
Ratu merasa sangat senang dan terkejut, dia kembali menanyakan kebenarannya pada Zidan.
"Zidan apa kau sungguh mau mempekerjakan aku sebagai sekretaris mu?, bagaimana dengan sekretaris Diah?" tanya Ratu lagi,
"Aku sudah memecatnya sejak lama, aku juga janji akan memperlakukanmu dengan baik jika kamu bekerja denganku" jawab Zidan sambil tersenyum lembut.
Ratu pun langsung mengangguk setuju dan dia pergi bersama Zidan menuju kantornya, Zidan juga membantu Ratu untuk mempelajari beberapa tugas yang harus dia lakukan selama menjadi sekretaris Zidan.
Zidan juga memberikan sebuah meja kerja untuk Ratu yang berada tepat di samping pintu ruangannya sehingga dari jendela di sana Ratu bisa melihat tepat ke tempat duduk Zidan begitu pun sebaliknya.
Sepanjang hari senyum Ratu terus mengembang setidaknya dia merasa nyaman dan tenang saat bekerja bersama Zidan berbeda sekali dengan suasananya saat bekerja dengan tuan Randi, selalu saja ada perdebatan setiap pagi dan banyak drama yang dibuat oleh sekretaris Han yang terus merasa iri padanya.
Kini Ratu merasa sangat nyaman bekerja dengan Zidan, walau hanya beberapa jam saja Ratu bekerja namun wajahnya terus berseri dan ceria saat jam istirahat pun Ratu makan bersama Zidan di salah satu cafe yang tak jauh dari kantor.
"Silahkan duduk Ratu" ucap Zidan sambil mendorong kursi yang akan di duduki Ratu,
Ratu tersenyum dan segera duduk, dia merasa perlakuan Zidan padanya terlalu terang terangan, namun dia senang dan nyaman mendapatkan semua perlakuan manis darinya.
"Zidan terimakasih yah, kamu selalu membantuku" ucap Ratu,
"Iya sama sama, sampai kapanpun aku akan selalu melindungi mu Ratu, asalkan kamu senang aku juga bahagia" balas Zidan yang membuat Ratu terharu mendengarnya.
"Maaf kan aku Zidan seandainya aku tidak bodoh karena selalu mengabaikanmu mungkin aku tidak akan terjebak dalam perasaan ini" gumam Ratu yang tak menentu.
Mereka makan bersama dan sesekali berbincang sangat dekat satu sama lain, berbeda dengan Zidan yang saat ini tengah berbunga bunga sekretaris Han justru tengah menghadapi kepahitannya karena terus mendapatkan bentakan dari tuan Randi karena membuat Ratu telah berhenti dari pekerjaannya.
__ADS_1
Saat itu di perusahaan sekretaris Han menghadap tuan Randi dan menjelaskan semua yang terjadi padanya pagi ini sampai ketika Mala yang mengatakan bahwa Ratu tidak akan pernah menginjakkan kaki untuk bekerja lagi pada tuan Randi.
"Aishh...Han kau ini bagaimana sih, kenapa mengurus satu anak kecil saja kau tidak bisa" bentak tuan Randi frustasi,
"Maaf tuan tapi gadis kecil itu dia bahkan lebih menakutkan dari pada Ratu" ucap sekretaris Han,
"Dia yang menakutkan atau memang kau saja yang penakut, aish....kau ini membuat kepalaku pusing saja" balas tuan Randi sambil berkacak pinggang dan melipat bibirnya dengan rapat.
Saat mereka tengah berbicara pintu ruangan Randi diketuk dari luar dan dia segera menyuruh orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk.
"tok...tok...tok..." suara ketukan pintu yang membuat perdebatan antara tuan Randi dan sekretaris Han berhenti sejenak,
"Aishh...siapa lagi ini, masuk..." ucap tuan Randi yang semakin frustasi,
Saat pintu terbuka ternyata itu Mala, dia masuk dengan perlahan dan berjalan menghampiri kedua pria yang tengah berdiri berhadapan di depan meja tersebut.
"Kau?,...tuan ini...dia ini wanita yang mengaku sebagai adiknya Ratu dan dia...dia..juga yang memukul wajah saya sampai hidung saya begini berdarah dan sakit" ucap sekretaris Han dengan wajah yang muram.
Sebelumnya Mala memang pergi ke apartemen milik sekretaris Han namun dia terlambat karena saat itu sekretaris Han sudah pergi ke perusahaan dan terpaksa Mala pun pergi menyusul sekretaris Han ke perusahaan Randi Atmaja, jika bukan karena janjinya pada Ratu Mala juga tidak akan melakukan semua itu apalagi sampai harus menyusul sekretaris Han ke perusahaan dan akan membuatnya semakin malu.
Tuan Randi berjalan menghampiri Mala dan memperhatikannya dari atas hingga bawah tanpa berkedip sedikitpun, dia seperti menyelidiki Mala tanpa henti, hingga tatapannya itu membuat Mala sangat kesal.
"Heh...apa yang kau lihat?" bentak Mala pada tuan Randi dengan lantang,
Sekretaris Han dan tuan Randi langsung membulatkan matanya sempurna dan memalingkan wajah mereka karena sama sama kaget mendengar Mala bisa bicara seberani itu pada seorang Randi Atmaja yang usianya jauh di atas dia.
__ADS_1
"Kan....tuan dia itu memang wanita ganas, buktinya dia juga berani bicara seperti itu padamu" ucap sekretaris Han mengompori,
"Heh...cowok lembek, diam saja kau....aku pukul sedikit saja kau pingsan apa kau mau aku hajar lagi sampai masuk rumah sakit hah!" bentak Mala sambil mengedepankan pukulannya ke arah sekretaris Han.
"Heh...sudah kenapa kalian jadi berantem di sini, ada apa kau kemari dan di mana Ratu?" ucap Randi melerai mereka,
"Diam aku tidak ada urusan denganmu, dan kau ikut aku" ucap Mala sambil menarik lengan sekretaris Han.
Sekretaris Han yang ketakutan karena Mala mau membawanya dia langsung memegang tangan tuan Randi dan memohon padanya agar menyelamatkan dia dari Mala.
"Tuan...tuan...tolong saya" ucap sekretaris Han dengan wajah memelas,
Tuan Randi pun menahan sekretaris Han dan meminta Mala agar tidak membuat masalah dikantornya.
"Mala berhenti!, saya tau kamu hanya adik angkatnya Ratu, jadi tolong jangan membuat masalah di kantorku terlebih pada orang kepercayaan ku!" ucap tuan Randi memperingati,
"Maka dari itu aku mau membawanya ke tempat yang jauh dari perusahaan anda tuan, agar tidak menimbulkan kekacauan di perusahaan anda, dan lebih baik jika anda tidak ikut campur atau aku akan melakukan hal yang sama pada anda seperti pada hidung orang kepercayaanmu ini!" ucap Mala yang mengancam balik dengan sorot mata tajam.
Tuan Randi menelan salivanya dengan sulit dia pun melepaskan lengan sekretaris Han yang memegang lengannya dengan kuat.
"Han kau menurut saja padanya, bereskan urusanmu dulu, aku masih banyak pekerjaan" ujar tuan Randi yang membuat sekretaris Han pasrah.
"Bahkan tuan Randi pun tak bisa melawannya huhu bagaimana dengan nasibku" gumam sekretaris Han.
Mala menarik sekretaris Han dengan sekuat tenaganya dan memaksa sekretaris Han agar masuk ke dalam lift sedangkan Sekretaris Han yang masih merasa takut pada Mala dia terus saja berpegangan pada pintu lift dan menahannya hingga pintu itu tidak tertutup.
__ADS_1
Jengkel melihat sekretaris Han yang sulit diatur terpaksa Mala harus mengeluarkan sebuah ancaman lagi untuk menakut nakutinya.
"Sekretaris Han, lepaskan tanganmu atau aku akan mematahkannya!" ancam Mala yang langsung membuat sekretaris Han menurut.