
Nyonya Merisa merasa terharu dengan jawaban dari Ratu padahal dia pikir pada awalnya Ratu akan marah ataupun tidak menyukai keputusannya namun rupanya dugaan dia salah besar karena Ratu justru malah menerimanya dengan mudah dan memahami keputusannya.
"Ratu dengan sikapmu yang sebaik ini justru saya semakin merasa bersalah padamu, maafkan saya Ratu" tambah nyonya Merisa sambil memegangi kedua lengan Ratu dengan erat,
"Tolong jangan seperti ini nyonya, saya sungguh baik baik saja perusahaan ini sangat penting untuk Zidan saya juga tidak ingin melihat perusahaan ini dalam kesulitan" ujar Mala sambil membalas genggaman dari nyonya Merisa.
Ratu bisa menerima keputusan dari nyonya Wulan meski itu juga berat bagi dirinya namun dia tidak bisa menjadi egois hanya demi dirinya sendiri, Ratu pikir lagi pula dia masih memiliki usaha toko bunga kecil kecilan dan Mala juga masih bekerja pada tuan Randi sehingga dia tidak akan terlalu sulit dalam masalah keuangan.
"Terimakasih ya Ratu dan sekali lagi saya minta maaf kepadamu" ucap nyonya Merisa merasa tidak enak,
"Tidak papa kalo begitu saya akan membereskan tempat saya dahulu, permisi" ucap Ratu dan pergi dari sana.
Setelah keluar dari ruangan itu barulah Ratu menghembuskan nafas dengan lesu dia baru melepaskan rasa yang sedari tadi dia tahan, rasanya memang sedikit sulit jika menerima pemecatan dengan cara seperti ini namun memangnya dia bisa melakukan apa.
Ratu pun segera kembali ke ruangannya dan membereskan semua barang barangnya di dalam perusahaan sampai ketika jam pulang tiba, Ratu segera membawa beberapa barangnya keluar bersamanya dan Ratu juga sudah meratapi ruangan yang sudah dia tempati selama beberapa bulan tersebut.
"Aku tidak akan terlalu berat meninggalkan tempat ini Zidan hubunganku dengan Zidan tidak rusak" gerutu Ratu sambil menatap ruangan yang sudah kosong,
Ratu pun segera menutup pintu ruangannya dan dia membawa semua barangnya masuk ke dalam lift, Ratu kesulitan menelan tombol lift karena dia membawa dua besar yang berisi banyak barang dan sangat berat untuk dia bawa, sedangkan tak lama Steven datang dia pun langsung membantu Ratu untuk membantunya menekan tombol.
"Lantai berapa?" Ucap Steven,
"Eh, Steven lantai dasar" jawab Ratu segera,
__ADS_1
Steven pun segera menekan lantai satu sesuai dengan yang di sebutkan oleh Ratu, setelah membantu Ratu menekan tombol lift, Steven segera membantu Ratu lagi dengan mengambil box di tangan Ratu.
"Sini biar aku saja, kau itu terlalu pendek untuk membawa barang sebesar ini" ujar Steven sambil mengangkat bos tersebut,
Ratu hanya tersenyum menanggapinya karena dia sudah paham Steven berkata begitu hanya sebagai alasan agar Ratu tidak menolak bantuan darinya.
"Terimakasih kak Steven kamu tidak seharusnya membantuku terlalu banyak" ucap Ratu sambil tersenyum lembut,
"Ayolah Ratu kita sudah saling mengenal sejak lama kenapa kamu bersikap seperti aku orang asing saja, lagian hanya membantumu membawa box kecil ini saja tidak masalah untukku, aku kan cukup kuat" ujar Steven menyombongkan dirinya,
"Baiklah" jawab Ratu kembali tersenyum senang.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka berdua sampai pintu lift terbuka dan Ratu segera mengambil box dari tangan Steven namun Steven melarangnya dengan cepat.
"Sini kak, kita sudah sampai kamu bisa kembali bekerja lagi" ucap Ratu sambil hendak meraih box miliknya,
"Eh, kenapa malah sedih seperti ini, sudah aku baik baik saja lagi pula aku tidak akan menjadi pengangguran meski keluar dari perusahaan ini dan Zidan juga tidak ada di sini jadi aku tidak terlalu sedih untuk meninggalkannya" kata Ratu menjelaskan,
"Ratu kamu memang sangat baik dan kamu memang idaman semua pria aku sudah sadar memang aku tidak pantas untukmu bahkan jika aku tidak bersama Astrid dulu tetap saja aku tidak cukup baik untuk wanita sepertimu, Ratu aku akan berusaha lebih keras agar bisa segera mempekerjakan kamu lagi" tambah Steven dengan penuh kesungguhan di dalam dirinya,
"Iya iya baiklah memang sudah seharusnya kak Steven memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikmu, tapi kamu tidak harus mengantarku pulang aku bisa pergi sendiri" jawab Ratu menolak tawaran dari Steven.
Meski Ratu sudah menolaknya dengan jelas dan tegas tetap saja Steven memaksa dengan mengancam tidak akan memberikan barang barang milik Ratu yang tengah ada di tangannya saat ini, sehingga mau tidak mau akhirnya Ratu pun mengalah dan mengijinkan Steven untuk mengantarnya pulang.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain tanpa Ratu ketahui tuan Randi sudah berada di negara ini dan dia sudah menunggunya pulang tepat di depan perusahaan Zidan, sudah sekitar setengah jam lamanya tuan Randi duduk di dalam mobilnya, menunggu Ratu keluar dari kantor.
Dan saat akhirnya dia melihat Ratu keluar dari sana tuan Randi sangat bahagia dan dia begitu bersemangat namun matanya mulai tertuju pada Steven yang terus tersenyum menatap Ratu ditambah mereka bercanda satu sama lain dan saling tertawa riang memperebutkan box yang berisi barang barang milik Ratu.
"Ehh...sudah Ratu biar aku saja aku ini sangat kuat apa kamu tidak mempercayai aku" ucap Steven sambil memperagakan kedua lengannya layaknya binaragawan yang berotot.
Melihat itu tentu saja Ratu tidak bisa menahan tawanya dan dia terus menertawakan Steven yang tak ada habisnya memperagakan seorang biaragawan dengan otot kecil di tangannya yang sama sekali hampir tidak terlihat.
"Ahaha...kak Steven otot kuat darimananya, lihat saja bahkan tanganmu lembek begitu sudah turunkan saja ini memalukan haha" kata Ratu sambil tertawa puas,
"Aishh ini tuh hanya ototnya saja yang sedang beristirahat nanti juga akan bangun lagi kalau sudah selesai Istirahat nya lihat saja nanti" balas kak Steven yang masih memamerkan ototnya.
Berbeda dengan mereka berdua yang sibuk bercanda dan berjalan satu sama lain tuan Randi sudah sangat terbakar di dalam mobilnya dia bahkan sempat memukul stir mobilnya beberapa kali untuk melampiaskan emosi dalam dirinya karena melihat Ratu begitu bahagia dan tertawa lepas saat bersama Steven di luar sana.
"Aish...bisa bisanya dia tertawa selepas itu bersama pria lain, awas saja aku tidak akan membiarkan pria manapun mencuri Ratu dariku!" Ancam tuan Randi sambil mengepalkan kedua lengannya dengan kuat.
Tuan Randi tidak bisa menahan emosi dan dirinya lagi dia langsung keluar dan menghampiri Ratu saat itu juga, bahkan tiba tiba saja tuan Randi merampas barang yang dibawa oleh Steven dengan kuat.
"Aku jauh lebih kuat di banding pria letoy sepertimu, minggir kau jaga jarakmu dengan calon istriku!" Bentak tuan Randi yang membuat Steven juga Ratu langsung terkejut.
Ratu membelalakkan matanya sempurna dia sangat kaget dan tidak menyangka tuan Randi tiba tiba muncul di hadapannya padahal yang dia tahu selama ini tuan Randi masih berada di luar negeri bahkan dia belum mendapatkan informasi apapun mengenai kedatangannya.
"Tu..tuan..kenapa anda ada di sini, bukankah..." Ucap Ratu bertanya dan tertahan karena tuan Randi langsung menahan ucapan Ratu,
__ADS_1
"Apa kenapa kau harus sekaget itu melihat kedatanganku bukannya senang aku sudah kembali dengan cepat kau malah seperti tidak senang aku datang" ucap tuan Randi dengan wajah kesalnya karena terbakar api cemburu,
Ratu semakin merasa heran karena baginya wajar saja jika dia merasa kaget pasalnya tuan Randi tiba tiba muncul dan merampas box barangnya yang di bawa oleh Steven, belum lagi kemunculannya itu sudah seperti hantu yang membuat syok semua orang.