
"Sudah jangan banyak bicara kalau saya tidak segera membantu Randi mungkin nanti salah satu perusahaan hanya akan tinggal nama, dia sama sekali tidak mengetahui apapun mengenai perusahaan pusat, dia akan mendapatkan banyak kesulitan jika aku tidak membantunya" pungkas nyonya Wulan.
Mendengar ucapan dari nyonya Wulan yang sudah tidak dapat di bantah lagi akhirnya dengan terpaksa sekretaris Han segera mencarikan kursi roda sesuai dengan yang diinginkan oleh nyonya Wulan sebelumnya, setelah mengambilkan kursi roda sekretaris Han dengan salah satu suster di sana mulai mengangkat nyonya Wulan dan membantunya berpindah ke kursi roda.
Nyonya Wulan juga meminta sekretaris Han agar mengantarnya pulang terlebih dahulu agar dia bisa bersiap siap sebelum pergi ke perusahaan menemui putranya Randi.
"Sekretaris Han antar aku ke rumah dan ingat jangan beri tahu Randi dahulu mengenai hal ini" ucap nyonya Wulan memberi perintah,
Sekretaris Han mengangguk dan dia segera menyetir dengan cepat menuju kediaman nyonya Wulan, senyum mengembang mulai nampak terukir jelas di wajah nyonya Wulan, sekretaris Han yang memperhatikannya diam diam juga ikut merasa senang dengan perkembangan nyonya Wulan yang sudah tidak bersedih serta terpuruk lagi seperti sebelumnya.
"Syukurnya nyonya Wulan sudah tidak sedih lagi, semoga tuan Randi tidak marah saat melihat kedatangannya" gumam sekretaris Han sedikit cemas.
Sesampainya di rumah sekretaris Han hanya berdiri di depan mobil dan menunggu nyonya Wulan yang bersiap siap dahulu, para pelayan datang membantunya dan sekretaris Han hanya menunggu beberapa saat hingga nyonya Wulan selesai dan kembali mengantarkan nyonya Wulan ke perusahaan pusat untuk menemui tuan Randi.
Sepanjang perjalanan sekretaris Han sudah sangat cemas dan pikirannya tidak menentu perasaannya juga terus merasa sangat khawatir, dia hanya takut nanti tuan Randi tidak bisa menerima keberadaan nyonya Wulan.
Sedangkan nyonya Wulan yang duduk di kursi belakang justru merasa senang dan begitu antusias rasanya dia sudah tidak sabar untuk segera mengagetkan Randi dengan kedatangannya.
"Semoga Randi tidak benar benar membenciku, setidaknya dia tidak akan berani mengusirku di di kantor dan aku bisa membujuknya serta mengutarakan semua penyesalanku padanya" gumam nyonya Wulan yang sudah tidak sabar.
Melihat nyonya Wulan yang terus tersenyum berseri sekretaris Han justru semakin cemas hingga ketika sampai dia kembali bertanya dan memastikan lagi kepada nyonya Wulan.
"Nyonya tunggu, apa anda sungguh mau menemui tuan Randi dalam kondisi ini, apa tidak sebaiknya anda menunggu sampai tuan Randi pulang bekerja saja" ucap sekretaris Han membujuk nyonya Wulan dengan halus,
"Tidak, saya sudah membuat keputusan sekretaris Han, dan kau tidak perlu khawatir aku yakin Randi adalah anak yang baik dan dia tau bagaimana cara bersikap kepada ibunya sendiri ketika di kantor!" Jawab nyonya Wulan dengan tegas,
__ADS_1
"Baiklah mari saya bantu dorong nyonya" jawab sekretaris Han yang sungguh tidak bisa melakukan apapun lagi.
Sekretaris Han mulai mengetuk ruang kerja CEO Randi dan dia masuk ke dalam dengan mendorong kursi roda yang di duduki oleh nyonya Wulan, melihat wajah nyonya Wulan tentu saja tuan Randi begitu kaget dia bahkan sampai langsung berdiri dan wajahnya tercengang.
"Bagaimana bisa kau membawa dia ke kantor dalam kondisi begini sekretaris Han!" Bentak tuan Randi sambil menatap tajam pada sekretaris Han.
Saat itu tatapan dari tuan Randi seakan begitu penuh dengan ancaman di dalam dirinya dan sekretaris Han juga sudah gemetar merasa takut dengan amarah tuan Randi, untuk mencegah kesalah pahaman diantara mereka akhirnya sekretaris Han memotong ucapan tuan Randi yang hampir saja berpikiran yang tidak tidak.
"Atau jangan jangan kalian bersekongkol lagi untuk...." Ucap tuan Randi menduga sambil menyipitkan matanya menatap tajam penuh selidik kepada sekretaris Han dan nyonya Wulan,
"Ehh...tidak begitu tuan saya kemari hanya membantu nyonya Wulan karena dia terus memaksaku meminta agar aku membawanya menemuimu, tadinya aku hanya ingin pergi sendiri ke kantor lalu mengatur semua jadwal meeting untukmu, sungguh tuan hanya itu saja tidak ada apapun diantara saya dan nyonya Wulan" pungkas sekretaris Han yang memotong ucapan tuan Randi dengan cepat.
Randi diam sejenak dan tatapannya terus saja melekat pada sekretaris Han seakan dia tengah mencari kebenaran dari penjelasan yang diberikan oleh sekretaris Han sampai akhirnya nyonya Wulan angkat bicara, karena dia juga tidak mau mempersulit sekretaris Han atas dirinya.
"Sudah cukup Randi, jangan buat sulit sekretaris Han dan jangan melampiaskan kekesalan serta kekecewaanmu kepada orang lain, ibu yang memang memaksa sekretaris Han agar membawa ibu kemari" ucap nyonya Wulan.
"Sekretaris Han, urusi beberapa berkas dan jadwal meeting ku hari ini" ucap tuan Randi yang tiba tiba saja memberikan perintah pada sekretaris Han.
"Ba..baik tuan" jawab sekretaris Han sambil mengambil beberapa berkas yang diberikan oleh tuan Randi ke padanya.
Saat itu tuan Randi sengaja memberikan perintah dan tugas kepada sekretaris Han padahal sebelumnya dia baru saja menyelesaikan masalah tersebut, itu hanya sebagai alasan agar sekretaris Han pergi keluar dan meninggalkan dia bersama nyonya Wulan hanya berdua di dalam ruangan.
Setelah sekretaris Han keluar dari sana, tuan Randi langsung menutup pintu dengan rapat dan menguncinya dia juga tidak lupa menutup tingkap agar tidak ada siapapun yang bisa menguping pembicaraan serta mengintip situasi di dalam.
Setelah memastikan semuanya aman dia kembali berjalan menghampiri nyonya Wulan dan segera melontarkan pertanyaan kepadanya.
__ADS_1
"Ada apa kau kemari bukankah dokter mengijinkanmu pulang besok?" Ucap tuan Randi yang diam diam masih memperdulikan kondisi nyonya Wulan.
Nyonya Wulan tersenyum tipis karena dia jauh lebih mengetahui bagaimana karakter dan sifat Randi yang jelas sejak kecil sudah dia rawat seperti anaknya sendiri karena dia justru tidak memiliki seorang anak pun dari hubungannya dengan tuan Atmaja.
"Randi ibu sungguh minta maaf kepadaku, ibu tau kesalahan yang ibu perbuat begitu fatal dan pasti melukai perasaan sangat dalam tapi ibu tidak tau harus dengan cara apa lagi ibu menunjukkan penyesalan atas semua yang pernah ibu rencanakan untuk mengambil alih semua kekayaan ayahmu, ibu gelap akan harta dan ibu terhasut oleh sekretaris Diah, ibu sungguh minta maaf Randi, tolong maafkan ibu dan berikan kesempatan agar ibu bisa turut membantumu, setidaknya untuk mempertahankan dan mengurusi perusahaan peninggalan ayahmu" ucap nyonya Wulan yang kembali memohon maaf serta meminta kesempatan kepada Randi.
Randi diam beberapa saat dan dia terus berpikir keras mempertimbangkan ucapan nyonya Wulan, dia juga menatap dengan lekat kepada nyonya Wulan dan berusaha melihat ketulusan yang dia ucapkan padanya.
Perlahan Randi menghembuskan nafas dengan berat lalu diam mulai memutuskan untuk memberikan kesempatan dan memaafkan kesalahan ibunya.
"Baiklah...ibu kali ini aku maafkan dan aku akan berikan kesempatan bagi ibu untuk kembali memimpin perusahaan ini, namun jika sekali saja ibu mencoba berkhianat kepadaku lagi, sungguh aku tidak akan segan untuk menghancurkan mu, dan jangan harap kau akan menjadi bagian keluarga Atmaja!" Jawab Randi dengan penuh peringatan.
...****************...
...Hai readers jangan kaget jika bab dalam novel ini berkurang, bukan berarti ceritanya rampung namun masih dalam tahap revisi di bab awal agar lebih nyaman disajikan untuk para pembaca dan bab tidak terlihat begitu panjang....
...Terimakasih yah sudah mau membaca kisah ini sampai sejauh sekarang, kalian memang yang terbaik😘...
...Apalagi kakak yang nama akunnya Tantini Tan, terimakasih ya kak dimanapun kamu berada saya sungguh berterimakasih karena kakak sudah setia membaca karyaku ini....
...thanks readers selamat menikmati kisah ini, jangan lupa komen, rate and like yah, komentar kalian sangat berarti untuk membangun semangat menulis ku....
...Mulai sekarang author juga akan mengumumkan pembaca yang paling banyak dan setia membaca karyaku di setiap minggu....
...Tentunya nama nama itu akan tertulis di akhir bab, yuk yang semangat lagi membacanya🌼 ...
__ADS_1
...****************...