PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Memotong Rem Mobil


__ADS_3

Mala tertunduk lesu tapi dia juga tidak bisa merajuk pada kakaknya hanya karena sebuah makanan.


"Yahhh....kakak, tapi sudahlah aku bisa memasak makanan yang ada di lemari es saja" ucap Mala menerima dengan pasrah.


Mala berjalan gontai dengan lesu pergi ke dapur dan memasak mie instan karena hanya itu makanan yang tersisa di dalam lemari es nya sedangkan Ratu ia langsung masuk ke kamarnya dan beristirahat dia menggerutu menyalahkan sekretaris Han karena membantunya dan berdebat dengan sekretaris Han, Ratu jadi melupakan hal sepenting itu.


"Aahhh....aku merasa bersalah pada Mala, tidak papa besok aku akan membelikan makanan kesukaannya" gerutu Ratu meyakinkan dirinya sendiri.


Di belahan bumi yang lain nyonya Wulan sudah berhasil mengelabui sekretaris Diah, malam itu dia sengaja menaruh beberapa berkas kepemilikan perusahaan juga rumah di atas meja kantornya begitu saja, karena semua surat itu adalah surat palsu yang sudah beras namakan dirinya sebagai pemiliki semua Aset keluarga Atmaja padahal berkas yang asli masih tersimpan dengan baik oleh tuan Randi, jangankan sekretaris Diah nyonya Wulan sendiri sebagai ibunya sulit untuk mendapatkan surat yang asli karena hanya tuan Atmaja dan putranya Randi yang menyimpan semua itu.


"Haha...dia pasti akan terkecoh dengan surat palsu ini, tadinya aku akan menggunakan semua surat palsu ini untuk kepentinganku mengambil alih semua aset dari Randi tapi karena ada sekretaris Diah terpaksa aku harus menggunakannya lebih awal" gumam nyonya Wulan dengan kesal.


Tak lama dia sengaja menyuruh sekretaris Diah untuk masuk ke ruangannya lalu setelah dia masuk nyonya Wulan beralasan keluar sebentar mengurus beberapa hal dan meminta sekretaris Diah untuk membereskan berkas yang berserakan diatas mejanya, semua itu adalah bagian dari rencana nyonya Wulan untuk menjebak sekretaris Diah dan mendapatkan bukti atas kelicikannya.


Sekretaris Diah pun mengikuti perintah nyonya Wulan tanpa ada perasaan curiga sedikitpun sebab dia mengira bahwa nyonya Wulan belum mengetahui semua rencananya, saat tengah memarpihkan berkas tersebut dia melihat ada surat surat pengalihan hak waris dan kekuasaan, tanpa pikir panjang sekretaris Diah mengambil dan membacanya dengan teliti.


"Hah....bagaimana bisa ada surat sepenting ini dalam tumpukan berkas kerja nyonya Wulan?, Apa jangan jangan dia lupa?... Tidak....tidak mungkin seorang nyonya Wulan begitu ceroboh terhadap surat yang sangat berharga baginya...ini pasti ada yang tidak beres" gerutu sekretaris Diah mulai merasa curiga.


Dia memeriksa dan menatap ke berbagai arah mencari jika ada camera tersembunyi di ruangan tersebut namun dia tidak menemukan apapun, untuk berjaga jaga sekretaris Diah memotret surat surat penting itu lalu kembali menaruhnya di tempat semula.


Dia duduk terdiam di sofa ruang kerja nyonya Wulan hingga nyonya Wulan kembali dan menyerahkan beberap arsip penting agar sekretaris Diah dapat menyimpannya ke gudang dan menyalin beberapa arsip kerjasama dengan beberapa perusahaan tersebut.

__ADS_1


Sekretaris Diah pun mengambilnya tanpa banyak bicara dia pergi keluar dan menatap curiga ke arah nyonya Wulan dengan ujung matanya, rasanya semua itu terlalu janggal bagi sekretaris Diah, dia pun menyelidiki yang sebenarnya, saat keluar dari ruangan nyonya Wulan sekretaris Diah tidak benar benar keluar dari sana namun dia sengaja mengintip dari balik pintu.


Nyonya Wulan bergegas mencari surat surat tadi karena dia pikir pasti sekretaris Diah sudah mengambilnya namun dia kecewa saat melihat surat surat itu masih ada dan kumplit seperti sedia kala.


"Hah...bagaimana mungkin sekretaris Diah tidak mengambil surat surat ini, bukankah inilah yang dia ingin rebut dariku?" Gerutu nyonya Wulan merasa heran dan bingung.


Mendengar itu sekretaris Diah tidak bisa menahan kekesalannya dia langsung kembali masuk dan melabrak nyonya Wulan begitu saja.


"Ohhh....jadi kau sengaja menaruh surat surat itu agar aku mengambilnya, kau ingin menjebakku yah?" Bentak sekretaris Diah dengan tatapan sinis dan tajam,


"Diah...apa yang kau lakukan di ruanganku, kenapa kau tiba tiba muncul?" Tanya nyonya Wulan dengan kaget tak karuan,


"Ahhh...sial dia pasti mendengar gerutuanku barusan" gumam nyonya Wulan yang mulai merasa panik.


"Brakkk....dengarkan aku, kau tidak akan pernah bisa menjebak wanita selicik aku, hahaha kau pikir aku bodoh akan mengambil santapan dengan mudah?, Berani kau menjebakku maka rasakan akibatnya!" Bentak sekretaris Diah dengan ancaman yang membuat nyonya Wulan bergetar.


Nyonya Wulan tau dia sedang berhadapan dengan orang seperti apa, sekretaris Diah bahkan bisa lebih nekat darinya dia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, sekalipun harus saling membunuh diantara dia dan musuhnya.


"Di..Diah ..saya bisa jelaskan, tolong jangan salah paham dahulu" ucap nyonya Wulan berusaha menjelaskan,


"Apa?, Aku akan mendengar sebuah pembelaan dari penghianat hahaha" balas sekretaris Diah dengan tawa yang menggelegar,

__ADS_1


"Cukup sekretaris Diah, di sini kau lah penghianat diantara kerjasama kita, kau pikir aku tidak tau dengan semua rencana busukmu untuk mengambil aset keluargaku setelah aku berhasil mengambilnya dari Randi iya kan?" Bentak nyonya Wulan yang tiba tiba saja memiliki keberanian melawan sekretaris Diah.


Mendapat bentakkan dari nyonya Wulan yang tiba tib seperti itu sekretaris Diah sama sekali tidak merasa takut atau pun tergoyahkan dia justru malah bertepuk tangan beberapa kali dan kembali membalas ucapan nyonya Wulan.


"Prok....prok...prok....bagus...bagus sekali jika anda tau siapa saya dan apa rencana saya sebenarnya, dengan begitu saya tidak perlu lagi bekerja dengan orang lemah sepertimu, mulai sekarang kita lihat siapa yang akan mendapatkan harta itu lebih dulu aku atau kau nyonya Wulan yang terhormat" ucap sekretaris Diah lalu pergi dari ruangan itu.


"Sekretaris Diah kau aku pecat, pergi dari perusahaanku dan jangan pernah menghadap padaku lagi atau aku akan menghancurkan karir dan hidupmu!" Teriak nyonya Wulan dengan ancaman,


"Tanpa kau perintah aku akan pergi sendiri dengan senang hati" jawab sekretaris Diah tidak perduli sedikitpun dengan ucapan dan semua ancaman nyonya Wulan.


Sekretaris Diah pergi dengan perasaan kesal dan menaruh dendam yang begitu besar dalam dirinya dia mengambil semua barang barang miliknya dan meninggalkan perusahaan itu, tidak menyangka semua rencana yang sudah dia rancang sejak lama harus hancur karena kecerobohan dirinya sendiri.


"Arghhh...bagaimana bisa dia mengetahui semua rencanaku, sial" gerutu sekretaris Diah berdecak kesal.


Saat hendak berjalan menuju mobilnya sekretaris Diah memiliki ide jahat saat melihat mobil nyonya Wulan terparkir tepat di samping mobilnya.


"Haha...jika aku tidak bisa mendapatkan harta itu maka dia juga tidak akan pernah mendapatkannya, rasakan ini nyonya Wulan yang sombong" ucap sekretaris Diah sambil memotong rem mobil nyonya Wulan menggunakan alat yang dia bawa dari mobilnya.


Pekerjaan sabotase seperti itu sangat mudah dilakukan oleh sekretaris Diah karena dia memang ahli dalam bidang seperti itu, setelah berhasil memotong rem mobil nyonya Wulan, dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sana, sekretaris Diah tau jika sampai nyonya Wulan kecelakaan akibat rem blong maka semuanya akan diselidiki dan kecurigaan akan mengarah padanya, maka dari itu sekretaris Diah langsung mengemasi semua barang barang di apartemen milik nyonya Wulan yang sempat dia tempati lalu segera memesan pesawat penerbangan ke negara X tempat dia tinggal pada awalnya.


"Dengan begini aku tidak akan mudah di lacak" ucap sekretaris Diah sambil memakai kacamata hitam.

__ADS_1


Dia pergi ke bandara internasional dan segera pergi dengan penerbangan saat itu menuju negara asalnya, bahkan demi menghilangkan jejak kecurigaan dia sengaja memalsukan jam dan waktu keberangkatannya, sekretaris Diah sangat ahli untuk menghilangkan bukti dan jejak kejahatannya.


__ADS_2