PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Persaingan yang Ketat


__ADS_3

Setelah selesai mengisi perut, Ratu langsung membereskan pakaiannya yang sedikit berantakan dan bersiap siap pergi ke ruangan Zidan.


"Ayo Ratu...semangat....." Ucap Ratu berseru menyemangati dirinya sendiri.


Setelah menghirup udara dengan panjang dan melepaskannya dengan lega Ratu langsung melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam ruangan Zidan.


"Pak.... Ini mengenai berkas materi yang nanti akan di bahas dengan perusahaan dari luar negeri untuk investasi proyek baru bersama perusahaan kita dan kerja sama langsung dengan perusahaan pak Steven" ucap Ratu sambil memberikan sebuah berkas dalam map biru,


Zidan mengambil map tersebut dan segera memeriksanya dia membaca dengan teliti dari awal hingga akhir baru setelahnya dia menandatangani berkas tersebut.


Setelah selesai memeriksa semuanya dan sudah di tandatangani tanda kesepakan semuanya Zidan pun segera bersiap siap dan mereka langsung pergi ke ruang rapat mengingat para tamu sudah tiba begitu juga dengan Steven yang tiba bersamaan dengan Zidan juga Ratu di ruangan tersebut mereka hanya saling sapa sekilas sebab rapat sudah mau dimulai.


Zidan nampak menjelaskan semua materi dengan lancar begitu pula dengan Steven yang menjelaskan mengenai proyek yang akan di pimpin olehnya semua investor di sana nampak begitu puas dengan presentasi Zidan juga Steven yang begitu kompak.


Ratu hanya tersenyum dari ujung meja kepada Zidan karena sedari tadi sejak awal menjelaskan materi hingga selesai Zidan dan Steven terus menatap tanpa henti kepada Ratu itu membuat Ratu sedikit merasa tidak nyaman dan merasa sedikit canggung tidak menentu.


"Aduh....kenapa mereka ini melihatku terus apa ada yang salah dengan penampilanku?, Atau memang ini perasaanku saja yang merasa mereka seperti melihatku?" Gumam Ratu merasa kebingungan.


Sampai akhirnya rapat selesai tepat saat jam makan siang dan Ratu segera membereskan berkas bekas presentasi Zidan di atas meja namun saat Ratu merapihkannya Zidan membantu dia begitu juga dengan Steven.


"Ratu sudah aku sendiri yang membereskannya" ucap Zidan sambil mengambil berkas di tangan Ratu,


"Eh..eh...tidak papa pak biar aku saja, ini kah tugasku, sudah bapak dan pak Steve bisa pergi makan siang semua ini biar menjadi tugasku" jawab Ratu dengan sedikit canggung,


"Tidak papa kami bisa membantumu, Ratu ayo makan siang beramaku, aku tau tempat makan yang enak di sekitar sini" ucap Steven menimpali,


Zidan langsung membalikkan badannya dan berkacak pinggang menatap dengan tatapan tajam.


"Eh...eh...eh...kau ini sibuk harus mengurusi perusahaanmu, sudah sana cepat kembali ke perusahaanmu dan selesaikan rencana proyek ini dengan lebih baik, Ratu akan makan siang denganku hari ini" ucap Zidan menyuruh Steven untuk pergi,


"Zidan kau kan setiap hari dan setiap saat bisa melihat Ratu kapan saja, kalian ini kan satu kantor sedangkan aku begitu jauh dan sulit menyempatkan waktu dengan Ratu, tidak ada salahnya kau sedikit mengalah padaku hari ini" jawab Steven yang tidak mau mengalah.


Mereka berdua saling tatap dengan tajam dan nampak sebuah pertarungan dalam diam diantara mereka terlihat begitu jelas suasana seakan berubah dingin dan mencekam, Ratu semakin kebingungan dia harus berbuat apa untuk menghentikan persaingan diantara dua pria di hadapannya.


"Ahh...sudah....sudah kalau begitu kalian makan siang berdua saja aku akan makan siang sendiri, baiklah ini sekalian jika kalian mau membereskannya aku pergi lebih dulu" ucap Ratu sambil langsung bergegas pergi dari sana secepat kilat.


Zidan yang hendak menyusul Ratu ditahan oleh Steven begitupun sebaliknya sehingga diantara mereka tidak ada yang berhasil makan siang dengan Ratu, alhasil Zidan dan Steven membereskan berkas bekas rapat dan mereka makan siang berdua di salah satu restoran yang tak jauh dari sana.


Ratu juga memang makan siang di restoran itu namun mereka duduk di bangku yang berbeda, dari kejauhan Ratu menahan tawa melihat Zidan dan Steven memasang wajah cemberut saling berhadapan satu sama lain dengan memakan makan siangnya secara terpaksa.


"Ehehehe.....mereka itu lucu sekali, hah rasakan itu siapa suruh mereka malah bertengkar membuatku pusing saja" gerutu Ratu sambil melanjutkan menikmati makan siangnya.


Beberapa saat setelah selesai makan siang Steven segera kembali ke perusahaannya sedangkan Zidan dan Ratu pergi kembali ke perusahaan dan melanjutkan pekerjaannya lagi.


Di sisi lain sekretaris Diah sudah sampai di rumah lamanya yang tak jauh dari kantor Zidan, sejak dulu dia memang tinggal di rumah itu dan dengan sengaja membeli rumah itu agar dekat dengan tempatnya bekerja namun sayangnya semenjak kejadian pertengkaran dengan Ratu saat itu membuat dia di pecat oleh Zidan hingga Zidan membencinya.


Dendam di dalam hati seorang sekretaris Diah masih tetap membara dan akan terus hidup hingga dia bisa menebus dendamnya itu.


Setelah sampai di rumahnya sekretaris Diah langsung menyalakan televisi dan melihat pemberitaan yang sudah dipenuhi dengan kabar kecelakaan tunggal nyonya Wulan seorang istri dari keluarga Atmaja yakni keluarga paling berpengaruh di dua negara sekaligus.


Dia tertawa dengan puas hingga suaranya itu memenuhi ruang tengah rumahnya.

__ADS_1


"Ahahaha...hahaha...rasakan itu, rencanaku berjalan dengan mulus dan aku yakin dia akan mati sebentar lagi, mengalami kecelakaan separah itu meski tidak mati dia tidak akan normal seperti dulu lagi, itu adalah balasan bagi orang yang berani menikamku dari belakang" ucap sekretaris Diah dengan seringai jahatnya.


Setelah melakukan kejahatan sebesar itu sekretaris Diah sama sekali tidak merasa takut ataupun cemas, dia hanya terus bersikap santai bahkan masih sempat sempatnya merayakan kecelakaan nyonya Wulan, dia pergi ke bar seorang diri dan meminum banyak alkohol untuk merayakan kejahatannya sendiri.


Sekretaris Diah sungguh bukan tandingan nyonya Wulan dia wanita paling jahat dan keji yang bahkan tidak merasa bersalah apalagi takut setelah hampir menghilangkan nyawa seorang manusia akibat perbuatannya yang disengaja.


Saat sekretaris Diah pulang dari sebuah bar tidak sengaja Zidan melihatnya karena berpapasan di jalan namun Zidan hanya melihatnya sekilas sebab saat itu dia tengah mengemudi sedangkan sekretaris Diah tengah mabuk bersama seorang pria yang memapah tubuhnya.


"Itu kan Diah, kenapa dia masih berkeliaran di daerah ini, bukankah dia sudah lama pergi ke luar negeri semenjak aku memecatnya, mengapa dia tiba tiba muncul lagi di daerah ini" gerutu Zidan merasa curiga.


Walau dia merasa curiga dan aneh dengan kemunculan Diah sang mantan sekretarisnya itu namun Zidan tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal tidak penting seperti itu baginya sehingga dia memutuskan untuk mengabaikannya.


Zidan sampai di kediamannya dan dia bertemu dengan Oma Rika yang sudah cukup lama menunggu kepulangan sang cucu kesayangannya itu.


"Oma kenapa Oma belum tidur ini kan sudah larut Oma" ucap Zidan,


"Zidan kemarilah Oma sengaja menunggumu sejak tadi" jawab Oma Rika sambil menyuruh Zidan duduk di sofa tepat di sampingnya.


"Ada apa Oma?" Tanya Zidan dengan mengerutkan kedua alisnya bersamaan,


"Oma penasaran kenapa Ratu ada di perusahaanmu?, Apa dia bekerja denganmu?, Sejak lama kalian semakin dekat seperti itu?, Apa kamu sudah pernah berkencan dengan Ratu?" Tanya Oma Rika bertubi tubi dengan mata yang terbelalak dan cerah.


Zidan hanya bisa menepuk Jidatnya cukup keras karena di pusing dengan semua pertanyaan yang menyerang dia dengan bertubi tubi dan semua pertanyaan itu sungguh membuatnya frustasi.


"Astaga... Oma menungguku sampai selarut ini hanya untuk menanyakan hal seperti itu?" Balas Zidan tidak percaya,


Oma Rika hanya tersenyum dan dia terus menuntut Zidan agar segera menjawab pertanyaannya karena Oma Rika sangat penasaran sekali, apalagi Oma Rika begitu berharap agar Zidan dan Ratu benar benar bersama.


Zidan sudah sangat lelah dan dia juga bingung bagaimana menjawa Oma Rika yang padahal sudah jelas bahkan sampai saat ini Zidan masih jauh dalam kata berhasil untuk mendapatkan perhatian dan merebut hati Ratu.


"Aaahhh ....Oma Zidan sudah sangat lelah dan mengantu, besok saja Zidan jawab yah....bye Oma selamat malam" ucap Zidan langsung berdiri dan pergi dari sana sambil berpura pura mengantuk,


"Aishh...anak itu benar benar, Zidan awas saja yah jika besok kamu belum memberikan jawaban pada Oma, Oma akan tarik kembali suntikan dananya awas saja kau!" Teriak Oma Rika terpaksa harus melontarkan ancaman agar cucunya itu menurut padanya.


Zidan langsung mempercepat langkahnya dan masuk ke kamar segera, dia duduk di tepi ranjang sambil mengacak rambutnya dengan frustasi.


"Arkhhh...Oma ini ada ada saja kenapa dia sangat penasaran dengan hubungan percintaan anak muda, memangnya Oma tidak pernah muda apa, dia juga lebih bawel dari ibu ahhh aku akan pusing kalau lama lama begini terus" gerutu Zidan sambil membaringkan tubuhnya ke belakang.


Sedangkan Oma malah tersenyum sendiri sambil masuk ke dalam kamarnya karena dia sudah berpikiran terlalu jauh dan banyak membayangkan mengenai hubungan Zidan dengan Ratu seandainya mereka menikah di masa depan.


"Aaa....aku tidak sabar untuk menimang cicit, Ratu pasti akan memberikanku cicit yang baik hati sepertinya bukan keras kepala seperti Zidan, anak itu membuat Oma nya emosi saja setiap hari" gerutu Oma Rika yang tidak ada habisnya.


Berbeda dengan Zidan yang saat pulang sudah disajikan ocehan dari Oma yang sangat mengganggu pikiran juga mentalnya, Ratu justru malah mendapatkan banyak pesan dari tuan Randi dan beberapa panggilan telpon yang tidak sempat dia jawab karena Ratu baru menyalakan ponselnya lagi setelah tadi mematikannya hendak memulai rapat.


"Aduhh....aku lupa baru menyalakan ponselku, sekarang Astaga ada apa dengan tuan Randi kenapa dia meninggalkan banyak sekali panggilan dan pesan untukku?" Gerutu Ratu merasa heran.


Karena saat itu tengah di pinggir jalan Ratu tidak sempat membuka pesan tersebut dan menghubungi balik tuan Randi, Ratu pun segera pergi untuk membeli beberapa makanan kesukaan Mala dahulu untuk menebus janjinya kemarin yang gagal dia tepi akibat lupa karena malah menghabiskan banyak waktu untuk memperbaiki mobil sekretaris Han yang tidak tau terimakasih itu.


"Ahh ...aku harus cepat membeli makanan untuk Mala sebelum semakin malam dan tidak ada bus yang tersisa untukku pulang" ucap Ratu dan segera menyebrang jalan.


Ratu sudah membeli beberapa makanan diantaranya ayam krispi, pizza, sup tulang sapi, sate ayam, martabak manis bumbu kacang, acar lobak, kue sagu dan beberapa makanan ringan lainnya, Ratu yakin Mala pasti akan senang mendapatkan banyak makanan ini, dan dia akan puas menikmatinya.

__ADS_1


"Ahhh....aku yakin Mala akan sangat suka dengan semua makanan yang aku beli untuknya" ucap Ratu sambil menunggu bus jurusan menuju rumahnya tiba.


Tak lama akhirnya bus pun tiba dan Ratu segera naik dengan sedikit kesulitan membawa banyak barang di tangannya, saat hendak masuk ke dalam bus dia begitu kesulitan namun untunglah ada Steven yang entah datang dari mana tiba tiba saja membantu Ratu membawakan belanjaan tersebut.


"Sini biar aku bantu" ucap Steven dari belakang secara tiba tiba dan meraih beberapa kantung kresek yang di bawa Ratu,


"Ohh....terimakasih" jawab Ratu dengan tersenyum senang.


Mereka berdua pun masuk ke dalam bus dan duduk bersebelahan, Ratu merasa heran kenapa Steven masuk ke dalam bus menuju jurusan ke alamat rumahnya sedangkan sebelumnya yang Ratu tahu rumah Steven berbeda arah dengannya.


"Eummm...kak, kenapa kamu masuk bus ini, memangnya kamu mau ke mana?" Tanya Ratu penasaran,


"Tadinya memang aku menunggu bus jurusanku namun tak sengaja melihatmu kesulitan tentu saja aku langsung membantuku, kalau tidak kamu pasti sudah ditinggalkan oleh bus ini kan, jadi aku tidak memutuskan mengantarmu pulang sekarang" jawab kak Steven dengan santai.


Ratu hanya termenung dan kaget sampai membuat mulutnya terbuka dan matanya membesar, Ratu tidak mengira kak Steven bisa sebaik itu mau membantunya sampai mengantarkannya pulang hanya demi membawakan belanjaan miliknya.


"Aa...a...ahh, begitu ya aku jadi merasa tidak enak karena sudah merepotkanmu" ucap Ratu sungguh merasa tidak enak,


"Tidak papa, lagi pula aku sendiri yang memutuskan membantumu bukan kah yang meminta bantuan ku lebih dulu jadi santai saja lagian kita kan sudah kenal cukup lama apa yang harus di khawatirkan" jawab kak Steven semakin membuat Ratu tidak enak,


"Terimakasih kak, sungguh terimakasih" balas Ratu berterimakasih,


"Iya sama sama, jangan terlalu tidak enak seperti itu padaku" ujar Steven yang masih sama seperti dulu.


Ratu tidak menyangka setelah sekian lama tidak pernah berkomunikasi lagi dengan kak Steven, rupanya dia masih terlihat seperti orang yang sama tidak ada sesuatu yang berubah darinya, dia masih sangat lembut, santai dan mempesona di mata Ratu, namun mungkin kali ini bedanya Ratu sudah tidak memilki perasaan apapun padanya sehingga dia tidak secanggung dulu saat berhadapan dengan kak Steven dalam waktu yang lama.


Setelah bicara beberapa saat sudah tidak ada pembahasan lagi diantara keduanya selama perjalanan, hingga sampai di kediaman Ratu dan Steven membantunya hingga sampai di depan rumah, Ratu mengetuk pintu dan segera memanggil Mala untuk membantunya membawa barang barang tersebut.


Saat keluar Mala sangat kaget begitu bahagia melihat idolanya ada di depan pintu tanpa dia harus mengundang atau pun mengejarnya dengan susah payah.


"Wahhh.....astaga...ada apa ini, kenapa kakak pulang dengan idolaku, ya ampun kak Steven saat dalam gelap sekalipun wajahmu tetap bercahaya di mataku, ayo...mari mari masuk kak" ucap Mala yang justru malah mempersilahkan Steven masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Ratu diabaikan begitu saja dan ditinggalkan di luar rumah seorang diri dengan belanjaan yang penuh di tangannya.


"Aishh...Mala di sini yang kakakmu adalah aku kenapa kau malah menyuruh Steven yang orang asing masuk lebih dulu ke dalam rumah....." Teriak Ratu tidak terima.


Mendengar teriakkan Ratu, Steven segera kembali lagi setelah menaruh barang yang dia bawa sebelumnya lalu dia segera membantu Ratu mengambil baran barang di tangannya juga.


"Ahh...terimakasih kak Steven kau lebih baik dari adikku yang tidak tahu malu itu, bisa bisanya dia melupakanku dalam sekejap ketika melihatmu, aku mulai membencimu karena itu" jawab Ratu dengan wajah yang lesu.


Mereka bertiga duduk dalam satu meja yang sama dan Mala terus menatap sambil tersenyum mengembang menatap dengan lekat kepada Steven, sedangkan Steven justru menatap.Ratu dan sesekali tersenyum kepada Mala.


Berbeda dari mereka berdua yang nampak tersenyum senang, Ratu justru dalam keadaan yang tertekan dia sangat tidak nyaman karena Steven berada diantara mereka, Ratu menatap tajam sesekali kepada Mala dan juga Steven secara bergantian, dia terus menatap sambil berpikir keras bagaimana caranya mengusir Steven dari rumah itu secepatnya.


"Huhh....sudah cukup, ini sudah malam kak apa kau tidak akan pulang?" Ucap Ratu memberikan kode agar Steven segera pulang dari sana.


Namun sayangnya kode yang dia lakukan dengan mengeditkan sebelah mata dan mengibaskan tangannya sama sekali tidak digubris oleh Steven dan dia malah menjawab dengan jawaban yang membuat Ratu sangat kesal.


"Tidak papa meski sudah sangat malam aku bisa menginap di sini, iya kan Mala" jawab Steven dengan menatap Mala yang membuat Mala seketika mengangguk.


Ratu sudah sangat jengkel melihat pemandangan yang membuat dia muak ketika di hadapan Steven Mala bisa berubah dengan cepat dan seperti terkena hipnotis semua ucapan Steven dia turuti dan di iyakan sedangkan kakaknya sendiri dia abaikan dan dia anggap seperti tidak ada diantara mereka.

__ADS_1


__ADS_2