PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Keberangkatan


__ADS_3

Cukup lama Ratu terus berteriak sambil berlari mengejar Zidan namun sayangnya Zidan hanya menoleh beberapa kali tapi dia tidak menghentikan jalannya untuk menunggu Ratu, sampai tiba tiba mereka keluar dari hutan yang gelap dan Ratu merasa lega sekaligus kebingungan.


"Ahhh... akhirnya ada cahaya, tapi aku ada di mana, dan Zidan kenapa ada di sini juga?" Gerutu Ratu semakin bingung.


Saat Ratu tengah kebingungan dia pun terus berjalan perlahan menghampiri Zidan dan dia berusaha meraih lengan Zidan agar dia mau berbalik menatap Ratu.


"Zidan sedang apa kau di sini?" Tanya Ratu sambil meraih lengan Zidan.


Tiba tiba saja Zidan membalikkan badan dia tersenyum menatap Ratu dan tiba tiba dia melangkah ke belakang yang di belakangnya tersebut terdapat jurang yang sangat curam, Ratu sangat kaget dan dia ketakutan saat melihat Zidan terus melangkahkan kakinya ke belakang secara perlahan.


"Zidan berhenti!, apa yang kamu lakukan di belakangmu itu jurang, tolong berhenti" teriak Ratu dengan perasaan cemas tak menentu,


Zidan tersenyum dengan sangat lembut dan dia tiba tiba melompat begitu, saja saat itu Ratu langsung membelalakkan matanya sempurna dia sangat kaget dan refleks berteriak keras memanggil Zidan.


"TIDAK, ZIDANNN" teriak Ratu sangat keras dan dia langsung terbangun dari tidurnya.


Ratu terperanjat dari ranjang dengan posisi langsung terduduk dan nafas yang tidak teratur, dia berusaha menenangkan diri serta kembali mengatur nafasnya.


"Aahh....syukurlah itu hanya mimpi" ujar Ratu sambil mengusap keringat dingin di dahinya.


Mimpi itu terasa begitu nyata bagi Ratu, dia sungguh tidak bisa membayangkan jika semua yang dia lihat sebelumnya terjadi di kehidupan nyata, saking kaget dan merasa cemas dengan Zidan Ratu langsung mengambil ponselnya dan dia berusaha menelpon Zidan saat itu juga.


Sayangnya sudah beberapa kali Ratu melakukan panggilan telpon kepada Zidan tapi tetap tidak ada jawaban darinya. Zidan sengaja mengecilkan volume ponselnya karena dia ingin beristirahat dengan tenang malam itu sementara di sisi lain Ratu sangat merasa cemas dia belum bisa tenang sebelum mendapatkan kabar yang pasti dari Zidan.


"Ya ampun Zidan kenapa dia tidak mengangkat panggilanku?, apa dia sudah tidur?" Gerutu Ratu sambil memegangi ponselnya dengan erat.


Ratu menghembuskan nafas kasar dan dia kembali menaruh ponselnya tidak ada siapapun lagi yang bisa dia hubungi untuk memastikan keadaan Zidan dia pun berusaha untuk kembali tidur setelah meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah mimpi.

__ADS_1


"Aahh...baik aku harus tenang semua itu hanya mimpi dan tidak berarti apapun" ucap Ratu dan dia kembali tidur.


Nyatanya meski Ratu berkuasa keras untuk menenangkan dirinya dan kembali melanjutkan tidur dia tetap tidak bisa melakukan semua itu apalagi untuk tidur dengan nyenyak dia selalu terbangun dan merasa tidak enak hati.


Ratu terus terpikirkan dengan Zidan dan sangat mencemaskan keadaannya. Sampai pagi mulai menerpa dan Ratu tidak tidur sejak mimpi tersebut, matanya mulai memiliki lingkar hitam karena dia kurang tidur tadi malam.


Ratu tidak memperdulikan dirinya dia terus bersikap siap dan pergi lebih awal ke kantor karena sangat cemas dengan keadaan Zidan.


"Kak mau kemana pagi pagi sekali?" Tanya Mala dengan heran.


Saat itu Mala baru saja bangun dari tidurnya namun dia sudah melihat Ratu yang berpakaian rapih dan hendak pergi dari rumah tentu saja itu membuat Mala penasaran dan merasa bahkan kakaknya begitu aneh.


"Ahh... Kakak hanya ingin sampai di perusahaan lebih awal" jawab Ratu menutupi kebenarannya,


Mala hanya mengerutkan kedua alisnya secara bersamaan dia merasa jawaban Ratu sangat tidak masuk akal sebab biasanya Ratu juga tidak pergi ke kantor sepagi itu, meski Mala merasa curiga dia tidak menanyakannya lebih dalam kepada Ratu sebab dia pikir mungkin kakaknya memang tidak ingin mengatakan itu padanya, Mala sangat menjaga privasi kakaknya.


Meski mereka saudara namun Mala sadar tidak semua hal dalam hidup harus diketahui oleh keduanya secara gamblang.


Ratu mengangguk dan langsung pergi dengan terburu buru, untung karena masih pagi sehingga jalanan tidak terlalu ramai dan Ratu bisa sampai dengan cepat ke perusahaan, di sana juga sudah ada beberapa karyawan lain.


Ratu langsung pergi menuju ruangannya dan dia duduk di kursi kebesarannya sambil menatap ke luar jendela yang menghadap ke arah ruangan Zidan, Ratu terus memperhatikan ruangan itu karena dia menunggu kedatangan Zidan.


Sementara di sisi lain Zidan sudah bersiap siap dan tengah memasukkan semua koper yang akan dia bawa ke dalam sebuah taxi yang sudah dia pesan sebelumnya, Oma Rika kembali memeluk Zidan dan mencium keningnya sebelum Zidan masuk ke dalam taxi.


"Zidan maafkan Oma karena tidak bisa mengantarmu ke bandara, jaga dirimu baik baik yah" ucap Oma Rika sambil mengusap lembut kepala Zidan beberapa kali.


"Iya Oma, jaga dirimu juga dan kabari aku secepatnya jika terjadi sesuatu. Kalau begitu aku sudah harus pergi" jawab Zidan dan dia melepaskan pelukan Oma Rika.

__ADS_1


Zidan tersenyum beberapa saat dan segera masuk ke dalam taxi Oma Rika pun melambaikan tangannya sebagai bentuk perpisahan dengan Zidan. Oma Rika sungguh merasa sangat sedih dan dia terus menatap kepergian tacinyang ditumpangi oleh Zidan sampai taxi itu hilang tak terlihat dipandang mata.


Selama perjalanan Zidan sebenarnya merasa bersalah kepada Ratu karena dia tidak sempat berpamitan dan memberitahu Ratu mengenai keberangkatannya terlebih mungkin setelah kepergiannya kali ini dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Ratu dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.


Zidan juga sempat memeriksa ponselnya dan dia melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Ratu tadi malam, itu membuat Zidan semakin berat untuk meninggalkan kota ini.


"Maafkan aku Ratu, sungguh maafkan aku" gerutu Zidan dengan perasaan tak menentu.


Di sisi lain sekretaris Diah yang sudah mengamati pergerakan Zidan secara diam diam selama ini dia juga mengetahui kepergian Zidan dan menjadi satu satunya orang yang mengetahui tentang hal itu setelah Oma Rika, bahkan Steven juga tidak mengetahui masalah kepergian Zidan hari itu.


Tentu saja sekretaris Diah yang sangat menyayangi Zidan dia tidak rela jika orang yang dia sukai akan pergi semakin jauh darinya dan sekretaris Diah saat ini tengah berusaha mengejar tacinyang ditumpangi oleh Zidan.


Ya sejak kemari sekretaris Diah sudah mengikuti Zidan seharian dan pagi tadi dia juga kembali memeta matai Zidan di depan rumahnya dengan menyamar sehingga Zidan tidak menyadari keberadaannya selama ini.


Tanpa ragu sekretaris Diah menginjak oedaygas mobilnya dengan lebih kuat dan dia dengan berani menghadang taxi yang ditumpangi Zidan secara tiba tiba sehingga membuat sang supir menghentikan mobil secara mendadak.


Zidan hampir saja terpentok ke kursi depan jika saja dia tidak berpegangan sebelumnya, Zidan kaget dan dia menanyakan pada sang supir apa yang sebenarnya terjadi.


"Pak ada apa di depan kenapa berhenti tiba tiba begini?" Tanya Zidan sedikit kesal,


"Maaf tuan tapi itu, di depan ada seorang perempuan yang menghentikan mobil kita sepertinya dia bukan orang baik" jawab sang supir dengan wajah cemas.


Zidan mengalihkan pandangannya dan betapa kagetnya dia saat melihat di depan mobilnya sudah berdiri sekretaris Diah yang berkacak pinggang dan menatap tajam ke arahnya.


"Astaga, apa yang dia lakukan" ujar Zidan dan dia langsung keluar dari mobil dan menghampiri sekretaris Diah,


"Diah apa yang kau lakukan kenapa menghadang jalanku seperti ini, apa kau tidak tahu itu akan berbahaya bagi dirimu juga!" Bentak Zidan dengan tatapan serius,

__ADS_1


"Ohh jadi tuan Zidan mengkhawatirkanku yah, terimakasih atas perhatianmu tapi aku tidak bisa membiarkan kau pergi dariku lagi, sebelumnya rencanaku sudah gagal dan aku tidak mau kehilangan kau lagi" ucap sekretaris Diah yang membuat Zidan sangat bingung,


"Apa maksudmu, kita sudah tidak bekerjasama lagi jadi aku harap kau tidak akan menggangguku dan orang orang yang aku cintai lagi" ujar Zidan memperingati,


__ADS_2