PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Memalukan


__ADS_3

Ratu sudah sangat jengkel melihat pemandangan yang membuat dia muak ketika di hadapan Steven Mala bisa berubah dengan cepat dan seperti terkena hipnotis semua ucapan Steven dia turuti dan di iyakan sedangkan kakaknya sendiri dia abaikan dan dia anggap seperti tidak ada diantara mereka.


Ratu hanya bisa memasang wajah cemberut dan memakan makanan yang sudah dia sajikan sebelumnya dengan perasaan kesal campur aduk tak menentu.


Mala justru malah sibuk memberikan makanan itu kepada Steven bahkan menyuapinya dihadapan Ratu.


"Astaga....aku sudah tidak bisa melihat pemandangan yang menjengkelkan ini, Mala kau urus saja pria ini, kakak mau tidur, selamat malam kalian berdua manusia menjengkelkan!" Ucap Ratu yang sudah kehabisan kesabaran,


Steven dan Mala keduanya tidak perduli dengan ucapan Ratu mereka hany tersenyum melihat tingkah Ratu yang nampak frustasi dan masuk ke dalam kamarnya.


Steven terpaksa harus menginap di rumah Ratu dan di tidur di sofa, Mala menyiapkan selimut dan bantal untuk Steven sedangkan Ratu sudah tidur lebih dulu dia benar benar tidak perduli dengan Steven yang berada di rumahnya.


Steven sengaja melakukan itu untuk mengambil hati Mala dan mendapatkan Ratu lewat Mala yang sangat menyukainya, Steven bahkan banyak bertanya pada Mala mengenai kebiasaan Ratu juga tentang semua yang Ratu suka dan tidak suka, parahnya Mala juga malah bekerja sama untuk membantu Steven agar bisa mendapatkan hati kakaknya tersebut.


Seandainya saja Mala tau semua masala lalu diantara Ratu dan Steven mungkin dia tidak akan menyukai Steven seperti saat ini, dan mungkin saja Mala juga akan balik membencinya, sayangnya Mala.tisak mengetahui semua itu sehingga dia tertipu dengan tampang Steven yang memang tampan dan sikap lembutnya yang bisa membuat semua perempuan jatuh cinta kepada dirinya.


"Mala terimakasih sudah mengijinkanku untuk menginap di sini kamu adik ipar terbaik di dunia" ucap Steven sengaja memuji Mala dan lagi lagi berhasil mendapatkan kepercayaan dari Mala.


"Tidak papa aku tidak keberatan jika kak Steven setiap hari menginap di sini, aku juga akan turut senang jika aku benar benar bisa memiliki kakak ipar setampan kak Steven hehe" jawab Mala yang begitu senang.


Dia pun kembali ke kamarnya dengan riang dan begitu bahagia karena keesokan paginya dia bisa melihat wajah tampan Steven ketika bangun tidur, bahkan saking bahagianya Mala dengan kedatangan Steven dia sampai terbawa mimpi bahwa kakaknya sungguh menikah dengan Steven lalu dia lah yang menjadi saksi dari kebahagiaan kakaknya tersebut.


Menjadi adik terbaik sepanjang masa yang berhasil memilihkan pasangan tampan di dunia bagi kakaknya tercinta.


Mala memang sudah tidak bisa tertolong lagi, dia sudah terhipnotis dengan ketampanan serta kelembutan Steven.


Di sisi lain tuan Randi dan sekretaris Han yang sudah berhasil mendapatkan bukti rekaman cctv dari tempat parkir mobil nyonya Wulan dimana di sana terlihat sekretaris Diah yang melakukan penyabotase an secara di sengaja kepada mobil nyonya Wulan dengan memotong kabel rem mobil.


Tuan Randi tersenyum dengan puas karena sudah mendapatkan bukti yang kuat di tangannya namun walau begitu dia sengaja tidak memberikan bukti itu kepada polisi, dia sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan sekretaris Diah, meski Randi tau betul sekretaris Diah juga menginginkan hartanya, tapi jika bukan lewat tangan ibunya maka semua itu tidak akan pernah berhasil.


"Tuan apa kita harus menyerahkan bukti ini pada polisi dan segera menangkap sekretaris Diah?" Tanya sekretaris Han begitu bersemangat,


"Tidak, kita biarkan sekretaris Diah hidup dengan bebas, aku tau dia membenci Ratu dan target utamanya memang Ratu bukan aku, kita akan pakai bukti ini untuk senjata di kemudian hari jika di perlukan" jawab tuan Randi dengan senyum sinis yang mengembang di wajahnya.


Sekretaris Han mengangguk mengerti dia tau apa yang diputuskan oleh tuan Randi tidak pernah salah sekalipun itu sedikit mengecewakan baginya, karena harus membiarkan orang selicik sekretaris Diah menikmati hidup yang tenang di luar sana sedangkan nyonya Wulan harus bertaruh nyawa di ruang rawat.


Sampai saat ini kondisi nyonya Wulan sama sekali belum ada kemajuan dia masih tetap.tak.sadarkan diri ini sudah hari ke tiga semenjak.kecelakaan tersebut dan masih belum ada tanda tanda bahwa nyonya Wulan akan sadar.


Sebelumnya saat Randi menghadap kepada dokter yang menangani nyonya Wulan dokter tersebut sudah menjelaskan bahwa kemungkinan nyonya Wulan untuk sadar sangatlah kec.jikalun dia sadar dia akan mengalami lumpuh seumur hidup sebab pembekuan darah di kakinya dan saraf yang sudah tidak berpungsi menyebabkan dia tidak dapat menggerakkan kedua kakinya lagi.


Randi meminta kepada dokter agar berusaha keras menyelamatkan hidup nyonya Wulan, meski dia memiliki dendam namun masih banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan mengenai ibunya dan semua rahasia yang sudah terbongkar, Randi hanya ingin mendapatkan kesaksian langsung dari mulut nyonya Wulan agar dia semakin yakin dengan semua yang sudah dia lihat dan dia baca.


Meski rekaman video sebelumnya sudah sangat jelas menjadi bukti kuat tapi dia tetaplah ingin mendengarkan langsung dari mulut nyonya Wulan, dan ingin mengetahui alasan nyonya Wulan merencanakan hal jahat dan ingin merebut semua harta warisan yang seharusnya menjadi milik Randi.


Saat ini Randi pergi melihat ke ruangan di mana nyonya Wulan di rawat, untuk pertama kalinya dia melihat ibu yang mengurusi dia sejak kecil terbaring diatas ranjang dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya, dan entah mengapa ketika melihat wajahnya Randi merasa hatinya begitu sakit bak diremas dengan kuat.

__ADS_1


"Bu, kenapa kau harus memiliki ide licik, padahal jika kau menginginkan semua harta ini dengan baik baik memintanya kepadaku, aku akan dengan rela memberikan semuanya kepadamu, atas semua jasa yang kau berikan kepadaku aku tidak akan keberatan kehilangan semua harta yang bisa aku cari lagi" ucap Randi dengan menatap lekat wajah nyonya Wulan.


Berkali kali tuan Randi menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, Randi berusaha tegar dan kuat dia menahan air mata dengan sekuat tenaga agar tidak jatuh membasahi pipinya.


"Aku tidak akan menjadi cengeng hanya karena wanita yang licik sepertinya, meski dia sudah membesarkan ku dan mengurusimu sejak kecil mengapa aku merasa dia tetap seorang wanita yang jahat" gerutu Randi yang merasa bingung pada perasaannya sendiri.


Akhirnya Randi keluar dari ruangan itu dan tidak ingin terus berlarut larut dalam kesedihan saat dia keluar dari ruangan dia bertemu sekretaris Han duduk di luar dengan setia menemaninya.


"Han ayo kita pulang, aku akan menyelesaikan beberapa urusan di kantor cabang esok hari" ucap tuan Randi.


Mereka pergi ke kediaman lama rumah keluarga Atmaja, rumah di mana ayah dan ibunya dulu pernah tinggal,.dan itu juga rumah masa kecil tuan Randi, berbagai foto kenangan masa kecilnya masih tertempel dengan jelas di dinding ruangan tengah juga pada kamarnya.


"Sudah lama sekali aku tidak tidur di kamar ini, foto itu aku benci wajahku saat kecil, aku benci karena pernah sangat menyayangi wanita yang bukan ibuku" gerutu Randi sambil memegang erat pas photo di tangannya.


Randi mengambil foto di dalam bingkai tersebut lalu dia membakarnya menggunakan korek api yang selalu dia bawa kemana mana, tidak hanya satu foto yang dia bakal, seluruh foto masa kecilnya yang nampak tengah bersama nyonya Wulan, semuanya dia bakar hingga tak tersisa satu pun.


"Aku harus menghapus semua kenangan palsu itu, dia tidak benar benar menyayangiku dia hanya menyayangi hartaku sama seperti kebanyakan wanita lainnya" ucap tuan Randi dengan emosi dan dendam yang membara.


Dia sedikit merasa ringan dan lega setelah berhasil menghanguskan semua foto kenangan masa kecilnya bersama nyonya Wulan.


Tuan Randi berusaha mengistirahatkan tubuhnya namun dia tetap tidak bisa, beberapa kali tetap terbangun sehingga dia memutuskan untuk mencari cara agar dia dapat merasa tenang dan tidur dengan nyenyak.


Awalnya tuan Randi berusaha menghubungi sekretaris Han agar menemaninya begadang malam ini karena dia tetap tidak dapat memejamkan matanya dan tertidur dengan lelap namun sudah berkali kali menghubungi sekretaris Han, tetap saja tidak ada satu panggilan pun yang di angkat oleh sekretaris Han.


Tuan Randi sudah mencoba memakan pil obat tidur namun sudah beberapa saat dia menunggu reaksi dari obat tersebut tetap saja tidak ada reaksinya, alhasil hanya ada satu cara yang bisa membuatnya tenang yaitu mendengar suara Ratu setidaknya dia tau hanya Ratu wanita yang tidak memandang uang dan Randi mempercayainya.


"Ahh....terpaksa aku harus menghubungi Ratu dan menahan gengsiku sendiri" gerutu tuan Randi sambil segera menelpon Ratu.


Saat itu Ratu sudah tertidur dan dia harus terbangun karena dering ponselnya terus berbunyi, Ratu mengangkat panggilan dengan keadaan yang masih setengah sadar dan mengantuk.


"Hallo, siapa ini aku sangat mengantuk jangan menelponku di jam sembarangan!" Bentak Ratu tanpa tau bahwa orang yang menelponnya adalah tuan Randi,


Mendengar suara Ratu yang begitu khas, tuan Randi langsung tertawa kecil, bukannya marah karena di bentak oleh Ratu, justru tuan Randi merasa senang, dia sengaja tidak menjawab seruan dari Ratu karena masih ingin mendengar ocehannya.


"Hey...siapa sih menelponku malam begini, hey ...kau mau bicara apa?, Kenapa diam saja aku akan tidur kembali..." Ucap Ratu merasa aneh.


Meski merasa aneh namun Ratu sangat enggan sekali membuka matanya untuk melihat siapa yang menelponnya sehingga dia terus bicara sendiri tanpa sadar.


Tuan Randi menaruh ponselnya di samping telinganya dan terus mendengar ocehan Ratu yang merasa kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari yang menelponnya, sampai beberapa saat tuan Randi akhirnya bisa tertidur tanpa dia sadari.


Begitu pun dengan Ratu yang tertidur kembali tanpa mematikan panggilan telponnya, untung batrai ponsel tuan Randi habis sehingga panggilan pun terputus dengan sendirinya.


Ke esokan paginya Ratu yang lupa kalau di rumahnya ada Steven dia keluar dari kamar dengan rambut yang berantakan dan sambil meregangkan tangannya juga menguap.


"Hoammm....selamat pagi Steven" ucap Ratu menyapa Steven yang sudah duduk di sofa ruang tamu,

__ADS_1


Beberapa detik dia tidak sadar sedang bicara apa dan pada siapa sampai Steven menjawab salamnya barulah Ratu tersadar dan langsung berlari kembali masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang begitu malu.


"Pagi Ratu....." Jawab Steven sambil tersenyum melihat tingkah Ratu yang baru dia ketahui.


"Eh...apa tunggu, tadi aku bilang Steven...arkhhh....aku memalukan sekali" gumam Ratu yang mulai sadar.


Dia langsung berlari masuk ke dalam kamar dan melihat ke depan cermin, melihat tampilannya yang begitu berantakan dan memalukan.


"Aishh.....aku ini bodoh sekali, bagaimana aku bisa lupa kalau dia ada di rumahku, ahhh semua ini karena kebodohanmu, bagaimana aku menghadapinya nanti itu akan sangat memalukan, semoga saja dia tidak akan pernah mengungkitnya di depanku atau pun orang lain" ucap Ratu penuh harapan.


Ratu segera membersihkan dirinya, bersiap siap dan pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Mala dia hanya menitipkan salam pada Steven bahwa dia harus pergi lebih awal hari ini dengan alasan banyak hal yang akan dia urus sebelum ke kantor.


Steven hanya mengangguk saja dan Ratu segera pergi dari rumah, dia tidak bisa terus di rumah itu selama masih ada Steven juga di sana, itu membuatnya sangat tidak nyaman dan tidak bebas untuk berbuat apapun yang biasanya dia lakukan.


Sepanjang perjalanan Ratu terus menggerutu kesal karena dia telah melakukan hal yang paling konyok sepanjang hidupnya, bagaimana bisa dia membuat dirinya kehilangan muda di depan orang yang pernah dia sukai di masa lalu.


"Aishhh...tidak itu sungguh memalu kan, aku harap dia tidak melihat wajah bengkak ku tadi huhu..." Gerutu Ratu sepanjang jalan.


"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun tidur di rumahku lagi termasuk Steven jika nanti dia mengambil kesempatan lagi pada Mala, maka lebih baik aku menginap di rumah Oma Rika saja setidaknya dengan Zidan aku tidak perduli meski harus terlihat konyol itu sudah biasa juga" tambah Ratu bicara sendiri.


Ratu memang sudah bersahabat sangat lama dengan Zidan jadi dia sudah tidak merasa malu lagi jika terlihat jelek di depannya dan entah mengapa ketika di dekat Zidan atau tengah bersamanya Ratu selalu bisa menjadi dirinya sendiri dan dia selalu bahagia, hari harinya selalu berwarna ketika bersama Zidan, dia juga selalu ada di saat Ratu butuhkan, Zidan selalu dengan sigap membantunya dalam segala kondisi bahkan di saat dirinya juga tengah kesulitan namun Zidan masih selalu mementingkan orang lain di banding keperluan dirinya sendiri.


Itulah yang membuat Ratu sangat nyaman berada di dekat Zidan meski dia harus terlihat konyol sekalipun.


Ratu pergi ke sebuah swalayan dia sarapan di sana seorang diri menikmati roti lagi sebagai menu sarapannya.


"Ahhh...sudah dua kali aku hanya sarapan roti tawar, rasanya hidupku semakin tidak ada rasa dan hampa" ucap Ratu sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.


Ratu frustasi dengan kehidupannya sendiri namun dia juga tidak dapat mengubah apapun dalam hidupnya dia hanya perlu menjalani hidup dengan sekuat tenaga dan terus menjadi lebih baik dalam setiap harinya meskipun itu sangat sulit untuk dilakukan.


Setelah sarapan karena masih cukup banyak waktu sebelum jam kerja Ratu memutuskan pergi ke makan ayah dan ibunya karena kebetulan tempatnya tidak jauh dari sana, Ratu pergi menggunakan taxi agar bisa lebih cepat dan dia tak lupa membeli dua buket bunga saat di perjalanan.


Makam kedua orang tuanya sudah sangat penuh dengan beberapa tumbuhan liar di atasnya dan temboknyapun sudah kotor, Ratu merasa sedih mengingat dia terlalu sibuk menata hidupnya hingga lupa untuk membersihkan makam kedua orang tuanya.


"Ayah...ibu aku datang berkunjung hari ini, maaf yah aku tidak pernah ke sini, tapi aku selalu mendoakan kalian berdua, aku tau kalian selu mengawasiku dari atas sana" ucap Ratu berbicara di depan makan kedua orangtuanya yang bersebelahan.


Melihat makan kedua orang tuanya Ratu jadi ingat akan kematian dirinya yang dia sendiri tidak pernah tau kapan ajak itu akan tiba.


"Jika aku meninggal nanti, aku juga ingin di makamkan di sini, aku ingin kembali berkumpul.dengan keluarga kecil kita" ucap Ratu yang tiba tiba saja keluar dari mulutnya.


Ratu menyimpan buket bunga yang dia bawa de bawah batu nisan makam kedua orang tuanya, lalu dia melihat ke samping kiri makan ayahnya di sana ada makam mamah Diva, Ratu jadi teringat akan mamah Diva meski dia hanya ibu sambungnya tapi Ratu tau dia pernah hidup dengannya.


Ratu pun mengambil sebagian bunga dari buket bunga ayahnya dan Ratu langsung menaruhnya di bawah batu nisan makam mamah Diva.


"Mah...meski pun mamah bukan ibu kandungku tapi aku juga sangat menyayangimu, jangan khawatirkan tentang Astrid, mamah tidak bersalah atas apa yang dia lakukan, maka dari itu biarkan dia menanggung semua akibat perbuatannya sendiri" ucap Ratu sambil memegang batu nisan mamah Diva.

__ADS_1


__ADS_2