
"Diah apa yang kau lakukan kenapa menghadang jalanku seperti ini, apa kau tidak tahu itu akan berbahaya bagi dirimu juga!" Bentak Zidan dengan tatapan serius,
"Ohh jadi tuan Zidan mengkhawatirkanku yah, terimakasih atas perhatianmu tapi aku tidak bisa membiarkan kau pergi dariku lagi, sebelumnya rencanaku sudah gagal dan aku tidak mau kehilangan kau lagi" ucap sekretaris Diah yang membuat Zidan sangat bingung,
"Apa maksudmu, kita sudah tidak bekerjasama lagi jadi aku harap kau tidak akan menggangguku dan orang orang yang aku cintai lagi" ujar Zidan memperingati,
Bukannya takut atau menghentikan kelakuannya setelah mendengar ucapan peringatan dari Zidan, sekretaris Diah justru malah tersenyum sinis dengan merotasikan matanya.
"Haha...kau bercanda tuan Zidan aku tidak sebaik wanita yang sudah menyia nyaiakanmu itu, aku tidak akan pernah melepas pria yang aku cintai meski harus menggunakan cara paling kotor" ucap sekretaris Dian dengan tatapan mata yang tajam.
Zidan sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan sekretaris Diah dan dia sangat melas meladeninya sehingga Zidan memilih untuk mengabaikan sekretaris Diah namun sayangnya sekretaris Diah berhasil menahan tangan Zidan saat Zidan hendak masuk kembali ke dalam taxi nya.
"Sudahlah terserah kau saja aku tidak perduli dan jangan harap aku akan menerima wanita keji sepertimu" jawab Zidan dan mengabaikannya,
"Tunggu kau tidak akan bisa lolos begitu saja dariku" ujar sekretaris Diah menahan Zidan.
Di saat sekretaris Diah terus berusaha menahan Zidan dan berdebat di pinggir jalan dalam waktu yang cukup lama, di sisi lain Ratu sudah menunggu kedatangan Zidan di kantor dalam waktu yang cukup lama.
Ratu sudah mulai bosan dan kesal karena sudah masuk jam kerja sedari tadi namun Zidan tak kunjung datang juga akhirnya Ratu memutuskan untuk pergi ke kediaman Zidan dan mencarinya secara langsung sebab dia merasa tidak enak hati dan terus mencemaskan Zidan sedari tadi malam.
"Aku tidak bisa diam saja, aku butuh kepastian kalau tidak aku akan terus merasa gelisah dan memikirkannya terus" gerutu Ratu dan dia segera pergi menuju kediaman Zidan.
Sesampainya di sana Ratu langsung menekan bel beberapa kali dan berdiri di depan pintu dengan perasaan tak sabar menunggu seseorang untuk membukakan pintu, tak lama Oma Rika tiba dan menyapa Ratu.
"Ratu ada apa kau kemari?" Tanya Oma Rika menyapanya,
"Oma, aku mau bertemu dengan Zidan apa dia masih ada di rumah aku sudah menunggu kedatangannya sejak tadi pagi tapi dia tidak kunjung datang juga ke kantor, aku mencemaskan dia makanya aku kemari untuk memastikan" ujar Ratu mengatakan niat kedatangannya.
__ADS_1
Oma Rika menunduk lesu dengan menghembuskan nafas yang berat lalu dia menghampiri Ratu dengan lebih dekat, hal itu membuat Ratu semakin mencemaskan Zidan dan dia sangat tidak sabar mendengar Oma Rika menjawab pertanyaan darinya.
"Ratu, sebenarnya Zidan melarang Oma untuk memberitahumu masalah ini namun Oma tidak bisa berbohong kepadamu" ujar Oma Rika dengan tatapan sayu kepada Ratu,
"Ada apa Oma, apa yang sebenarnya ingin Oma katakan?" Tanya Ratu sedikit bingung,
"Zidan sudah berangkat menuju bandara dia akan segera terbang ke negara XX menggantikan posisi ibunya untuk memimpin perusahaan pusat di sana" ucap Oma Rika membuat Ratu sangat kaget.
"A..APA?" teriak Ratu tercengang.
Ratu terbelakang dan dia sangat tercengang hingga membuka mulut dan matanya sangat lebar, Ratu tidak menyangka Zidan menyembunyikan kepergian dia darinya padahal perjalan itu bukanlah perjalanan bisnis biasa, dan itu jelas membutuhkan waktu yang lama juga tidak dapat dipastikan kapan dia akan kembali lagi dari sana.
Ratu tidak bisa berkata kata lagi setelah berteriak dia langsung berlari meninggalkan tempat itu dan pergi menyusul Zidan.
Ratu menaiki sebuah taxi dan dia meminta sang supir untuk melakukan taxi dengan kecepatan yang lebih tinggi menuju bandara karena dia tidak ingin terlambat untuk bertemu dengan Zidan sebagai yang terakhir kalinya.
Selama di perjalanan Ratu terus merasa cemas dan dia sangat takut kehilangan Zidan dia terus saja berharap agar Zidan bisa sedikit menunggunya hingga dia bisa menemui Zidan meski harus menjadi pertemuan terakhir di antara mereka berdua.
Sang supir pun menuruti keinginan Ratu dan mulai menginjak pedal gas dengan lebih kuat.
Sedangkan di sisi lain Zidan masih di tahan oleh sekretaris Diah dan kini amarah Zidan sudah tidak bisa dibendung lagi dia mendorong sekretaris Diah cukup keras sampai membuat sekretaris Diah tersungkur ke jalanan.
Zidan memanfaatkan kesempatan itu dia langsung masuk ke dalam taxi dan mobil langsung melaju cepat menuju bandara, sekretaris Diah juga tidak tinggal diam dia segera menyusul mobil Zidan namun sayangnya Zidan bukanlah orang biasa dia jauh lebih pandai dari sekretaris Han sehingga dia meminta sang supir taxi untuk berganti pakaian dengannya dengan begitu Zidan bisa menyamar dan dia turun di pinggir jalan sebelum mobil milih sekretaris Han bisa menyusul mobilnya.
"Pak tolong jalankan sesuai rencana kau harus membawanya ke tempat yang sangat jauh jangan sampai membuat dia curiga ingat itu" ujar Zidan memperingatkan,
"Baik tuan" jawab sang supir taxi menyetujuinya.
__ADS_1
Zidan segera turun dan dia langsung menaiki taxi lain yang lewat di sana beberapa saat setelah dia melihat mobil sekretaris Diah telah berlalu melewati dirinya.
"Hah, aku berhasil membodohi wanita licik itu" gerutu Zidan dengan puas.
Kini Zidan bisa melanjutkan perjalanannya menuju bandara dan dia mulai merasa sedikit tenang namun kini pakaian yang dia kenakan sangat tidak nyaman untuknya dengan begitu sesampainya di bandara Zidan memutuskan untuk mengganti pakaiannya dahulu karena masih ada waktu sebelum jam penerbangan.
Sementara Ratu yang masih berada di perjalanan kini dia hampir sampai ke bandara sayangnya di depan sana terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas yang membuat jalan terhambat dan terjadi kemacetan, Ratu sungguh kesal karena taxi yang dia tumpangi bergerak sangat lambat.
"Pak apa yang sebenarnya terjadi di depan sana kenapa kemacetannya tak kunjung selesai juga?" Tanya Ratu dengan wajah cemas,
"Sepertinya terjadi kecelakaan tunggal, biar saya memastikannya keluar" ujar sang supir.
Ratu segera menghentikan supir tersebut dan dia memilih untuk turun di sana.
"Tunggu, tidak usah saya turun di sini saja pak" ucap Ratu sambil segera mengambil tas dan turun dari taxi tersebut.
Ratu terpaksa harus berlari dari sana menuju bandara yang jaraknya lumayan jauh tapi setidaknya hanya itu satu satunya cara yang bisa Ratu lakukan agar dia bisa sampai tepat waktu.
Saat tengah berlari Ratu sampai di tempat di mana kecelakaan lalu lintas itu terjadi, larinya juga sempat tertahan karena banyak kerumuman orang di sana.
Ratu tidak sempat melihat dengan jelas namun matanya masih bisa menoleh beberapa saat.
"Wanita itu mirip seperti sekretaris Diah, apakah itu memang dia?" Gumam Ratu saat dia melihat seorang perempuan yang dimasukkan ke dalam sebuah ambulance.
Ratu tidak ada waktu untuk memastikan hal tidak penting seperti itu, dia pun memilih mengabaikannya dan terus fokus pada tujuan awal dia untuk pergi ke bandara menyusul Zidan secepatnya.
Beberapa saat kemudian akhirnya Ratu sampai di depan bandara dia berhenti sejenak sambil tertunduk memegangi lututnya yang terasa hampir copot karena berlari dalam jarak yang cukup jauh tanpa henti.
__ADS_1
Bahkan kakinya sudah lecet karena dia berlari mengenakan sepatu hak tinggi.
"Hah... Hah.... Hah... Astaga, aku benar benar lelah, tapi aku harus segera mencari penerbangan menuju negera XX, aku tidak boleh lemah demi Zidan" gerutu Ratu menyemangati dirinya sendiri.