal dan menatap sinis sekilas pada Zidan.
"Aahh maafkan aku, karena saat itu kau terlihat lebih buruk dari sekarang makanya aku mengiramu lebih tua" ujar Zidan yang semakin membuat hati Seli teriris iris.
Seli pun hanya bisa menundukkan kepalanya dengan lesu karena telah menerima banyak penghinaan dari pria tampan pujaan hatinya sendiri.
"Hiks..hiks...dia sudah tidak tertolong lagi" gerutu Seli dengan sedih.
Beberapa saat Seli menundukkan kepalanya sambil mengurut keningnya perlahan sebab dia merasa pusing bagaimana harus meladeni pria tampan berlidah tajam di hadapannya itu, Seli sejujurnya sangat kesal dan dia ingin sekali memarahi pria di hadapannya itu namun sayangnya karena dia sudah terlanjut menyukai wajah pria itu Seli tak bisa melakukannya.
"Aahh aku ingin memukulnya tapi dia terlalu tampan untuk menerima murka dariku, nanti yang ada dia semakin menjauh dariku aku tidak boleh melakukan itu" gumam Seli memikirkan.
Dia pun berusaha menahan emosinya dan beberapa saat menetralkan emosi dalam dirinya juga mencoba mengatur nafasnya agar lebih tenang dalam menghadapi pria dihadapannya itu.
Sedangkan Zidan terus menatap pada Seli yang seperti kebingungan sendiri, dia pun hendak pergi dari sana karena tidak ada hal lain lagi yang akan dia lakukan.
"Mbak...mbak....saya permisi" ucap Zidan hendak pergi.
"Brakk....tidak kau tidak bisa pergi lagi tanpa meninggalkan jejak apapun untukku, sekarang cepat duduk kembali jangan membuatku berbuat kasar padamu!" Bentak Seli sambil menepuk meja cukup keras.
Bahkan saking kerasnya Zidan sampai tersentak ke belakang dan kaget dengan bentakkan wanita di hadapannya yang sama sekali tidak dia kenal.
Namun karena takut menjadi pusat perhatian banyak orang, terpaksa Zidan kembali duduk dengan tenang dan mendengarkan perkataan dari Seli yang begitu mendominasi.
"Oke, tampan pertama aku akan memberitahumu bahwa aku itu masih 20 tahun jadi kau tidak boleh memanggilku mbak, aku masih mudah untuk panggilan itu, apa kau mengerti?" Ucap Seli bicara serius,
"Baiklah" jawab Zidan masih merasa bingung namun dia hanya bisa mengangguk patuh,
"Bagus, lalu yang kedua namaku Seli siapa namamu sepertinya kita dari negara yang sama" ucap Seli memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan mengajak berjabatan,
__ADS_1
"Ahh nama saya Zidan, saya dari negara XX dan masih baru tinggal di sini" jawab Zidan menjawabnya namun tidak membalas berjabatan dengan Seli,
"Eishh tampan apa kau tidak lihat tanganku mengajak kau berjabat tangan apa kau tega melihatku terus seperti ini, pegal sekali" ucap Seli memberikan kode namun lebih pada pemaksaan,
Alhasil Zidan meraih tangan Seli dan mereka berjabatan sedangkan Seli terus memegang erat lengan Zidan sampai Zidan mulai merasa sedikit kesal karena dia sulit melepaskan lengannya sendiri.
"Astaga...wanita ini agresif sekali, bagaimana bisa ada wanita sepertinya" gumam Zidan dalam dirinya merasa risih,
"Ahaha...ternyata benar dugaanku kita memang dari negera yang sama jangan jangan kita berjodoh" ucap Seli yang masih memegang lengan Zidan dengan erat.
Zidan hanya menanggapinya dengan senyuman kecil dan dia secara langsung melepaskan lengannya dengan paksa dan tak sengaja menghempaskan lengan Seli cukup kuat namun walau begitu Seli tetap menatapnya berseri seri karena terkagum dengan wajah tampan Zidan.
"Maaf nona Seli saya sudah harus pergi, bisakah anda membiarkan saya pergi sekarang?" Ucap Zidan karena dia takut Seli akan menahannya lagi.
Dan ternyata benar saja Seli ikut berdiri dan menahan lengan Zidan lalu dia meminta nomor Zidan secara blak blakkan di depan banyak orang tanpa rasa malu sedikitpun.
"Ehh tampan tunggu, jika kau mau pergi setidaknya tolong berikan aku nomor ponselmu" ucap Seli dengan suara yang keras,
"Ini kartu namaku di sana ada nomor ponselnya" ucap Zidan sambil memberikan kartu namanya.
Saat Seli mengambil kartu itu dia sangat senang bahkan sampai mencium kartu nama tersebut berkali kali, dia juga tidak terlalu memperhatikan Zidan karena perhatiannya teralihkan oleh kartu nama tersebut sehingga ada kesempatan bagi Zidan untuk kabur.
Zidan langsung bergegas pergi dengan cepat dari sana dan langsung mengemudikan mobilnya secepat yang dia bisa sedang Seli baru sadar dengan kepergian Zidan ketika Zidan sudah pergi jauh dari tempat itu.
"Aaahh...aku berhasil mendapatkan pangeranku ahaha senang sekali, tampan...." Ucap Seli kegirangan dan dia seketika dia terperangah melihat pujaan hatinya sudah tidak ada di hadapannya,
"Aishh di mana pria tampan itu, kenapa dia bisa menghilang secepat itu padahal aku belum mengobrol cukup lama dengannya" gerutu Seli sedikit kesal.
Walau begitu Seli kembali senang saat dia melihat kartu nama milik Zidan di tangannya, Seli sangat senang dan terlalu gembira sampai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan dia terus berjalan sambil berputar putar dengan memegang kartu namanya.
__ADS_1
"Yeayy...setidaknya aku mendapatkan nomor ponsel sekaligus alamat kantor pria tampan itu, ahaha...aku beruntung sekali, tidak sia sia aku menunggunya selama seminggu. Tampan tunggu aku...." Teriak Seli dengan gembira.
Dia bahkan tidak perduli dengan tatapan beberapa orang yang nampak mengira Seli gila karena terus tertawa senang dan berteriak mengenai pria tampan di jalanan.
Di sisi lain Zidan benar benar merasa sangat lega setelah berhasil melarikan diri dari Seli dan dia sampai mengusap dadanya beberapa kali karena saking kesalnya mendapatkan hal semacam itu di tempat umum oleh perempuan yang sama sekali tidak dia kenal sebelumnya.
"Aishh siapa dia sebenarnya, kenapa bisa ada wanita semacam dia di dunia ini, aku berharap tidak akan bertemu dengannya lagi" gerutu Zidan sambil mengatur nafasnya.
Berbeda dengan Zidan Seli justru sangat berharap dia bisa bertemu dengan Zidan secepatnya, apalagi dia sudah berniat ingin kembalik ke negara asalnya namun karena bertemu dengan Zidan dia mengundurkan niatnya itu.
"Maafkan aku ya Ratu, tadinya aku ingin datang menemuimu dan memulai hidup baru lagi bersamamu namun aku sudah menemukan pangeran tampanku jadi aku tidak bisa melepaskannya begitu saja dan aku yakin kau juga pasti setuju dengan keputusanku iya kan" ucap Seli berbicara sendiri sambil memegangi sebuah pas foto di mana ada gambar dia dan Ratu ketika mereka SMA.
Lagi lagi Seli memeluk foto tersebut dan kartu nama Zidan yang baru saja dia dapatkan, lalu dia merebahkan tubuhnya di ranjang dengan perasaan yang berbunga bunga.
******
Ratu yang tengah berada di kantor dan mengerjakan beberapa pekerjaan tiba tiba saja dia bermain beberapa kali padahal dia tidak sedang flu.
"Hacimm....ehh siapa yang sedang membicarakan ku?" ucap Ratu sambil menggosok hidungnya perlahan.
Karena merasakan hidungnya yang gatal Ratu pun merogoh tas nya dan hendak mengambil tisyu yang biasa dia bawa ke mana mana namun sayangnya dia malah menjatuhkan ponselnya ke lantai.
"Brakk...." Suara ponsel Ratu yang jatuh,
"Aduhh ponselku" ucap Ratu sambil segera mengambilnya saat Ratu hendak memeriksanya dia melihat sebuah foto layar kunci ponselnya yang sudah dia setel dengan foto dia dan Seli saat SMA.
Dulu sebelum Seli pergi ke luar negeri bersama ibunya mereka selalu berjanji satu sama lain untuk memasang foto bersama mereka di layar kunci ponsel mereka masing masing, dengan tujuan agar mereka tidak melupakan satu sama lain meski sesuatu terjadi diantara mereka.
Dan Ratu masih melakukan janji itu sampai saat itu begitu pula dengan Seli, melihat foto tersebut secara tidak sengaja, membuat Ratu kembali mengingat sosok Seli.
__ADS_1
"Seli aku harap kau selalu baik baik saja aku sangat merindukanmu, kapan kau akan kembali padaku" gerutu Ratu dan memeluk ponselnya sendiri.