PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
PERTENGKARAN DIVA DAN ASTRID


__ADS_3

Ratu mengangguk pelan dan berjalan bersama menuruni tangga menuju meja makan untuk makan malam, saat sampai di dapur nampak ada astrid yang duduk sendiri dengan memasang wajah cemberut di depan meja makan, ratu dan mama diva menghampirinya dengan wajah yang berseri seri, ratu berfikir astrid juga sudah berubah sama seperti ibunya namun ternyata dugaan itu salah besar, baru saja diva dan ratu mau duduk di kursi, astrid sudah berteriak memerintah mereka.


Hey...hey...hey...siapa yang menyuruhmu duduk, apa kau lupa...disini nyonyanya itu gue bukan lo lagi, sekarang cepet buatin gue makanan....pelayan ko lama sih (ucap astrid memerintah dengan sinis)


Berhenti memerintah ratu astrid, kita semua sama di rumah ini, kalo kamu mau makan buat sendiri (ucap mama diva, dengan menatap wajah astrid tajam)


Hellow...ada apa ma....apa mamah sakit?


Kenapa malah belain anak culun ini (bentak astrid penuh keheranan)


Stop..astrid...mama benar benar salah mendidikmu...cobalah kamu berubah menjadi anak yang baik, hilangkan pikiranmu yang gila akan harta dan kebencian pada ratu (teriak mama diva)


Apa...mama bilang, hilangkan?, berhenti untuk membenci orang yang sudah mengambil steven dariku?, itu yang mama mau hah?


Hahahaha...tidak ma, tidak akan semudah itu...aku tetaplah astrid anak mama yang jahat dan licik, jika mama mau berubah jadi baik, berubah saja sendiri, dan keluar dari rumah ini bersama si culun itu (teriak astrid lantang yang menggema di ruangan itu)


Kamu tidak bisa mengusir kami dari rumah ini (ucap mama diva)

__ADS_1


Hahahaha.....apa mama lupa, kan mama sendiri yang sudah merubah dan membalikan semua surat kepemilikan rumah beserta perusahaan atas namaku, jadi kalian hanyalah debu di rumah ini, yang bisa aku singkirkan kapan saja....hahahahaha (bentak astrid, dengan kemenangannya sambil tertawa).


Diva dan ratu saling pandang sekaligus merasa sangat kaget atas apa yang sudah terjadi, kesalahan yang dibuat diva sudah sangat fatal dan tidak bisa dia perbaiki lagi.


Berbeda dengan ratu yang terus bersikaf tenang dalam menghadapi situasi ini, karena dia sudah terbiasa akan hal yang demikian, lagi pula sebelum bi ina meninggal ratu memang sudah tau kalo semua kekayaan ayahnya bukan lagi atas nama dirinya, itu juga yang menjadi alasannya agar bertahan di rumah itu apapun yang terjadi, karena ingin mempertahankan dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik dirinya.


Ratu menghampiri diva yang sudah mulai berkaca kaca dan kini sudah terisak, ratu langsung memeluk erat tubuh diva untuk memberikan ketenangan dan kekuatan pada dirinya juga diva.


Tenanglah ma.....harta bukan segalanya aku juga sudah ikhlas bila semua ini bukan lagi miliku, apa yang seharusnya menjadi milik kita, maka yakinlah semua itu akan kembali lagi pada pemiliknya, allah itu adil ma, kita hanya perlu sabar dan ikhlas menghadapi semua ujiannya (ucap ratu lembut dengan perlahan melepaskan pelukannya dan memegang erat kedua tangan diva)


Diva yang mendapatkan perlakuan lembut penuh kasih sayang dari ratu semakin merasa bersalah akan perbuatannya sendiri.


Prok...prok...prokk..bagus bagus...drama yang luar biasa cup cup cup...hahahaha...mulai sekarang kalian pergi dari rumah ini, aku sudah tidak membutuhkan kalian....cepat pergi (bentak astrid sambil bertepuk tangan kemudian menyeret ratu dan diva keluar dari rumah ratu sendiri)


Brukkkkk (diva dan ratu jatuh tepat di atas tanah)


Dengar baik.baik astrid...kau anak durhaka...mulai sekarang aku putuskan silaturahmiku denganmu....sssretttttt (ucap diva lirih sambil berdiri dan meraih batu krikil dan menggoreskannya pada pergelangan tangan dirinya sebagai tanda putusnya tali silaturahmi antara anak dan ibu itu)

__ADS_1


Hahahahahaha....aku tidak perduli diva (ucap astrid sambil tertawa keras dan kembali masuk kedalam rumah)


Sementara diva terus terisak dalam tangisannya, bayangkan saja ibu mana yang tidak sakit hati jika diperlakukan seperti itu oleh anaknya sendiri, ratu ikut menitikan air mata dan dia memeluk diva erat,


Kuat ya ma...tenang saja masih ada ratu di sini (ucap ratu lirih)


Ratu bangkit dan berjalan mendekati pintu rumah dan menggedornya keras.


Astrid...buka...astrid...buka pintunya (teriak ratu)


Astridpun membuka pintu, dengan wajah yang sinis.


Ada apa lagi hah, apa kau mau memohon dan bersujud padaku untuk tetap tinggal di rumah ini (ucap astrid dengan sombongnya)


Tidak, aku hanya ingin mengambil pakaianku juga mama diva, itu saja, dan kau tenang saja aku tidak akan mengambil sepersenpun harta darimu (ucap ratu tak kalah sinis)


Silahkan ambilah serpihan sampah itu sebelum aku membuangnya nanti (ucap astrid membukakan pintu lebar lebar)

__ADS_1


Ratu langsung memapah tante diva untuk masuk kedalam rumah, pertama dia membantu tante diva berkemas dan mengobati luka di tangannya tadi setelah itu dia naik ke atas tangga dan memasukan semua pakaian dan buku buku yang dia perluka tak lupa dengan tabungannya juga barang barang lain yang dia sayangi, sesudah itu dia kembali turun menuruni tangga dan menghampiri tante diva, dia menggandeng tangan tante diva dan satunya lagi memegang koper merah miliknya, tanpa melihat ke arah astrid ratu terus berjalan keluar rumah, walaupun dia tidak tau harus pergi kemana malam malam begini, tapi rasanya kakinya itu tak bisa berhenti berjalan, ratu dan diva terus berjalan menyusuri jalanan yang sepi dan dingin di tengah gelapnya malam.


__ADS_2