
Zidan segera mendorong perahu kecil tersebut sedikit ke tengah danau dengan perlahan dan dia langsung menaikinya begitu juga dengan Ratu, Zidan mulai mendayung perlahan lahan dan Ratu memegang air dengan kedua tangannya, senyum di wajah Ratu mulai terlihat mengembang dan Zidan yang memperhatikannya secara diam diam juga ikut senang melihatnya.
"Ratu apa kau perasaanmu sekarang jauh lebih baik?" Tanya Zidan memastikan,
"Menurutmu bagaimana aku memang belum bisa melupakan kejadian tadi sepenuhnya tapi aku rasa aku sudah memaafkan tuan Randi dan ibunya" jawab Ratu di iringi senyuman tulus,
"Ratu apa kamu harus memiliki hati sebaik itu meskipun pada orang yang selalu membuatmu terluka?" Ucap Zidan yang tak habis pikir dengan kebaikan Ratu,
"Maksudmu siapa Zidan, aku rasa selama ini hanya sekretaris Han yang selalu menggangguku dan aku sedikit tidak menyukainya" jawab Ratu dengan jujur,
"Ahhh...sudahlah lebih baik kita nikmati kedamaian ini" jawab Zidan yang malas membahas.
Sebenarnya saat itu Zidan sengaja berkata demikian karena menyindir masalah tuan Randi yang selalu mempersulit Ratu, bahkan Zidan sendiri terkadang merasa ragu dan heran apakah tuan Randi sungguh menyukai Ratu atau tidak, di saat dia berusaha mengejar Ratu mati matian tuan Randi selalu ikut mengejar Ratu dan mengalahkannya dalam setiap kesempatan namun di saat Zidan mencoba mengikhlaskan Ratu justru tuan Randi mengecewakan Ratu dengan begitu mudahnya.
"Sebenarnya apa yang diinginkan Randi dalam pikirannya, tidak bisakah dia konsisten sedikit" gumam Zidan merasa kesal.
Ratu terus memandangi pemandangan hutan hutan rimbun di samping kiri dan kanan danau yang membentang begitu luas nampak beberapa hewan keluar dari semak semak seperti monyet dan ada burung burung cantik yang masih terawat habitatnya, siulan burung dan detik suara jangkrik nampak terdengar sangat jelas seiring berjalannya waktu dan bergantinya siang menuju malam.
"Zidan aku rasa di sini sudah cukup untuk melihat matahari tenggelam, kalau kita pergi terlalu jauh saat gelap akan sulit menentukan arah" ucap Ratu memberi tau,
"Baiklah ini juga posisi yang tepat" jawab Zidan menyahut,
"Ratu sepertinya matahari benar benar akan tenggelam sebentar lagi mari kita hitung bersama?" Ajak Zidan,
"Baik....ayo kita lakukan" balas Ratu dengan antusias.
__ADS_1
Mereka menghitung mundur dari sepuluh hingga tepat saat hitungan selesai matahari telah tenggelam dengan sempurna seakan di telan oleh danau tersebut dan senja telah sempurna berganti menjadi malam yang gelap, karena saat itu mereka berdua berada di tengah danau sehingga suasananya gelap gulita dan hanya bisa melihat satu pencahayaan dari kedua ujung perahu yang terpasang sebuah lentera yang menyala.
"Zidan bukankah kentara ini cantik ketika dalam keadaan gelap, dia seperti penerangan yang sempurna" ucap Ratu sambil memegangi salah satu lentat tersebut,
"Ya....itu sangat bagus, orang yang mendesain pasti menyukai estetika" jawab Zidan sambil terus mendayung,
"Iya aku tiba tiba saja berpikir kentara ini seperti kau" ucap Ratu tiba tiba,
"Hah....sepertiku?" Maksudnya bagaimana apa aku terlihat sejelek itu yah" ucap Zidan dengan khawatir,
"Haha....tidak bukankah sebelumnya kau menyetujui kalau lentera ini cantik, kenapa bisa berkata jadi jelek tiba tiba" jawab Ratu di iringi tawanya,
"Ya...sebenarnya aku merasa lentera itu kurang cantik dalam penampilannya meski cahaya di dalamnya sangat indah" jawab Zidan memperbaiki komentarnya,
"Kau ini lucu, aku berpikir lentera ini seperti kau karena bagiku kamu adalah cahaya yang selalu menolongku ketika aku dalam gelap, kamu pahamkan, kalau tidak sebaiknya jangan hiraukan ucapanku" ucap Ratu menjelaskan.
Ratu yang menyadari perubahan raut wajah Zidan dia hanya bisa tersenyum menanggapinya, pasalnya Ratu juga lupa kalau Zidan pernah berkata bahwa dia akan mengejar Ratu sampai kapanpun, Ratu lupa akan hal itu dan bahkan ucapannya tadi membuat keyakinan juga semangat dalam jiwa Zidan semakin menggebu untuk mendapatkannya.
"Ratu aku janji akan terus menjadi seperti kentara itu untukmu meski aku tetap tidak suka tampilannya" jawab Zidan yang mengguncang gelak tawa.
"Ahaha...... Zidan kamu ini masih saja mempermasalahkan hal itu, aku rasa penampilannya tidak seburuk itu kok" jawab Ratu.
Mereka berdua terus saja membahas masalah sebuah lentera hingga tak terasa sudah sampai di tepi danau dan Zidan segera membantu Ratu untuk turun dari perahu tersebut.
Saat mereka berjalan kembali ke parkiran dan dia untuk pulang tiba tiba saja dering ponsel milik Ratu berbunyi dan membuatnya harus segera menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
"Halloo......Mala ada apa?" Tanya Ratu ternyata yang menelponnya adalah Mala,
"Kak...apa kau baik baik saja aku sangat mencemaskanmu" ucap Mala dari sebrang sana,
"Tenang saja Mala kakak baik baik saja dan kamu tau kakak punya kabar bahagia untukmu" ucap Ratu menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya,
"Wahhh....kabar apa kak, kalau begitu cepatlah pulang aku sudah memasak banyak makanan" balas Mala dengan penuh semangat.
"Baiklah kakak juga akan segera kembali, sampai bertemu di rumah" ucap Ratu dan mengakhiri panggilannya.
Dia segera masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Zidan di sepanjang perjalanan Zidan terus saja melajukan mobil dengan kecepatan yang pelan karena dia ingin terus menghabiskan waktu bersama Ratu.
"Ratu seandainya aku bisa menghentikan waktu aku ingin terus berada di sampingmu" gumam Zidan di dalam hatinya,
Ratu yang sedari tadi sudah tidak sabar ingin menemui Mala dia mulai merasa heran karena mobil melaju dengan pelan sangat berbeda dengan kendaraan lain yang melewati mobil yang dia tumpangi dengan lancar.
"Ehh...Zidan apa ini perasaanku atau memang mobilnya yang begitu pelan?" Tanya Ratu dengan bingung,
"A...ah ...itu....mobilku memang belum si servis jadi agak lambat berjalannya tapi ini aman kok" jawab Zidan sedikit gugup.
Dia takut Ratu mengetahui akal akalannya dan dia mulai memalingkan pandangan ke luar jendela untuk menghilangkan ke gugupan yang dia alami, sampai akhirnya Ratu mengetahui tingkah Zidan tersebut.
"Zidan aku rasa kau saja yang melakukannya terlalu pelan bukan mobilmu yang butuh di servis" ucap Ratu sambil menunjuk ke arah kilometer dengan tangannya.
Zidan hanya tersenyum canggung sambil menggosok pelan rambut belakang kepalanya karena ternyata dia ketahuan juga.
__ADS_1
Sebelumnya Zidan pikir Ratu tidak akan menyadari hal tersebut selama dia mampu menyembunyikannya dan beralasan yang masuk akal, namun rupanya Ratu tak bisa di bohongi hanya dengan kebohongan murahan seperti yang Zidan lakukan tadi.
Ratu hanya menggelengkan kepala dengan heran melihat Zidan melakukan hal aneh dengan melajukan mobilnya sangat pelan.