
Ratu masih belum bisa menyadari jika sekretaris Diah akan pergi secepat itu dan dia meninggal karena kecelakaan setelah sekian lama Ratu tidak mendengar kabarnya.
"Kak kenapa kau menangisi wanita yang selalu berbuat jahat kepadamu, harusnya kakak merasa senang dengan begitu tidak akan ada yang mengganggu kakak lagi di masa depan" ujar Mala kepada Ratu,
"Mala sejahat apapun dia, dia tetaplah seorang teman yang pernah menjadi partner kerja bersama kakak, kakak tahu dia sebenarnya tidak jahat dia hanya terlalu terobsesi pada Zidan sebelumnya, dan sekarang dia pergi dengan cara yang begitu tragis, terlebih saat kejadian itu tadi pagi kakak ada di sana bagaimana kakak bisa mengabaikannya" ungkap Ratu merasa menyesal.
Mala mendengarkan perkataan kakaknya meski dia tetap saja merasa kesal dan benci dengan sekretaris Diah yang pernah menjahati kakaknya bahkan dia sempat bersekongkol dengan nyonya Wulan yang tak lain adalah ibu tirinya tuan Randi.
"Iya kak tapi kakak juga tidak boleh lupa dia bukan orang baik dan kakak tidak bisa membelanya lagi pula dia juga sudah meninggal kita tidak bisa berbuat apapun untuknya" ujar Mala mengingatkan Ratu.
"Kamu benar, semoga saja sekretaris Diah bisa menjadi orang yang lebih baik di kehidupan selanjutnya, dan tuhan mengampuni segala kesalahannya" ungkap Ratu mendoakan sekretaris Diah meski dirinya adalah korban dari kejahatan sekretaris Diah sendiri.
Berita mengenai kematian sekretaris Diah begitu cepat menyebar hingga ke esokan paginya Steven sudah mengetahui hal itu dan dia langsung menghubungi Zidan untuk memberitahu kabar ini namun sayangnya semua akses internet tidak bisa menghubungi Zidan seakan semua jalan buntu dia tidak bisa mendengar kabar Zidan, dan di mana dia tinggal saat ini karena Steven yakin Zidan tidak mungkin tinggal di kediaman ibunya selama di sana.
Karena tak bisa menghubungi Zidan, Steven merasa frustasi dan dia sangat kesal sampai hampir melemparkan ponselnya.
"Arghh....Zidan kau benar benar membuatku frustasi, ada apa dengan anak itu sebenarnya pergi begitu saja dan menghapus semua akses dariku dasar anak itu!" Gerutu Steven sangat kesal.
Berita mengenai kematian sekretaris Diah juga sudah sampai pada tuan Randi dia sedikit kaget mendengar kabar tersebut karena sebelumnya dia sudah menyiapkan rencana yang luar biasa untuk menghukum sekretaris Diah karena telah menyakiti nyonya Wulan namun rupanya alam sudah memberikannya karma lebih awal.
Sekretaris Han sudah memberikan kabar tersebut pada tuan Randi begitu juga dengan kepergian Zidan yang tiba tiba menghilang entah ke mana, mendengar kepergian Zidan tuan Randi langsung menanyakan masalah Ratu sebab dia tahu jika Ratu sangat dekat dengan Zidan sebelumnya.
Meski jauh di lubuk hatinya tuan Randi merasa sangat senang karena dia tidak perlu susah payah bersaing dan menyingkirkan Zidan dengan tangannya sendiri karena kini Zidan sudah menyerah lebih dulu dan dia bisa mengejar Ratu lebih cepat.
"Tuan bukan hanya kematian sekretaris Diah yang ingin saya laporkan namun tuan Zidan juga tiba tiba menghilang pagi ini, perusahaan nya sudah mengeluarkan pengumuman bahwa kini ibunya yang akan melanjutkan memimpin perusahaan di sini dan bekerjasama dengan perusahaan tuan Steven" ujar sekretaris Han memberikan laporan,
__ADS_1
Tanpa Han ketahui saat itu Mala sudah berdiri di balik pintu ruangannya dan dia berhasil menguping pembicaraan Han dengan tuan Randi.
"Hah, dasar pengadu dia seperti hewan peliharaan yang sangat setia dengan tuannya tapi dia begitu kejam padaku dan kakak padahal sudah jelas tuannya sendiri menyukai kakakku harusnya di juga memperlakukanku dengan baik, dasar pria itu" gerutu Mala dengan kesal.
Tuan Randi diam sejenak dengan wajah yang berseri dan memancarkan kesenangan dalam wajahnya, sekretaris Han yang tidak mendengar jawaban dari tuan Randi dia kembali berbicara untuk memastikan keadaan tuan Randi di sebrang sana.
"Hallo tuan apa anda baik baik saja?" Tanya sekretaris Han menanyakan,
"Oh iya tentu saja aku baik baik saja bahkan aku sangat senang mendengar sekretaris Diah mati lebih awal begitu juga dengan hilangnya Zidan dengan begitu aku akan lebih mudah mendapatkan Ratu iya kan Han" jawab tuan Randi membuat sekretaris Han menghembuskan nafas.
"Han, kenapa kau memberikan reaksi seperti itu, awas saja kalau kau masih bermusuhan dengan Ratu dia akan menjadi nyonya mu juga suatu saat nanti jadi belajarlah untuk menghormati dia mulai sekarang, apa kau mengerti?" Ujar tuan Randi memberikan nasihat pada sekretaris Han.
Mau tidak mau Han hanya bisa menuruti semua keinginan tuannya karena dia tidak ingin mendapatkan kemurkaan dari tuan Randi yang bisa saja membuat gajihnya dalam bahaya.
"Baik tuan saya akan berusaha dengan baik" jawab sekretaris Han.
"Saya tidak akan pernah mengecewakan anda tuan" jawab Han lalu panggilan pun terputus.
Mala yang menguping pembicaraan sedari tadi dia sudah tidak mendengar apapun lagi dan dia terus berusaha mendekatkan telinganya pada pintu tersebut lebih dekat lagi agar bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aishh...kenapa tidak ada suara lagi, apa yang mereka bicarakan setelah itu" gerutu Mala sangat penasaran.
Sedangkan sekretaris Han langsung bergegas keluar untuk mencari informasi masih lebih mengenai kepergian Zidan dan saat dia membuka pintu dia melihat Mala yang malah menempelkan telinganya pada tubuh dia, tentu saja sekretaris Han langsung mengerutkan kedua alisnya bersamaan dan dia memendam emosi karena tahu bahwa Mala telah menguping pembicaraan dia dengan tuan Randi.
Sementara Mala tidak sadar bahwa itu bukan lagi pintu melainkan dada bidang milih Han.
__ADS_1
"Eh...kenapa seperti suara detak jantung?" Ucap Mala dengan heran.
Saat itu juga sekretaris Han langsung menyadarkan Mala.
"Heh, apa yang sedang kau lakukan dekat dekat denganku?" Ujar sekretaris Han yang membuat Mala sangat kaget dan dia langsung mendorong Han cukup kuat.
Namun sayangnya dia yang mendorong Han namun malah dia sendiri yang terpental ke belakang dan terpeleset hampir jatuh tergelincir ke belakang, untungnya saat itu sekretaris Han dengan cepat menahan tubuh Mala dengan tangannya.
"Arkhh....." Teriak Mala refleks mendorong Han dan dia terpental ke belakang,
"Hei hati hati...." Teriak Han dan berhasil menopang tubuh Mala.
Dia langsung membantu Mala kembali berdiri dengan tegak dan Susana mereka seketika menjadi canggung.
"E..eumm... terimakasih pak Han, a..aku pergi dulu" ucap Mala gugup dan segera pergi dari sana secepat yang dia bisa.
Sedangkan Han hanya menggelengkan kepala sesaat lalu merapihkan jasnya dan kembali pada tujuan awalnya untuk mencari tahu masalah kepergian Zidan.
Mala berlari ke kamar mandi dan dia langsung mencuci wajahnya beberapa kali juga menepuk pipinya untuk menyadarkan dirinya yang tiba tiba saja merasa tersipu hanya karena sekretaris Han menolongnya tadi.
"Ya ampun ada apa denganku?, tidak. Tidak mungkin aku menyukai orang sepertinya jelas dia itu orang yang paling aku benci ahh ini tidak benar" ucap Mala sambil menatap pantulan wajahnya di cermin dan terus menggelengkan kepala.
Mala terus berusaha menghempas semua perasaannya itu dan dia kembali ke ruangannya setelah merasa jauh lebih baik, namun sayangnya meski dia sudah berusaha keras menghempas perasaan itu dia tetap memikirkan kejadian tadi bahkan sempat membayangkan kembali di saat Han dengan sigap menopang tubuhnya agar dia tidak jauh ke lantai.
"Aaaahhh...otakku pasti sudah gila, Mala jangan sampai kau menyukai orang sepertinya" gerutu Mala menghempas semua pikiran liarnya.
__ADS_1
Pikirannya jadi sulit dia kendalikan semenjak kejadian itu, dan Mala masih tidak bisa bekerja dengan fokus dia terus merasa ada yang aneh dengan perasaannya, tapi dia terus berusaha menolak dan mengerjakan banyak pekerjaan untuk mengesampingkan pikiran dan perasaan anehnya.