PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Sikap Zidan


__ADS_3

Ponselnya dia turunkan begitu saja dan Steven adalah orang pertama yang melihat Ratu dia langsung berteriak sambil berlari menghampirinya.


"RATU!" teriak Steven sambil berlari tunggang langgang.


Zidan langsung berbalik dan dia juga langsung merasa lemas sambil menurunkan ponsel dari samping telinganya, Zidan tidak menyangka ternyata Ratu sudah berada tepat di hadapannya dan mendengar kemarahannya secara langsung.


Ratu hanya membalas tatapan Zidan dengan senyum miris sedangkan Steven segera membantu Ratu untuk berdiri meski dia tidak tau mengapa Ratu ambruk begitu saja.


"Ratu ayo bangun, ada apa denganmu sampai tidak tiba jatuh seperti itu" ujar Steven sambil membantu Ratu berdiri.


Ratu mulai kembali fokus pada dirinya dan dia mengabaikan Zidan yang berjalan menghampirinya.


"Maaf kak, tadi aku hanya lemas karena berlari dari persimpangan sampai ke sini, dan ini file yang kalian tunggu, sekali lagi aku minta maaf karena hampir terlambat memberikannya" tambah Ratu sambil menyerahkan file itu pada Steven,


"Sudah tidak papa, rapatnya akan segera mulai kamu istirahat lah di sini aku akan segera kembali setelah rapat selesai nanti, Zidan ayo kita pergi" balas Steven sambil mengajak Zidan untuk segera pergi bersamanya.


"A..ahh...iya" balas Zidan sambil mengabaikan Ratu.


Ratu menatap kepergian Zidan yang sekarang sudah tidak perduli lagi kepadanya, saat itu Ratu merasa sangat bersalah pada Zidan dan ingin meminta maaf kepadanya meski Ratu tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Zidan menjadi jauh darinya.


Padahal saat itu Zidan terlihat biasa saja dan bisa menerima penolakkan dari Ratu tapi kini tiba tiba saja sikapnya bisa berubah dengan cepat dan tidak memberitahu apa alasan perubahan sikapnya itu.


Ratu hanya bisa menghembuskan nafas lesu dan dia merasa lemas, akhirnya Ratu memilih untuk beristirahat di sana sama seperti yang diperintahkan oleh Steven sebelumnya.


Dan di sisi lain Steven juga Zidan sudah memulai rapat dengan baik di sana nampak Zidan tidak fokus karena beberapa kali dia salah menunjuk pada bidang presentasi yang tengah dia kerjakan untunglah saat itu Steven mengimbanginya sehingga rapatnya tetap berjalan dengan lancar.


Hingga rapat selesai. Steven langsung merangkul Zidan dan mengajaknya bicara.


"Hey, apa apa denganmu hari ini?, Apa kau sakit ha?" Tanya Steven dengan penasaran,


"Lepaskan tanganmu aku baik baik saja, dan cepat kembali ke perusahaanmu jangan menggangguku" balas Zidan sambil melepaskan rangkulan tangan Steven dari pundaknya.

__ADS_1


Steven menatap Zidan dengan menaikkan kedua alisnya karena merasa heran sedangkan Zidan berjalan lebih dulu meninggalkan Steven di belakang dia bahkan tidak pergi ke tempat di mana Ratu menunggu mereka kembali setelah rapat, dan Zidan pergi seorang diri ke ruangannya.


"Ehh...ada apa dengannya ku kira dia akan menjemput Ratu karena menyuruhku pulang?" Gerutu Steven dengan heran.


Akhirnya Steven pergi menemui Ratu dan mengajaknya untuk pergi kembali ke kantornya.


"Ratu apa kau sudah baik kan?" Tanya Steven,


"Iya aku sudah jauh lebih baik kak" jawab Ratu dengan senyum manisnya,


"Ya sudah ayo aku akan mengantarmu ke kantor" ajak Steven sambil menggandeng lengan Ratu.


Ratu menatap pada tangannya yang digandeng oleh Steven dia merasa aneh dan sedikit tidak nyaman sehingga Ratu meminta agar Steven melepaskan tangannya.


"Kak, bisa kau lepaskan lenganku aku bisa berjalan sendiri" ucap Ratu yang membuat Steven langsung melepaskan tangannya,


"Oh, maaf aku terbiasa dengan itu" jawab Steven sambil langsung melepaskannya.


"Ratu ayo masuk pintunya akan segera tertutup" ujar Steven sambil menarik lengan Ratu.


"Ma..maaf kak, aku melamun barusan" jawab Ratu dengan gugup dan merasa tidak enak.


"Tidak papa, lagian apa sih yang kamu lakukan sampai tidak sadar begitu, dan kenapa sedari tadi kamu seperti mencari seseorang, siapa yang kamu cari?" Tambah Steven bertanya lagi,


"Ohh....tidak kok aku tidak mencari siapapun" balas Ratu menyembunyikan semuanya.


Dia tidak mau membuat Steven merasa tidak nyaman karena dia yang sedari tadi mencari keberadaan Zidan padahal sudah ada Steven di sampingnya, namun meski Ratu menyembunyikan hal tersebut, Steven sudah mengetahui apa yang ada di pikiran Ratu.


"Jika orang yang kamu cari adalah Zidan dia sudah lebih dulu naik ke lantai atas dan mungkin sekarang sudah mulai mengerjakan pekerjaannya jadi kau tidak perlu cemas" ungkap Steven tiba tiba.


Ratu yang mendengar itu dia awalnya kaget karena Steven bisa mengetahui apa yang dia pikirkan tanpa harus menceritakannya secara langsung, namun di sisi lain Ratu juga merasa lega karena mengetahui bahwa Zidan sudah berada di kantornya.

__ADS_1


Sesampainya di lantai atas Ratu keluar dari lift lebih dulu namun dia heran karena Steven tidak ikut dengannya.


"Kak kenapa kau tidak keluar?" Tanya Ratu dengan heran,


"Aku hanya mengantarmu, dan sekarang harus segera pergi masih banyak pekerjaan di perusahaanku" jawab Steven dengan senyum kecil dan pintu lift kembali tertutup.


Ratu tertunduk lesu dan dia berjalan menuju ruangannya dia mulai menata semua jadwal untuk Zidan dalam satu Minggu kedepan, Ratu berkali kali menghembuskan nafas dengan berat karena dia masih merasa tidak nyaman dan selalu merasa gelisah dengan hubungan pertemanannya dengan Zidan.


Karena tidak bisa fokus dan terus terpikirkan dengan masalah itu, Ratu pun memberanikan diri untuk menghadapi Zidan dan menanyakannya secara langsung.


"Haisshh... Aku harus menanyakannya secara langsung, aku tidak bisa terus diam saja seperti ini" ujar Ratu sambil bangkit berdiri dan penuh tekad.


Ratu berjalan keluar dan menemui Zidan di ruangannya saat menghadap di depan Zidan, dia malah gugup dan merasa kebingungan sendiri sampai akhirnya Zidan yang melontarkan ucapan lebih dulu.


"Ada apa kau kemari aku tidak memanggilmu" ujar Zidan tanpa menatap wajah Ratu sedikitpun,


"Itu...Zidan bisakah kita bicara sebentar aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu" ungkap Ratu meminta waktu pada Zidan,


"Bicara saja aku akan mendengarnya" jawab Zidan yang masih tidak menatap Ratu.


"Kalau begitu bisakah kamu berhenti bekerja dahulu, dan tolong lihat ke arahku aku ingin menatap wajahmu juga" jawab Ratu memberanikan diri.


Zidan menghentikan pekerjaannya dan dia menatap Ratu dengan lekat tatapan Zidan yang begitu lekat membuat Ratu menjadi semakin gugup.


"A..ahh..itu...Zidan kau tidak perlu menatapku seperti itu juga" ujar Ratu sambil menunduk,


"Cepat katakan apa yang mau kau bicarakan denganku waktuku tidak banyak" jawab Zidan dengan wajah yang serius,


Ratu pun menarik nafas dalam dan dia mengungkapkan semua pertanyaan di dalam hatinya saat itu juga.


"Zidan kenapa kamu menjauhiku dan kenapa bersikap dingin padaku?, aku ingin kamu bersikap baik seperti dulu padaku meski aku tidak menyukaimu seperti aku menyukai tuan Randi" ucap Ratu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa jeda.

__ADS_1


__ADS_2