PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Diketahui Randi


__ADS_3

Mala hanya mengangguk patuh dan mengerti dengan tatapan tajam Ratu padanya, dia pun akhirnya seketika diam dan tidak banyak bertingkah sampai mereka tiba di kediaman Ratu, saking malunya Ratu langsung keluar dan berlari tanpa berpamitan lagi pada Zidan dan masuk ke dalam rumah begitu saja.


Zidan hanya tersenyum melihat tingkah Ratu yang begitu lucu baginya ketika dia tersipu dan malu dengan godaan darinya.


Zidan segera membalikkan mobilnya dan pergi meninggalkan halaman rumah Ratu, dia merasa sangat senang dan berbunga bunga hari itu karena walaupun dia sakit dan merasa sangat lemas namun bisa mendapatkan perhatian dari Ratu yang sangat jarang dia dapatkan.


"Aahhh....kalau saja aku begini setiap hari aku tidak papa meski harus sakit hehe" gerutu Zidan saat di perjalanan kembali ke rumah sakit.


Saat sampai ke rumah sakit nampak Steven sudah jauh lebih baik dan dokter mengatakan bahwa Steven sudah bisa kembali pulang, Zidan sangat bahagia mendengar sahabatnya sudah bisa kembali ke rumah walaupun belum sembuh total, namun saat Zidan melihat Steven nampak wajahnya justru malah murung.


"Steven ada apa denganmu, bukankah kamu harusnya senang kamu sudah boleh pulang?" Tanya Zidan dengan heran,


"Iya aku senang tapi aku akan pergi ke mana?, Tinggal di rumah yang pernah aku tempati dengan Astrid aku tidak sanggup Zidan semua bayangan dia masih menghantuiku, aku akan menjual rumah itu dan membangkitkan lagi perusahaan" jawab Steven dengan lesu,


Zidan menyemangatinya dan memberikan kekuatan pada Steven agar dia tidak merasa sedih lagi.


"Sudah...kan masih ada gue, Lo bisa tinggal di rumah gue selama apapun yang Lo mau, gue juga bakal bantu Lo mendirikan kembali perusahaan dari awal, kita bekerja keras bersama" ucap Zidan sambil menepuk pelan sebelah pundak Steven.


Steven pun tersenyum dan dia mulai memiliki lagi kepercayaan dirinya dan dia lebih bersemangat lagi untuk membangun perusahaan peninggalan ayahnya.


Rasa syukur tidak henti hentinya Steven rasakan karena memiliki sahabat sebaik Zidan mengingat tuan Randi yang juga sahabatnya namun sama sekali tidak pernah membantunya sedikitpun, walau begitu Steven juga mengerti bahwa Randi juga dalam kondisi yang tidak baik setelah kepergian tuan Atmaja.


"Sudah jangan melamun lagi, ayo kita pergi ke rumahku saja" ucap Zidan sambil membereskan beberapa barang dan segera memapah Steven membawanya pulang ke rumah.


Saat sampai di rumah mereka berpapasan dengan Oma Rika dan Steven langsung menyapanya dengan perasaan yang malu karena dulu sempat bertengkar dengan Zidan juga Oma Rika.


"Zidan siapa yang kau bawa pulang, kenapa membawanya kemari Oma kan sudah bilang jangan ikut campur dengan urusannya lagi!" Bentak Oma Rika secara langsung dihadapan Steven,


"Hallo...Oma saya minta maaf karena saat itu.." ucap Steven tertahan karena Zidan langsung menyambar begitu saja.


"Ayolah Oma, Steven ini sahabat Zidan juga apa Oma lupa dia dulu juga sering membantu Zidan, apa salahnya kita membantu dia sekarang, Oma sendiri yang berkata kalau aku, Steven dan Randi adalah saudara jadi kenapa sekarang Oma seperti ini?" Ucap Zidan menyadarkan Oma Rika.


Oma Rika pun akhirnya terdiam dan dia memperbolehkan Zidan untuk membawa Steven masuk ke dalam rumah tersebut.


"Ya sudah...ayo cepat bawa dia masuk Oma sudah memaafkannya, tapi awas saja kalau dia kembali lagi dengan wanita iblis itu, Oma akan membuatnya tidak bisa hidup dengan tenang!" Ancam Oma Rika yang membuat Zidan tertawa mendengarnya.


Jelas saja Zidan dan Steven tertawa kecil mendengar ancaman dari Oma Rika sebab mereka sudah sangat mengenal Oma Rika dari sejak lama, karena Oma Rika tidak mungkin melakukan apa yang dia ancamkan kepada siapapun sebab sekeras dan sekejam apapun ucapan Oma Rika dia tetap memiliki hati yang lembut dan selalu membantu semua orang di belakang secara diam diam.


Zidan pun membawa Steven masuk dan membantunya membaringkan tubuh di kamar tamu.

__ADS_1


"Steven mulai sekarang ini akan menjadi kamarmu, tinggal saja di sini anggap seperti rumahmu sendiri, aku masih ada pekerjaan di kantor, aku akan pergi sekarang" ucap Zidan yang dibalas anggukan oleh Steven.


Zidan segera kembali ke kantor dan Oma Rika langsung masuk menghampiri Steven yang saat itu hendak istirahat.


"Oma..ada apa Oma mencari ku?" Tanya Steven yang refleks terduduk,


"Tidak papa kalau kau masih sakit tiduran saja, Oma hanya ingin sedikit berbicara padamu" ucap Oma Rika,


"Ada apa Oma, bicarakan saja" balas Steven dengan penasaran,


"Steven Oma turut berduka cita atas kepergian kedua orangtuamu, maaf Oma tidak bisa membantumu dulu, senadainya dulu Oma berhasil membujuk ibumu dan membantu pengobatan ayahmu mungkin akhirnya tidak akan seperti ini" ucap Oma Rika merasa bersalah dan membuat Steven kebingungan karena Oma Rika tiba tiba bicara demikian,


"Oma semua ini bukan kesalah Oma, jadi aku harap Oma jangan pernah merasa seperti itu lagi apalagi menyalahkan diri Oma sendiri, aku baik baik saja Oma, mungkin ini sudah takdirku lagi pula aku senang tuhan masih memberikan orang orang baik seperti Oma dan Zidan di sampingku" jawab Steven sambil menggenggam kedua lengan Oma Rika dengan tulus.


Oma Rika senang mendengar jawaban dari Steven dan dia memeluk Steven dengan air mata yang jatuh secara tiba tiba, rasanya Oma Rika turut merasakan rasa sakit yang mendalam ketika dia memeluk Steven.


Sejak dulu memang Oma Rika selalu menganggap Steven dan Randi seperti cucunya sendiri namun seiring berjalannya waktu dan mereka beranjak dewasa orang tua mereka mulai mengekang mereka untuk meneruskan perusahaan, diantara ketiga keluarga yang berpengaruh di negara ini hanya Oma Rika yang tidak pernah mengekang Zidan untuk menjadikan perusahaan sebagai nomor satu.


Bagi Oma Rika selama perusahaan berdiri dengan kokoh dan terus bisa menggaji para karyawannya itu sudah jauh lebih baik, begitu pula dengan ibunya Zidan meski harus menjalankan perusahaan di luar negeri seorang diri dia tidak pernah memaksa Zidan untuk menjadi penerus perusahaan suaminya.


Selama ini Zidan melakukan semuanya hanya karena wasiat dari mendiang ayahnya yang sudah mempercayakan semuanya kepada dirinya, dan tujuannya untuk menyetarakan perusahaan dengan perusahaan Atmaja adalah full keinginannya sendiri karena dia tidak ingin menjadikan perusahaan yang dia pimpin patuh pada kebijakan yang di tentukan oleh perusahaan Atmaja.


Terlebih ketika mengetahui bahwa pimpinan perusahaan Atmaja bukan lagi tuan Atmaja sendiri melainkan sudah beralih tangan menjadi nyonya Wulan padahal sudah jelas semua itu adalah milik Randi dan sudah seharusnya Randi lah yang mendapatkan semua itu ketika ayahnya tiada, nyonya Wulan memang licik namun tuan Randi tidak bisa melawan ibunya sendiri.


*****


Di sisi lain nyonya Wulan sudah kembali menyusun rencana dengan sekretaris Diah untuk menjatuhkan perusahaan Zidan dengan cara cara licik yang ada dalam otak mereka.


"Hahaha....Diah idemu sungguh bagus, dengan menyuap semua klain juga perusahaan kecil lain agar tidak mau bekerja sama dan meng investasikan uang mereka kepada perusahaan Zidan, tentu dia tidak akan mempu bertahan lama dalam menjalankan proyeknya" ucap nyonya Wulan dengan perangai licik dari matanya,


"Dasar bodoh, aku tidak akan membiarkan rencanamu berhasil!" Gumam sekretaris Diah di dalam hatinya.


Memang semua ide itu adalah usulan dari sekretaris Diah namun semua itu dilakukan semata mata hanya agar nyonya Wulan tidak menaruh curiga kepadanya, tanpa nyonya Wulan ketahui di belakangnya sekretaris Diah justru lebih ganas dari yang dia lihat.


Sekretaris Diah sudah menyiapkan rencananya sendiri untuk membantu Zidan karena dia sangat menyukainya, sekretaris Diah tidak akan mungkin membuat orang yang dia cintai mengalami kesulitan sedikitpun.


Nyonya Wulan sudah mulai melancarkan aksinya dia mengirimkan beberapa orang bayaran yang sudah dia suap sebelumnya untuk mengancam petinggi perusahaan yang hendak melakukan investasi dengan perusahaan Zidan.


Selang beberapa saat semua masalah sudah terselesaikan semua anak buah nyonya Wulan menuruti keinginannya namun sekretaris Diah juga tidak tinggal diam, dia mengancam langsung anak buah nyonya Wulan dan menyekapnya di sebuah gudang yang ada di kantor tersebut.

__ADS_1


"Dengar baik baik, jika kau berani membantu nyonya Wulan aku akan mematahkan kaki dan tanganmu, dan jangan mencoba lari dariku" bentak sekretaris Diah dengan ancaman yang menyeramkan.


Saat itu sekretaris Diah tentu saja membawa banyak bodyguard yang selama ini patuh padanya sehingga mendapatkan ancaman yang begitu menyeramkan orang suruhan nyonya Wulan langsung meminta ampun dan berjanji pada sekretaris Diah.


"Baik....sekretaris Diah...saya hanya akan menggagalkan beberapa saja, sesuai dengan keinginan anda, tolong ampuni saya, saya janji akan melakukan apapun untuk anda" ucap pria itu yang membuat senyum jahat muncul dari wajah sekretaris Diah.


Sekretaris Diah pun memberikan ampun pada pria itu namun dia tetap membuat pria itu merasakan satu pukulan keras pada perutnya sebagai peringatan agar dia tidak mengingkari janjinya sendiri.


"Pengawal beri dia sedikit peringatan yang membekas!" Ucap sekretaris Diah memberikan perintah,


"Jangan....jangan....tolong ...ampun..arhkkkk" teriak pria itu meringis kesakitan menahan pukulan keras pada perutnya,


Sekretaris Diah tersenyum puas lalu dia pergi meninggalkan pria suruhan nyonya Wulan itu begitu saja, dia sudah sangat puas dan berhasil melindungi Zidan orang yang dia sayangi.


"Setelah aku berhasil mendapatkan semua kekuasaan dan kekayaan nyonya Wulan, akan dengan mudah bagiku menaklukan Zidan...hahahaha..." Teriak sekretaris Diah dengan lantang di dalam ruangannya.


Tanpa sekretaris Diah ketahui saat itu di luar ruangannya ada nyonya Wulan yang hendak masuk ke dalam ruangan sekretaris Diah dan dia tidak sengaja mendengar kebusukan dari mulut sekretaris Diah secara langsung.


Mendengar itu nyonya Wulan langsung bergetar hebat dan dia segera pergi dari sana, pikirannya kalut dan dia sangat ketakutan jika semua hartanya sudah di kuasai oleh sekretaris Diah, nyonya Wulan langsung memeriksa semua data kepemilikan perusahaan dan semua aset miliknya, setelah memeriksa semuanya ternyata masih ber atas namakan Randi nyonya Wulan merasa tenang.


Dan dia marah besar melampiaskan amarahnya dengan mengobrak abrik semua barang yang ada di atas mejanya begitu saja.


"Arkhhh.....sialan....dia benar benar iblis sialan...untung aku tidak sebodoh itu, aku bahkan belum memiliki surat kekuasaan atas semua aset ini tapi dia sudah merencanakan untuk merebutnya, dasar...wanita j*Lang!" Teriak nyonya Wulan dengan semua emosi yang menggebu di dalam dirinya.


Niat awal nyonya Wulan ingin mengambil alih semua aset dari tangan Randi putranya sendiri akhirnya dia mengurungkan niat itu karena mengetahui sekretaris Diah juga mengincar harta putranya, bodohnya nyonya Wulan dia tidak mengetahui bahwa di dalam ruangannya sudah di pasangan sebuah alat penyadap oleh orang suruhan sekretaris Han dan semua teriakkan dia dan pembicaraannya kepada sekretaris Diah yang membicarakan mengenai rencana penyuapan klain Zidan sudah terdengar dengan jelas oleh Randi sang pewaris tunggal seluruh kekayaan Atmaja group.


Pertama kali sekretaris Han mendapatkan notifikasi dia langsung datang menghadap tuan Randi ke ruangannya dan memberikan semua rekaman suara itu pada tuan Randi, mereka berdua mendengarkan semuanya dari awal hingga akhir.


Tangan tuan Randi sudah mengepal dengan kuat dan dia memukul meja hingga tangannya terluka, rasa kecewa yang begitu besar Randi rasakan dia bahkan hampir di tipu oleh ibu kandungnya sendiri.


"Aku tidak menyangka ibu bisa sejahat itu, kenapa Han?, Kenapa baru sekarang aku mengetahui kebusukannya...arkhhh.....aku tidak akan membiarkan mereka berhasil mengambil sedikitpun harta dari ayahku!" Bentak tuan Randi dengan amarah yang besar.


Sekretaris Han bergidik ngeri melihat kemarahan tuan Randi yang begitu memuncak saat itu juga Randi langsung mengesahkan bahwa dirinya adalah pewaris Tunggul keluarga Atmaja dan akan mengubah semua aset keluarga menjadi atas nama dirinya.


Secara diam diam Randi melakukan pengalihan nama dengan bantuan sekretaris Han dia sudah melakukan semuanya dengan sangat baik tanpa sepengetahuan nyonya Wulan dia juga sengaja meminta sang pengacara ayahnya agar merahasiakan semua ini terlebih dahulu, dan pengacara itu menurutinya.


Sesuai dengan surat wasiat yang ditinggalkan oleh tuan Atmaja sebelumnya bahwa sembilan puluh persen aset keluarga akan menjadi milik Randi sebagai penerus dirinya sedangkan sepuluh persennya lagi menjadi milik nyonya Wulan, Randi melakukan semuanya sesuai apa yang tercatat dia sama sekali tidak tertarik dengan harta ibunya.


Dan hanya membiarkan dia mendapatkan bagiannya sesuai dengan keinginan sang ayah, kini setelah mengetahui kebusukan ibunya sendiri, Randi mulai merasa curiga dengan identitasnya yang asli.

__ADS_1


"Aku ragu jika dia ibu kandungku?, Sekretaris Han cari tau mengenai kelahiran ku yang sebenarnya dan mengenai nyonya Wulan" ucap tuan Randi memberi perintah.


Sekretaris Han sempat bingung karena sudah jelas dari akta yang dimiliki tuan Randi bahwa nyonya Wulan adalah ibu kandungnya, namun karena itu adalah perintah sekretaris Han tetap harus melaksanakannya.


__ADS_2