PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Bercerita pada Mala


__ADS_3

Rasanya Zidan merasa sangat malu ketika bertemu Ratu apalagi berbicara dengannya dia sungguh berniat untuk merelakan Ratu untuk Randi namun tiap kali menatap Ratu keinginan Zidan untuk memilikinya seakan tidak bisa dia tahan.


Itulah yang membuat Zidan memilih untuk menjaga jarak lebih dulu dengan Ratu, agar dia bisa benar benar melupakan Ratu dan merelakannya untuk orang yang juga dicintainya.


Setelah mendapatkan izin dari Zidan Ratu pun menunduk sambil berlenggang pergi meninggalkan ruangan itu, sedangkan Zidan langsung membuang nafas kasar saat Ratu sudah diluar dari pandangannya.


"Maafkan aku Ratu, aku sungguh tidak bermaksud untuk mengabaikanmu dan membuatmu sedih seperti tadi" gerutu Zidan merasa bersalah.


Dia kembali membereskan pekerjaannya dan menyibukkan diri sendiri dengan pekerjaan agar dia tidak terus memikirkan masalah Ratu di dalam kepalanya.


Sedangkan di sisi lain Ratu segera membereskan barang barangnya dan dia bergegas segera pulang lebih awal hari ini.


Dia menghirup udara dengan panjang dan membuangnya perlahan saat keluar dari kantor dan dia langsung menghentikan taxi menaikinya menuju rumah nya, di sisi lain Ratu tidak mengetahui bahwa sekretaris Diah sudah memperhatikannya sejak lama secara diam diam di belakangnya.


"Kau tidak akan bisa tersenyum seperti itu lagi kelak!" Ancam sekretaris Diah dengan mata yang sinis di balik sebuah pohon yang lumayan jauh dari tempat Ratu berdiri saat itu.


Selama perjalanan pulang Ratu sungguh merasa tidak enak hati dengan Zidan namun tidak ada yang bisa dia lakukan, dia juga tidak mungkin memberikan harapan pada Zidan karena memang dia tidak menyukainya.


"Tidak aku tidak boleh memberikan harapan palsu padanya, itu hanya akan semakin menyakiti dia dalam waktu yang lebih lama, tapi apakah aku jahat jika sama sekali tidak memberikan kesempatan kepadanya?" Gerutu Ratu memikirkan.


Hingga sampai di rumah Ratu masih terus memikirkan hal itu dan saat hendak membuka pintu rupanya Mala belum pulang dari toko bunga dan Ratu segera pergi ke sana, saat sampai di depan toko Ratu mendapatkan kejutan di mana tokonya sangat rame bahkan lebih rame dari sebelumnya.


Dia pun segera masuk dan langsung membantu Mala menyapa pelanggan serta melayaninya dengan baik dan penuh semangat meski dia baru saja ulang kerja dan memiliki banyak beban pikiran.

__ADS_1


Cukup lama dia membantu Mala melayani pelanggan akhirnya dia sedikit terhibur dan tidak terpikirkan mengenai masalahnya sendiri sampai Mala malah mengingatkannya.


"Kak, bagaimana pekerjaanmu hari ini dan apa kakak sudah memilih diantara kak Zidan atau kak Steven?" Ucap Mala bertanya begitu saja.


Mendengar nama Zidan dari Mala, sontak membuat Ratu langsung kembali teringat dan dia menjadi murung seketika dengan kepala menunduk lesu dan wajah yang ditekuk sempurna, dia duduk dengan lesu tak bertenaga di kursi sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya.


"Hmmm.....kakak sudah menolak Zidan dan sekarang kakak tidak tau harus bersikap bagaimana padanya, kakak juga merasa bersalah padanya" jawab Ratu mengutarakan perasaannya.


Saat ini tidak ada cara lain selain mengatakan semuanya ke pada Mala, setidaknya menceritakan masalah yang membuat kita pusing pada orang lain bisa meringankan sedikit beban dan kecemasan di dalam hati.


Mala yang mendengar Ratu merasa bersalah pada Zidan padahal sebelumnya mengaku tidak menyukainya tentu saja dia menjadi merasa bingung dengan hubungan asmara kakaknya itu. Karena penasaran dan tidak mengerti Mala langsung menanyakannya pada Ratu untuk mencari kebenaran.


"Kak, apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa kakak menolak kak Zidan bukannya selama ini kalian sangat dekat bahkan aku kira kakak menyukainya" ucap Mala bertanya dengan penasaran.


"Hmm..., Masalahnya bukan dia yang sebenarnya makan suka, selama ini dia memang terlalu baik pada kakak tapi kakak hanya menganggapnya sebagai sahabat tidak lebih dari itu dan jika kamu mengira kakak menyayanginya jelas itu benar karena dia sahabat kakak" jawab Ratu menjelaskan.


"Astaga kak, kau ini apa tidak bisa membedakan mata sayang dan mana sahabat, pantas saja kak Zidan menjaga jarak darimu dia pasti sangat kecewa" jawab Mala sambil menggelengkan kepalanya.


Kini Ratu dan Mala hanya bisa saling diam sampai akhirnya Mala kembali bertanya karena masih belum mengetahui siapa pria yang disukai oleh kakaknya itu.


"Eumm...kak, jika bukan kak Zidan yang kakak sukai lantas siapa pria yang kakak harapkan untuk menjadi pacar kakak?" Tanya Mala dengan serius,


"Kakak tidak tahu untuk saat ini kakak masih ragu, namun setiap kali kakak bertemu dengan tuan Randi rasanya jantung kakak berdetak kencang dan kakak selalu gugup setiap kali dia menatap kakak, kakak rasa kakak juga sering mengkhawatirkannya tapi kakak takut perasaan ini hanya karena kakak dekat dengannya sama dengan bagaimana perasaan kakak pada Zidan" jawab Ratu dengan bingung.

__ADS_1


Mala tersenyum lebar mendengar pengakuan Ratu karena dia paham secara tidak langsung kakaknya sudah mengatakan bahwa dia memilih tuan Randi untuk menjadi pasangannya.


"Kak, kau harus bisa yakin dengan perasaanmu sendiri jika kamu berani menolak tuan Randi sama seperti kau menolak kak Zidan artinya memang kakak tidak menyukainya tapi jika kakak tidak bisa menolak tuan Randi maka lebih baik kakak menerimanya dengan pasti, cobalah beri dia kesempatan kak dan jangan bohongi perasaan kakak sendiri" jawab Mala sambil menggenggam tangan Ratu dan berusaha meyakinkannya.


Ratu membalas tatapan Mala dan tersenyum sambil mengangguk kepadanya, kini Ratu sudah siap untuk membuat keputusan, Mala pun turut senang melihat kakaknya tidak murung lagi seperti sebelumnya.


Meski dia belum bisa membantu kakaknya dengan permasalahan Zidan yang terus menjauh dan menjaga jarak dengan Ratu.


Saat itu karena sudah cukup larut dan tidak ada lagi pelanggan yang datang ke toko Ratu dan Mala segera menutup toko lalu mereka pulang ke rumah bersama.


Di sisi lain tuan Randi yang sudah berbaikan dengan nyonya Wulan kini mereka kembali berhubungan seerat sebelumnya, mereka menikmati makan malam bersama dan ada sekretaris Han yang juga bersama mereka karena sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh nyonya Wulan.


Suasan di meja makan saat itu begitu hangat dan nampak terlihat jelas keharmonisan keluarga mereka meski pun kini hanya tinggal mereka bertiga yang menempati rumah mewah tersebut.


Saat tengah menikmati makan malam nyonya Wulan tiba tiba saja menanyakan perihal hubungan tuan Randi bersama Ratu di depan sekretaris Han yang sontak membuat tuan Randi tersedak saking kagetnya.


"Randi bagaimana dengan hubunganmu dan Ratu kapan kau akan mempertemukan ibu dengannya secara resmi?" Tanya nyonya Wulan tiba tiba,


"Ohok...ohok....Bu, apa kau sungguh tidak sabar dengan itu?" Jawab tuan Randi kembali bertanya,


"Tentu saja bahkan jika bisa ibu ingin kamu menikahinya secepatnya ibu sudah tua dan teman teman ibu sudah memiliki cucu yang lucu, ibu juga tidak mau kalah dengan mereka" jawab nyonya Wulan yang membuat tuan Randi membelalakkan mata saling tatap dengan kebingungan bersama sekretaris Han.


Sekretaris Han hanya bisa menaikkan kedua alisnya menjawab tatapan mata tuan Randi karena dia juga merasa kaget mendengar nyonya Wulan bertanya masalah cucu kepada tuan Randi karena sebelumnya dia sama sekali tidak pernah membahas mengenai hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2