PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Mala yang kesal


__ADS_3

"Hmmm...semoga saja begitu ya kak, tapi apa aku akan sanggup berdampingan bersama orang seperti sekretaris Han" ujar Mala kembali lesu,


"Kamu yang sabar saja ya, kakak yakin tuan Randi tidak akan membiarkan sekretaris Han semena mena terhadapmu apalagi kakak, aku juga tidak akan diam saja jika sekretaris Han mengganggumu" ucap Ratu memberikan semangat.


Ratu terus menyemangati Mala agar dia bisa kembali semangat lagi, akhirnya setelah melihat Ratu sangat mendukungnya, Mala pun kembali menjadi semangat.


"Aahhh iya, kakak benar jika kakak saja berani melawannya aku juga akan menghajar dia jika dia berani menghempas posisiku di perusahaan apalagi menggangguku aku akan melawan dia seperti sebelumnya haha" ungkap Mala semakin bersemangat.


Malam itu mereka berdua sudah memutuskan untuk tidak lagi berpikiran negatif mengenai sekretaris Han, dan akan terus melawannya sampai titik darah penghabisan.


Hingga ke esokan harinya Ratu sudah bangun pagi pagi dan mulai membereskan rumah karena mulai hari ini dia sudah berhenti bekerja di perusahaan sedangkan Ratu belum membicarakan masalah dirinya yang berhenti bekerja kepada Mala, sehingga saat Mala bangun dan dia sudah siap untuk pergi ke kantor Mala merasa bingung dan menatap heran kepada Ratu yang masih memakai baju tidur di badannya.


"Kak, kenapa masih memakai piayama apa kakak cuti hari ini?" Tanya Mala dengan heran sambil mengunyah makanan di mulutnya,


"E..euhh itu Mala kakak sudah di PHK dari perusahaan, dan mulai sekarang sepertinya kakak akan bekerja di toko bunga lagi lagi pula dengan begitu kita tidak perlu mempekerjakan orang lain dan akan mengirit pengeluaran kita juga" balas Ratu sambil berusaha tersenyum.


Ratu sengaja tidak membicarakan masalah ini karena dia tahu bahwa Mala juga dalam keadaan yang tidak baik baik saja dalam pekerjaannya sehingga Ratu tidak ingin ikut membebani pikiran Mala, tapi nyatanya Ratu tetap harus memberitahu Mala tentang pekerjaan nya tersebut.


Mala yang mendengar kabar itu dia sangat kaget dan membelalakkan matanya sempurna, dia tidak menyangka kakaknya akan di PHK tepat ketika nyonya Merisa tiba dan mulai memimpin perusahaan tersebut, Mala sangat tidak terima dan dia sangat marah saat mendengarkan kabar tersebut.


"Kak apa apaan mereka ini?, Bagaimana bisa mereka memecat kakak seenaknya, apa alasan mereka melakukan ini aku sangat tidak terima!" Bentak Mala sambil mengerutkan kedua alisnya sangat kesal.


Ratu langsung berusaha menenangkan emosi dalam diri Mala karena Ratu sudah tahu reaksi seperti ini akan dia hadapi dari Mala yang memang selalu heboh ketika mendapatkan kabar apapun mengenai dirinya.

__ADS_1


"Mala...sudah cobalah untuk bersikap tenang dulu, kakak bisa menjelaskannya ini tidak seperti yang kamu pikirkan" ucap Ratu hendak menjelaskan,


"Ya sudah kenapa?" Tanya Mala tidak sabar,


"Begini kakak di pecat karena perusahaan tidak mampu membayar gajih untuk kakak lagi, sebab proyek yang tengah berjalan oleh Steven mangkrak karena salah satu investor terbesar mengundurkan diri karena bukan Zidan yang mengelolanya, karena itu terpaksa Steven menutup perusahaan dia sementara dan bergabung dengan nyonya Merisa, kakak juga merasa ini tanggung jawab kakak juga sebab kepergian Zidan ada hubungannya dengan kakak, makanya kakak tidak keberatan sama sekali saat nyonya Merisa memilih keputusan ini" ungkap Ratu menjelaskan semuanya,


"Tapi kan kak tetap saja aku merasa semua ini tidak adil untukmu" balas Mala yang masih merasa tidak terima.


Meski pun sudah mendengarkan penjelasan yang sangat masuk akal dari Ratu, hati Mala tetap merasa tidak terima karena dia tahu jika semua ini cukup tidak adil bagi kakaknya.


"Mala mau bagaimanapun kita hanyalah seorang karyawan terlebih kakak hanyalah karyawan yang masuk ke perusahaan itu karena Zidan, jika bukan karena kebaikan dia dan hubungan persahabatan diantara kami mungkin kakak tidak akan bisa bekerja di perusahaan tersebut, kakak tidak bisa melakukan apapun Mala kita hanya bisa menerima dengan lapang dada, mungkin ini sudah jalan yang terbaik" tambah Ratu menasehati Mala,


"Ya sudah jika kakak merasa baik baik saja, tapi aku akan tetap memberi perhitungan pada kak Steven meskipun aku sangat menyukainya tapi dia seharusnya bertanggung jawab karena semua ini ulah dia, seandainya dia bisa mengurus proyek itu dengan baik, mungkin semua ini tidak akan terjadi padamu" ujar Mala yang masih dengan kekesalannya.


Ratu hanya takut jika Mala membuat keributan dengan Steven nanti tuan Randi bisa saja memecat Mala atau bahkan mem-blacklist dia dan membuat Mala tidak bisa mendapatkan pekerjaan dari perusahaan manapun.


Karena ketakutan itu Ratu pun segera memperingati Mala dengan keras agar dia tidak menyesal di kemudian hari, sebab semua ini demi kebaikan dan masa depan Mala juga.


"Mala jangan keterlaluan, sudah kamu tidak perlu memperpanjang masalah ini tidak ada urusannya dengan Steven, kakak juga tidak akan berhubungan dekat lagi dengannya. Lebih baik kamu fokus dengan pekerjaanmu di perusahaan jangan sampai sekretaris Han menyingkirkan mu" ucap Ratu dengan tegas lalu segera meninggalkan meja makan.


Mala sangat kesal karena membahas hal itu Ratu jadi marah terhadapnya, Mala pun segera pergi dengan perasaan yang masih dongkol, hingga sesampainya di kantor Mala membanting tas miliknya dengan keras ke atas meja ditambah ekspresi wajahnya yang ditekuk sangat muram.


"Huuuhh....semua ini karena kak Steven, aku membencinya mulai sekarang!" Gerutu Mala sangat kesal.

__ADS_1


Di waktu yang tak lama sekretaris Han datang ke ruangan itu juga lalu dia menaruh tas kerjanya di atas meja, di ruangan tersebut terdapat dua meja di mana satu meja besar adalah milik sekretaris Han sedangkan yang satunya meja berukuran kecil berada di pojokan adalah milik Mala yang sudah di siapkan oleh sekretaris Han kemarin.


Sudahlah Mala kesal dengan kondisi pekerjaannya di kantor, sekarang pikirannya justru tidak bisa fokus sebab memikirkan masalah kakaknya hingga ketika sekretaris Han memanggilnya Mala sama sekali tidak memberikan respon karena dia sibuk menggerutu kesal seorang diri.


"Aaahhh aku sangat kesal, bagaimana bisa mereka terus memperlakukan orang lain semena mena, padahal mereka tidak harus memecat kakak, aku yakin kakak pasti sedih dia hanya menyembunyikannya dariku dan aku tidak suka melihatnya pura pura bersikap baik baik saja" gerutuan Mala yang tiasa habisnya,


"Mala....Mala....HEY...MALA APA KAU DENGAR! Teriak sekretaris Han tepat di samping telinga Mala,


"Astaga... sekretaris Han menjauhlah dari telingaku, aishhh aku ini tidak tuli!" Bentak Mala sambil mengusap telinganya yang terasa berdenging karena teriakan dari sekretaris Han,


"Ha, tidak tuli apanya aku sudah memanggilmu beberapa kali, tapi kau sama sekali tidak ada respon" ujar sekretaris Han dengan kesal,


"Memangnya ada apa sih ini kan belum masuk jam kerja, mengganggu saja" ucap Mala dengan sinis,


"Heh beraninya kau bicara seperti itu padaku, apa kau lupa aku masih atasanmu!" Kata sekretaris Han sambil menatap Mala dengan tatapan tajam yang menusuk,


"Huuh untuk apa aku menghormatimu, lagi pula tuan Randi memang sudah kembali dan kau memiliki jabatan yang sama denganku selain itu sekarang kau juga tidak memiliki wewenang untuk bisa memecatku, jadi untuk apa aku takut denganmu" balas Mala dengan wajah yang acuh.


Sekretaris Han menggigit giginya kuat dan mengepalkan kedua lengannya sekuat tenaga hingga sedikit bergetar saking kuatnya dia menahan amarah pada Mala.


"Aishhh...dasar kau, sudahlah tuan Randi akan segera tiba kita harus menyambutnya, cepat turun ke bawah" ungkap sekretaris Han sambil berlenggang pergi meninggalkan Mala,


"Hah, dasar sekretaris Han itu baru juga memimpin beberapa Minggu kenapa harus menjadi sombong seperti itu, untunglah dia hanya pengganti, jika tidak kasihan sekali semua karyawan di perusahaan ini harus di pimpin manusia emosional sepertinya" gerutu Mala sambil bersiap siap untuk turun ke lantai bawah menyambut kedatangan kembali tuan Randi.

__ADS_1


__ADS_2