PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Marah Besar


__ADS_3

"Ratu aku tidak secengeng itu, setidaknya aku tau kamu menyayangiku, meski aku tidak bisa menjadi pasanganmu namun kamu akan tetap menjadi orang yang aku cintai, dulu sekarang bahkan nanti" jawab Zidan membuat Ratu semakin merasa tidak enak.


Ratu hanya membalas ucapan Zidan dengan senyuman dan mereka memandang matahari yang terbenam di ujung danau yang begitu indah seakan pergi dengan semua perasaan canggung diantara mereka berdua.


"Maafkan aku Zidan, aku tidak bisa memberikan harapan padamu, ini akan lebih baik bagi kita berdua" gumam Ratu dalam hati kecilnya.


Saat malam sudah menyapa Zidan memutuskan untuk mengantar Ratu pulang dan sampai di rumah Ratu sudah di sambut oleh Mala dengan makan malam yang biasa di sajikan olehnya.


"Kak...akhirnya kamu pulang, ayo makan bersama aku sudah memasak khusus untukmu" ucap Mala sambil menarik Ratu dan mempersilahkannya untuk duduk.


Mala sedikit heran karena melihat kakaknya yang begitu pendiam tidak seperti biasanya, karena merasa cemas dan penasaran Mala pun segera menanyakannya.


"Kak..ada apa denganmu?, Tidak biasanya kakak diam begini?" Tanya Mala sambil menatap serius pada Ratu,


"Aa...tidak ada apa apa, kakak hanya lelah, kakak mau tidur lebih dulu yah, besok banyak pekerjaan yang harus di kerjakan jadi harus bangun lebih awal" jawab Ratu sambil tersenyum dan pergi masuk ke dalam kamar dengan cepat.


Mala benar benar heran dengan sikap kakaknya yang tiba tiba saja berubah seperti itu namun menanyakannya secara langsung juga tidak ada gunanya, Mala hanya bisa memberikan waktu luang untuk kakaknya menenangkan diri.


******


Di kediaman nyonya Wulan tepatnya di negara XX tuan Randi juga tengah menikmati makan malam nya seorang diri sampai sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan dia segera memeriksa pesan itu.


Saat melihat foto foto Ratu yang begitu mesra dengan Zidan bahkan mereka berpelukan dan berpegangan tangan, Randi langsung mengepalkan kedua lengannya dan memegang erat ponselnya dengan kuat sembari menahan amarah yang menggebu di dalam dirinya.


Ditambah sebuah video antara Zidan dan Ratu yang tengah bercakap cakap begitu mesra, emosi Randi langsung tersulut begitu saja, dia bahkan melemparkan gelas dan piring makanannya yang ada diatas meja hingga berserakan di lantai dan membuat para pelayan kaget melihatnya.

__ADS_1


"Hah...hah....siapa yang berani mengirimkan hal ini kepadaku, apa dia mencoba memprovokasi aku, sialan!" Bentak tuan Randi dengan emosi yang besar.


Meskipun Randi tau bahwa semua ini adalah ulah seseorang agar memprovokasi dirinya dan Zidan supaya kembali bermusuhan namun Randi tetap merasa kesal dan cemburu karena Ratu begitu dekat dengan Zidan, bahkan melontarkan kata kata manis yang sebelumnya belum pernah dia dapatkan.


Setelah sedikit tenang tuan Randi langsung mengambil jasnya dan pergi menuju rumah sakit untuk menemui sekretaris Han agar bisa menyelidiki siapa pengirim pesan misterius itu sebenarnya.


Sesampainya di rumah sakit, Randi yang dipenuhi dengan amarah dan api kecemburuan dia berjalan dengan cepat bahkan membuka pintu ruang rawat nyonya Wulan dengan sangat keras dan kasar.


"Brakk....sekretaris Han!" Teriak tuan Randi sambil membuka pintu itu.


Sekretaris Han yang tengah duduk di samping ranjang nyonya Wulan dia sampai tersentak kaget dan langsung berdiri menghampiri tuan Randi dengan perasaan takut juga kebingungan.


"Tu...tuan ada apa denganmu?, Kenapa harus membuka pintu sekeras itu, mengagetkanku saja" ujar sekretaris Han,


Apalagi mengingat tuan Randi belum pernah menjenguk nyonya Wulan semenjak dia siuman, nyonya Wulan segera bertanya sekaligus akan mengakui semua kebohongan dan ide liciknya.


"Randi....apa yang terjadi?, Mengapa membuka pintu dengan kasar?" Tanya nyonya Wulan,


"Aku hanya ingin bicara denganmu Han, ayo ikut aku keluar" ucap tuan Randi sambil memalingkan wajahnya dari nyonya Wulan dan mengabaikan tegurannya,


Nyonya Wulan segera menahannya dan berteriak memanggil Randi agar memberikannya waktu untuk bicara berdua bersamanya.


"Tunggu, Randi apa kamu tidak mencemaskan ibu nak, ibu sangat merindukanmu bisakah kita bicara berdua untuk beberapa saat, ibu hanya meminta sedikit waktu darimu" pungkas nyonya Wulan memohon,


Randi membuang nafasnya dengan berat dan dia menyuruh sekretaris Han untuk keluar lebih dulu, setelah sekretaris Han sudah keluar dari ruangan, Randi langsung menatap nyonya Wulan di samping ranjangnya.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Randi dengan sorot mata yang datar,


"Randi ibu merasa kamu berubah kepada ibu, caramu berbicara dan tatapanku seakan membenci ibu, ibu tau mungkin kamu sudah mengetahui semua rencana rahasia yang ibu lakukan, tapi ibu sungguh telah menyesal sekarang, ibu juga belum sempat melaksanakan ide gila itu, tolong maafkan ibu nak, ibu mohon" ucap nyonya Wulan menjelaskan dan memohon.


Randi hanya diam, kemudian dia kembali menarik nafas dan membuangnya, dia terus berusaha mengontrol emosinya agar tidak membeludak di sana dan bisa mempengaruhi kondisi ibunya.


"Akhirnya kau sadar atas apa yang sudah kau perbuat padaku, tapi sayangnya aku tidak bisa melupakan semua pengkhianat darimu dengan mudah" jawab Randi tanpa menatap nyonya Wulan sedikitpun.


Nyonya Wulan bangkit terduduk dan mencoba meraih lengan Randi dia memegangi lengan Randi dengan kuat dan air mata mulai mengalir dengan perlahan namun pasti sampai membasahi pipinya, dia sungguh menyesali semua perbuatannya.


"Randi ibu mohon tolong berikan satu kesempatan lagi untuk ibu bisa berubah dan menjadi ibu yang baik bagimu nak, tolong maafkan ibu" ucap nyonya Wulan terus memohon dengan pilu.


Randi mulai menatapnya dengan tajam dengan wajah tanpa ekspresi, dia diam beberapa saat sampai mengeluarkan ucapan yang begitu menyindir nyonya Wulan.


"Apa kau bersikap seperti ini hanya karena kau tahu bahwa semua rencanamu sudah gagal?, Dan kau meminta belas kasihan padaku yang jelas bukan anak kandungmu!" Jawab tuan Randi membuat nyonya Wulan kaget dan matanya terbelalak.


Nyonya Wulan merasa bingung dan dia heran dari mana Randi bisa mengetahui rahasia yang selama ini di jaga oleh keluarga Atmaja selama bertahun tahun lamanya.


"Randi...da..dari..darimana kamu tau soal semua itu?" Tanya nyonya Wulan dengan tatapan yang langsung berubah begitu serius dan menggenggam tangan Randi dengan kuat.


Nyonya Wulan selalu berusaha menyembunyikan semua kenyataan mengenai dia yang bukan ibu kandungnya Randi Atmaja, dia melakukan itu awalnya hanya untuk mengambil alih semua kekuasaan dan harta keluarga Atmaja namun kali ini dia sudah sadar bahwa dia melakukan itu juga karena tidak mau Randi merasa sedih sekaligus menjalankan wasiat dari ibu kandung Randi yang merupakan sahabat terbaiknya.


"Kamu tidak perlu tahu dari mana saya mengetahui semuanya, yang pasti adalah aku tidak akan berurusan denganmu lagi, setelah kau sembuh aku akan memproses semua urusan hak waris dan kau harus pergi dari hidupku selamanya" balas Randi dengan wajah yang dingin dan dia menghempaskan tangannya yang tengah di genggam nyonya Wulan.


Randi pun segera pergi meninggalkan nyonya Wulan seorang diri di ruang rawat tersebut, dia sengaja membiarkan nyonya Wulan agar bisa berpikir dan sungguh sungguh menyesali semua perbuatannya yang bisa menghancurkan banyak orang selama ini.

__ADS_1


__ADS_2