PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Makan siang


__ADS_3

Dulu sebelum Seli pergi ke luar negeri bersama ibunya mereka selalu berjanji satu sama lain untuk memasang foto bersama mereka di layar kunci ponsel mereka masing masing, dengan tujuan agar mereka tidak melupakan satu sama lain meski sesuatu terjadi diantara mereka.


Dan Ratu masih melakukan janji itu sampai saat itu begitu pula dengan Seli, melihat foto tersebut secara tidak sengaja, membuat Ratu kembali mengingat sosok Seli.


"Seli aku harap kau selalu baik baik saja aku sangat merindukanmu, kapan kau akan kembali padaku" gerutu Ratu dan memeluk ponselnya sendiri.


Beberapa hari telah berlalu dan kini perusahaan Zidan sudah di pimpin oleh ibunya Zidan yang tak lain adalah nyonya Merisa, Oma Rika juga tak pernah datang ke perusahaan lagi dan Ratu masih bekerja di sana sebagai sekretaris nyonya Merisa seperti biasa, meski hubungannya dengan nyonya Merisa tidak terlalu dekat namun selama dia menjadi presdir di sana nyonya Merisa selalu memperlakukan Ratu dengan sangat baik.


Padahal Ratu telah menolak putra kesayangannya sendiri, sering kali Ratu merasa tidak enak hati ketika mendapatkan begitu banyak kebaikan dari nyonya Merisa namun dia juga tidak bisa menolaknya sebab nyonya Merisa selalu bersikap demikian padanya.


Seperti saat ini, di waktu jam makan siang nyonya Merisa dengan sengaja mengundang Ratu untuk makan siang bersamanya di sebuah restoran mewah dan di sana ada Oma Rika juga.


Awalnya Ratu berniat menolak ajakan nyonya Merisa karena dia karena malu dan tidak ingin merepotkan nyonya Merisa.


"Ratu apa kamu senggang sekarang?" Tanya nyonya Merisa,


"Iya nyonya ada yang bisa saya bantu untuk anda" jawab Ratu dengan penuh hormat,


"Ohh tidak ada saya hanya ingin mengajakmu makan siang bersama sekaligus Oma ingin melihatku sepertinya dia merindukanmu" ujar nyonya Merisa dengan gamblang,


"Tapi nyonya apa itu tidak merepotkanmu saya bisa menemui Oma ketika selesai bekerja" jawab Ratu merasa tidak enak,


"Tidak papa lagi pula kamu itu sudah dianggap cucu oleh Oma berarti kamu juga seperti putri saya, ayo kita pergi sekarang" kata nyonya Merisa sambil berjalan beriringan dengan Ratu.


Ratu merasa canggung dan gugup karena ini adalah pertama kalinya dia bertemu secara langsung dengan ibunya Zidan ditambah hubungannya dengan Zidan sudah renggang kepergian Zidan juga disebabkan olehnya itu semakin membuat Ratu merasa tidak nyaman.


Saat di dalam mobil nyonya Merisa beberapa kali memperhatikan wajah Ratu yang memperlihatkan kegelisan, nyonya Merisa juga mengerti mungkin ini terlalu canggung bagi dia dan Ratu sebab sebelumnya mereka tidak pernah bicara secara santai dan hanya berhubungan tentang pekerjaan dan bisnis.

__ADS_1


"Ratu, saya tahu ini canggung untukmu tapi tolong jangan anggap saya bos mu ketika di luar, bukankah kamu dan Zidan bersahabat jadi santai saja jangan terlalu tegang seperti itu" ujar nyonya Wulan pada Ratu,


"Ahh ..i...iya nyonya terimakasih" balas Ratu dengan senyum ramah.


Meski nyonya Wulan sudah mengatakan itu tidak dapat di pungkiri perasaan Ratu masih tetap merasa aneh dan canggung bahkan ketika mereka sudah sampai di restoran tidak ada pembicaraan diantara mereka, nyonya Wulan sibuk dengan ponselnya sedangkan Ratu terus menatap ke sana kemari menunggu kedatangan Oma Rika.


"Ku harap Oma segera datang setidaknya aku ada teman mengobrol jika ada dia" gumam Ratu penuh harap.


Sampai tak lama akhirnya Oma Rika tiba dan dia langsung menyapa Ratu dengan perasaan senang yang tak terkira.


"Ouhh Ratu sayangku Oma sangat merindukanmu akhirnya Oma bisa melihat wajah cantikmu" ucap Oma Rika sambil langsung memeluk Ratu erat,


Ratu pun dengan gembira membalas pelukan Oma Rika, entah kenapa setiap kali melihat dan mendapatkan pelukan dari Oma Rika, Ratu selalu teringat dengan pelukan hangat ibundanya, semua perhatian Oma dan tutur katanya mirip sekali dengan mendiang ibunya Ratu sehingga Ratu sangat menyukai Oma Rika dan menyayanginya setulus hati begitu pun sebaliknya.


"Oma Ratu juga sangat merindukanmu" balas Ratu dan mereka segera duduk di meja yang sama.


Kedua orang tua itu begitu akur dan harmonis aku bahkan merasa iri dengan Zidan karena dia di kelilingi oleh kedua orang yang begitu hangat dan selalu mendukungnya dalam setiap keadaan, mengingat itu Ratu menjadi sedikit sedih karena menolak Zidan secara langsung.


"Mestinya dulu aku tidak menolak Zidan dengan sejelas itu meski aku tidak menyukainya harusnya aku menyiapkan wanita lain untuknya dulu, mungkin semua ini tidak ada terjadi" gumam Ratu dalam hati kecilnya.


Oma Rika dan nyonya Merisa yang sibuk mengobrol mereka mulai memperhatikan Ratu yang tiba tiba diam dan menunduk lesu.


"Ratu apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya nyonya Merisa sambil memegangi tangan Ratu dengan lembut,


"Tidak ada nyonya, saya hanya sedikit teringat dengan Zidan dan merasa bersalah padanya" jawab Ratu dengan senyum yang menyedihkan.


Melihat ekspresi wajah Ratu Oma Rika langsung tersenyum karena dia yang lebih mengetahui semuanya apalagi perjalanan Zidan yang selalu mengejar Ratu.

__ADS_1


"Hey, Ratu sudahlah jangan memikirkan anak itu dia hanya terlalu menyukaimu karena kamu terlalu cantik dan baik hati, tentu saja semua orang akan menyukaimu jadi wajar jika dia sulit melupakanmu, kamu juga tidak bisa memaksakan perasaan mu untuk menerima anak itu jadi semua ini bukan kesalahan mu maupun siapapun ini hanya soal perasaan" ucap Oma Rika memberikan nasihat dan pengertian pada Ratu,


"Tapi Oma jika saat itu aku tidak menolaknya secara langsung mungkin Zidan tidak akan seperti ini" balas Ratu yang masih merasa tidak enak hati,


"Ratu aku ibunya dan aku tidak keberatan atas keputusanmu, biarkan dia mencari hal baru dan aku yakin dia cukup tampan untuk mencari penggantinya, kau juga harus menemukan pria yang lebih baik dari anakku baru itu akan sepadan dengan penolakkanmu padanya" tambah nyonya Merisa dengan menatap Ratu serius.


Ratu mengangguk menanggapi ucapan dari nyonya Merisa dia akhirnya tidak perlu merasa cemas lagi setelah mendengar ucapan tersebut dari nyonya Merisa secara langsung, awalnya Ratu kita nyonya Merisa tidak menyukainya karena sikapnya selalu dingin dan berwajah datar.


Tapi ternyata nyonya Merisa memiliki pemikiran yang sama dengan Oma Rika dan kini dia tidak perlu banyak mengkhawatirkan masalah Zidan meski dia sangat sedih atas kepergian Zidan yang meninggalkannya tiba tiba.


Merekapun mulai menikmati makan siangnya bersama dengan penuh kehangatan.


Sedangkan di sisi lain hari ini adalah hari keberangkatan tuan Randi dia sudah mengirimkan semua barangnya lebih dulu dan kediamannya di negara XX sudah di persiapkan dengan beberapa pelayan khusus yang dipilih oleh nyonya Wulan secara langsung.


Diam diam sekretaris Han juga sudah mengalihkan kembali kepemimpinan atas nama tuan Randi dia sudah membereskan semuanya dan menata kediaman tuan Randi seperti semula.


Mala yang merasa curiga karena sudah beberapa hari ini Sekretaris Han sudah memindahkan barang barangnya ke ruangan yang sudah dia tempati lalu Mala juga di berikan tempat yang baru dimana mejanya berhadapan dengan meja kerja sekretaris Han yang lama.


Karena penasaran Mala pun segera menanyakannya.


"Tuan Han, kenapa kau memindahkan semuanya kemari lagi?" Tanya Mala dengan heran,


Saat itu Sekretaris Han tengah sibuk memindahkan barang dan Mala berbicara pada Han sambil berjalan mengikuti Han kesana kemari.


"Tugasku sudah selesai jadi tentu saja aku kembali ke tempatku semula" jawab sekretaris Han jujur.


Mala membelalakkan mata masih merasa bingung dan tidak memahami ucapan dari sekretaris Han sehingga dia kembali bertanya untuk memastikan dan memperjelas.

__ADS_1


__ADS_2