PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
Ke esokannya


__ADS_3

Sekretaris Han sempat bingung karena sudah jelas dari akta yang dimiliki tuan Randi bahwa nyonya Wulan adalah ibu kandungnya, namun karena itu adalah perintah sekretaris Han tetap harus melaksanakannya.


Tuan Randi meneruskan kembali pekerjaannya dan dia juga kembali membuka arsip keluarga yang tidak pernah dia buka sebelumnya, saat mengingat sesuatu mengenai semua kenangan masa kecilnya tuan Randi mulai teringat dengan sebuah koper yang dulu pernah diberikan oleh ayahnya.


Mengingat hal tersebut tuan Randi langsung terburu buru pulang ke rumahnya dan mengabaikan sekretaris Han yang terus berteriak memanggil namanya.


"Tuan.....tuan ..anda mau kemana?" Teriak sekretaris Han,


"Han kau urus semua pekerjaan di perusahaan aku harus menghubungi pengacara ayahku" ucap tuan Randi dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Randi melajukan mobil dengan kecepatan yang tinggi dan dia mengemudi sambil menelpon sang pengacara ayahnya karena sebelumnya pengacara ayahnya juga yang menyampaikan mengenai wasiat sang ayah, tuan Randi pikir pengacara itulah kunci dari segalanya saat ini.


Saat dia sampai di kediamannya tuan Randi langsung membawa koper rahasia tersebut yang dia simpan di bawah ranjangnya selama ini lalu tak lama sang pengacara tiba dan tuan Randi langsung menemuinya sambil membawa koper hitam berukuran cukup besar.


"Pak...bisa anda jelaskan bagaimana ayah saya memberikan wasiat kepada anda dan menuliskan surat wasiat mengenai pengalihan hak waris sebelumnya?" Tanya Randi dengan penasaran dan tidak sabar,


"Baik tuan tapi saya hanya diperintah oleh tuan Atmaja untuk memberikan amplop berisi surat wasiat tersebut kepada anda dan menjadikan anda sebagai satu satunya penerima hak waris sebesar sembilan puluh persen dan nyonya Wulan sepuluh persennya yang terdiri dari aset mobil, rumah juga sebuah apartemen di negara X, lalu ini saya lupa memberikan sebuah rekaman video dari beliau" ucap sang pengacara menjelaskan semuanya.


Randi tidak pernah menduga ternyata ayahnya sudah menyiapkan semua ini jauh sebelum kematiannya seakan ayahnya tau jika kejadian hari ini akan tiba, Randi langsung menerima sebuah chip berisi rekaman video dari sang pengacara tersebut.


Lalu tuan Randi menanyakan mengenai identitasnya karena siapa tau pengacara tersebut akan mengetahui sedikit informasi tentangnya sebab sepengetahuan Randi pengacara itu sudah bekerja pada ayahnya sejak dia kecil hingga saat ini, tentu dia akan banyak mengetahui silsilah dari keluarganya.


"Pak apa anda tau menganai hubungan saya dan keluarga Atmaja yang sebenarnya?, Apa saya benar benar amat kandung nyonya Wulan dan tuan Atmaja?" Tanya Randi menyelidik.


Nampak pengacara tersebut seketika menjadi gugup dan dia meremas tangannya sendiri menandakan ada sebuah rahasia yang dia sembunyikan dan rasa takut terbongkar.


Melihat reaksi tersebut tentu saja Randi semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan keluarganya dia terus mendesang sang pengacara agar mau berbicara jujur dan membuka mulut padanya.


"Pak, tolong jawab saya dengan jujur saya bisa menerima semua kebenarannya dan koper ini bagaimana cara membukanya saya sudah lama memiliki koper ini dan berusaha untuk membukanya namun ada sebuah tombol gembok sandi yang tidak bisa saya pecahkan, apa anda juga mengetahui mengenai koper ini?" Tanya tuan Randi bertubi tubi.


Nampak sang pengacara menarik nafas dalam sebelum dia membuka mulutnya.


"Mungkin ini sudah saatnya tuan Randi mengetahui segalanya, tuan Atmaja saya akan melakukan tugas terakhir saya pada anda" gumam sang pengacara.


Pengacara itu mulai mengambil sebuah berkas dari tasnya dan memberikan berkas tersebut kepada tuan Randi dan ternyata berkas di dalam sebuah maf biru adalah akta kelahiran tuan Randi yang sebenarnya lalu ada sebuah kartu keluarga yang menunjukkan siapa kedua orangtua aslinya.


Tangan tuan Randi bergetar saat membaca kartu keluarga tersebut di mana dia menemukan kenyataan bahwa nyonya Wulan memang bukan ibu kandungnya, sebuah nama tersemat diatas namanya tepat setelah nama tuan Atmaja.


"Ranti Atmaja?, Apa dia ibu kandungku?" Tanya tuan Randi menahan kesedihan dalam dirinya dengan sekuat tenaga,


"Iya tuan, maaf karena saya bekerja sama dengan tuan Atmaja dan nyonya Wulan untuk menyembunyikan semua ini pada anda" ucap sang pengacara meminta maaf,

__ADS_1


"Tapi di mana ibuku sekarang, apa dia masih hidup?" Tanya tuan Randi,


"Ibu tuan sudah meninggal dunia sejak melahirkan anda, dia mengalami banyak pendarahan saat itu dan hanya ada dua pilihan antara menyelamatkan anda atau dirinya namun, nyonya Ranti memilih agar dokter menyelamatkan putranya dan dia mengorbankan dirinya" ucap sang pengacara menjelaskan,


Randi sudah tidak bisa menahan kesedihan lagi, air matanya menerobos begitu saja dan jatuh membasahi pipinya perlahan namun pasti.


Meski dia tidak bisa menahan kesedihannya namun tuan Randi terus menguatkan dirinya sendiri agar dia dapat terus menanyakan informasi mengenai sang ibu kepada pengacara ayahnya tersebut.


"Lalu jika ibuku sudah tiada kenapa aku tidak pernah mengetahui semua ini?, Kenapa ayahku menyembunyikan semua ini dariku?" Tanya tuan Randi dengan perasaan yang semakin menggebu,


"Semua ini sesuai permintaan nyonya sebelum dia meninggal dulu nyonya Wulan adalah sahabat baik nyonya Ranti mereka bersahabat sangat dekat dan nyonya Randi meminta agar Nyonya Wulan menggantikannya untuk mengurusi tuan dan menikah dengan tuan besar, dan nyonya Ranti meminta agar tuan besar merahasiakan tentang dirinya kepada sang putra, karena dia takut putranya tidak menerima keberadaan sahabatnya, dia adalah wanita yang sangat baik hati namun tak di sangka tuan besar seketika berubah semenjak dia bersama nyonya Wulan..." Ucap sang pengacara tertahan dan dia menunduk lesu.


Randi sangat heran melihat sang pengacara juga turut sedih saat membicarakan mengenai ibunya.


"Pak kenapa?, Apa yang membuat anda ikut merasa sedih?" Tanya Randi dengan penasaran,


"Tuan jaga diri anda baik baik, saya sudah membongkar semua dan nyonya Wulan pasti tidak akan membiarkan saya bebas begitu saja, tolong jaga rahasia ini jangan beritau siapapun jika andaengetahuinya dari saya, hanya itu yang saya tahu, selebihnya semua akan terjawab dari rekaman video di dalam chip itu" ucap sang pengacara sambil memohon kepada Randi.


"Tenang saja, saya akan menjaga anda dan akan tetap merahasiakan semua ini sampai saya berhasil memberikan pelajaran pada iblis itu" jawab Randi digantikan dengan amarah yang muncul dalam dirinya.


Pertemua mereka berakhir dan Randi segera membuka isi dari rekaman video di dalam chip yang di berikan oleh sang pengacara, dan ternyata di dalam rekaman video itu terdapat ayahnya yang tengah duduk di sebuah sofa besar bersama seorang wanita hamil yang berparas cantik, lalu mereka memasukkan beberap barang ke dalam sebuah koper yang mirip dengan koper yang dia miliki saat ini.


"Koper itu, iya itu adalah koper yang diberikan oleh ayah padaku" ucap Randi yang langsung terburu buru mengambil koper tersebut.


"Anakku sayang saat kau lahir nanti ibu ingin kau melihat video ini, ibu ingin kamu tau bahwa ibu dan ayah sangat menyayangimu, kau akan tumbuh dengan baik dan jadilah pria kuat seperti ayahmu, koper ini adalah hadiah dari kami kamu harus melihatnya saat kau tumbuh besar" ucap nyonya Ranti dalam video tersebut kemudian video berakhir.


Air mata tuan Randi tumpah saat itu juga dan dia tidak bisa menahan semua kesedihannya, dia menangis meraung dengan memeluk laptop yang tadi dia pakai untuk melihat rekaman video ibunya.


"Ibu...ayah kenapa?, Kenapa baru terbuka sekarang di saat kalian berdua sudah tiada?, Dia wanita iblis itu sudah mengambil kebahagiaan ibuku dan kini ingin merebut peninggalan mereka dariku, aku tidak akan membiarkannya" ucap tuan Randi dengan gemetar dan amarah yang mengendap di dalam hatinya.


Beberapa saat setelah dia sedikit merasa tenang Randi kembali membuka koper hitam miliknya dengan menekan tiga kode yang dipakai sang ibu saat dalam rekaman video sebelumnya dan ternyata kode itu berhasil membuka kopernya.


Randi membuka koper itu dengan perlahan dan sudah menyiapkan mentalnya untuk menerima semua apapun yang akan dia lihat di dalamnya, saat dia membukanya ternyata di dalam sana terdapat foto pernikahan ayah dan ibunya, foto foto ketika sang ibu tengah mengandung dan beberapa perlengkapan bayi laki-laki.


Di dalam sana juga terdapat sebuah surat berwarna putih dan Randi langsung membuka surat dalam secarik kertas tersebut.


"Anakku kau sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang ibumu harapkan, maafkan ayah karena telah menikahi iblis jahat, tapi setidaknya dia mau mengurusimu dengan baik hingga kau tumbuh besar, memberikan kedudukan padanya anggap saja itu balasan dari ayah untuknya, namun ayah tetap tidak akan membiarkannya menghancurkan keluarga kita, kamu harus tumbuh dengan kuat, saat ayah mati kau akan melihat isi koper ini, dan semua rahasia akan terbongkar, jangan membenci ayah dan ibu ini akan menjadi kenangan untukmu, jaga dirimu baik baik ayah dan ibu menunggumu di surga" isi surat itu yang ditulis tangan dengan rapih dan diberi tanda dengan nama tuan Atmaja.


Air mata tuan Randi kembali jatuh dan terus tumpah tanpa henti, meski dia seorang pria namun mengetahui sebuah rahasia besar dalam keluarganya yang telah terkubur bertahun tahun lamanya sungguh membuat luka yang tidak akan pernah sembuh untuknya.


Apalah artinya sebuah harta yang melipah jika dia kehilangan kedua orang tuanya, meski dia tau nyonya Wulan sudah mengurusinya sejak kecil dengan penuh kasih sayang dan menganggapnya seperti putranya sendiri namun setelah mengetahui bahwa semua itu hanya demi harta dan kedudukan, Randi menjadi membenci nyonya Wulan.

__ADS_1


"Dia adalah wanita setengah iblis, aku tidak akan membiarkan sepersen pun milikku diambil oleh orang serakah sepertinya, akan ku pastikan dia hanya mendapatkan bagian yang sudah di tentukan oleh ayah!" Ucap tuan Randi penuh dendam.


Dia membereskan kembali semua berkas, cip dan koper tersebut lalu dia menaruh semuanya di bawah tempat tidur ya tempat teraman yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh orang lain selain dirinya.


Tuan Randi mencoba mengistirahatkan dirinya dan menenangkan diri di balkon dengan merasakan terpaan angin malam yang begitu sejuk.


*****


Sedangkan di sisi lain Ratu tengah menyiapkan beberapa pakaian untuk dia gunakan karena mulai besok dia akan kembali bekerja di perusahaan Zidan, tanpa Ratu ketahui bahwa mulai besok Steven juga akan memulai kembali usahanya dari nol dan mungkin mulai saat ini mereka akan sering bertemu karena Steven juga bekerja sama dengan Zidan dalam bisnis.


Mala juga membantu kakaknya untuk menyetrika pakaian dan mereka bercengkrama dengan sangat hangat layaknya keluarga yang harmonis meski mereka hanya tinggal berdua.


Sampai ke esokan paginya Ratu begitu bersemangat dia membantu Mala merapihkan beberapa pot bunga di dalam toko sebelum berangkat kerja ke kantor.


"Mala kakak pergi dulu yah ini sudah hampir masuk jam kerja nanti takutnya ke siangan" ucap Ratu berpamitan pada Mala,


"Iya kak, hati hati di jalan nanti pulang jangan lupa bawa makanan enak untuk makan malam yah" teriak Mala dan di balas anggukkan oleh Ratu.


Ratu pergi menggunakan gojek langganan yang biasa dia order, sesampainya di perusahaan dia berpapasan dengan Steven juga Zidan yang hendak masuk ke dalam lift yang sama dengan Ratu.


"Ratu....kamu datang pagi sekali, apa kamu se senang itu kembali bekerja denganku lagi?" Tanya Zidan menggoda Ratu,


"Iya pak saya sangat senang bekerja dengan anda, jangan lupa beri saya bonus hehe" ucap Ratu dan segera masuk ke dalam lift lebih dulueninggalkan Zidan yang tertawa sedangkan Steven menatap kebingungan.


Steven bingung melihat Ratu berpakaian begitu rapih dan berbicara formal dengan Zidan ditambah reaksi Zidan yang begitu berbeda dan nampak terlihat jelas sorot matanya yang menyukai Ratu, Steven yang juga laki laki jelas sangat mengetahui bagaimana sorot mata laki laki lain ketika menyukai seorang perempuan.


Steven menyenggol Zidan dan menanyakannya masalah Ratu.


"Zidan kau suka kan pada Ratu?" Ucap Steven membuat Zidan kaget dan berhenti tersenyum lebar,


"Hah?,...a...aku...aku...hanya bersahabat dengannya kau tenang saja" jawab Zidan gugup,


"Ayolah Zidan aku juga seorang pria dan aku sama sepertimu menyukai Ratu sejak dulu, hanya bedanya kesempatanku sudah hilang dan aku sudah menyia nyiakannya, kau bisa mengejar dia dan aku akan sangat tenang jika dia bersamamu" ucap Steven sambil merangkul pundak Zidan.


Zidan tersenyum senang karena awalnya dia pikir Steven akan kembali bersaing dengannya untuk mengambil hati Ratu namun rupanya dia juga mendukung dirinya untuk mengejar Ratu, namun baru saja Zidan merasa tenang karena mendapatkan dukungan dari Steven rupanya perkataan Steven tadi belum selesai.


"Tapi Zidan ingat, meski aku tak memiliki kesempatan aku tetap sainganmu, siapa tau saja aku memiliki keberuntungan untuk mendapatkan Ratu lagi, bukankah dulu juga aku hampir menjadi pemenangnya, berhati hatilah tuan Zidan!" Ucap Steven sambil tersenyum sengaja menggoda Zidan.


Wajah Zidan yang tadinya senang langsung berubah datar dan menatap tajam dengan perasaan tidak suka kepada Steven dia juga melepaskan tangan Steven yang merangkul dirinya.


"Aishh....kita lihat saja nanti, aku tidak akan lengah sedikitpun" ucap Zidan lalu masuk ke dalam lift di ikuti dengan Steven dibelakangnya.

__ADS_1


Steven terus tersenyum karena dia berhasil menggoda Zidan di pagi pagi buta, dia juga begitu bersemangat untuk memulai kembali usahanya meski dia harus memulai lagi dari awal, Steven memang belum sembuh pulih tapi dia memaksakan diri untuk mulai mengurusi perusahaan karena semakin cepat dia memulai maka akan semakin cepat dia bangkit.


__ADS_2