
Mala tidak bisa diam dan dia terus berjalan mondar mandir sambil menggigit kukunya sesakli sampai ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah, Mala langsung berlari dengan cepat menyebrangi jalan sampai terus masuk ke dalam gedung perusahaan.
Dia dengan gesit melewati banyak orang yang berjalan di sekitar sana dan langsung masuk ke dalam lift dengan terburu buru dan mendahului orang lain.
"Hehe...tolong permisi tuan Han akan marah jika aku tidak segera sampai, permisi...permisi" ucap Mala samb terus berjalan melewati para karyawan lain yang juga baru keluar dari lift.
Dengan terburu buru dan nafas yang menderu akhirnya Mala sampai di lantai atas dan dia langsung masuk ke dalam ruangan wakil presdir yang tak lain kini menjadi ruangan Han.
"Hah....hah...hah.... Tuan maaf saya terlambat sedikit apa yang ingin anda katakan tadi?" Ucap Mala sambil membungkuk memegangi lututnya yang terasa lemas.
Han hanya diam beberapa saat sampai akhirnya dia mulai membuka pembicaraan kepada Mala.
"Tidak ada yang ingin saya bicarakan lagi kepada sekretaris yang tidak bijaksana sepertimu, ini adalah hari pertama kamu bekerja di perusahaan tapi kamu bahkan mengabaikan panggilan dari bos mu sendiri apa kau pikir hal yang bisa di toleransi olehku!" Bentak Han dengan wajah yang merah padam.
Awalnya Mala mengira Han tidak akan semarah itu padanya karena sudah biasa baginya hanya mengabaikan sebuah panggilan saja sebab itu masih di jam istirahat, namun rupanya kali ini Han marah besar dia juga sungguh tidak bisa mentoleri perbuatan Mala.
"Eu..euu..... Maaf pak saya sungguh merasa menyesal awalnya saya kira itu tidak mendesak karena masih dalam jam istirahat" jawab Mala sambil meminta maaf,
"APA KAU BILANG?, tidak mendesak, apa kau tidak bisa melihat seberapa banyak panggilan telpon yang aku lakukan kepadamu, hah?, Kau masih berani berkata itu tidak mendesak sekarang!" Bentak Han semakin jengkel sambil memegangi keningnya.
Mala sungguh merasa bersalah dan dia hanya bisa menunduk menerima bentakkan dari Han serta mengakui semua kesalahannya.
"Saya sungguh minta maaf pak, saya janji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi kedepannya dan saya siap menerima konsekuensi apapun yang akan anda berikan akibat perbuatan saya" jawab Mala sambil terus menunduk tidak berani menatap wajah Han.
Beberapa saat Han berpikir sampai akhirnya dia menemukan cara yang cukup cemerlang untuk menghukum Mala atas perbuatannya.
"Ahhh...baiklah kalau begitu kau harus membereskan semua barangku pada di ruangan ini dengan rapih dan taruh semua barang barang itu layaknya di tempat sebelumnya di simpan" ucap Han sambil terus fokus pada laptopnya.
Mala kaget dan dia refleks langsung ingin menolak permintaan dari Han saat itu namun ketika dia melihat wajah Han yang menatapnya dengan tajam dan menaikkan kedua alisnya bersamaan Mala langsung sadar dengan perbuatan dia sebelumnya dan dia hanya bisa pasrah ketika menyadarinya.
"Tapi pak saya...." Ucap Mala tertahan karena melihat tatapan tajam dari Han.
"APA?" balas Han dengan serius.
__ADS_1
"A...aahhh....tidak pak tidak ada apa apa saya akan melakukannya sekarang iya hehe" jawab Mala sambil tersenyum paksa.
Di sisi lain sebenarnya Han sudah berusaha keras menahan tawa ketika melihat wajah dan senyum paksa Mala yang begitu lucu baginya, namun sayangnya Han tidak bisa tertawa dengan lepas saat itu sebab dia tidak ingin menghancurkan reputasinya terlebih di sana masih ada Mala sehingga Han yang sudah tidak tahan menahan tawa dia pun langsung keluar pergi dari ruangan itu hanya untuk tertawa saja.
"Ptrr...ppttt... Ahahaha wajahnya tadi sungguh sangat menggelikan, aku tau bagaimana dia menahan emosi dalam dirinya haha rasanya enak sekali mempermainkan gadis kasar sepertinya" ucap Han sambil tertawa sendiri di depan ruangnya sendiri.
Para karyawan lain yang melewati tempat itu mereka menahan kebingungan pada Han yang terus tersenyum juga sesekali tertawa sendiri sambil menutupi mulutnya dengan kedua lengannya.
Sedangkan di sisi lain Mala terus menggerutu kesal dan membereskan semua barang dengan kasar dan penuh kekesalan, sementara Han yang sudah puas tertawa mengingat ekspresi terpaksa dari Mala kini dia kembali masuk dan nampak Mala yang masih sibuk menata barang barangnya ke atas tak di sana.
*****
Berbeda dengan Mala yang diperlakukan seenaknya juga banyak dijahili oleh Han, Ratu justru begitu canggung hari itu. Bahkan sudah seharian Ratu belum bertemu Zidan padahal mereka adalah CEO dan sekretarisnya sendiri namun entah kenapa Zidan sama sekali belum memanggil atau meminta bantuan apapun kepada Ratu sepanjang hari ini.
Dan saat selesai makan siang Ratu yang merasa sedikit cemas dia memutuskan untuk menemui Zidan secara langsung di kantornya dan bertanya kepada Zidan lebih dulu perihal hal tersebut.
Awalnya Ratu juga merasa ragu saat sudah berdiri di depan ruangan Zidan namun dia terus berusaha meyakinkan dirinya dan mengesampingkan rasa malu serta rasa gugupnya, Ratu mulai mengetuk pintu ruangan tersebut beberapa kali sampai mendapatkan sahutan dari dalam.
"Tok... Tok... Tok" suara pintu yang diketuk oleh Ratu dari luar,
Setelah mendapatkan jawaban dari Zidan Ratu langsung masuk sambil menarik nafasnya panjang untuk menenangkan dirinya, saat sampai di depan meja Zidan Ratu kembali merasa gugup tak menentu.
"Eu ..eu...aa... Pak..ehh... Tuan Zidan apa ada hal yang bisa saya bantu?" Tanya Ratu bertanya,
Zidan mengesampingkan laptopnya dan dia menatap Ratu beberapa saat lalu kembali fokus pada pekerjaannya yang lain sambil menjawab pertanyaan Ratu dengan wajah yang dingin.
"Tidak ada, kembalilah" jawab Zidan yang tidak seperti biasanya.
Mendengar gaya bicara Zidan yang juga ikut berubah Ratu semakin cemas ada yang tidak beres dengan Zidan semenjak kejadian di mana dia menolak Zidan.
Melihat perubahan seperti itu akhirnya Ratu memberanikan diri untuk bicara santai pada Zidan dan memanggilnya tanpa sebutan tuan maupun Pak, namun Ratu justru malah mendapatkan reaksi yang tidak disangka sangka.
"Zidan sebenarnya ada apa kenapa kamu seperti menjauhiku?" Tanya Ratu dengan bicara santai.
__ADS_1
Zidan menatap ke arah Ratu sambil mengerutkan kedua alisnya lalu dia mulai mengangkat tangannya sampai menggebrak meja dengan keras.
"Brakkk ...." Suara gebrakan meja oleh Zidan.
Ratu langsung terperangah dan dia kaget sampai tak bisa bergerak Ratu melihat ke arah Zidan dengan perasaan heran dan kebingungan.
Untunglah saat kejadian itu hanya ada Ratu dan Zidan di ruangan tersebut sehingga bisa lebih memungkinkan bagi Ratu menanyakan alasan mengapa Zidan seperti itu kepadanya.
"Astaga....Zidan apa yang kau lakukan, ada apa sebenarnya apa aku melakukan kesalahan sampai kau semarah ini denganku?" Jawab Ratu sedikit cemas.
Saat itu Ratu sangat cemas persahabatan yang terjadi cukup lama antara dia dengan Han akan rusak hanya karena hal selelah yang tidak bisa kami berdua pahami sepenuhnya.
Ratu juga mulai panik dan kaget saat melihat Zidan mulai menatapnya dengan tajam tatapan mata Zidan saat itu jelas sangat berbeda dari biasanya saat itu seakan Ratu melihat orang yang berbeda dengan Zidan yang dia kenal sebelumnya.
"Zi...Zidan ada apa denganmu kenapa menatapku seperti itu, apa aku melakukan kesalahan?" Ucap Ratu lagi dengan gugup,
"Diam!, Ratu aku tidak mau membencimu dan tidak ingin membuatmu terluka tolong tinggalkan aku sekarang, beri aku waktu untuk menenangkan diri, aku mohon keluar dari ruanganku!" Ucap Zidan dengan wajah yang serius.
Ratu benar benar kaget mendengar ucapan Zidan ini adalah pertama kalinya Zidan berkata seperti itu padanya, susah payah Ratu menelan salivanya dan dia hanya bisa terperangah laku langsung keluar dari ruangan itu tanpa kata kata lagi.
Setelah Ratu keluar dari ruangan Zidan kembali duduk dan dia mengurut dahinya yang terasa pusing dan tidak menentu, dia juga merasa bersalah karena sudah bicara kasar dan mengusir Ratu seperti tadi.
"Aishh...Zidan bagaimana bisa kau tidak terkendali seperti tadi, arghhh Ratu pasti akan membenciku sekarang sial!" Gerutu Zidan menyesali perbuatannya sendiri.
Zidan yang sudah kacau dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya dan memilih menyudahi pekerjaannya lalu pergi dari kantor lebih awal sedangkan Ratu hanya bisa duduk termenung di ruangannya dengan perasaan yang aneh.
Saat itu Ratu merasa hatinya sedikit sakit mendapatkan perlakuan seperti tadi dari Zidan namun di sisi lain Ratu juga merasa bersalah sebab dia juga tau Zidan seperti itu karena perkataannya yang kurang lembut saat menolak pengungkapan perasaan Zidan padanya ketika di tepi danau sebelumnya.
"Zidan....maafkan aku, aku memang tidak cukup baik untuk pria sepertimu, maafkan aku Zidan aku sungguh tidak tau harus berbuat apa sekarang" gerutu Ratu dengan perasaan campur aduk.
Saat itu Ratu sendiri tidak bisa memahami perasaan dalam dirinya entah dia memang menyukai tuan Randi dan hanya menganggap Zidan sebagai sahabat atau justru sebaliknya tapi ketika mendapatkan hal seperti itu dari Zidan hatinya terasa sakit, bahkan lebih sakit ketika dia pernah di usir dari rumah tuan Randi sebelumnya.
"Ya...ampun ada apa denganku, tidak ....aku tidak mungkin menyukai Zidan aku hanya menyayangi ya sebagai sahabat tidak lebih dari itu" ucap Ratu menyadarkan dirinya.
__ADS_1
Ratu pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya untuk menghapus semua perasaan sedih dalam dirinya dan berharap bisa mendapatkan kesegaran dengan mencuci wajahnya.