PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Seli dan Zidan


__ADS_3

Mereka pun melanjutkan makan siangnya setelah memutuskan mengenai urusan tersebut lalu tuan Randi dan nyonya Wulan kembali ke perusahaan dan saat tuan Randi tengah memberikan tanda tangan untuk kembali memberikan kewenangan perusahaan pada ibunya lagi dia malah mendapatkan kejutan dari sang ibu.


"Randi kemarilah dulu, ada hadiah istimewa yang mau ibu berikan untuk mu sekaligus calon menantu ibu" ujar nyonya Wulan memanggilnya.


Tanpa basa basi tuan Randi segera menghampirinya dan dia melihat sebuah kotak berukuran sedang telah ada di depan mejanya.


Untuk beberapa saat tuan Randi menatap kotak itu dengan heran dan tatapannya beralih pada nyonya Wulan seakan dia meminta penjelasan mengenai kotak di hadapannya, nyonya Wulan pun segera menjelaskannya pada tuan Randi.


"Randi ini adalah kalung peninggalan ibumu, sebelum dulu dia pergi dia sudah menitipkan ini padaku, di ingin kalung ini digunakan untuk istrimu suatu saat nanti, meski saat ini Ratu belum menjadi istrimu tapi ibu yakin dia adalah wanita paling tepat untukmu, berikan saja ini padanya ibu yakin itu akan mengikatnya denganmu" ucap nyonya Wulan sambil memberikan kotak berisi sebuah kalung tersebut kepada tuan Randi.


Tuan Randi sedikit kaget karena dia baru mengetahui mengenai kalung tersebut namun di dalam hatinya dia merasa senang karena mengetahui ternyata sejak dia kecil ibunya sendiri sudah menyiapkan masalah pertumbuhannya hingga sejauh ini.


"Bu, aku yakin kau adalah orang yang hebat aku bangga bisa terlahir dari rahimnya" gumam Randi sambil memegang kotak itu dengan erat.


Setelah mendapatkan kalung itu tuan Randi menjadi lebih bersemangat dia langsung pulang saat itu juga dan mempercepat kepulangannya dia juga segera mengemasi barang barang miliknya dan meminta anak buahnya agar mengirimkan barangnya lebih dulu.


Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi tuan Randi dia segera menyiapkan sebuah kejutan dengan kepulangannya ke tanah air, bahkan di pun belum sempat memberitahu sekretaris Han mengenai hal ini.


*****


Sedangkan di sisi lain Zidan yang sudah berada di belahan bumi lain yang jauh dari tempat asalnya dia hanya di sibukkan dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk setiap harinya, kali ini dia sungguh memulai hidup baru seorang diri hingga ketika dia sudah merasa penat dengan semua kesibukannya.


Zidan memilih untuk pergi berbelanja sendiri sekaligus mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya, karena tujuan utama dia pergi sejauh ini hanya untuk menenangkan dirinya tak lebih dari itu.


Zidan pergi ke sebuah swalayan dan dia tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang tengah berjalan terburu buru dengan banyak belanjaan di kedua lengannya.


Karena bertabrakan dengan Zidan belanjaan wanita tersebut jatuh berserakan di lantai dan Zidan pun segera membantu wanita itu memunguti semua belanjaannya.

__ADS_1


"Brukk...aaahhh" suara tabrakan mereka.


"Aduhhh belanjaanku bagaimana bisa berjatuhan begini" gerutu wanita itu yang tak lain adalah Seli sahabat masa kecil Ratu,


"Ehh maaf saya tidak sengaja menabrak anda, ini saya bantu anda mengumpulkan semuanya" jawab Zidan dengan sigap dan tampang kerennya.


Seli yang melihat sosok Zidan untuk pertama kalinya dia justru merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama saat itu, bahkan saking terkagumnya dia dengan pesona Zidan, Seli sampai tidak bisa bergerak dan dia malah terus menatap Zidan dengan senyum melengkung di bibirnya.


"Waahhh... keberuntungan macam apa ini aku bisa bertemu pria setampan dia" gumam Seli dalam hati kecilnya.


Zidan sudah selesai membereskan semua belanjaan Seli dan dia memanggil Seli karena tak bergerak sedikitpun dan merasa mendapatkan tatapan aneh dari Seli.


"Hey...mbak...mbakk....ini belanjaan anda, sekali lagi saya minta maaf, permisi" ucap Zidan menyadarkan Seli dan dia hendak pergi setelah itu.


Seli yang sudah sadar sepenuhnya dia membelalakkan mata dan tidak ingin menyia nyiakan kesempatan emas ini sehingga dia langsung bangkit berdiri membawa semua belanjaannya dan pergi ke kasir mengejar Zidan.


"Aaahhh....pria tampan itu menghilang dari pandanganku, huhu aku sangat bodoh karena malah terdiam mematung saat dia tepat di hadapanku setidaknya tadi harusnya aku meminta nomor ponsel darinya" gerutu Seli merasa sedih dan kesal.


Iya Seli adalah gadis penyuka pria tampan semua jenis pria tampan dia akan dengan mudah menyukainya dan karena Seli telah tumbuh begitu lama di negara orang sehingga baginya bukan masalah besar jika harus mengejar seorang pria lebih dulu.


Karena menunggu pria yang akan mendekatinya itu hanya akan menghabiskan banyak waktu bagi Seli, meski banyak pria yang menyukai dia tapi Seli belum pernah memiliki perasaan seperti saat dia menatap Zidan barusan sehingga Seli bersih keras untuk mencari tahu tentang pria yang baru saja di temui itu.


Semenjak kejadian itu setiap hari Seli datang ke tempat swalayan tersebut karena dia pikir pria itu pasti akan datang kembali ke sana namun sayangnya satu Minggu setelah kedian tabrakan itu Seli tidak pernah melihatnya lagi meski dia selalu datang ke swalayan tersebut setiap hari di jam yang sama ketika dia bertemu pria itu sebelumnya.


Saat ini Seli baru saja keluar dari swalayan setelah berkeliling mengelilingi toko beberapa kali mencari keberadaan pria itu namun dia tetap tak berhasil menemukannya akhirnya Seli membeli sebuah mie instan dan menyeduhnya di sana, dia pergi keluar duduk di depan swalayan menikmati mie miliknya seorang diri dengan wajah putus asa.


"Arghhhkkk....aku belum menemukan pria itu juga, Seli kau benar benar bodoh saat itu karena tidak melakukan apapun di saat tuhan sudah mengirimkan seorang pria yang begitu tampan untuk ahhh aku tidak bisa melupakan wajah tampannya" gerutu Seli dengan frustasi.

__ADS_1


Seli pun hanya bisa meratapi kesedihannya dan dia duduk di meja tersebut seorang diri, dia pun menyantap mie pedas hingga mulutnya benar benar seperti terbakar saking pedasnya.


"Hah..hah...huaa..bagaimana mie ini bisa pedas sekali aahhh aku butuh air" teriak Seli dengan lidah yang dia julurkan keluar.


Saat dia berbalik hendak pergi membeli air tiba tiba seorang pria menyodorkannya sebotol air dan tanpa basa basi dan melihat siapa pria itu Seli langsung mengambil air tersebut lalu meminumnya dengan brutal.


"Aahhh... rasanya ini jauh lebih baik, ini terimakasih..." Ucap Seli sambil membalikkan badan melihat pria yang memberikan air ternyata adalah pria tampan yang sudah dia cari cari selama seminggu ini.


Seli sangat kaget dan begitu senang dia langsung menarik lengan Zidan dan menyuruhnya agar duduk di sana bersama dia karena Seli tidak ingin kehilangan pria impiannya lagi.


"Aahh itu kau, akhirnya kau muncul juga, ayo duduk...cepat duduk di sini kau tidak bisa kabur lagi dariku" ujar Seli dengan wajah yang berseri.


Zidan hanya mengerutkan alisnya dan dia merasa sangat bingung dengan kelakuan perempuan di sampingnya, dia bahkan tidak ingat apakah dia pernah bertemu wanita di hadapannya di masa lalu atau tidak.


"Maaf apakah kita pernah mengenal satu sama lain, aku tidak merasa mengenal anda" ucap Zidan membuat Seli seakan tertusuk duri yang tajam,


"A..ahh...kau ingat seorang perempuan yang pernah kau tambak dan belanjaannya berserakan?" Ucap Seli berusaha mengingatkan,


"Ohhh jadi kau mbak mbak itu yah" jawab Zidan yang lagi lagi membuat Seli seperti di tusuk oleh pisau besar tepat mengenai hatinya,


"Aishh apa kau buta hah, atau matamu rabun bagaimana kau bisa bilang aku mbak mbak aku ini seorang nona aishhh tampan tapi tidak bisa melihat dengan jelas" ucap Seli dengan kesal dan menatap sinis sekilas pada Zidan.


"Aahh maafkan aku, karena saat itu kau terlihat lebih buruk dari sekarang makanya aku mengiramu lebih tua" ujar Zidan yang semakin membuat hati Seli teriris iris.


Seli pun hanya bisa menundukkan kepalanya dengan lesu karena telah menerima banyak penghinaan dari pria tampan pujaan hatinya sendiri.


"Hiks..hiks...dia sudah tidak tertolong lagi" gerutu Seli dengan sedih.

__ADS_1


__ADS_2